Merespons Anugerah dan Panggilan Allah

Sore hari di akhir bulan November 2019, Ponsel saya tiba-tiba berdering keras. Saat saya terima, terdengar nada suara seorang pejabat tinggi pemerintah yang akrab di telinga saya. Setelah basa-basi sejenak, ia meminta kesediaan saya menangani acara Natal Nasional 2019. Perhelatan itu diadakan pada 28 Desember 2019. Senang juga dengan permintaan itu, tetapi sekaligus stress berat karena ini bukan natal biasa, tetapi natal nasional.

Bingung saya merespons permintaan itu. Inginnya menolak karena mustahil mempersiapkan sebuah perhelatan berskala nasional dalam waktu yang sangat singkat, apalagi acara natal ini akan disiarkan oleh berbagai stasiun TV, baik swasta maupun nasional.

Yang lebih menantang lagi ia katakan bahwa Presiden Jokowi berkenan menghadiri acara natal nasional itu. Pusing tujuh keliling! Saya sempat termangu! Sang pejabat memohon agar saya merespons permintaannya. Diam-diam saya berdoa memohon petunjuk-Nya.

Lalu saya berpikir, kalau yang saya lakukan ini untuk kemuliaan-Nya maka Tuhan sendiri pasti akan memimpin saya. Saya tidak perlu takut! Akhirnya, saya merespons positif permintaannya. Saya bersedia!

Memang, hidup ini berisi berbagai tantangan dan persoalan yang selalu menuntut respons kita. Ada banyak masalah atau persoalan menghampiri kita, baik dalam rumah tangga, di kantor, di kampus atau masalah dalam masyarakat yang menunggu respon kita.

Kadang kita harus berpikir keras, respons mana yang harus diambil. Solusi macam apa yang harus kita pilih. Respons orang beranekaragam. Ada yang pengecut! Orang seperti ini cenderung mundur dan bahkan melarikan diri. Memang ia merespons, tetapi responsnya negatif yaitu melarikan diri dari masalah. Kabur!

Ada yang merespons dengan cara berdiam diri! Ia tidak lari, tetapi juga tidak berbuat apa pun. Pasif! Ada respons lain lagi yaitu cenderung menggampangkan persoalan dan masalah. Jadi, responsnya sering asal-asalan alias serabutan. Sering malah kurang serius dan sama sekali tidak fokus dalam menghadapi masalah dan memecahkan persoalannya.

Nah, orang dengan respons seperti di atas dipastikan tidak akan mampu mengembangkan dirinya dalam segala aspek kehidupan. Mereka tidak akan menjadi manusia yang matang dan dewasa!

Dalam soal spiritualitas pun dibutuhkan respons yang tepat dan matang. Yohanes menjadi contoh yang sangat baik. Perjumpaan dengan Yesus telah mengubah cara hidup dan pemberitaan Yohanes. Kehadiran Allah dalam Yesus di tengah dunia ini disambutnya dengan penuh sukacita.

Kesaksiannya berubah. Bukan lagi memanggil orang untuk bertobat. Ia pun tidak lagi menyalah-nyalahkan siapa pun seperti yang diperbuatnya terhadap orang Farisi dan ahli Taurat. Sebaliknya, Yohanes memfokuskan kesaksiannya pada Yesus Kristus, Sang Mesias yang sudah hadir di tengah umat manusia. Bahkan muridnya pun didorong untuk mengikuti Yesus.

Seluruh hidup Yohanes dibaktikan total untuk merespon secara positif kehadiran Tuhan Yesus, Sang Penyelamat dunia. Ia tidak takut menghadapi resiko apa pun karena ia tahu bahwa Ia bekerja untuk dan demi kemuliaan-Nya. Ia tahu di dalam Yesus keselamatan yang sempurna itu sudah tiba!

Nah, respons seperti apa yang sudah kita berikan dalam menjawab anugerah dan panggilan-Nya?

 

Salam,
Pdt. Dr. Albertus Patty

Foto: pixabay