Mengubah Tantangan Menjadi Peluang!

Ditangkapnya Yohanes adalah malapetaka bagi keadilan dan kemanusiaan. Seorang yang tidak pernah melanggar hukum justru ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. Praktek seperti ini sering terjadi ketika hukum dipenuhi dengan pasal karet yang bisa ditafsirkan sesukanya.

Praktek asal tangkap juga bisa terjadi ketika hukum tunduk pada kehendak penguasa. Yang benar menjadi salah. Yang salah menjadi benar. Itulah sebabnya seharusnya kriteria kebenaran bukanlah apakah hukum itu sudah dijalankan, tetapi apakah hukum itu menegakkan keadilan.

Yang menarik, seorang filsuf Perancis bernama Foucault mengingatkan bahwa praktek kotor pemutarbalikan fakta dan pemanipulasian hukum bisa dilakukan oleh siapa pun, dalam level mana pun, dan di mana pun demi kekuasaan.

Hoax atau cerita-cerita kebohongan bisa diproduksi oleh mereka yang haus kekuasaan yang berakibat orang baik seperti Yohanes pun menjadi korbannya. Kasus seperti Yohanes ini ada dimana-mana! Di semua level masyarakat dan di berbagai institusi, termasuk institusi agama.

Nah, ditangkapnya Yohanes menjadi penanda bahwa pelayanan Yesus pun akan menghadapi tantangan dan rintangan berat. Relasi yang cukup dekat dengan Yohanes menempatkan Yesus dalam bahaya. Yesus bisa menjadi sasaran penangkapan berikutnya. Itulah sebabnya, Yesus menyingkir ke Galilea.

Mungkin Anda bertanya: kok Yesus menyingkir? Mengapa Yesus tidak membela Yohanes? Ini pertanyaan bagus! Jawabnya begini! Bila Anda diperhadapkan pada situasi kritis yang membutuhkan respon tepat maka langkah pertama yang harus Anda ambil adalah bersikaplah tenang, berpikir jernih dan rasional. Perhitungkanlah segala sesuatu sebaik mungkin.

Pertimbangkan kekuatan Anda dan kekuatan lawan Anda, efek strategiknya ke depan: untung atau ruginya. Kadang, mundur sebentar jauh lebih baik daripada nekad menerabas. Intinya, jangan ambil keputusan ketika tingkat emosionalitas Anda masih tinggi. Anda pasti terperosok dalam lobang persoalan yang makin besar.

Keputusan yang diambil secara emosional tidak akan memecahkan masalah, sebaliknya ia membuat persoalan semakin runyam. Yesus tahu itu. Bila dalam kemarahannya Ia nekad maju membela Yohanes, Ia akan ditangkap dengan tuduhan subversif, lalu dihukum mati sebelum misiNya dimulai. Yesus harus menunggu saat yang tepat. Menunggu momen kairos, waktu Tuhan yang tepat!

Ditangkapnya Yohanes tidak membuat Yesus ketakutan. Ia tidak mengambil keputusan untuk membatalkan misi-Nya. Dalam penyingkiran-Nya, Yesus justru mengambil langkah cerdas yang strategik dan visioner.

Bila misi apa pun mau sukses, jangan pernah melakukannya sendirian. Anda butuh companion, butuh rekan sekerja. Di sinilah bedanya Yohanes dan Yesus. Yohanes seorang lone wolve, melakukan apa pun sendirian. Efeknya pasti kecil. Kurang bergema! Misi Yohanes langsung terhenti setelah dia ditangkap.

Yesus belajar dari kegagalan Yohanes. Bukannya bekerja sendirian, Yesus justru mencari murid. Ia mengggalang kekuatan untuk melakukan misi penyelamatan-Nya. Yesus tahu bahwa misi apa pun akan jauh lebih efektif bila dilakukan secara kolektif, apalagi dalam kerjasama yang harmonis. Dalam sinergi dan kolaborasi!

Ternyata tantangan dan rintangan tidak selalu menjadi kutuk. Ia justru pembuka jalan mengasah kreatifitas yang menciptakan peluang. Kadang, Tuhan justru menggunakan tantangan dan rintangan itu untuk menjadi jalan berkat. Jadi, jangan mengutuki tantangan atau rintangan. Syukuri aja!

 

Salam,
Pdt. Dr. Albertus Patty