Arsik!

Anda tahu Arsik? Ini masakan khas orang Tapanuli yang sangat disukai banyak orang, termasuk saya. Dalam acara adat orang Batak, menu Arsik selalu dihidangkan bersama dengan Saksang. Bila bahan utama saksang adalah babi, sapi atau ayam, maka bahan utama Arsik adalah ikan mas. Arsik dan Saksang adalah dwi tunggal, satu kesatuan. Keduanya adalah makanan yang wajib dihidangkan dalam pesta adat.

Anda tahu cara membuat Arsik? Saya uraikan sedikit ya! Detailnya tanya pada yang lebih ahli! Ikan mas yang sudah bersih dimasukan ke dalam panci berisi sayuran dan bumbu-bumbu tertentu yang sudah dihaluskan.

Aduklah perlahan-lahan sampai bumbunya tercampur rata. Setelah itu, masukan air bersih sampai semuanya terendam kemudian rebuslah di atas api yang tidak terlalu besar selama kurang lebih lima jam sehingga seluruh sari dari sayuran dan bumbu-bumbu tadi meresap ke dalam ikan mas.

Saat sudah matang, aroma Arsik sangat menantang dan menggiurkan, apalagi bila dinikmati dengan nasi yang masih panas. Saat irisan demi irisan lembut daging ikan mas yang sudah terserap sari sayuran dan bumbu-bumbu penyedap itu dinikmati, lidah Anda pasti menari-nari dengan lincah dan gembira. Saya yakin, Anda pasti makan lebih banyak daripada biasanya.

Melalui uraian tentang Arsik di atas, saya sedang berbicara tentang makna menyerap. Nah, saat Yesus dibaptis, Ia sedang membiarkan diriNya terserap dalam berkat, anugerah dan cinta Bapanya. Lebih dari itu, dengan dibaptis, Yesus secara sadar dan dengan penuh kerelaan terserap total dalam rencana keselamatan, cinta dan anugerah yang BapaNya kerjakan bagi umat manusia dan dunia.

Baptisan itu mengandung makna penyatuan. Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Allah yang hidup dalam aku! Baptisan menunjukkan bahwa Yesus dan Bapa adalah satu, bukan saja dalam esensinya, tetapi juga menyatu dalam aksi keselamatan bagi umat manusia dan dunia.

Yesus dan Bapa adalah satu untuk menunjukkan bahwa kesatuan atau kerekatan atau persekutuan adalah intisari sikap kristiani. Kesatuan itu penting. Sebaliknya, keterpisahan adalah inti dari segala macam dosa. Seseorang dengan mental ‘berpisah’ dari orang lain dan dari dunia ini cenderung melihat dan memperlakukan yang lain dan dunia ini sebagai obyek yang direndahkan, didominasi dan dieksploitasi.

Kehancuran persekutuan manusia dalam keluarga, dalam gereja, dan antar umat beragama disebabkan mental ‘keterpisahan.’ Rusaknya bumi dan alam ini terjadi akibat virus ‘keterpisahan.’ Manusia tidak merasa menjadi bagi dari bumi, the mother nature!

Ketika seseorang dibaptis, ia sedang terserap sedalam-dalamnya dalam berkat, cinta dan anugerah Allah. Seorang yang menghayati baptisannya adalah seorang yang menyatu dengan Allah, Sang Pemberi anugerah, cinta dan berkat. Hidup orang seperti ini dipenuhi cinta dan berkat.

Efeknya, dimana pun dia berada, dalam situasi apa pun yang dia hadapi, dan dengan apa pun dan dengan siapa pun dia berelasi arus cinta dan berkat Allah itu mengalir deras melalui kata-kata dan perbuatannya. Ia menjadi sumber sukacita dan kehidupan bagi setiap orang dan bagi seluruh alam raya ini.

Ia menjadi manusia pemersatu, bukan pemecah belah. Ia menjadi manusia rohani yang menghadirkan kegembiraan dan kehidupan! Memang, baptisan itu bukan sekedar kematian manusia lama, tetapi terutama ia adalah bangkitnya manusia baru yang penuh cinta, berkat dan anugerah!

 

Salam
Pdt. Dr. Albertus Patty

 

Foto: indonesia.go.id