Melampaui Ego dan Selfishness!

Dalam sebuah pesta reuni salah satu Sekolah Menengah Atas, salah seorang alumni menyapa mantan gurunya yang juga hadir. Kepada gurunya yang nampak sudah mulai uzur dimakan usia, sang alumni berkata, ”Masih ingatkah bapak pada saya?” Sang guru melihatnya lalu menggeleng kepala sambil berkata, “Sorry nak, saya lupa.”

Lalu sang guru bertanya, ”Kamu siapa, lulusan tahun berapa?” Sang alumni mencium tangan gurunya, mengajaknya berjalan ke sudut ruangan, lalu berkata serius kepadanya, “Mungkin bapak tidak ingat saya lagi, tetapi sampai kapan pun saya akan selalu mengingat bapak. Bapak telah berjasa besar kepada saya.” Sang guru malah makin bengong. Tak mengerti!

Sang alumni pun bercerita. “Begini pak. Saat saya duduk di kelas 2 SMA, saya melakukan perbuatan yang paling bodoh yaitu saya mencuri arloji mahal milik salah satu teman sekelas. Saat itu, mata pelajaran bapak. Lalu, bapak menyuruh kami semua menutup mata dan memutar menghadap ke arah tembok. Kemudian bapak memeriksa tas kami satu persatu. Saya tahu benar bahwa arloji yang saya curi itu saya simpan di dalam tas sekolah saya. Saya takut sekali! Jantung saya berdentum sangat keras seperti mau meledak!”

Lanjutnya, “Sesaat kemudian bapak menyuruh kami berbalik dan membuka mata. Bapak menunjukkan arloji yang saya tahu bapak ambil dari tas sekolah saya. Saya putus asa! Panik, saat membayangkan bapak akan memanggil saya ke depan, lalu mempermalukan saya di depan teman-teman sekelas. Lalu saya dikeluarkan dari sekolah. Saat itu dunia sudah runtuh. Gelap! Malu! Dalam hati saya berteriak: ”Matilah saya!” Bapak melihat kami satu-persatu, lalu bapak mengembalikan arloji itu kepada teman saya dan mengatakan kepadanya agar lain kali lebih hati-hati menyimpannya. Lalu, bapak menyuruh kami duduk. Bapak melanjutkan pelajaran seperti biasa. Seperti tidak ada apa-apa! Bapak tidak mencemarkan dan mempermalukan saya. Bapak menyelamatkan nama baik saya.

Akunya, “Saya merasa sangat berterima kasih kepada bapak. Saya tidak akan pernah lupa kebaikan hati bapak. Sejak saat itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah melakukan tindakan bodoh itu. Sebaliknya, belajar dari bapak, saya akan mengampuni dan memahami siapa pun yang melakukan kekhilafan. Saya tidak akan mencari-cari kesalahan orang lain apalagi menghakiminya.” Sang alumni memeluk erat gurunya sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Saat tahu Maria telah hamil, Yusuf pasti kecewa dan sangat marah. Yusuf punya kesempatan membalas dendam dengan mencemarkan dan mempermalukan Maria dengan tuduhan perzinahan. Bila langkah itu dilakukan, masyarakat akan mengganjar Maria dengan hukuman rajam, dilempari batu sampai mati.

Tetapi, Yusuf tidak terbawa emosi. Dia tidak tenggelam dalam dendam dan kemarahan. Dia mengendalikan egonya. Tetap tenang! Sabar! Dia malah memikiran keselamatan Maria. Ini spiritualitas!

Sang Guru dan Yusuf adalah contoh orang yang lebih dikendalikan oleh spiritualitas dan imannya daripada oleh ego, kemarahan, dan dendam kesumat. Gudang pengampunan mereka sangat besar. Cintanya mengalir deras. Bagi mereka, kekristenan bukan seperangkat dogma dan doktrin. Dalam diri mereka, cinta Kristus yang menyelamatkan itu selalu hadir melalui kata-kata dan tindakan nyata.

Salam,
Pendeta Albertus Patty