Mengapa Harus Ada Syarat? Mendekonstruksi Kitab Yoel (Yoel 2:18-27)

arsiv

Exemple

“Karena demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45).

Pendahuluan

Jika kita membahas kitab Yoel, sering kali alur pemikiran teologis yang di pakai adalah bencana merupakan akibat dosa, maka supaya bencana berakhir atau tidak ada lagi, orang harus bertobat dari dosa-dosanya, kemudian dosa-dosanya dibeberkan dan akhirnya diserukan pertobatan. Singkatnya kalau ada orang jahat, pasti ada bencana dan sebaliknya kalau ada orang baik, pasti tidak ada bencana. Bukan cuma orang Kristen saja yang berpikir demikian, melainkan banyak orang beragama lain juga menggunakan pola logika teologis yang sama. Suatu ketika pak Bernie Adeney-Risakotta bercerita bahwa dalam sebuah seminar internasional di Yogyakarta ketika alm. Gus Dur belum menjadi presiden, Gus Dur mengatakan kepada para pendengarnya bahwa letusan-letusan gunung Merapi adalah tanda bahwa pemerintahan yang ada sudah tidak beres. Maksudnya tentu saja pemerintahan Orde Baru di bawah presiden Soeharto. Para pendengar kaget, tetapi bukan karena berita bahwa Orde Baru tidak beres (siapa yang berani bilang begitu kecuali Gus Dur), tetapi bahwa Orde Baru dihubungkan dengan gunung Merapi …

Kitab Yoel Sebagai Liturgi

Di kitab Yoel, bencana itu sudah lewat. Tetapi ingatan atau kenangan terhadap bencana itu amat kuat dan traumatis, sehingga harus diceritakan kepada generasi penerus (1:3). Singkat kata, kenangan mengenai bencana itu menjadi bagian dari liturgi Hari Tuhan (mengenai rujukan ke Hari Tuhan lih. 2:1, 11; 2:31; 3:14). Apa itu? Hari Tuhan adalah masa pembalasan Tuhan terhadap musuh-musuh-Nya. Untuk waktu yang lama sekali musuh Tuhan sama dengan musuh-musuh Israel. Tetapi di kitab Amos kita melihat bahwa Tuhan bisa juga menjadi musuh Israel, dan karena itu Hari Tuhan adalah hari di mana Tuhan membikin perhitungan dengan Israel (Amos 5:18). Di kitab Yoel Hari Tuhan meliputi kedua-duanya. Di pasal 2 umat yang akan menghadapi kengerian Hari Tuhan (ayat2, “suatu hari gelap gulita dan kelam kabut”, Latin: Dies Irae, Dies llla, dalam liturgi Misa Requiem pra Vatikan II ayat ini dikutip dan beberapa komponis terkenal membuat musik mengenai Dies lrae). Hari Tuhan adalah hari ketika umat mengalami bencana belalang yang dahsyat, dan karena itu di dalam memori traumatis umat, belalang-belalang itu digambarkan secara mitologis seperti barisan pasukan monster di film-film Lord of the Rings. Tetapi mereka tetap adalah “pasukan Tuhan”! (2:11). Namun, di pasal 3 musuh-musuh Israel yang akan berhadapan dengan Hari Tuhan, sedangkan umat akan mendapat berkat. Di kemudian hari liturgi Hari Tuhan ini “dide-liturgisasikan” menjadi bagian dari pemahaman mengenai akhir jaman dalam tradisi apokaliptik (Ibr: qets), dan sekarang menjadi perangkat dari pemahaman mengenai pengadilan terakhir alias hari kiamat.

Nah, liturgi adalah refleksi yang diperagakan. Itulah yang kita dapatkan di kitab Yoel. Polanya memang klasik, bencana-tobat-berkat-bencana lagi (tetapi untuk orang lain, “musuh”!). Liturgi dibuat berdasarkan pengalaman empiris umat, jadi harus dihargai, tetapi sampai seberapa jauh? Apakah semua pengalaman empiris manusia itu sama, sehingga harus mengikuti pola yang sama mau tidak mau? Maka menarik untuk mengamati patahan-patahan dalam argumentasi umum dengan menggunakan pola di atas. Jika kita membaca dalam bagian sebelumnya (Yoel 2:12-17) tidak dijelaskan sebab-sebab yang pasti apa yang menjadi kesalahan umat Israel. Bahwa apa konkretnya dosa-dosa itu tidak dirinci. Hanya yang penting, dosa! Apakah agama itu, kalau bukannya mengurusi dosa? Mungkin ada yang melihat bahwa dosanya adalah bahwa pertobatan tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak serius, hanya formalitas: berkat diberikan kepada umat karena mereka sungguh-sungguh bermohon, tidak sekadar ritual saja yang merupakan kebiasaan. Tetapi kedua pandangan demikian kandas kalau kita menyadari bahwa kitab Yoel sendiri adalah liturgi, kebiasaan! (di balik hal itu saya mendeteksi prasangka Protestan terhadap liturgi dan ritual pihak lain sebagai kebiasaan atau formalitas, hanya liturgi Protestan saja yang betul yang lain salah).

Dekonstruksi Kitab Yoel

Ketiadaan penjelasan mengenai sebab-sebab kesalahan atau dosa-dosa umat. justru adalah patahan berupa titik lemah dari argumen dengan pola seperti di atas, sehingga kita bisa mendekonstruksi argumen dengan pola tersebut. Dekonstruksi ini bukan sesuatu yang baru dilakukan pada masa kini, tetapi sudah terjadi sejak jaman Alkitab juga. Kitab Ayub menemukan titik lemah ini dan mendekonstruksikannya dengan pertanyaan-pertanyaan tajam. Di dalam koleksi tradisi liturgis umat Israel ada mazmur-mazmur yang saya istilahkan sebagai “mazmur-mazmur yang bertanya” yang berangkat dari titik lemah di atas. Matius 5:45 yang saya kutip sebelum masuk ke pendahuluan jelas sekali tidak mengikuti pola kitab Yoel. Berkat adalah untuk semua, bukan hanya umat saja. Titik lemah yang kedua adalah dalam bagian relevansi, ketika dosa umat Israel mulai disejajarkan dengan dosa-dosa bangsa Indonesia. Oleh karena kita selalu mengalami bencana alam dan bencana sosial (konflik-konflik berdarah), maka menurut pola tersebut, itu petunjuk dari atas bahwa bangsa Indonesia berdosa. Tetapi kalau dalam konteks kitab Yoel, dosa tidak dirinci, maka dalam konteks masa kini Indonesia, dosa selalu bisa dirinci: korupsi demi korupsi, selingkuh demi selingkuh, perkosaan demi perkosaan, pembunuhan demi pembunuhan, terus menerus begitu sehingga menjadi tidak realistis, seakan-akan sudah terjadi domain assumptions (dalam ilmu sosial, pemahaman pukul rata terhadap sekelompok orang). Sepertinya Indonesia tidak pernah mengalami hal yang baik dan tidak pernah menjadi baik! Mungkin sudah waktunya kita belajar dari Konghucu dan Dostoyevsky, bahwa manusia itu baik dan buruk sekaligus dan memperbaiki deskripsi kita mengenai orang Indonesia (apalagi kalau deskripsi buruk dan negatif itu mau memberi kesan bahwa hanya kelompok persekutuanku saja yang baik, yang lain tidak baik).

Penutup: Rekonstruksi Kitab Yoel

Tetapi saya tidak hanya mau mendekonstruksi, melainkan juga mau merekonstruksi. Maka bencana tidak perlu dan tidak harus ditafsirkan sebagai akibat dosa manusia, entah dosa umat atau dosa orang lain (bangsa lain atau orang bukan Kristen). Bencana adalah akibat dari kerapuhan ciptaan, baik itu alam maupun manusia sebagai bagian dari alam. Kita diciptakan sebagai makhluk yang rapuh dan karena itu kita (akhirnya) berdosa, seperti dikatakan oleh bapak-bapak Reformasi Protestan. Tetapi ada baiknya kita tidak mengidentikkan begitu saja, kerapuhan dengan keberdosaan. Ketika kita berpuluh tahun hidup sebagai seorang Kristen masih saja berkanjang dalam pemahaman bencana sebagai dosa, teman-teman kita yang di Indonesia Timur sudah berefleksi lebih mendalam dengan menerbitkan buku Teologi Bencana yang bersifat antar agama. Rupanya bencana-bencana yang kita alami menyebabkan kita umat beragama menyadari kerapuhan bersama Pokok ini pada gilirannya bisa menjadi titik berangkat untuk sebuah teologi kepelbagaian agama yang amat kita perlukan bagi perjalanan kita sebagai bangsa Indonesia. Bencana adalah negatif tetapi bisa menjadi positif, kalau menyebabkan semua agama di Indonesia merenungkan kerapuhan ciptaan. Tidak ada satu pun agama atau kelompok agama yang bisa menghasilkan manusia super. Maka daripada mempromosikan agama sendiri sebagai lebih hebat daripada yang lain, lebih baik mengakui kerapuhan bersama, kemudian bekerja sama membangun negara dan bangsa yang tercinta ini.

 

Oleh: Joshua Bernando

Read More →
Exemple

SABAR DALAM PENDERITAAN

“Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” (2 Timotius 2:9-10)

Penderitaan sering terjadi dalam kehidupan setiap orang. Ada banyak sekali penyebabnya; tetapi untuk menyederhanakan pembahasan, baiklah kita membagi dalam 3 (tiga) kelompok penyebab:

  1. Penderitaan yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan diri kita sendiri; oleh kejahatan/ pelanggaran yang kita lakukan dengan sadar atau bersengaja.
  2. Penderitaan yang diakibatkan oleh kejahatan/kesalahan yang dilakukan orang lain; oleh bencana/musibah yang menimpa kita tanpa dapat kita cegah/hindari.
  3. Penderitaan yang diakibatkan oleh karena kita memilih untuk membela kebenaran / kehendak Tuhan sehingga dengan sadar menempuh resiko pengorbanan diri demi kasih kepada Tuhan dan sesama manusia.

Untuk kelompok yang pertama, kesabaran bukanlah hal yang terpenting. Yang paling dibutuhkan adalah pertobatan. Tanpa pertobatan, orang hanya akan berusaha menghindar dari penderitaan dengan cara menutupi kesalahan dengan kesalahan baru; menyembunyikan kejahatan dengan kejahatan baru; menghindari akibat pelanggaran dengan melakukan pelanggaran baru. Akibatnya resiko penderitaan akan semakin besar dan semakin fatal. Memang pertobatan tidak serta merta melepaskan kita dari penderitaan yang menjadi konsekwensi dari kesalahan/pelanggaran kita. Namun setelah kita kembali ke jalan yang benar, dan percaya akan Kasih Tuhan yang rela menebus dan mengampuni kita, maka kita juga boleh percaya bahwa ada pimpinan dan pertolongan Tuhan bagi kita untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kita yang salah dan menguatkan kita menanggung penderitaan akibat kesalahan kita. Pada saat itulah kesabaran dibutuhkan. Kesabaran di sini harus bertolak dari iman dan pengharapan pada kasih Tuhan yang sudah kita kenal. Itu sebabnya pertobatan yang dimaksud bukan sekedar berhenti berbuat jahat atau memohon pengampunan Tuhan, melainkan perubahan sikap hidup yang berbalik mencari kehendak Tuhan. Membaca Firman Tuhan dan bergumul secara intens dalam doa untuk meminta pimpinan dan petunjuk jalan yang benar untuk mengatasi berbagai masalah dan akibat kesalahan, adalah sikap hidup pertobatan yang sangat dinantikan Tuhan.

Untuk kelompok yang ke dua ini, hal terpenting yang harus diselesaikan sebelum bersabar adalah mengampuni dan atau menerima kenyataan bahwa yang sudah terjadi tidak dapat dibatalkan, bahkan disesali pun tidak ada faedahnya. Ini tentu bukan hal yang mudah. Untuk mengampuni orang yang menyebabkan kita menderita, bukanlah kekuatan yang dimiliki oleh manusia. Kita harus memohon kekuatan itu dari kuasa Roh Kudus untuk mencurahkan Kasih Allah ke dalam hati kita (Roma 5:5). Kita perlu mengenang dan menghayati kembali seluruh penderitaan Kristus di atas kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa kita. Setelah kita dimampukan untuk mengampuni, barulah kita bangkit membangun kehidupan dan masa depan dari puing-puing kehancuran yang kita alami. Pada saat itulah kita butuh kesabaran. Kesabaran yang dimaksudkan di sini bukan sekedar bertahan dalam penderitaan atau sabar menantikan mujizat pertolongan yang bisa mengubah keadaan secara tiba-tiba. Kesabaran harus bertolak dari keyakinan bahwa kita tetap dikasihi Tuhan yang mempunyai rancangan yang khusus bagi kehidupan kita. Dengan keyakinan tersebut kita bisa memperhatikan dan menikmati bentuk-bentuk pernyataan kasih yang diberikan sesama kita. Kita bisa menghitung setiap berkat kecil yang kita peroleh dan bersyukur untuk setiap kemajuan kecil yang kita peroleh dalam keadaan kita yang masih sedang menderita. Kesabaran juga perlu diwujudkan dalam pola pikir yang positif untuk mengembangkan setiap kemampuan dan talenta yang masih kita miliki, betapa pun kecilnya. Kesabaran diwujudkan dalam Ora et Labora, Berdoa dan Berusaha.

Untuk kelompok yang ke tiga ini, yang diperlukan adalah konsistensi untuk menempatkan diri sebagai hamba Tuhan. Menderita sebagai hamba Tuhan adalah “Imitatio Christi”, menyerupai Kristus. Tetapi kita harus sangat berhati-hati agar penderitaan yang kita alami selaku hamba Yesus Kristus, jangan sampai menjadi kesombongan diri atau kesombongan iman, karena merasa sudah lebih hebat dan lebih beriman dari pengikut Kristus yang lain. Kita harus selalu ingat perkataan Tuhan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”. (Matius 16:24)

Penderitaan rasul Paulus yang dinyatakan dalam 2 Timotius 2:9-10 adalah jelas penderitaan sebagai konsekuensi melaksanakan perintah Tuhan untuk memberitakan Injil. Paulus sabar menghadapi penderitaannya karena konsentrasi rasul Paulus, selaku hamba Tuhan, adalah pada tugas memberitakan Injil. Walau pun ia dibelenggu, baginya yang lebih penting adalah: bahwa Firman Tuhan tidak terbelenggu. Kata “sabar” yang dipakai di sini, dalam bahasa Yunani adalah: Hupomone. Kata Hupomone ini sebenarnya sangat sulit diterjemahkan. Dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia kata ini diterjemahkan dengan 3 macam kata: Tabah, Tekun dan Sabar. Namun ketiga kata itu tidak sanggup mencakup pengertian “hupomone”. Kalau tabah kita artikan sebagai: kemampuan bertahan terhadap tekanan penderitaan, dan tekun kita artikan sebagai: kemampuan untuk bertahan terhadap godaan ketika sedang melaksanakan suatu tugas pekerjaan, dan sabar kita artikan sebagai : kemampuan untuk bertahan terhadap gangguan yang menjengkelkan hati, nyata bahwa ketiga kata tersebut hanya menggambarkan kemampuan bertahan ketika berada dibawah suatu tekanan. Sedangkan makna kata “hupomone” bukan berarti sekedar bertahan dibawah tekanan, melainkan sekali gus menunjuk pada kemampuan untuk berada di atas tekanan tersebut. Kemampuan untuk tetap bangga, bersyukur dan menghayati makna dari penderitaan tersebut. Rasul Paulus mengatakan: “Karena itu aku sabar (hupomone)”. Karena apa? Kalimat sebelumnya adalah:”tetapi Firman Allah tidak terbelenggu”. Seluruh penderitaannya dimaknai sebagai bagian dari usaha memperjuangkan pemberitaan injil “bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka mendapat keselamatan.”

Kembali kepada kelompok pertama dari orang-orang yang menderita, apabila mereka sudah bertobat dan sungguh-sungguh mengimani bahwa Tuhan telah menerima mereka kembali dalam Kasih-Nya, mereka boleh yakin bahwa Tuhan masih bisa memakai mereka untuk dipakai sebagai hamba-Nya. Bila keyakinan ini ada, maka mereka juga bisa membangun kehidupannya yang “rusak” oleh kesalahan dengan kesabaran (hupomone). Artinya : penderitaan yang diakibatkan kesalahan sendiri dan seluruh usaha untuk mempertanggung-jawabkan kesalahan itu dihayati sebagai saat-saat dimana Tuhan sedang membentuk ulang kehidupannya. Semua penderitaan dihayati sebagai proses persiapan untuk dipakai oleh Tuhan mewujudkan rancangan-Nya. Dengan demikian ia akan memliki pengharapan, ketabahan, dan ketekunan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Setiap kemajuan kecil dan setiap berkat serta cinta yang diterima dari orang-orang yang mau menolongnya bangkit, akan dapat disyukuri dengan penuh sukacita sebagai cara Tuhan menyelamatkan-Nya.

Demikian juga dengan orang-orang yang menderita di kelompok dua. Apabila mereka telah berdamai dengan dirinya sendiri, dengan mengampuni orang-orang yang menyebabkan penderitaannya, serta menerima keadaannya yang terpuruk habis-habisan, ia juga bisa melihat dengan kacamata imannya, bahwa Tuhan yang tetap mengasihinya pasti mampu menyelamatkan dan memakai kehidupannya untuk suatu maksud yang mulia. Dengan demikian ia melihat dirinya juga sebagai hamba Tuhan. Kesabarannya di tengah penderitaan adalah: hupomone. Ia memaknai penderitaannya sebagai proses pemulihan agar ia dapat dipakai sebagai saksi dari Kasih Tuhan. Karena setiap bentuk simpati dan pertolongan yang dialami di tengah penderitaannya dihayatinya sebagai wujud Kasih Tuhan.

Penderitaan dalam kehidupan dapat dialami oleh siapa saja dengan berbagai macam penyebab. Tetapi kebesaran Kasih Allah dalam Kristus Yesus, Juru Selamat, senantiasa melampaui setiap bentuk penderitaan. Itulah sumber kesabaran kita yang mau menempatkan diri sebagai hamba-hamba Tuhan yang terus diselamatkan, dipulihkan, dibentuk ulang dan dipersiapkan untuk dipakai-Nya.

 

Oleh: Pdt. Em. Budiono Adi Wibowo

Read More →
Exemple

GLOW IN THE DARK

“Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanyalah berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.” (Efesus 5:8b-10)

Terang: Sumbernya Dari Siapa?

“Menjadi anak-anak terang”, mudah dikatakan tapi tak mudah dipraktikkan. Ah…Bukan! Bukan karena zaman ini terlalu gelap gulita. Buktinya kota-kota besar seperti Jakarta nyaris tak tidur 24 jam. Bergerak, riuh dan sibuk, siang maupun malam. Sejak zaman dulu, zaman para nabi pun memang tak mudah menjadi anak-anak terang. Kondisi politik, kebudayaan, ekonomi, serta beragam suguhan menggiurkan dan instan, membuat manusia seakan linglung. Begitu banyak pilihan. Gamang memilih antara kebutuhan dan keinginan. Galau antara prioritas dan bukan prioritas. Mem-bunglon dalam mengambil sikap tatkala ada pilihan menolak atau menerima. Sesuatu yang abu-abu kadang mengganggu namun sekaligus sangat menggoda. Tragisnya, ada yang rela menjalani perannya di panggung kehidupan ini seperti katak, hidup di dua alam (ampibi). Katanya: demi cita-cita kelompok, demi amanat para pendahulu, demi kesejahteraan rakyat, demi hidup layak kaum buruh, bahkan demi menjalankan perintah kitab suci dan perintah Tuhan. Pelan tapi pasti, manusia mencuri kemuliaan yang hanya milik Tuhan itu. Mempertuhankan hal-hal yang fana (harta, tahta, seks, sains), termasuk agama dan dirinya sendiri. Tatkala hal keliru yang melibatkan diri kita terjadi, kecenderungan kita adalah mencari kambing hitam.

Pola itu terus bergulir dalam berbagai varian sejak peristiwa kejatuhan manusia dalam dosa. Bahkan apa-apa yang mestinya menjadi tanggungjawab kita, kita limpahkan sebagai kesalahan iblis semata. Kita enggan bertanggungjawab atas peran dan keterlibatan kita dalam sebuah sistem yang bobrok. Lebih nyaman dan asyik main petak-umpat, bahkan jika perlu menjadi bagian menciptakan kegelapan itu sendiri. Paulus sudah menasihati kita: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Efesus 5:11). ‘Permufakatan jahat’ atau ‘kejahatan berjamaah’ (beramai-ramai) rupanya sedang trend di negeri ini. Ada semacam logical fallacy dalam masyarakat kita, seolah apa-apa yang jelas salah, keliru dan melanggar hukum, tapi karena banyak orang yang melakukannya (termasuk kita mungkin), maka hal itu adalah lumrah serta dijadikan kebenaran. Maka bagi siapa saja yang ‘berbeda’, justru akan dianggap sumber masalah, pengganggu kenyamanan, gila, bahkan harus disingkirkan. Masyarakat yang ‘sakit’.

Dalam Alkitab (Efesus 5:8a) dikatakan bahwa “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan”. Kita tak bisa menjadi terang dengan sendirinya. Ada sumber terang yang membuat kita berpendar atau memantulkan cahaya terang itu, yaitu Tuhan. Pastikan kita selalu terhubung secara baik dan benar dengan Tuhan. Seperti bolam dalam rumah kita ketika malam hari dinyalakan. Meski ia punya kapasitas penerangan yang besar dan mampu menerangi satu stadion sepakbola sekalipun, tapi jika disimpan di lemari atau saklarnya tak di-on-kan ketika terpasang, maka ia tak berguna. Tetap saja gelap gulita. Dan kita pun akan merasakan dampak kegelapan yang pekat itu, dengan meraba-raba, tabrak sana-sini, atau hal-hal membahayakan lainnya. Kalau kata Yesus Kristus: “Lagipula orang tak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15). Kalaupun Anda ‘berpendar’, tahu mana yang baik dan benar, jangan sembunyi! Jangan cari selamat sendiri! Nyatakan dan tunjukkan, agar tak banyak orang celaka. Bantu orang lain melihat dengan terang yang dianugerahkan Tuhan pada kita itu. Bukankah kegelapan itu menjadi ada ketika terang itu tiada? Teranglah yang ada, bukan kegelapan. “Sebab semua yang nampak adalah terang” (Efesus 5:13b).

Little Star: Kebaikan, Keadilan dan Kebenaran.
Twinkle, twinkle, little star, How I wonder what you are!
Up above the world so high, Like a diamond in the sky.
When the blazing sun is gone, When he nothing shines upon,
Then you show your little light, Twinkle, twinkle, all the night.
Then the traveller in the dark, Thanks you for your tiny sparks;
He could not see which way to go, If you did not twinkle so.
In the dark blue sky you keep, And often through my curtains peep,
For you never shut your eye, ‘Till the sun is in the sky.

Pasti kita kenal dari lagu apa lirik di atas itu. Anak saya, Joan (saat batita), sangat terkesan dengan lagu ini. Meski ia belum memahami arti dan maknanya serta hanya hafal satu bait saja. Tapi dia selalu antusias ketika mendengarkan dan menyanyikan lagu ini. Mungkin karena lirik dan nadanya riang dan ringan. Pertama kali ditulis oleh Jane Taylor di London dalam bentuk syair. Lalu pada 1806, Jane bersama saudarinya Ann mempublikasikan dengan judul “The Star” dalam Rhymes for the Nursery. Tahun 1896, Mildred J. Hill membuat variasi lain yang tertuang dalam Song Stories for Kindergarten.

Bait-bait syair itu sederhana tapi mengandung makna. Tak perlu menunggu menjadi orang-orang besar ternama dulu, agar kita menjadi terang. Bintang di langit yang terlihat kecil itu tak pernah lelah dan terus bercahaya. Tak soal apakah hari berganti siang atau ia terhalang awan/kabut. Di era internet ini, keterbukaan mutlak dibutuhkan. Transparansi, begitu istilah yang akrab di telinga kita. Orang tak lagi bisa seenaknya membuat berita hoax atau info/khotbah bersifat cocokologi di media daring. Tentu, kita yang waras akan ‘terganggu’ dengan seliweran informasi demikian, karena dampaknya bisa menimbulkan konflik yang dibawa dari dunia maya ke dunia nyata.

Masing-masing kita, punya peran juga untuk meluruskan/menjelaskan (menjadi terang) di media-media sosial. Memberikan gagasan, terobosan, ide, solusi, dan kontribusi untuk mengimbangi serta menjawab persoalan-persoalan kompleks di tengah-tengah masyarakat kita. “Kebaikan, Keadilan dan Kebenaran”, siapa yang tak ingin itu hadir di tengah bangsa ini? Apapun latarbelakang suku, ras, etnis, agama, warna kulit, status sosialnya, pasti mendambakan ketiga hal tersebut.

Siapapun kita, selama apa yang kita lakukan berkenan kepada Tuhan, Tuhan pun berkenan memakai kita dengan kapasitasnya masing-masing, di berbagai tempat, dalam beragam profesi. Yang pasti, cahaya bintang itu jelas terlihat pendarnya bukan saat langit terang benderang, melainkan ketika malam menjelang dan langit menghitam.

 

Oleh: Pnt. Dommy Waas

Read More →
Exemple

Beberapa waktu belakangan ini, marak tanda pagar (hastag #) “Kita Agni”. Siapa Agni? Agni adalah mahasiswi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang mengalami pelecehan seksual oleh temannya sendiri berinisal HS ketika mereka melakukan KKN di Maluku pada tahun 2017 tepatnya 30 Juni 2017. Lalu mengapa muncul gerakan #KitaAgni di jagad maya dan juga nyata? Gerakan #KitaAgni mencuat lantaran banyak pihak termasuk Komnas Perempuan menilai UGM sebagai sebuah Institusi Pendidikan GAGAL menyelesaikan Kasus Pelecehan Seksual yang dialami oleh mahasiswinya. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak UGM dinilai tidak berpihak kepada korban. Ungkapan seperti “Kucing mana yang nggak mau dikasih ikan?” menjadi sinyal bahaya sebab pelecehan seksual dan perkosaan dianggap sesuatu yang lumrah! Pihak UGM hanya memberikan sanksi kepada pelaku untuk mengulang KKN nya dan memberikan nilai A atau B kepada Agni, ganti rugi uang kuliah, dan fasilitas konseling.

Apakah itu cukup? TIDAK. Upaya yang dilakukan UGM tidak cukup untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Padahal ini bisa menjadi momentum baik bagi banyak institusi untuk mulai SADAR akan potensi kekerasan terhadap perempuan di dalam institusi mereka masing-masing dan mulai merancang kurikulum dan regulasi yang meminimalisir potensi terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

Dalam bukunya Gender Trouble, Judith Butler menjelaskan, dalam kerangka heterosexual matrix, jenis kelamin kita sudah ditentukan secara biologis. Sedangkan jenis kelamin kita baik perempuan atau laki-laki berdasarkan konvensi budaya dan bahasa yaitu feminin dan maskulin. Jadi, yang menentukan apakah seseorang itu feminin atau maskulin adalah konstruksi sosial dan budaya berdasarkan jenis kelamin kita pada saat kita dilahirkan.

Maka gender (maskulin dan feminin) adalah konstruksi sosial. Jika maskulin dan feminin adalah konstruksi sosial, maka konsekuensi logis atas kekerasan terhadap perempuan juga merupakan konstruksi sosial. Artinya, tindakan kekerasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan adalah sesuatu yang bisa dibentuk, dipelajari dan ditiru secara individual dan sosial. Jika kekerasan terhadap perempuan adalah konstruksi sosial, mestinya tindakan tersebut dapat direkonstruksi sehingga dapat dihentikan. Namun pada kenyataannya kekerasan terhadap perempuan semakin marak. Pada tahun 2017 saja ada 17.099 kasus kekerasan terhadap perempuan. Angka ini tentu saja dari yang lapor, berapa banyak yang mengalami kekerasan dan tidak lapor? Atau tidak tertangani dengan baik?

Ketika kita bicara tentang KEKERASAN terhadap perempuan acapkali kita belum sadar akan spektrum definisi dari kekerasan terhadap perempuan. Acuan dari PBB pada bagian “Violence Against Women” menyatakan bahwa setidaknya ada beberapa bentuk kekerasan terhadap perempuan yaitu: Kekerasan Fisik, Kekerasan Seksual, Kekerasan Psikologis (ucapan hinaan baik di dunia nyata atau dunia maya, body shaming, dsb.), Kekerasan Ekonomi dimana perempuan tidak diperkenankan bekerja, dan Kekerasan Kemerdekaan artinya mengisolir perempuan dari lingkungan sosialnya.

Dan belum semua menyadarinya, baik lelaki ataupun perempuan bahwa spektrum kekerasan terhadap perempuan amatlah luas dan beragam wujudnya. Apa pasal? Harus diakui dengan pahit bahwa masih banyak perempuan yang merasa memang sudah sepantasnya menjadi nomor 2 alias di belakang laki-laki, merasa bahwa pekerjaan domestik memang sudah fitrahnya kaum perempuan, dan merasa bahwa menjadi berprestasi atau punya penghasilan lebih dari laki-laki adalah tabu. Berapa banyak urusan konsumsi selalu dan selalu diserahkan kepada perempuan? Dan banyak perempuan menerimanya tanpa protes? Dan berapa banyak urusan strategis perencanaan biasanya dikerjakan oleh lelaki?

Bukan hanya lelaki yang diminta untuk memahami bahwa perempuan itu manusia ciptaan Tuhan, bukan obyek macam harta atau pajangan, tetapi perempuan itu sendiri harus memiliki kesadaran dan keberanian untuk menjadi diri sendiri yang merdeka sebagaimana ciptaan Tuhan yang sudah ditebus dari dosa. Jika diri si perempuannya sendiri masih merasa lumrah saja diperlakukan tidak layak, tidak pantas, seksis, diskriminatif, maka perjuangan kesetaraan gender masih panjang dan berliku nasibnya.

Injil Yohanes 7:53- 8:11 adalah kisah mengenai pembelaan Yesus terhadap perempuan yang akan dirajam batu (dianiaya) karena perzinahan sangat menarik. Tafsiran terhadap teks ini biasanya mengabaikan situasi perempuan dan lebih menekankan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi bermaksud mencobai Yesus dengan cara mencari alasan untuk menyalahkan-Nya. Perlu kita cermati bagaimana perlakuan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap perempuan tersebut. Ia ditangkap, digiring oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berjalan ke Bait Allah di mana banyak orang sedang berkumpul. Lalu ia ditempatkan di tengah-tengah mereka dan menjadi pusat perhatian mereka.

Namun apa yang dilakukan Yesus? Selain memberikan pilihan kepada para penguasa, Yesus pun tidak menghukum rajam si perempuan, namun hanya mengatakan: “Jangan berbuat dosa lagi”. Perkataan Yesus tersebut menunjukkan keberpihakan-Nya terhadap persoalan yang dihadapi perempuan itu. Yesus membebaskan perempuan itu dari kematian. Yesus memberi perempuan itu tanggung jawab untuk memilih dan memutuskan apa yang terbaik bagi hidupnya. Itu berarti Yesus menempatkan perempuan itu kembali sebagai subjek yang otonom.

Yesus menolak untuk menegakkan tradisi atau hukum yang dipakai untuk menjadikan perempuan sebagai kambing hitam atas persoalan-persoalan sosial sementara laki-laki menyangkali dan merasa tidak bertanggung jawab atas persoalan-persoalan tersebut. Yesus menentang hukum atau adat istiadat apa pun yang melegitimasi kekerasan terhadap perempuan.

Keberpihakan Yesus ini juga menunjukkan bahwa perempuan berharga di mata Tuhan. Ia membebaskan perempuan yang ditindas dan dikorbankan bagi kepentingan sekelompok orang. Di mata Tuhan setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan adalah sesuatu yang salah dan karena itu orang-orang yang ditindas perlu dibebaskan. Yesus memanusiakan kembali perempuan yang didehumanisasi oleh penguasa dan hukum yang bias gender.

Keberpihakan Yesus mampu membuka semua belenggu penindasan terhadap perempuan dalam Injil Yohanes tersebut. Karena itu, gereja perlu menunjukkan keberpihakan terhadap para perempuan, dan menimalisir terjadinya potensi kekerasan terhadap perempuan mulai dari lingkup terkecil. (YDR)

Selamat Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

 

Oleh: Yohana Defrita Rufikasari

Read More →
Exemple

TOLERANSI: JALAN MENUJU PERDAMAIAN DAN KEMAJUAN

Respon seorang sahabat atas suatu berita mengagetkan saya. Betapa tidak, dengan geram dia menyatakan keinginannya untuk menghabisi sekelompok orang yang sedang mengkampanyekan perlindungan dan kesetaraan bagi diri mereka. Dengan menyertakan kutipan ayat suci, dia menuding mereka pendosa besar dan tidak layak hidup. Mengenalnya sebagai seorang profesional dengan pendidikan tinggi, saya tidak mengira bahwa kalimat menghabisi sesama keluar darinya.

Beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan berbagai kasus intoleransi di tanah air. Setara Institute melaporkan peningkatan signifikan pelanggaran atau kekerasan kebebasan beragama dan berkeyakinan dibandingkan tahun sebelumnya. BIN mengungkapkan 39% mahasiswa terpapar radikalisme dan sebuah survei nasional mencatat 1 dari 5 pelajar-mahasiswa berpegang pada sikap dan pandangan yang intoleran.

Sejarah menceritakan betapa besarnya harga yang dibayar atas sikap dan tindakan intoleransi yang bisa bersumber dari agama, politik, ekonomi, sosial, atau budaya. Ada diskriminasi yang berujung kepada penindasan hingga persekusi yang meminta korban jiwa. Ada yang menjadi kekerasan dan konflik, perang atas nama agama, hingga genosida dan kehancuran bangsa. Hasil akhirnya adalah kejahatan kepada kemanusiaan serta kerugian sosial dan ekonomi. Di tahun ini bangsa kita kembali berduka mendalam atas aksi terorisme, suatu kejahatan luar biasa yang diyakini bermula dari sikap intoleransi.

Sementara itu, sebagian orang memaknai sikap dan tindakan toleran sebagai sesuatu yang negatif. Bertoleransi dianggap membenarkan yang salah, melemahkan keyakinan atau mengkompromikan iman.

Menerima dan Menghargai
Kita semua adalah orang berdosa yang menerima kemurahan Allah, kelapangan hati, serta kesabaran-Nya yang tak terhingga. Allah bersikap toleran kepada manusia yang dikasihi-Nya. Tetapi, itu tidak berarti Allah setuju dengan dosa-dosa manusia. Allah tidak berkompromi dengan kebenaran-Nya. Tetapi, Dia menerima dan memerdekakan supaya kita bertobat dan selamat.

Bersikap toleran bukan sekedar menyenangkan orang lain tetapi didasari oleh keyakinan bahwa setiap orang adalah pribadi yang diciptakan segambar dengan Allah, dikasihi-Nya, dan dimuliakan bagi kerajaan-Nya. Kita ditebus dengan korban yang sama, yaitu tubuh dan darah Kristus.

Perbedaan pandangan, kebiasaan, kepercayaan atau agama, tidak boleh mengurangi penghormatan dan penerimaan kita atas keberadaan seseorang. Memaksakan kehendak, menilai diri/kelompok sendiri baik dan yang lain jahat, merendahkan atau meniadakan orang lain apapun alasannya hanyalah memuaskan egoisme dan memupuk kesombongan.

Sebaliknya, menghargai orang lain dengan segala keberadaannya hanya mungkin jika seseorang dengan rendah hati menganggap orang lain lebih utama dari dirinya sendiri. Bersikap toleran yang demikian membangun dan mendewasakan sifat-sifat rohani kita.

Sejak awal abad ke-20, gereja-gereja bergumul bagaimana beriman di tengah keberagaman agama. Bibitnya mulai disemai dalam World Missionary Conference pertama di Edinburg tahun 1910. Setelah melalui perdebatan panjang dan keras selama hampir satu abad, pada tahun 1989 Dewan Gereja-gereja Dunia (WCC) mengeluarkan afirmasi di World Mission Conference di San Antonio sebagai berikut: “Kami tidak dapat menunjukkan jalan keselamatan lain kecuali Yesus Kristus; pada saat yang sama kami tidak dapat membatasi kuasa penyelamatan Allah.”

Menggumulkan Keberagaman dan Mengasah Toleransi
Dalam suatu pertemuan aktifis lintas agama para peserta saling memperkenalkan diri dan latar belakang keluarganya. Ternyata sebagian besar berasal dari atau memiliki keluarga dengan beragam kultur. Kelihatannya, tanpa disadari mereka tergerak untuk menggumulkan isu toleransi karena pengalaman dalam mengelola perbedaan di lingkup keluarga. Meski itu bukan kesimpulan ilmiah, tetapi cukup masuk akal. Toleransi seseorang diuji dan diasah ketika dia harus merespon keberagaman dan perbedaan. Semakin banyak seseorang menghadapi dan menggumulkan perbedaan semakin besar peluang mengasah toleransinya.

Sementara itu, era digital memunculkan situasi sebaliknya. Kemampuan media sosial menyajikan informasi yang kita inginkan saja dan menyambungkan kepada orang-orang seide berpotensi membuat kita nyaman dalam homogenitas. Hal ini bisa membuat orang semakin tidak tenggang rasa terhadap yang berbeda.

Karena itu kita perlu membuka diri dan menjalin hubungan dengan yang berbeda. Dalam pengalaman hubungan lintas agama, sekedar perjumpaan pertama saja bisa merobohkan prasangka yang merupakan penghambat relasi dan toleransi. Begitu juga dengan stigma dan stereotip yang disematkan kepada kelompok tertentu terkikis oleh pemahaman baru dan perluasan wawasan yang terjadi melalui interaksi dan dialog. Lebih jauh, kita menyadari bahwa semua umat beriman adalah insan yang mencari kehendak-Nya serta mengejar keinsyafan dan jalan pertobatan agar menjadi manusia yang lebih baik. Ruang untuk saling melayani menjadi terbuka dan itu menguatkan penerimaan dan penghargaan satu dengan yang lain. Dalam harmoni kita saling mendukung untuk menjalani hidup bermakna dengan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia ini.

Perdamaian dan Kemajuan
Intoleransi adalah ancaman nyata yang melemahkan dan merusak kohesi sosial. Belum lagi jika berkembang menjadi ketegangan dan konflik, energi dan sumber daya kita akan terbuang percuma. Toleransi adalah jalan kepada perdamaian tempat kita hidup berdampingan dalam solidaritas. Dalam suasana yang kondusif, keberagaman menjadi kekuatan untuk membangun bangsa dan negeri. Mari perbarui komitmen untuk mengembangkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat merayakan Hari Toleransi Internasional 16 November 2018.

 

Oleh: Bapak Jeffrey Samosir

Read More →
Exemple

MENELADANI PAHLAWAN IMAN

Seandainya, ratusan ribu pemuda bangsa kita gagal membangkitkan jiwa kepahlawanan dalam diri mereka, kita pasti masih menjadi bangsa terjajah. Seandainya para pemuda itu hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, kita akan tetap menjadi bangsa yang diperbudak. Seandainya Soekarno, Hatta, dan para pahlawan bangsa lainnya tidak peduli terhadap nasib bangsa ini, kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup sebagai bangsa merdeka. Seandainya Suster Teresa, Nelson Mandela, Martin Luther King Jr, YB. Mangunwijaya atau Yesus hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, dunia kita akan semakin jauh dari kemanusiaannya, dari keadilan dan kedamaian.

Spiritualitas Pahlawan
Pertanyaan paling utama yang sering diajukan orang adalah nilai apa yang menggerakkan para pahlawan ini sehingga mereka bersedia berkorban dan berjuang mati-matian demi keselamatan sesama? Menurut saya paling sedikit ada dua nilai moral-spiritual yang menguasai sikap dan perilaku mereka.

Nilai yang pertama, adalah para pahlawan ini mampu melihat sesamanya, apa pun agama, etnik, gender dan status sosialnya, sebagai sesama, sebagai saudara, atau sebagai anak-anak Allah. Itulah sebabnya, mereka selalu tergerak untuk memperjuangkan martabat kemanusiaan sesamanya. Mereka adalah orang yang tidak melakukan pembedaan terhadap sesamanya. Sebaliknya, para pahlawan ini selalu menempatkan diri mereka pada siapa pun yang mengalami kesulitan dan kesusahan.

Ketika gempa dan tsunami menghantam Palu dan Donggala banyak orang yang menjadi korban. Demikian juga ketika pesawat Lion Air JT 610 terjatuh. Orang yang berjiwa pahlawan tidak diam berpangku tangan. Mereka bukanlah orang yang apatis. Mereka tergerak untuk membantu, karena bagi mereka masyarakat Palu dan Donggala adalah anak-anak Allah, demikian juga para penumpang pesawat Lion Air JT 610. Mereka yang berjiwa pahlawan mengajukan diri membantu, menolong sesama, bahkan berkorban jiwa seolah yang menderita itu adalah saudara mereka sendiri. Mereka mengajukan diri berangkat ke Palu dan Donggala untuk membantu dan melayani para korban yang menderita. Siap dengan bau ribuan mayat yang bergelimpangan dan penyakit yang akan menyerang. Terjun diganasnya gelombang dan dalamnya lautan. Mereka tidak perduli pada keselamatan diri. Meski tahu resiko dan bahaya yang dihadapi sangat besar, mereka tetap berangkat karena mereka adalah pembela kemanusiaan.

Nilai yang kedua, adalah para pahlawan tidak lagi berpikir dan bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri. Mereka juga tidak berjuang untuk memuaskan ego primordialisme demi kepentingan etnik, agama atau kelompoknya sendiri. Mereka bukan makhluk yang dikuasai nafsu meraih kekuasaan. Sebaliknya, merupakan orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka adalah pejuang kemanusiaan, yang hidup dan hatinya dikuasai dan dituntun oleh nilai-nilai cinta, keadilan dan kebenaran. Yang berupaya mempraktekkan cinta kasih, keadilan dan kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya, mereka berpikir dan bertindak untuk dan demi keselamatan semua. Sebagai pelayan kemanusiaan yang berani berkorban dan siap melayani siapa pun.

Para pahlawan adalah orang yang mampu mentransenden dirinya. Mampu merasakan sakitnya orang yang menderita dan mengalami ketidakadilan. Itulah sebabnya, mereka akan berjuang untuk membela siapa pun yang ditindas. Mereka adalah pahlawan iman, yang bekerja dan melayani dengan tulus berdasarkan imannya kepada Tuhan. Melakukan panggilan pelayanannya dalam kerja-kerja kemanusian.

Menjadi Pahlawan Masa Kini
Allah selalu mengirimkan ‘pahlawan’ pada setiap jaman. Pahlawan adalah mereka yang memiliki komitmen untuk berjuang menegakkan kemanusiaan, menjadi pembela bagi siapa pun. Pahlawan selalu berbagi hidup dengan sesama! Para pahlawan kemanusiaan sadar bahwa mereka hidup dalam dunia yang penuh persoalan dan tantangan. Mereka hidup dalam dunia ‘ Homo Homini Lupus ‘ , manusia menjadi serigala terhadap sesamanya.

Dunia tempat kita berada, adalah dunia dimana kenikmatan hidup bisa direguk, tetapi juga dunia dimana ketidakadilan, penindasan, dan diskriminasi dilakukan atas nama agama, etnik, status sosial, dan gender. Dunia tempat kita tinggal adalah dunia yang menawarkan banyak kesempatan, tetapi juga menjadi tempat dimana para koruptor menimba harta dan kuasa, sambil tertawa dan menari-nari di atas jerit dan tangisan korban yang tidak berdaya.

Tangisan dan jeritan para korban adalah tangisan dan jeritan Yesus. Mat. 25:31-46 berkata : “………..Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku…….”. Tangisan dan jeritan ini adalah ‘ the Call ‘ bagi siapa pun untuk menjadi pahlawan kemanusiaan. Kita diutus untuk menjadi pahlawan kemanusiaan yang membangun kehidupan bersama yang lebih ramah, manusiawi, berkeadilan dan penuh kedamaian.

 

Oleh : Ibu Sondang Patty

Read More →
Exemple

MASA DEPAN : IMAN DAN PENGHARAPAN

Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?” (Ayub 6:11)

Masa Depan yang Rahasia.
Berbicara tentang masa depan, kita berbicara tentang ketidak-pastian, gelap dan rahasia. Karena tidak pasti, gelap dan rahasia semakin banyak orang tertarik untuk mengetahuinya. Adalah bagian dari sifat manusia ketika diperhadapkan pada suatu rahasia, maka keinginan untuk mengetahuinya semakin besar. Semakin dirahasiakan, semakin ingin diketahui… Dari kecenderungan ini banyak orang mencoba mencari jawabannya, padahal setelah tahu pun tidak memberi rasa puas dan bahagia, bahkan orang cenderung mereka-reka agar rahasia itu berakhir seperti skenario berpikirnya. Banyak di antara kita ingin mengetahui apa yang terjadi di kehidupan kita di hari-hari selanjutnya. Kalau tahu kan lebih menyenangkan, jadi gak usah dag dig dug… kerennya bisa disiapkan antisipasinya kalau terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan.

Dalam mitologi Yunani dikisahkan Raja Troya memiliki seorang putri bernama Cassandra. Cassandra memiliki kekuatan untuk meramal masa depan, namun ia juga dikutuk sehingga tidak seorang pun mempercayai ramalannya. Cassandra meramalkan jatuhnya kerajaan Troya, kematian ayahnya, jam kematian dirinya dan nama pembunuhnya. Ketidakberdayaan menyaksikan kengerian masa depan menjadi sumber rasa sakit yang tidak ada habisnya, penderitaan, dan penyesalan atas pengetahuan yang hanya dimilikinya sendiri.

Banyak orang menginginkan dirinya seperti Cassandra, tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan, tepatnya orang hanya ingin tahu hal-hal yang menyenangkan dan yang menggembirakan dirinya saja. Saat mengetahui tentang hal-hal mengenai penderitaan, dukacita, kejatuhan, kapan ia akan mati atau menderita, orang justru memilih untuk tidak usah mengetahuinya.

Sebuah survey dilakukan oleh para peneliti di Berlin yang berbasis di Institut Max Planck untuk Pembangunan dan Universitas Granada. Mereka melakukan penelitian terhadap 2000 orang Jerman dan Spanyol. Para responden ditanya apakah mereka ingin tahu tentang hal-hal menyangkut kehidupan sehari-hari mereka. Dari penelitian itu, para peneliti menemukan sebagian besar orang tidak ingin menyadari peristiwa negatif yang akan datang di masa depan. Bahkan untuk sesuatu yang positif pun, responden lebih suka memilih tidak ingin tahu. Penulis Utama penelitian Gerd Gigerenzer mengatakan orang tidak ingin tahu masa depan mereka karena “untuk menghindari penderitaan, penyesalan, dan hilangnya kenikmatan sensasi ketegangan dari peristiwa menyenangkan yang bakal terjadi. (USA Today, 23/2/2017).

Iman dan Pengharapan
Iman yang menurut bahasa Yunani disebut Pisti, adalah rasa percaya kepada Allah. Iman sering dimaknai percaya (kata sifat) dan tidak jarang juga diartikan sebagai kepercayaan (kata benda). Menurut Rasul Paulus ”Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. (Ibrani 11:1). Jadi pengertian iman di dalam Kitab Ibrani 11 ini sesungguhnya sedang berbicara mengenai dasar dari kepercayaan umat Allah untuk menaruh pengharapan yang belum atau tidak kelihatan dan sekaligus menjadi bukti bahwa ada pengharapan dari sesuatu yang tidak dilihat yaitu pengharapan yang didasarkan atas kasih sejati dari Allah.

Harapan merupakan kombinasi dari hasrat akan sesuatu dan pengharapan untuk menerimanya. Pengharapan Kristen adalah pada saat Allah sudah berjanji bahwa sesuatu akan terjadi dan kita meletakkan kepercayaan kita di dalam janji tersebut. Pengharapan Kristen adalah sebuah kepercayaan bahwa sesuatu akan terjadi dengan pasti karena Tuhan sudah menjanjikannya dan hal itu pasti terjadi.

Pengharapan berasal dari iman kita kepada kesetiaan Allah. Dengan kata lain, kesetiaan Allah adalah dasar dari pengharapan kita, dan janji Allah yang didasarkan atas kesetiaan-Nya adalah jaminan bagi pengharapan kita. Maka setelah kita beriman, kita segera masuk pada tahap pengharapan. Dalam hidup beriman terkandung unsur-unsur yang membuat kita tetap dalam pengharapan kepada Allah.

Pertama, Penyerahan diri secara total merupakan cara hidup yang mempercayai sepenuhnya akan apa yang telah Allah rencanakan dan penuhi dalam kehidupan kita. Sebaliknya sikap keragu-raguan atau meragukan janji Allah merupakan sikap yang mengabaikan bahwa Allah adalah setia dengan janji-janjiNya.

Kedua, Ketaatan dan kesetiaan kepada Allah adalah sikap untuk selalu memegang kebenaran Allah dalam segala persoalan kehidupan, mendasarkan segala sesuatu pada kebenaran Allah. Beberapa hal yang bisa kita ambil dalam hubungannya dengan ketaatan dan kesetiaan kita, yaitu : taat dan melakukan perintah Allah dalam firman-Nya yang tertulis (Alkitab), membangun iman dan kerohanian kita di dalam Kristus sebagai sumber dan dasar yang teguh; Membangun iman dan kerohanian kita dapat ditumbuhkan dengan belajar Firman Allah melalui pemahaman Alkitab baik secara pribadi atau pun bersama-sama. Di GKI Maulana Yusuf ada kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab, saudara tinggal memilih dan mengambil bagian dalam PA-PA tersebut sehingga iman saudara bertumbuh dan berkembang bersama jemaat lainnya.

Ketiga, Iman disertai dengan perbuatan. Hidup beriman tidak sekedar bicara tentang percaya saja, tetapi dikaitkan dengan perbuatan. Hidup kekristenan adalah sebuah produksi kebaikan dan kebenaran, orang orang Kristen diminta mempraktekan apa yang telah Yesus perbuat dalam pelayanan saat ia berada di bumi. Mempraktekan beriman kepada Kristus dituntut sama dengan apa yang telah Kristus perbuat, kasih, kepedulian, murah hati, lemah lembut dan sebagainya menjadi tanda dalam setiap kehadiran-Nya. Akan menjadi ganjil jika para murid berbicara tentang iman dan percaya kepada Yesus namun hidupnya tidak menghasilkan buah-buah kehidupan yang dirasakan orang sekelilingnya. Tujuan buah-buah kehidupan merupakan tanda bahwa kerajaan Allah hadir di tengah kehidupan manusia.

BAGAIMANA MENYELARASKAN IMAN DAN PENGHARAPAN
Pengharapan adalah bagian penting dari iman. Iman dan pengharapan adalah kenyataan yang saling bersentuhan, pengharapan adalah iman tentang waktu yang akan datang. Jadi sebagian besar bagian dari iman adalah pengharapan.

Kisah seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Markus 5:25-29) mengisahkan kepada kita bagaimana keselarasan antara iman dan pengharapan terjadi. Perempuan yang mengalami pendarahan hampir 12 tahun ini mengimani bahwa kesembuhan akan menjadi miliknya asalkan ia mau datang bertemu dengan Yesus. Perjalanan yang dia tempuh bukan saja susah tetapi berat karena harus berjuang menghindari himpitan dan desakan orang yang berebut mendekat kepada Yesus. Ia memiliki pengharapan dalam imannya dan dalam imannya ia berpengharapan akan masa depannya bahwa saat bertemu Yesus ia akan menyampaikan keinginannya untuk disembuhkan dari penyakitnya. Dalam kesulitan bertemu dengan Yesus ia tetap memiliki iman untuk masa depannya, “asalkan ku jamah jubahnya, aku akan sembuh”. Respon dari keilahian Yesus adalah memenuhi harapan dan iman dari perempuan tersebut, dengan sadar Yesus merasakan ada kuasanya yang mengalir keluar menggenapi iman seseorang. Happy ending.. ya! masa depan perempuan itu telah kembali cerah. Bisa kita bayangkan betapa sukacitanya ia telah menjadi sembuh, sejatinya ia akan terus bercerita kepada orang orang yang berjumpa dengannya bahwa ia telah sembuh oleh orang yang bernama Yesus.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita ingin seperti Cassandra yang mengetahui tentang masa depan namun diliputi rasa takut? Atau kita percaya kepada Allah walaupun hidup di tengah ketidakpastian dan misteri namun tetap beriman dan berpengharapan kepada-Nya? Pengamsal menasihati kita, karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

 

Oleh : Pnt. Maruli D. M. Nababan

Read More →
Exemple

PEMUDA KRISTEN, PEMUDA INDONESIA

Tepat hari ini 90 tahun yang lalu, Kongres Pemuda Kedua yang berlangsung selama 2 hari ditutup di sebuah rumah pondokan di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Saat acara hendak ditutup, dibacakan hasil kongres. Salah satu hasilnya adalah Sumpah Pemuda yang hari ini kita peringati. Sebuah seruan untuk putra-putri Indonesia bahwa mereka bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa persatuan, yakni Indonesia. Menariknya, pada bagian pertama dan kedua, digunakan kata “satu” untuk “tanah air” dan “bangsa”, sementara pada bagian ketiga digunakan “menjunjung bahasa persatuan” alih-alih “berbahasa satu”. Pada kesempatan yang sama, lagu kebangsaan Indonesia Raya juga diperdengarkan dengan biola oleh W. R. Supratman, yang menggubah lagu tersebut saat berusia 21 tahun. Tidak bisa dipungkiri bahwa rumusan Sumpah Pemuda dengan semangat persatuan ini berperan penting dalam pergerakan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Proyeksi Badan Pusat Statistik tahun 2010 – 2035 menyatakan bahwa saat ini Indonesia memiliki bonus demografi, dimana penduduk dalam usia produktif (15-64 tahun) berjumlah 2 kali lipat dari usia non-produktif. Dilihat dari proporsinya, kelompok usia pemuda (16-30 tahun) berjumlah 25% dari total penduduk Indonesia. Proporsi yang tidak sedikit ini mengimplikasikan bahwa pemuda mempunyai andil yang sangat besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai pemuda Kristen, apa yang bisa dilakukan dalam kaitannya sebagai warga negara Indonesia? Ada 2 hal yang bisa diambil dari beberapa bagian Alkitab terkait kehidupan di dunia sebagai warga negara.

  1. Berdoa untuk para pemimpin di pemerintahan (Titus 3:1 dan 1 Petrus 2:13-14 )
    Pada beberapa bagian Alkitab ini, disebutkan ketaatan pada pemerintah dan kesiapan untuk “melakukan segala pekerjaan yang baik” sebagai cerminan perbuatan yang dihasilkan oleh iman. Pada jaman itu, banyak orang yang mengaku percaya namun berperilaku tidak semestinya, tidak taat, dan “tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik “ (Titus 1:16) .
  2. Mengusahakan kesejahteraan dan berdoa untuk tempat dimana kita berada (Yeremia 29:8)
    Ayat ini diambil dari bagian kitab Yeremia untuk orang Israel yang berada di pembuangan di Babel. Walaupun mereka tidak berada di negerinya sendiri, firman Tuhan memerintahkan mereka untuk tetap berkarya, ambil bagian dalam kesejahteraan negerinya, dan berdoa untuk kota tersebut. Kata bahasa Ibrani untuk “kesejahteraan” dalam bagian tersebut adalah “shalom” yang bukan hanya berarti kecukupan secara materi namun juga keadaan aman, selamat, dan tentram.

Sanggupkah pemuda untuk selalu berkarya mengusahakan kesejahteraan dan berkarya dimanapun mereka ditempatkan? Bait kedua dari lagu “Bangun Pemudi Pemuda” karya Alfred Simanjuntak mengatakannya dengan sangat indah: berusaha jujur, ikhlas, bekerja keras, berhati teguh dan lurus, pikiran tetap jernih, dan bertingkah laku halus. Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda!

 

Oleh : Sdri. Lydia Utami Setyorini

Read More →
Exemple

ORANG MISKIN AKAN SELALU ADA PADAMU

Latar belakang :

Masyarakat adalah kumpulan individu yang membentuk lingkungan sosial. Kita berada di tengah-tengah lingkungan sosial yang mempunyai reaksi timbal-balik yang saling mempengaruhi dan membutuhkan. Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, kondisi keluarga mempengaruhi kondisi masyarakat, demikian pula sebaliknya kondisi masyarakat mempengaruhi kondisi keluarga. Krisis Sosial, Ekonomi maupun Politik yang terjadi dalam masyarakat khususnya ekonomi sangat mempengaruhi aspek-aspek keluarga dan juga mempengaruhi setiap individu dalam keluarga itu. Sebagai keluarga Kristen kita juga terpanggil untuk memberikan pengaruh positif pada masyarakat di sekitar kita. Panggilan untuk menjadi berkat bagi masyarakat terwujud dalam bentuk kepedulian sosial untuk memperhatikan sesama.

Tuhan bersabda didalam Kejadian 12 : 2 , “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur dan engkau akan menjadi berkat“.

Fungsi Gereja :

  1. Fungsi Rohani : Melaksanakan, Mengisi, Mengatur Ibadah, Pujian dan Doa.
  2. Fungsi Kedalam : Persekutuan, Pendidikan, Pembinaan kepada anggota.
  3. Fungsi Keluar : Pemberitaan/Penyebaran ajaran Tuhan (Penginjilan), Diakonia (saling- membantu) dan juga Peneguran.

Kehidupan Manusia.

  • Hidup ini memerlukan aktivitas dan bagi manusia aktivitas itu merupakan/memerlukan tujuan yang baik agar hasilnya bermanfaat bagi orang lain.
  • Manusia tidak ingin gagal.

Banyak orang menjadi Miskin karena :

  • Malas bekerja
  • Tidak membiasakan diri untuk hidup hemat dan menabung
  • Gemar dengan aktifitas negative (berjudi, narkoba dan yang lain-lain).

Banyak orang menjadi pengangguran atau dipecat dari pekerjaan karena :

  • Kebodohan, kemalasan, ketidak jujuran dan kurangnya keterampilan teknis.
  • Ada lagi akibat polusi spiritual dengan keadaan disekitar kita yang dihuni oleh orang-orang dengan mental negatif, kerdil juga pesimis.

Serta brondongan propaganda seperti :

  • Anda tidak bisa maju lebih baik jangan coba-coba *
  • Anda dilahirkan untuk miskin, jangan melawan takdir *

Pengalaman hidup dan keyakinan pribadi mengajarkan bahwa :
Kepercayaan kepada Tuhan itu bukanlah alternative ataupun pertimbangan suka atau tidak suka, untung atau rugi, melainkan suatu Komitmen Total dengan kesadaran bahwa saya membutuhkan Tuhan.

Untuk bangkit, seseorang memang memerlukan pertolongan.
Dengan motivasi, seseorang yang sudah hampir mati saja bisa kembali merasakan hal yang sangat luar biasa. Sehingga kedepan bisa membuat kondisi kehidupan yang sebelumnya terpuruk menjadi jauh lebih baik, bahkan bukan hanya dari kondisi fisik saja, namun juga hati dan jiwa.

Teladan Habakuk yang mengatakan (Habakuk 3 ; 17-19) :
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan dan tidak ada lembu-sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak didalam Tuhan, beria-ria didalam Allah yang menyelamatkan aku.

Allah Tuhanku itu kekuatanku : Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, ia membiarkan aku berjejak dibukit-bukitku. Namun mengapa begitu banyak orang gagal, miskin, sakit, bodoh, menderita dan sebagainya. Mereka tidak tahu jalan keluarnya? atau untuk merubahnya… jalan/pedoman apa yang harus dilakukan untuk mencapai sukses dan bagaimana?

Sebuah Ungkapan mengatakan “No Pain No Gain“.
Dan untuk itu diperlukan penerapan fungsi Gereja yang mencakup :

  • Pelatihan (keterampilan teknis untuk bekerja).
  • Kwalitas pribadi yang percaya diri, penuh insiatif, pekerja keras.
  • Dukungan Penyemangatan seperti…Bimbingan, Material dan Modal.

“All things are possible to him that believeth“
(Tidak ada sesuatu yang mustahil, bagi orang yang percaya)
Untuk mengatasi/mengurangi angka kemiskinan disekitar kita, perlu beberapa usaha.

Usaha untuk berhasil diperlukan kebersamaan dengan : Tekad, Kemauan Keras dan Fokus. Mengentaskan kemiskinan adalah tugas kita bersama, bersatu dalam kepedulian…………

Mari dengan kepedulian, dengan kaya dalam berkarya kita lanjutkan, kita saling membutuhkan, kita semua sama-sama ditolong Tuhan.

 

Oleh : Bapak Robert P. Manik

Read More →
Exemple

BERIKANLAH KAMI MAKANAN KAMI YANG SECUKUPNYA

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dalam urutan “Doa Bapa Kami”, setelah berdoa bagi kemuliaan, kerajaan, dan kehendak Allah, kita juga berdoa bagi kebutuhan dan kenyamanan yang diperlukan dalam kehidupan sekarang ini, yang merupakan karunia Allah. Keperluan ini harus diminta dari-Nya. Apa yang harus kita minta dalam doa khususnya mengenai kebutuhan ini? Ton arton epiousion — Makanan untuk hari yang menjelang, untuk sepanjang sisa hidup kita. Makanan untuk masa mendatang, atau makanan untuk keberadaan dan penyambung hidup kita yang sesuai dengan keadaan kita di dunia (Amsal 30:8), makanan yang menjadi bagian kita dan keluarga kita, sesuai kedudukan dan lingkungan kita.

Di sini, setiap perkataan itu mengandung pelajaran yang disarikan sebagai berikut :

  1. Kita meminta makanan, dan hal ini mengajarkan kita dua hal, yaitu ketenangan dan kesederhanaan. Kita meminta makanan, bukan yang lezat-lezat atau berlimpah ruah, tetapi yang sehat, meskipun rasanya mungkin tidak enak.
  2. Kita meminta makanan kita, yang mengajarkan kita kejujuran dan kerajinan. Kita tidak meminta makanan yang menjadi hak orang lain, roti hasil tipuan (Ams. 20:17), ataupun makanan kemalasan (Ams. 31:27), melainkan makanan yang diperoleh dengan jujur.
  3. Kita meminta makanan secukupnya, yang mengajarkan kita untuk tidak merasa kuatir akan hari besok (Matius 6:34), tetapi senantiasa mengandalkan pemeliharaan ilahi, seperti mereka yang hidup dari sehari ke sehari.
  4. Kita memohon kepada Allah untuk memberikannya dan bukan menjual atau meminjamkannya kepada kita. Orang-orang yang paling hebat pun harus mengandalkan belas kasihan Allah untuk mendapatkan makanan secukupnya.
  5. Kita berdoa, “Berikanlah kepada kami, bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada orang lain, sama seperti aku.” Hal ini mengajar kita tentang kemurahan hati dan perhatian penuh belas kasihan bagi mereka yang miskin dan melarat. Hal ini juga mengisyaratkan agar kita berdoa bersama keluarga kita. Kita sekeluarga makan bersama, dan oleh karena itu juga perlu berdoa bersama.
  6. Kita berdoa agar Allah memberi kita pada hari ini, yang mengajar kita untuk memperbarui kerinduan jiwa kita pada Allah, sama seperti kebutuhan jasmani kita juga diperbarui. Begitu tiba hari yang baru, kita harus berdoa kepada Bapa sorgawi kita, dan berpikir bahwa melewati satu hari tanpa doa, sama saja dengan melewatinya tanpa makanan.

Dengan melihat pelajaran di atas, marilah kita berdoa dengan bersungguh-sungguh atas makanan yang kita makan dan cobalah Saudara renungkan makna hadirnya makanan di hadapan kita selama ini. Adakah rasa syukur yang terpancar dari hati sanubari kita?

Di bawah ini saya kutipkan salah satu tulisan Pdt. Andar Ismail dalam bukunya yang berjudul “Selamat Berteduh” pada Bab 10. Mari kita simak dan renungkan.

Bapa kami yang di sorga,
tiap hari kami berdoa:
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya.
Kami mengakui makanan sebagai berkat ilahi.
Demikian juga apa yang tersaji saat ini, nasi, sayur asem dan ikan asin.
Kami mensyukuri nasi ini serta kisah yang ada di baliknya.
Sekian bulan lalu pak tani membajak sawah, berhari-hari berlelah.
Lalu istrinya menanam benih padi, berbulan-bulan mengairi sawah.
Kemudian mereka menuai, lalu menumbuk ramai-ramai.
Mereka bekerja keras untuk menghasilkan beras
sehingga kini tersaji nasi di piring ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.

Kami mensyukuri sayur asem ini serta kisah yang ada di baliknya.
Sekian bulan lalu para petani mencangkul,
menggemburkan dan menyuburkan tanah,
menanam jagung, labu, tomat, kacang, belinjo, nangka,
tiap hari mereka menyiram, memelihara kebun,
cemas-cemas harap menunggu panen yang menghasilkan sayur-mayur ini
sehingga tersajilah sayur asem ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.

Kami mensyukuri ikan asin ini serta kisah yang ada di baliknya.
Bulan lalu seorang nelayan melaut,
sepanjang malam diterpa angin dingin,
di tengah ombak dan kegelapan malam, menjala ikan,
lalu kembali ke darat dengan selamat.
Anak dan istrinya membersihkan ikan itu,
menggarami dan menjemurnya,
sehingga kini tersaji ikan asin ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.

Bapa, Allah yang rahmani,
terima kasih untuk nasi yang pulen ini,
sayur asem yang sedap ini
dan ikan asin yang gurih ini.
Kiranya para nelayan dan petani serta anak dan istri
juga menerima rezeki seperti kami pada saat ini.

Bapa sorgawi,
berikanlah kami,
termasuk keluarga nelayan dan petani,
pada hari ini
makanan kami yang secukupnya.
Amin.

 

Oleh : Bapak Topson Siagian

Read More →