QUO VADIS GEREJA

arsiv

Exemple

QUO VADIS GEREJA

Istilah Quo Vadis

Istilah “quo vadis” berkaitan dengan tradisi sejarah gereja. Konon ketika Roma dibakar oleh Kaisar Nero (Lucius Domitius Ahenobarbus), orang Kristen teraniaya. Aniaya yang dilakukan terhadap orang Kristen sangat kejam. Ia suka membuang orang Kristen ke kandang binatang buas, dan menjadikannya tontonan yang mengasyikkan.

Petrus berlari meninggalkan kota Roma untuk menyelamatkan diri, tetapi di jalan ia bertemu dengan Tuhan Yesus yang berjalan berlawanan arah dengannya. Ia bertanya, “Hendak ke mana Tuhan ?” Tuhan Yesus menjawab, bahwa Ia akan masuk ke kota Roma untuk mendampingi umat-Nya. Petrus merasa tertegur. Ia malu. Ia menyadari sikapnya yang pengecut, tidak bertanggung jawab dan mencari kenyamanan. Karena itu, ia kembali ke kota Roma. Menurut cerita dalam sejarah gereja, akhirnya ia mati disalib dengan kepala di bawah. Petrus sebelum mati berkata bahwa kalau Tuhannya mati dengan kepala di atas, ia tidak layak mati dengan kepala di atas. Karena itu, ia disalib dengan kepala di bawah.

 

Quo Vadis Gereja

Apa yang Anda bayangkan dengan gambar di atas? Ada perbedaan antara Petrus dan Yesus Kristus. Dengan pakaian yang mentereng dan mewah, Petrus berjalan melarikan diri dari Roma. Petrus hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Ia lupa pada panggilannya. Namun Yesus Kristus, dengan kondisi pakaian yang tidak lengkap dan cenderung compang camping, sambil memanggul salib Ia justru menuju ke arah Roma. Ia mencari mereka yang teraniaya, tersingkirkan, yang hak-hak hidupnya diambil oleh kekuasaan. Ia mencari mereka yang hidupnya dalam bahaya, hadir di tengah-tengah pergumulan umat. Itulah “jalan salib”.

Jadi, kata “quo vadis” tidak berarti asal berjalan, melainkan berjalan ke suatu arah, Jika kita “pergi” meninggalkan misi yang paling utama, maka sebetulnya kita telah melarikan diri dari tugas paling utama. Namun bila kepergian kita menuju arah misi Allah, maka seberat apapun perjalanan, kita harus hadapi. Itulah panggilan, menjalankaan misi Allah! Panggilan kita adalah berjalan ke arah kehendak Tuhan! Kemanakah Tuhan akan pergi, ke sanalah kita menuju, bukan ke arah yang berbeda!

“Quo vadis gereja? Kemanakah gereja akan berjalan?” Semestinya gereja berjalan menuju misi yang telah ditentukan Yesus Kristus sebagai Sang Kepala Gereja! Fungsi gereja adalah menjalankan misi-Nya! Dan kemana pun Yesus pergi, semestinya di situ juga gereja berada! “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku dan di mana Aku berada, di situ pelayan-Ku akan berada.” (Yohanes 12 : 26) Ketika Tuhan Yesus mengedepankan orang kecil dalam pelayanan-Nya, maka itulah yang harus dikerjakan gereja. Ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit, memperhatikan mereka yang tersisihkan, maka di situlah juga gereja berada. Ketika gereja meninggalkan kemapanan dan kenyamanan, maka di situlah semestinya gereja. Misi gereja tidak lain mengikuti Misi Yesus.

 

Lintas Generasi Beragam Aksi

Dalam kehidupan kita, gambar di atas masih relevan. Bukankah Petrus menggambarkan kehidupan kita? Kita seringkali terjebak di dalam kenyamanan dan kemapanan sehingga ketika kita harus menjalani “jalan Salib” kita berusaha lari menjauhinya. Akan tetapi, perjumpaan Petrus dengan Tuhan Yesus mengingatkan kita juga bahwa Tuhan Yesus selalu ingin kita tetap menjalani “Salib” itu. Kata “Quo Vadis” mengingatkan kita bahwa kita harus selalu bertanya apakah kita sudah searah dengan Tuhan kita dalam perjalanan hidup di dunia ini. Menjadi pengikut Tuhan, tidak selalu berarti mengerti semua kehendak Tuhan. Semakin lama mengikuti Tuhan, maka akan semakin tidak mengerti. Akan tetapi, bukankah dengan semakin tidak mengerti, kita harus semakin mendekat kepada-Nya? Kata “quo vadis” menolong kita untuk mengoreksi dan merefleksi diri, apakah arah hidup kita sebagai bagian dari gereja berjalan searah dengan kehendak-Nya? Jalan Salib tidak pernah menyenangkan. Tidak ada seorang pun yang berani menjalaninya tanpa anugerah Tuhan. Kita hanya bisa mengharapkan kekuatan dan anugerah-Nya agar jalan salib yang harus kita jalani tidak pernah kita ingkari.

Kita tidak pernah berhenti merasa bersyukur kepada Tuhan untuk 51 tahun perjalanan kehidupan GKI Maulana Yusuf. Karena sepanjang itu pula, Tuhan Yesus tidak pernah berhenti menyertai dan memberkati GKI-MY. Segala kekayaan talenta dan karunia telah Tuhan berikan kepada GKI-MY untuk berkiprah dalam pelayanan nyata di tengah-tengah dunia ini.

Film “Beauty and the Beast” sangat bagus bukan semata-mata karena akting para pemainnya, namun memiliki pesan moral yang mendalam. Kita tentu mengerti istilah “Don’t Look the Book Just From the Cover”. Sekalipun penampilan memang diperlukan, namun bukanlah yang terpenting. Gereja tidak boleh terjebak hanya memperlihatkan penampilan. Gereja harus memiliki “inner beauty”, sebab itulah yang terpenting dan utama menentukan kualitas diri kita. Nilai-nilai hidup datang dari dalam, sedangkan penampilan. Jangan indah di muka, tetapi buruk di dalam.

Gerak pelayanan gereja pun semestinya mencerminkan demikian. Gereja dihadirkan di tengah-tengah dunia untuk menjadi garam dan terang, yang memberi rasa dan menerangi. Hal itu hanya mungkin terjadi, bukan karena banyaknya jemaat, bukan karena indahnya gedung dengan segala fasilitas yang dimiliki, bukan karena segala aksi bisa dilakukan dan digelar. Gereja benar-benar menjadi garam dan terang ketika ia memberi rasa dan menerangi! Segala aksi akan benar-benar memberkati dan menjadi berkat, manakala Tuhan Yesus benar-benar menjadi fokusnya. Karena itu, yang dibutuhkan gereja adalah para pelayan yang rendah hati dan melayani dengan hati, bukan sekedar berpenampilan dan menunjukkan aksi.

SELAMAT MERAYAKAN HUT ke-51 GKI Maulana Yusuf Kepada seluruh anggota jemaat dan para simpatisan. Selamat melayani bagi kemuliaan Nama Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

KESEHATAN JASMANI DAN KEBUGARAN ROHANI

Pendahuluan

Baru saja berlalu gegap gempita kemeriahan Asian Games Ke-18, tanggal 18-08-18, adrenalin meningkat setiap menonton pertandingan, terutama saat pembukaan, ketika terjadi dua hal yang fantastis, yaitu koreografi tarian saman yang menggetarkan serta pak Jokowi ber-helm menaiki motor. Diakui oleh dunia internasional, Indonesia sangat berhasil menyelenggarakan perhelatan olahraga besar, diikuti perolehan medali emas yang jauh meliwati target.Tampak momen-momen olahraga ketika atlet berkerudung bahu membahu dengan atlet bersalib, semua identitas setara, saling berangkulan, saling tertawa dan saling mengalirkan air mata. Sungguh terharu melihat semangat inklusif kewargaan yang meleburkan perbedaan dalam harmoni persatuan.

Itulah kekuatan Olahraga ! The energy of Asia !

Setiap tanggal 9 September, diperingati sebagai Hari Olah Raga Nasional. Tanggal itu dipilih merujuk pada penyelenggaraan Pekan Olah Raga Nasional (PON) pertama, yaitu tanggal 9-12 September 1948, di Solo.

 

Kesehatan Jasmani

Bila ditanya pada setiap orang, apakah mau sehat?, pasti jawabannya ya. Tetapi bila disuruh berolahraga, sering orang malas atau beralasan sibuk. Padahal kesehatan tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan harus dilakukan sendiri. Kebanyakan orang, terutama masyarakat urban terlalu banyak duduk dan kurang gerak (sedential). Sebenarnya, Alkitab berisi firman Allah juga mengajarkan kepada kita tentang hidup sehat. Kesehatan yang sempurna hanya berasal dari Allah, seperti halnya iman. Setiap orang beriman yang diberi kesehatan oleh Tuhan, tidak boleh memegahkan diri, karena itu bukanlah hasil usaha kita. Akan tetapi bukan berarti dengan demikian orang Kristen tidak boleh berusaha, hanya berharap saja, serta meminta kesehatan jatuh dari langit, padahal ada tertulis, iman tanpa perbuatan adalah mati, sehingga kita memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjaga hidup kita agar tetap sehat. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa kita perlu memelihara tubuh kita dengan baik, dinyatakan dalam Efesus 5:29 : “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat“.

 

Kebugaran Rohani

Sejak awal manusia sudah didesain untuk melakukan “pekerjaan baik” yang sudah dipersiapkan jauh sebelumnya oleh Tuhan (Efesus 2:10). Ketika manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik tersebut, maka bukan saja tujuan Tuhan dapat tercapai, tetapi kondisi kesehatan rohani pun akan terbangun. Kebugaran rohani dicapai melalui proses kematangan dan diperlukan sikap yang proaktif untuk mencapainya seperti yang dikehendaki Tuhan. Latihan untuk meningkatkan kebugaran rohani adalah beribadah. Beribadah bukanlah melulu perihal pergi ke gereja, tetapi lebih kepada pengaplikasian firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya membaca firman Tuhan, merenungkan siang dan malam dan melakukannya secara nyata, menjadi berkat bagi sesama, menjadi sosok yang baik dalam keluarga, suami yang siaga, isteri yang cakap, anak-anak yang patuh, menjadi manusia yang hidupnya digerakkan oleh kasih. Untuk bisa sampai ke dalam bentuk hidup seperti ini tidak bisa secara instan melainkan memerlukan latihan. Rasul Paulus menyamakan ibadah dengan istilah “berlatih” dengan pemahaman bahwa pertumbuhan rohani tidak bisa dicapai dalam waktu “semalam”, namun harus melewati latihan demi latihan dengan motivasi yang benar hari lepas hari. Kebugaran Rohani atau spiritual fitness dimulai dari kesadaran, kesungguhan, bahkan kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, mendengar suara-Nya, berdiam di hadirat Nya, merasakan kasih-Nya, mengerti kebenaran firman Tuhan. Kebugaran rohani merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan, bahkan lebih penting dari kebugaran jasmani baik saat ini ketika masih di dunia maupun nanti setelah selesai dari masa kehidupan yang singkat ini. Jika orang mau meluangkan waktu untuk kesegaran jasmani yang membawa manfaat dalam masa hidup yang hanya sementara, mengapa banyak yang justru malas meluangkan waktu untuk kebugaran rohani yang sifatnya selamanya?

Mengejar kesehatan tubuh tidaklah salah, namun meremehkan pembangunan tubuh rohani bukanlah keputusan yang bijak. Banyak orang yang terlihat sehat secara jasmani, namun sayangnya tidak diikuti dengan sehat secara rohani, dan sebaliknya. Seperti dinyatakan dalam 1 Timotius 4:8, bahwa “latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”

Secara sederhana, untuk menciptakan suatu kehidupan yang “sempurna”, dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Hidup dalam keseimbangan
    Hidup manusia harus berada dalam keseimbangan antara kesehatan
    jasmani dan kebugaran rohani. Idealnya, kedua hal tersebut
    seharusnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan
    harus sama-sama diperhatikan dengan baik dan dijaga agar
    tetap seimbang.
  2. Hidup dalam pengendalian
    Setiap manusia memiliki keinginan, nafsu dan hasrat, yang selalu
    ingin dipenuhi. Tetapi bila keinginan tersebut dilakukan secara
    berlebihan dengan tanpa pengendalian, maka kehidupan seseorang akan
    menjadi tidak baik.
  3. Hidup dalam bersukacita dalam Tuhan
    Hati yang gembira adalah obat. Tips ini sudah terbukti sejak dahulu
    kala bahkan sampai saat sekarang ini pun, dokter, psikolog, terapis
    selalu menganjurkan pasiennya untuk bersukacita. Hal apakah membuat
    kita dapat bersukacita adalah dengan mengingat akan kebaikan,
    kesetiaan, perlindungan, pertolongan, berkat dari Tuhan. Sehingga
    ucapan syukur serta sukacita ilahi akan melingkupi diri kita.

Anda tentu mau untuk menjadi “manusia yang sempurna”, bukan? Dengan demikian, marilah kita bersama mencapai hidup dalam kondisi sehat jasmani dan bugar rohani. Suatu kondisi hidup yang dapat dicapai dengan upaya yang sungguh-sungguh, dimulai dari sekarang dan melalui suatu proses. Biarlah kondisi seperti ini dilakukan secara konstan dan kontinyu, sehingga kondisi ini akhirnya akan menjadi suatu kebutuhan dan bahkan menjadi jalan hidup kita.

Akhirnya, biarlah kita semua warga jemaat merawat, memelihara dan meningkatkan kesehatan jasmani dan kebugaran rohani sehingga mencapai level yang prima.

 

Oleh : Pnt. Johan. M. Nasution

Read More →
Exemple

IF GOD IS GOOD, WHY…?

“Jika Anak Manusia itu datang,
adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:8b)

Tahun 2004, Tsunami menghantam Aceh dan beberapa negara tetangga lainnya. Sebuah keluarga tengah menikmati liburan awal musim dingin di sebuah pesisir pantai Thailand. Maria, Henry dan tiga putranya. Pada 26 Desember, saat mereka tengah asyik bermain di kolam renang, tiba-tiba ombak besar bergulung menghantam segala sesuatu yang dilaluinya. Semua luluh lantak. Keluarga itu pun hanyut terpisah. Sang ibu berjibaku bersama anak sulungnya dalam arus air yang menyeret balik ke tengah laut. Sang ayah bersama dua orang anaknya yang lain entah dimana. Cuaca yang indah berubah drastis menjadi buruk. Suasana menjadi mengerikan. Kisah nyata ini diceritakan ulang dalam film “The Impossible” (2012). Penderitaan itu tiba-tiba menyergap tanpa tedeng aling-aling.

Tidak ada seorang pun yang mau menderita. Bahkan kita lebih tertarik pada kisah-kisah sukses ketimbang proses yang menjadikan lahirnya kesuksesan. Kita lebih ingin secara instan mencicipi manisnya hidup (better), ketimbang melalui proses pahitnya (bitter). Kita cenderung menghindarinya. Tak kita jumpai sebuah mata pelajaran atau bimbingan belajar tentang penderitaan. Tapi faktanya, penderitaan itu bisa datang kapan saja, bahkan saat kita yakin bahwa segala sesuatunya baik-baik saja. Ia datang seperti wabah, hama, penyakit, dan tamu tak diundang. Ia tak pandang bulu terhadap kaya atau miskin, pejabat atau jelata, tuan atau buruh, kulit berwarna atau kulit putih, di kota atau di desa. Kita semua punya potensi untuk mengalami penderitaan dengan beragam bentuk serta konteks. Alkitab mencatat beberapa kisah terkait penderitaan. Disana ada Abraham, Musa, Yusuf, Daud, Gideon, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daniel, Elia, Yeremia, Ayub, Hosea, bahkan Yesus serta Paulus. Lantas, untuk apa penderitaan itu ada? Mengapa Allah membiarkan penderitaan? Mengapa Allah seolah membisu? Mengapa orang baik justru mengalami tekanan dan diskriminasi? Itu pertanyaan-pertanyaan yang usianya setua catatan Alkitab dan sering terlontar dan kerap muncul hingga zaman milenial ini.

Menurut Benjamin Blech (2003), penderitaan, lebih dari semua hal lain, dapat membahayakan iman kita. Mungkin hal yang lebih menggangu bukanlah kepedihan itu sendiri melainkan penderitaan yang tampak tak jelas ujung pangkalnya. Blech juga menulis bahwa seseorang dapat menanggung hampir semua beban bila ia mengetahui bahwa hal itu adalah untuk suatu alasan. Dalam mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus ingat bahwa pikiran kita memang terbatas dalam menangkap kebenaran dalam lingkup yang tak terbatas. Kita tak hanya mengenal satu kemungkinan saja, bahkan kita harus menggunakan kemungkinan gabungan. Alkitab setidaknya mengandung beberapa hal yang bisa menjadikan kita paham untuk apa manusia mengalami penderitaan.

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN , dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Amsal 3:11-12). Saat Allah “mendisiplin” kita, dan kita tak menghargainya sama sekali, itu karena kita masih belum dewasa untuk melihat gambar yang utuh. Allah sangat mengasihi kita, itulah mengapa Ia mendisiplin kita.

Peristiwa orang Israel pasca kelepasan dari tanah Mesir, ketika menyeberangi Laut Teberau dan sampai pada mata air di Mara (= pahit). Mereka bersungut-sungut karena air yang pahit (Keluaran 15:23-26). Kenapa Allah tak memberi air yang baik? Apa yang diajarkan Allah pada mereka (dan kita)? Realitasnya, hanya karena kita seorang percaya bukanlah berarti kita takkan pernah mengalami kesulitan. Hanya karena mereka merupakan pewaris berkat-berkat supranatural, bukan berarti bahwa mulai saat itu kehidupan mereka akan selalu berakhir seperti dongeng anak-anak. Contoh konkret adalah ditemukannya vaksin (cacar) oleh Edward Jenner pada 1796. Jenner mengusulkan hal yang tak masuk akal, yaitu menyuntikkan sejumlah kecil biakan kuman cacar sapi kepada manusia yang sehat agar manusia kebal terhadap penyakit cacar. Kita diingatkan bahwa Allah menggunakan kepahitan itu sendiri untuk mengubah yang buruk menjadi baik.

John Audubon (ahli unggas), suatu saat mengamati seekor kupu-kupu yang indah sedang menggelepar dalam kesulitan. Ia tak mampu keluar dari kepompong yang mengurungnya. John tersentuh untuk membebaskan penderitaan mahluk itu. Ia menyobek kepompong tersebut. Kupu-kupu itu terbang beberapa kaki, kemudian jatuh dan mati. Alam bahkan mengajarkan kita bahwa pengalaman yang menyakitkan memperkuat kita untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dalam kehidupan. Saat kita berjuang untuk apa yang kita inginkan, kita menjadi lebih kuat dan lebih baik, tetapi bila hal-hal datang terlampau mudah, kita menjadi lemah dan sesuatu di dalam diri kita tampak mati.

Maria, Henry dan tiga putranya, yang selamat dalam peristiwa tsunami 2004, adalah saksi hidup bagaimana penderitaan itu membentuk dan mengajarkan pada mereka untuk tetap menjadi berkat, peduli pada orang-orang yang juga mengalami penderitaan. Dan sebagai Kristen, kita pun telah dimerdekakan oleh sebuah proses penderitaan Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus, mulai dari pergumulan di Taman Eden, pengadilan tak adil oleh para imam agama, penyiksaan oleh prajurit Romawi, perjalanan panjang mendaki ke Golgota, hingga mati di atas salib. Semoga kita dimampukan Allah melalui pertolongan Roh Kudus dalam menghadapi, melalui, serta memaknai segala bentuk penderitaan dalam kehidupan yang kita jalani. Tuhan memberkati.

Read More →
Exemple

KEKRISTENAN DAN KEBHINEKAAN

“… dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka,
tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.”
(Kolose 3:11)

Kepelbagaian Adalah Keniscayaan

Pada lambang negara kita, tertulis sebuah semboyan penting: “Bhinneka Tunggal Ika”. Indonesia sebagai kesatuan nusantara terhimpun dari belasan ribu pulau, beraneka warna budaya, bahasa, sejarah, dan ragam ekspresi. Ke-bhinneka-an (ke-beraneka ragam-an) jelas kentara dalam keseharian kita sebagai bangsa. Demikian pula semestinya dengan kesatuan kita. Yang beraneka-ragam itu adalah satu! Itulah arti harfiah dari Bhinneka Tunggal Ika, sehingga kemudian dibahasakan kembali menjadi “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Tuhan tidak menciptakan alam semesta dalam keseragaman. Ia mencipta dalam keanekaragaman. Oleh karena itu, pemaknaan tentang kesatuan tidak boleh diartikan semata-mata dalam wujud penyeragaman atau penyamaan. Inilah makna yang terkandung dalam Kolose 3:11 ketika dikatakan tiada lagi orang Yunani atau Yahudi, Barbar atau Skit, bersunat atau tidak bersunat, budak atau merdeka: Perbedaan itu tetap ada, namun tidak lagi menjadi alasan untuk membeda-bedakan (diskriminasi).

Kesadaran semacam itulah yang dialami oleh Petrus dalam Kisah Rasul 10:34, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.” Sebagai orang Yahudi, sebelumnya ia hidup dalam pemahaman bahwa mereka adalah bangsa terpilih yang memiliki status lebih tinggi daripada bangsa-bangsa lain. Dalam ayat 28 tampak pola pikir superioritas diri tersebut, “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka.” Namun kemudian Petrus mendapatkan hikmat Allah, “Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.” Perbedaan bukanlah alasan untuk merasa diri lebih superior (merasa diri lebih tinggi) atau inferior (merasa diri lebih rendah); perbedaan adalah realita yang tidak terelakkan, suatu keniscayaan yang harus disyukuri sebagai karunia Allah.

Bersatu dalam Kepelbagaian

Salah satu tantangan terbesar dari sebuah bangsa yang demikian beraneka ragam adalah dalam memelihara persatuan di antara semua unsur yang berbeda-beda itu. Sebagai orang Kristen, setiap kali beribadah di gereja, bukankah kita diingatkan akan kesatuan itu? Jemaat dari berbagai latar belakang suku, bahasa, pendidikan, status sosial, warna-warni pakaian, dihimpun sebagai satu persekutuan di dalam Kristus. Itulah gereja! Meskipun ada 1001 hal yang bisa membedakan kita satu sama lain, namun terlebih dari itu semua ada 1 hal yang mempersatukan kita: Kristus!

Demikian juga sebagai bangsa, sepanjang sejarah perjuangan Indonesia, kita diingatkan bahwa di balik segala perbedaan yang terdapat di antara kita, ada hal-hal yang mempersatukan kita. Sumpah Pemuda 1928 mengingatkan unsur pemersatu kita sebagai bangsa: Satu tumpah darah, tanah Indonesia. Satu bangsa, bangsa Indonesia. Satu bahasa persatuan, bahasa Indonesia!

Model persatuan seperti ini merupakan sebuah nilai yang luhur dalam perspektif iman Kristen. Persatuan yang tidak memaksakan penyeragaman, persatuan yang tidak anti terhadap perbedaan, persatuan yang tidak mendiskriminasi mereka yang jumlah dan kekuatannya jauh lebih kecil. Bandingkan dengan doa Tuhan Yesus sendiri bagi semua orang percaya: “supaya mereka semua menjadi satu,… supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Persatuan dalam bangsa Indonesia adalah selaras dengan nilai persatuan yang Kristus kehendaki, dan oleh karena itu perlu kita teguhkan bersama.

Bagaimana caranya? Kita perlu mewaspadai kecenderungan-kecenderungan yang dapat mencederai persatuan dalam kepelbagaian. Setidaknya ada 2 titik rawan yang perlu mendapat perhatian serius dari umat Kristen:

  1. Primordialisme: Dalam bahasa sosial politik, primordialisme adalah kecenderungan untuk mengutamakan dan menomor-satukan unsur “asal” kita tanpa mengindahkan pihak-pihak lain. Kecenderungan untuk berkumpul hanya dengan orang yang satu kampung halaman kita, hanya merasa nyaman apabila berada dalam kumpulan-kumpulan sang se-asal (suku, kewarga-negaraan, dsb.). Bayangkan di tengah sebuah gereja yang dipanggil untuk menjadi satu di tengah lansekap Indonesia yang beragam ini, kecenderungan primordialisme hanya akan menghasilkan persekutuan-persekutuan Kristen berdasarkan suku-suku sendiri. Dan kenyataan membuktikan, bahkan dalam satu suku pun kecenderungan memecah diri menjadi berbagai sub-sub suku kemudian terjadi.
  2. Stereotyping: Kecenderungan untuk memberi label/cap terhadap mereka yang berbeda. Dan kemudian, label-label superior yang serba positif dikenakan kepada kelompok sendiri, dan label-label negatif ditujukan kepada mereka yang berbeda. Hidup dalam prasangka, pandangan negatif, pada akhirnya hanya menciptakan fragmentasi dalam masyarakat. Namun patut diakui bahwa ungkapan-ungkapan stereotype lah yang seringkali tercetus dalam percakapan-percakapan pribadi kita, di tengah obrolan keluarga, dalam percakapan akrab orangtua-anak, dsb. Bibit-bibit apakah yang kita taburkan jika perilaku yang demikian tidak kita ubah mulai dari sekarang?

Marilah kita merawat ke-bhinneka-an yang Tuhan rahmatkan kepada bangsa Indonesia. Adalah panggilan bersama kita sebagai warga negara dan warga gereja untuk menjaganya dan mengembangkannya sebagai sebuah kesaksian kepada dunia.

Tuhan memberkati, Amin.

 

Oleh : Pdt. Roy Alexander Surjanegara

Read More →
Exemple

DIRGAHAYU RI KE-73

               Kita bersyukur, bangsa kita boleh merayakan 73 tahun kemerdekaan pada 17 Agustus 2018. Usia 73 tahun adalah sebuah prestasi hebat mengingat negara Uni Soviet runtuh pada usia yang ke-70. India langsung terpecah menjadi dua, India yang mayoritas Hindu dan Pakistan yang mayoritas Islam, hanya beberapa tahun setelah kemerdekaan. Indonesia, meski mengalami berbagai macam konflik dan ketegangan, tetapi masih tetap utuh.

               Saya ingin kita menelisik masa sebelum kemerdekaan. Sesungguhnya gagasan kebangsaan adalah gerakan emansipasi untuk membebaskan diri dari penjajahan yang menindas, tetapi juga gerakan emansipasi yang membebaskan diri dari ikatan primordial agama dan etnik yang sempit. Semua berpikir dan berjuang untuk bangsa Indonesia. Latar belakang etnik dan latar belakang agama tidak menjadi faktor penghambat dalam arus kebangsaan Indonesia. Sebaliknya, latar belakang itu justru menjadi faktor komplementer yang memperkaya kebangsaan itu sendiri.

              Ada aspek yang menarik pada masa itu yaitu saat perjuangan kemerdekaan, para founding fathers/mothers bangsa ini berjuang demi bangsa. Mereka berjuang bahu-membahu dalam kerjasama. Mereka tahu bahwa bangsa ini tidak mungkin merdeka kalau tidak ada tekad memperjuangkannya mati-matian. Dalam perjuangan itu mereka siap berkorban bahkan bila perlu sampai mati. Mereka mengorbankan kepentingan dan pementingan diri, mengorbankan keluarga, identitas etnik dan identitas agama. Oleh karena itu ada dua hal yang ditekankan yaitu tekad untuk berjuang dan tekad untuk mengorbankan diri demi kepentingan bangsa.

                 Ketika Indonesia ini berhasil memerdekakan dirinya, muncul polarisasi. Orang mulai berdebat, negara macam apa yang hendak dibentuk. Ada yang ingin membentuk negara agama yang memberikan keistimewaan kepada salah satu umat beragama. Tetapi ada yang ingin membentuk negara sekuler yang menjamin kesetaraan semua umat beragama. Dari internal kelompok agama sendiri terbagi dua: ada yang mengidealkan masa lalu, yaitu ingin membentuk negara berdasarkan bentuk negara agama yang pernah terbentuk di masa lalu, tetapi ada yang ingin membentuk negara agama yang lebih moderat, progresif dan open bagi semua yang berbeda. Artinya ada upaya untuk pencarian bentuk negara yang cocok untuk kondisi Indonesia yang multi kultural. Sampai saat ini ketegangan itu tidak pernah selesai. Ia selalu muncul terutama jelang Pemilu. Itulah sebabnya, gagasan kebangsaan itu adalah on going process. Nation in the making! Sesuatu yang tidak pernah selesai karena ia harus mengakomodasikan diri dengan berbagai tantangan jaman.

Tantangan di Depan?

            Tantangan terbesar dalam konteks wawasan kebangsaan adalah makin minimnya jiwa perjuangan dan semangat pengorbanan demi kepentingan bangsa. Sebaliknya, apa yang terlihat sekarang adalah banyak orang lebih dikuasai oleh selfishness dan egoisme pribadi. “Kita hidup dalam era ketamakan,” kata Joseph Stiglitz, ilmuwan pemenag hadiah Nobel. Kita hidup dalam situasi dimana semua orang ingin mendapatkan dan meraih sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan orang lain. Banyak orang, terutama elite pejabat, enggan berjuang dan berkorban. Segala sesuatu maunya didapat dengan mudah. Orang membeli ijazah palsu, korupsi dan manipulasi demi meraih keuntungan dan jabatan tanpa perjuangan berat dan tanpa pengorbanan besar. Semuanya dilakukan untuk kepentingan dan pementingan diri sendiri. Orang lain dianggap kompetitor, saingan. Akibatnya, orang pun menjadi serigala terhadap sesamanya.

          Secara sosial, kerekatan kita sebagai bangsa juga mengalami krisis terutama dengan munculnya politisasi agama. Di tengah masyarakat mulai bermunculan rumah-rumah kos atau perumahan yang hanya mau menerima penghuni berdasarkan agama tertentu. Muncul juga Perda-perda yang berdasarkan agama di berbagai propinsi. Celakanya dunia pendidikan ikut berkontribusi menyemai benih segregasi dan diskriminasi dalam masyarakat. Sekolah menjadi institusi yang sangat sektarian dan segregatif yang memilah dan memisahkan para pelajar.

             Pada masa kini, orang-orang yang dikuasai egoisme pribadi berkolaborasi membentuk kekuatan oligarki yang menguasai akses politik dan ekonomi. Mereka sering memanfaatkan atau memanipulasi atau memolitisasi agama demi kepentingan mereka. Saat orang-orang yang dikuasai selfishness dan primordialisme kelompok baik etnik maupun agama berkuasa, bangsa ini akan menjadi rapuh. Praktek diskriminasi dan segregasi akan terjadi dimana-mana sosial-politik. Rakyat akan menjadi korban yang mengalami penindasan dan ketidakadilan sosial, budaya dan ekonomi, dan pada akhirnya bangsa ini mudah terpecah belah seperti yang terjadi di Irak, Suriah dan Sudan.

             Keretakan bangsa ini akan semakin besar karena munculnya berbagai ujaran kebencian dan hoax yang mengadu domba yang dilakukan melalui media sosial. Kita akan menjadi korban proxy war dimana kita diadu domba untuk berkelahi dengan saudara sebangsa dan setanah air kita sendiri. Di banyak negara, strategi proxy war dilakukan berbagai pihak yang tidak bertanggungjawab, baik dalam negeri maupun asing, demi memperlemah bangsa dan memuluskan rencana jahat mereka terhadap bangsa kita. Oleh karena itu kita harus mawas ke dalam dan mawas ke luar. Kita membutuhkan pendekatan holistic dan komprehensif untuk membangun dan memperkuat wawasan kebangsaan. Jiwa dan semangat perjuangan serta pengorbanan demi persatuan dan kesatuan yang berwawasan kebangsaan yang diwariskan oleh para founding fathers/mothers kita harus dihayati oleh para politisi kita, dan harus bisa diwariskan kepada generasi muda kita. Mereka harus tahu bahwa memiliki identitas Indonesia tidak akan mengurangi identitas etnik dan identitas agamamu.

Perlu Langkah yang Komprehensif dan Strategis!

           Demi menjaga keutuhan bangsa, kita membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan holistic. Kita harus membangun ketahanan ideology, ketahanan politik, ketahanan ekonomi, ketahanan sosbud, dan ketahanan hankam. Untuk mewujudkannya, kita harus menggunakan bottom up approach mulai dari ketahanan pribadi, ketahanan keluarga, ketahanan daerah dan ketahanan nasional dalam segala bidang kehidupan baik sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Sekolah atau universitas kita harus dibenahi sehingga ia menjadi tempat dimana spirit perjuangan dan pengorbanan bagi kemajuan pribadi dan kemajuan bangsa tetap terpelihara.

              Kita juga harus ingat bahwa kita berada dalam arus perubahan yang sangat cepat yang dinamakan revolusi industri ke-4. Untuk menghadapi tantangan besar akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, kita harus memfasilitasi kondisi yang memungkinkan lahirnya generasi pembelajar dan manusia pembangun yang memiliki moral-etik dan spiritualitas yang kokoh.

         Kita juga harus mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang memiliki kualitas leadership dan manajemen yang mampu memperkuat kebidayaan yang lebih beradab dimana budaya kekerasan, diskriminasi dan terorisme bisa dikurangi. Sebaliknya penegakkan hukum dan penguatan civil society bisa diimplementasikan. Langkah terakhir yang harus dilakukan adalah mempertahankan komitmen bangsa ini untuk menjaga dan mengimplementasikan Pancasila dan UUD 1945 dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kita semua tahu bahwa rumusan Pancasila dan UUD 1945 sudah bagus. Tidak ada satu pun dari nilai-nilai Pancasila yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Apa yang kurang dari Pancasila dan UUD 1945 bukanlah teorinya, tetapi pada implementasinya. Nah, marilah kita semua menjadi orang yang menjaga sekaligus menjadi implementor dari Pancasila dan UUD 1945.

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

Bukan Damai Melainkan Pedang?

Pagi hari, 19 April 1995, di kota Oklahoma, AS, seorang veteran Perang Teluk memarkirkan sebuah truk Ryder berisi lima ton bahan peledak fertil ke sebuah Gedung Federal Alfred P. Murrah. Timothy J. McVeigh, pemuda berusia 33 tahun ini melakukan balas dendam atas peristiwa bentrokan Ruby Ridge dan Waco (David Koresh, pendiri sekte Kristen bernama Ranting Daud) yang terjadi 2 tahun sebelumnya. Secara pribadi, Mc Veigh dipengaruhi oleh berbagai literatur dan ide-ide yang disampaikan sayap kanan radikal. Konon, ia pun dimotivasi oleh pemahaman keliru terhadap Matius 10:34, “…Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Akibat dari ledakan hebat itu, 168 orang tewas dan 675 orang mengalami luka-luka. Sebuah aksi teroris terburuk dalam sejarah Amerika sebelum serangan 9/11 (11 September 2001). Kita bisa menyaksikan peristiwa ini nyata ini dari film dokumenter bertajuk “Oklahoma City” (2017).

Menurut penelusuran Mark Juergensmeyer  – seorang sosiolog dan penulis buku Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (2003) – bahwa McVeigh dipengaruhi oleh teologia yang dibawakan gerakan “Christian Identity” yang dipimpin oleh Pendeta Robert Millar. Tahun 1996, “Christian Identity” mengebom Olimpiade di Atlanta. Dan tahun 1999 menembaki sebuah tempat penitipan anak Yahudi. Sebelumnya, tahun 1994, Pendeta Paul Hill menembak mati Dokter John Britton di Florida.

Tuhan Yang Bengis?
Dari berbagai peristiwa di atas, kita bisa tahu bahwa seseorang bisa saja terinspirasi dan memakai ayat sebuah kitab suci (Firman Tuhan), bukan untuk mencintai melainkan untuk membunuh sesama manusia. Seseorang bisa mengklaim bahwa Tuhan ‘menitahkan’ sebuah tindakan pemurnian (purify) dalam wujud melenyapkan siapapun yang dianggap menghalangi upaya / perjuangan menegakkan hukum-hukum Tuhan atau upaya menghadirkan ‘surga’ di bumi. Sungguh berbahaya.

Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu akhirnya menjadi berwajah buruk, dingin dan penuh kekerasan, manakala orang-orang seperti McVeigh, Paul Hill dan Robert Milar menjadi model dan panutan dalam beragama. Benar bahwa dalam catatan sejarah, Kekristenan tak luput dari wajah kekerasan atas nama agama. Peristiwa Perang Salib yang berjilid-jilid, genosida terhadap kaum Yahudi yang dilakukan rezim Nazi pimpinan Adolf Hittler, konflik Protestan – Katolik di abad pertengahan dan berbagai peristiwa lainnya, adalah pelajaran berharga bagi kita tatkala agama dimanipulasi serta tergerus maknanya untuk tujuan-tujuan politik dan kekuasaan. Kekristenan dihadirkan dengan pedang dan peluru. Dan akhir-akhir ini pun kita lebih sering melihat Tuhan yang bengis dan membawa ‘pedang’ melalui sepak terjang ISIS dan kelompok-kelompok radikal berjubah agama.

Kasih: Ajaran Utama Yesus Kristus
Ada dua hal penting yang mesti kita pegang sebaai murid Yesus Kristus. Pertama, Yesus datang ke dunia ini tidak mengajarkan kekerasan. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia  bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh 3:17). Hal tersebut dibuktikan dengan tindakan-Nya dalam mengajar, bahkan Ia tak menghendaki saat Petrus menyabetkan pedangnya ke telinga seorang pasukan Romawi yang ingin menangkap-Nya di Taman Getsemani. Kedua, inti ajaran Yesus adalah Kasih (Agape). “Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia  seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:36-40).

Mahatma Gandhi (penganut Hindu) dan Martin Luther King Jr., telah membuktikan ajaran Yesus Kristus yang nirkekerasan itu justru telah membangun rasa malu dalam diri penindas dan menantang rasa superioritas palsunya. Mungkin saat ini, rasa superioritas terhadap pihak lain yang berbeda sedang marak. Entah terhadap suku, agama bahkan bangsa tertentu. Bangsa Eropa (Barat) yang muncul dengan 3G-nya (Gold, Glory and Gospel) di sekitar abad 15 Masehi, juga terjangkiti virus superioritas terhadap dunia Timur (bangsa jajahan). Dan kita bisa merasakan efeknya hingga kini di Indonesia.

Mari kita memuliakan Yesus Kristus dengan menebarkan kasih sayang, kedamaian dan nirkekerasan pada lingkungan kita dan dunia. Agara semua orang tahu bahwa kita muridNya. Seperti kata Yesus…”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9).

Oleh: Bapak Dommy Waas

Read More →
Exemple

Memahami Arti Saling Memaafkan

Hari ini, seluruh umat Muslim di Indonesia bahkan di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan, setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu. Yang khas dari perayaan Idul Fitri, selain ketupat, lontong sayur dan aneka kue kering adalah ucapan “Mohon maaf lahir dan batin”. Ya, hari raya Idul Fitri identik dengan tradisi saling memaafkan. Idul Fitri menjadi momentum bagi mereka untuk lahir baru, kembali kepada fitrahnya, dan diampuni segala kesalahannya oleh Allah. Bagi kita para pengikut Kristus apakah artinya saling memaafkan atau mengampuni? Bagi beberapa orang mengampuni adalah hal yang mudah dilakukan, tetapi tidak sedikit pula yang kesulitan melakukan hal tersebut.

Seorang ibu guru SD mengadakan “permainan”. Ibu Guru menyuruh anak-anak muridnya membawa kantong plastik transparan dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci. Sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa, tergantung jumlah orang yang dibenci. Pada hari yang disepakati, masing-masing murid membawa kentang dalam plastik. Ada yang berjumlah dua, tiga bahkan ada yang lima buah. Seperti perintah guru mereka, tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama yang mereka benci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang itu kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama satu minggu. Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa lima buah kentang, selain berat baunya pun tidak sedap. Setelah satu minggu murid-murid SD tersebut merasa lega karena penderitaan mereka segera berakhir.

Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak mampu mengampuni orang lain. Kita bagaikan membawa kentang yang lama-kelamaan akan membusuk. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk (kebencian) kemanapun kita pergi. Itu hanya satu minggu, bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup kita? Alangkah tidak nyamannya. Namun ironisnya banyak orang enggan melepaskan atau membuang “kentang busuknya”. Banyak orang merasa nyaman dan akhirnya terbiasa dengan keberadaan si kentang busuk itu.

Menyimpan kebencian bagaikan membiarkan benih kejahatan tumbuh dalam hati kita. Waspadalah dengan benih kebencian, karena itu akan bertumbuh menjadi dendam. Orang yang sudah terluka dan kecewa cenderung ingin membalas apa yang orang lain lakukan padanya. Kadangkala begitu hebatnya kita merasa disakiti, membuat kita ingin orang tersebut merasakan sakit dan kecewa seperti yang kita rasakan. Semakin dibiarkan benih kebencian akan semakin merusak, semakin sulit melepaskan kebencian maka akan semakin sulit juga kita merasakan damai sejahtera. Keinginan untuk membalas makin besar dan rasanya tidak puas jika membiarkan orang yang menyakiti kita bebas begitu saja.

Apa kata Tuhan Yesus tentang pengampunan? Petrus pernah bertanya pada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18:21-22). Angka tujuh adalah simbol umum untuk segala hubungan dengan Allah dan merupakan angka religius favorit di kalangan Yahudi, melambangkan perjanjian kekudusan dan pengudusan, angka sempurna. Keistimewaan angka tujuh inilah yang dipakai Yesus ketika Ia menjelaskan tentang pengampuan.

Mengampuni merupakan suatu perjuangan. Berjuang melawan gensi dan harga diri, berjuang melawan sakit hati dan amarah, berjuang melawan ego dan rasa ingin membalas. Awalnya mungkin sakit dan menderita, sulit dan berat. Tetapi jika kita tetap tekun dan mau untuk berusaha, maka usaha dan perjuangan kita tidaklah sia-sia. Sama seperti petani yang tekun dan terus berusaha maka suatu saat nanti kita pun akan menerima buahnya. Meskipun mengampuni membuat diri kita dipandang rendah oleh orang lain, membuat harga diri kita jatuh, namun ingatlah bahwa Allah sudah lebih dahulu mengampuni kita, maka kita pun harus melakukan hal yang sama.

Jika kita berlatih dan berusaha terus untuk mengampuni, maka lama kelamaan itu bukan lagi hal yang menyakitkan dan sulit. Mengampuni akan menjadi bagian dari diri kita. Itulah yang dimaksud Yesus dengan “bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Bukan masalah jumlahnya tetapi bagaimana usaha kita untuk mau mengampuni dan terus mengampuni sampai hal itu menjadi bagian dari diri kita. Bagi Yesus pengampunan berarti sikap sepenuh hati dan konstan. Yesus sedang menekankan bahwa pengampunan orang percaya bersifat tidak terbatas atau dengan kata lain hidup mengampuni adalah gaya hidup murid-murid Kristus. Kalau itu sudah menjadi bagian dari diri kita, kita akan menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang, tidak mudah tersinggung atau terpancing amarah.

Ketika kita disakiti, berusahalah untuk tidak dikuasai oleh amarah dan berusahalah juga untuk mematikan benih-benih kebencian, sehingga kita tidak jatuh ke jurang dendam kesumat yang akhirnya bukan saja merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru menimbulkan masalah baru. Dendam juga tidak pernah membuat hati kita damai sejahtera. Ketika kita tidak mau mengampuni, kita seperti memegang bola berduri, semakin kita tidak mau melepaskannya, maka kita sendiri yang akan merasakan sakitnya.

Mengampuni berarti melepaskan segala kepahitan, kekecewaan, kemarahan dan kebencian. Belajarlah untuk tidak menyimpan dendam, berdamailah dan ampunilah orang yang kita benci. Dengan demikian kita akan selalu menjadi pribadi yang baru, tidak perlu menunggu Idul Fitri untuk kembali kepada fitrahnya, cukup dengan mengampuni dan melepaskan kebencian, maka kita akan terbebas dari siksaan kebencian dan tidak perlu membawa “kentang busuk” kemana-mana.

Oleh: Pdt. Esther S. Hermanus

Read More →
Exemple

AYAH IBU PAHAMI DUNIA KAMI

“The first thing you have to do if you want to raise nice kids is you have to talk to them like they are people instead of talking to them like they are property”

Membahas mengenai anak dan dunianya selalu menyenangkan, sarat dengan hal-hal yang lucu, menggemaskan, terkadang melelahkan dan menjengkelkan, namun itu semua tak menyurutkan hasrat kita sebagai orang tua untuk mendidik dan membesarkan mereka menjadi seseorang yang berguna di masa depan bukan?

Sesuai dengan apa yang dikatakan Alkitab di Kejadian 1:28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkan itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Jelaslah bahwa Allah memberkati perkawinan sepasang manusia pertama di Taman Eden, dan kemudian memerintahkan mereka agar berkembang biak untuk memenuhi bumi.  Jadi, kita tahu bahwa anak adalah kasih karunia Allah dalam sebuah keluarga yang patut dihormati dan dikasihi sebagai pribadi bukan sekedar asset.  Sebagai orang tua kita menerima panggilan Allah bekerja sama untuk membentuk karakter dalam pribadi anak-anak kita. Sebuah kewajiban dan tanggung jawab yang mulia dan agung untuk merawat dan mendidik anak-anak kita yang adalah milik-Nya!

Dalam sebuah video berdurasi singkat yang pernah saya tonton, diperlihatkan beberapa ibu yang sedang berada dalam sesi wawancara untuk menceritakan perilaku anaknya masing masing, ada yang bercerita kekesalan pada anaknya karena sering ceroboh dan menghabiskan waktunya untuk bermain bersama teman-temannya, ada lagi ibu yang mengungkapkan kekesalan hatinya karena anaknya tak pernah mendapatkan nilai 100 di sekolahnya padahal ibu ini sudah menemani selama waktu belajar, dan ada pula ibu yang mendesah karena seharian tak cukup waktunya untuk membereskan rumah yang selalu berantakan karena aktifitas anaknya. Setelah para ibu ini menceritakan perilaku anak mereka, selanjutnya mereka diminta untuk memberikan nilai bagi anaknya.  Dan nilai yang diberikan untuk sang anak menurut para ibu dalam video ini beragam ada yang 70, 75, dan 60.  Hemm tidak ada nilai yang memuaskan bukan?  Sementara itu dalam side yang bersamaan, anak-anak dari para ibu ini  juga di wawancarai pendapat mereka tentang ibunya sekaligus diminta untuk memberikan nilai!  Dan yang luarbiasanya adalah hampir semua anak dengan wajah yang berseri-seri mengatakan bahwa ibu mereka adalah seseorang yang baik, pandai, tidak kenal lelah dan mereka semua memberikan nilai 100 untuk ibu!

Belajar dari kisah di atas, ternyata dunia anak sungguhlah berbeda dengan dunia kita orang dewasa bukan? Sesungguhnya memahami dunia anak-anak kita adalah satu hal terpenting yang harus dipelajari sebagai orang tua. Karena hal ini akan sangat membantu dalam dalam membimbing dan memelihara anak anak saat mereka tumbuh dan dewasa. Tanpa disadari seringkali kita lupa jika berhadapan dengan anak-anak dengan memperlakukannya layaknya orang dewasa. Kita lupa bahwa anak belum mempunyai kemampuan penalaran sebaik orang dewasa tentang apa yang pantas dan tidak.

BAGAIMANA CARA MEMAHAMI MEREKA?

Sebuah studi oleh Dr. Brenda Volling, direktur dan profesor riset, University of Michigan, mengungkapkan bahwa anak-anak secara langsung dipengaruhi oleh jumlah waktu yang diinvestasikan orang tua dalam perkembangan mereka. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mendidik diri mereka sendiri tentang berbagai aspek psikologi dan perkembangan anak sehingga mereka dapat berkontribusi secara berarti terhadap pertumbuhan emosional dan mental anak. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, mereka memandang dunia menurut kacamata mereka!  Memahami berarti memperhatikan dan memenuhi apa yang menjadi hak dan kebutuhan mereka.  Dan untuk itu kita di tuntut agar cerdas dan kreatif dalam mengenal anak kita lebih dekat lagi agar dengan demikian otomatis kita dapat memahami dan mengenal dunia mereka lebih jelas.

Berikut adalah hal-hal yang penting dalam rangka memahami anak dengan lebih baik :

  1. Melakukan Observasi dan Memberi waktu Yang Berkualitas

Tunjukkan minat pada apa yang anak-anak lakukan atau katakan. Amati tindakan, ungkapan, dan temperamen mereka saat mereka makan, tidur, dan bermain. Ingatlah bahwa anak  unik dan mungkin memiliki kepribadian yang menonjol, bahkan saat dia tumbuh. Jadi hindari membandingkan anak yang satu dengan anak lain, karena itu tidak hanya menambah tekanan pada pola asuh, tapi juga membuat anak merasa minder.

Pahami bahwa bermain bagi anak menjadi cara yang efektif untuk mengeksplorasi berbagai hal yang ada di sekitarnya. Melalui bermain kemampuan motorik dan penginderaan menjadi terasah, perhatikan betapa senangnya mereka menghabiskan waktu untuk bergerak, melihat, mendengar, menyentuh, merasa, mencium, mengayun badannya.  Dan dari sinilah pondasi awal dari pengetahuan, emosi, social, intelektual dan kreatifitas juga melatih fungsi mental, berpikir, mengingat dan imajinasi mereka dengan syarat mereka merasa nyaman, senang, gembira, bebas berekspresi, berimajinasi dan tidak terbebani target atau tugas yang harus dicapai dalam melakukan aktivitas tersebut.

Luangkan waktu yang berkualitas untuk berbicara dan bermain dengan mereka akan memberi tahu apa yang terjadi dalam kehidupan mereka di sekolah dan di rumah, musik favorit atau acara TV mereka, dan apa yang membuat mereka bersemangat dan apa yang tidak.

Waktu yang berkualitas tidak selalu berarti berbicara atau melakukan sesuatu bersama. Terkadang kita bisa duduk bersama dan diam-diam mengamati mereka untuk mengumpulkan wawasan tentang merekaAnak-anak pantas mendapatkan perhatian penuh dari kita. Sediakan waktu secara khusus untuk berbicara dengan anak bukan ketika sedang memasak, mengemudi atau melakukan hal lain, karena wawasan terpenting  tentang dirinya sendiri kemungkinan akan luput.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Apakah sebagai orang tua, kita sudah menunjukkan minat tentang apa yang mereka katakan dan lakukan? dan apakah kita sudah menyediakan waktu berkualitas untuk mengumpulkan wawasan tentang mereka?“

  1. Mengikuti kondisi perkembangan anak

Anak berkembang secara fisik, motorik, kognitif dan psikologi melalui tahapan-tahapan tertentu,dari anak-anak hingga dewasa. Otak dalam perkembangannya dibentuk oleh pengalaman yang dimiliki anak, dengan memahami bagaimana fungsi otak anak dapat membantu belajar tentang perilaku anak, kemampuan pengambilan keputusan, sosial, logis, dan kognitifnya.  Pengalaman yang salah dapat menyebabkan implikasi tanggapan negatif ke dalam pikiran anak, yang berdampak buruk pada keseluruhan perkembangannya. Mengetahui bagaimana otaknya bekerja akan membantu kita mengubah pengalaman negatif atau krisis menjadi pengalaman atau peluang positif. Penelitian telah membuktikan bahwa perilaku dan sikap anak dibentuk oleh lingkungan dimana ia dibesarkan, tergantung dari keragaman orang dan bagaimana anak anak berinteraksi dengan mereka. Untuk mengetahui anak lebih baik, kita harus memperhatikan lingkungan tempat tinggalnya. Penelitian juga membuktikan bahwa lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan otak anak, yang pada gilirannya mempengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan kognitifnya.

Dalam perkembangan berpikirnya, mereka berpikir secara global, tidak mendetail dan apa adanya, menggunakan semua indranya untuk menyerap fakta, sifat, fisik serta kerumitan dengan cara yang menyenangkan, gembira dan bebas stres. Mereka bereaksi dengan spontan tampa pertimbangan yang panjang, mereka juga berkarya dan berekpresi dengan bebas, berani dan bersegera dengan penuh  keyakinan. Hal itu jarang sekali di lakukan orang dewasa yang sudah dapat memilah, memilih dan penuh perhitungan. Anak-anak lebih berani dan bebas berekspresif dalam melakukan aktivitas mereka. Sehingga orang tua dituntut kreatif dalam berbagai situasi dan kondisi karena bagi mereka orang tua adalah referensi utama dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Pemahaman akan adanya tahapan ini membuat kita memberi perlakuan dan pola asuh yang di sesuaikan dengan kondisi perkembangan anak. Dan tugas kita sebagai orang tua adalah mengawasi dan membantu anak agar perkembangannya berjalan dengan baik.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Apakah kita menyediakan waktu untuk mempelajari pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak?atau apakah kita sudah menjadi orang tua yang berperan dalam hal mengembangkan pola berpikir anak?”

  1. Mengembangkan Cara Anak Berbicara dan Mengekspresikan Diri yang Efektif

Berbicara itu bagus, tapi mendengarkan itu penting saat  bercakap-cakap dengan anak. Memulai percakapan untuk membuat anak berbicara dan kemudian mendengarkan apa yang ingin mereka katakan dengan memperhatikan bagaimana nada bicara mereka, ekspresi mereka, dan bahasa tubuh seperti kontak mata, gerak tangan dan postur tubuh mereka. Anak-anak mungkin tidak dapat mengekspresikan diri dengan jelas, oleh karena itu kita harus memperhatikan kata-kata yang mereka gunakan dan isyarat non-verbal mereka juga.  Kita tidak hanya harus mendengarkan, tapi juga biarkan anak tahu bahwa mereka didengar dan dianggap serius. Akui apa yang mereka katakan dan tanggapi agar mereka tahu bahwa kita mengerti apa yang mereka katakan.  Jika tidak mengerti, ajukan pertanyaan untuk kejelasan. Tapi hati-hati jangan sampai terlalu banyak bicara atau ajukan terlalu banyak pertanyaan, karena itu bisa mematikan ide bicara anak.  Lakukan percakapan dengan mengajukan pertanyaan terbuka, yang akan mendorong anak untuk membagikan detail. Terkadang kita harus berpikir seperti anak kecil, dan bahkan bertindak seperti seseorang untuk menjangkau mereka. Empati adalah kualitas penting yang harus dikembangkan orang tua jika mereka ingin memahami anak mereka dengan lebih baik. Kita mungkin menyadari apa yang anak-anak alami saat mereka menceritakannya kepada kita. Tapi kita mungkin bahkan tidak mendekati pemahaman apa yang mereka alami jika kita tidak dapat berempati.

Anak-anak  bisa mengekspresikan diri mereka di lebih dari satu cara. Selain berbicara, anak-anak mengekspresikan perasaan mereka melalui aktivitas menggambar, menulis, atau bertindak, dorong mereka untuk melakukannya lebih sering. Mintalah mereka untuk menghadiri kelas seni atau lukisan dan membantu mereka mengekspresikan diri mereka lebih baik, bisa juga memberi mereka tema yang berbeda untuk menggambar, tanpa membatasi imajinasi mereka.  Biarkan mereka menjelaskan apa yang mereka tulis atau gambar dan bagaimana perasaan mereka tentang hal itu.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Sudahkah kita mengembangkan cara berbicara yang penuh empati dan mendorong kemampuan anak dalam mengekspresikan dirinya?”

  1. Kenali Lingkungan Sosial dan Emosi Anak

Mengamati anak-anak lain yang seumuran dengan anak-anak kita dapat membantu untuk memahami anak dengan lebih baik, mengerti bagaimana anak berperilaku dalam lingkungan sosial dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang menentukan kepribadiannya. Namun hal ini tidak berarti kita sedang membandingkan anak kita dengan setiap anak seusianya dan memberikan penilaian siapa yang lebih baik. Namun bersikaplah bijaksana sebab hal ini bisa jadi berbahaya dalam jangka panjang bila kita berlebihan dalam hal ini.

Hal lain selanjutnya yang perlu kita pahami sebagai orang tua adalah sebaiknya jangan pernah meremehkan kemampuan anak-anak untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengendalikan emosi mereka.  Anak-anak terlahir dengan temperamen yang unik, beberapa mungkin terang-terangan dan proaktif sementara yang lain mungkin pemalu atau lambat-untuk-pemanasan.  Kita bertanggung jawab untuk memahami EQ (Emotional Quotion) anak-anak dan melakukan apa yang diperlukan untuk membantu mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat dan emosional.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Apakah kita sudah memahami lingkungan dimana anak kita tumbuh dan berkembang dan bagaimana mereka mengekspresikan emosi mereka?”

  1. Mendoakan Anak-Anak Kita

Pemahaman bahwa anak adalah kasih karunia dan milik Tuhan, mebuat kita memutuskan bahwa sudah sepatutnya kita selalu membawa segala sesuatu yang berhubungan dengan anak anak kepada Tuhan. Dan bahwa kesadaran kita tentang rumitnya menjadi orang tua yang mampu memahami kondisi anak tidaklah sesederhana yang kita bayangkan seharusnya membuat kita tidak segan untuk berlutut, dan membawa nama anak-anak kita dihadapan Tuhan setiap harinya berharap hikmat dan kemampuan untuk membimbing mereka melewati lorong-lorong waktu menuju masa depan.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Sudahkah kita mendoakan anak-anak kita dengan sungguh-sungguh setiap harinya kepada Tuhan? Dan memohon hikmat kiranya diberi kemampuan untuk memahami anak anak kita?

Pada akhirnya saya ingin katakan bagi kita, para orang tua jadilah proaktif dalam memahami berbagai tahap perkembangan anak  dengan meluangkan waktu untuk membaca buku, jurnal online, dan mungkin juga berbicara dengan seorang spesialis yang dapat memberi informasi kepada kita mengenai dunia anak-anak dan pengetahuan perkembangan mereka. Jangan pernah coba-coba membuat tebakan liar, dengan prasangka bahwa anak kita sepertinya baik-baik saja dan atau sebaliknya tanpa memastikannya bersama ahlinya!

Kiranya kasih karunia demi kasih karunia menyertai kita para orang tua dan anak-anak yang dikasihi-Nya. AMIN.

Oleh: Ibu Anik D. Hiremawati

Read More →
Exemple

GADGET DAN PERGAULAN SOSIAL

Perkembangan penggunaan gadget akhir-akhir ini dapat dikatakan sangat pesat yang terlihat dari hampir semua generasi, mulai dari anak usia balita sampai dengan orang tua sudah tidak asing lagi untuk menggunakan gadget. Apabila kita mengamati lingkungan kita, terutama di kota-kota besar akan dengan mudah terlihat bagaimana asiknya pengguna gadget sedang berinteraksi dengan gadget-nya, mulai dari memainkan game, berkomunikasi melalui aplikasi tertentu maupun sekedar menonton media visual seperti TV, Youtube dan lainnya.

Gadget, yang dalam bahasa Indonesia disebut acang, adalah sebuah inovasi dari teknologi terbaru dengan kemampuan yang lebih baik dan fitur terbaru yang memiliki tujuan maupun fungsi lebih praktis dan juga lebih berguna. Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Contoh-contoh dari gadget di antaranya adalah telepon pintar (smartphone), serta netbook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet).

Perkembangan teknologi gadget tidak terlepas dari perkembangan teknologi Informasi yang telah mendorong dan mengubah gaya hidup masyarakat kearah gaya hidup digital. Gaya hidup digital (digital lifestyle) adalah istilah yang seringkali digunakan untuk menggambarkan gaya hidup modern yang sarat dengan teknologi informasi. Teknologi informasi di sini berperan mengefisienkan segala sesuatu yang kita lakukan dengan satu tujuan: mencapai produktivitas maksimum. Tentu tidak dapat dibantah lagi bahwa teknologi informasi memang berperan besar dalam meningkatkan efisiensi termasuk berkomunikasi dan juga dalam memperoleh hiburan.

Peran Gadget Terhadap Perkembangan Pergaulan Sosial
Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon-politicon), yang artinya manusia tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain. Kebersamaan ini akan dibangun melalui interaksi atau pergaulan. Pergaulan seseorang akan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadiannya.

Pada saat ini, melalui beberapa aplikasi yang tersedia, informasi dan komunikasi baik antar individu dengan individu, antar individu dengan kelompok maupun antar kelompok dengan kelompok menjadi sangat mudah untuk dilakukan dengan menggunakan gadget yang paling sederhana sekalipun. Beberapa aplikasi berupa media social yang popular kita kenal antara lain Facebook, Twitter, Youtube, WhatsApp, Line dan sebagainya. Dalam pengertian ini, interaksi social sudah terjadi (saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi, antar hubungan), meskipun masih merupakan interaksi yang bersifat tidak langsung melainkan melalui suatu media berupa gadget dengan aplikasi tertentu.

Pola komunikasi atau interaksi melalui media social ini dikenal juga dengan istilah “dunia maya” atau semu, yang disebabkan oleh interaksi yang terjadi merupakan interaksi yang tidak langsung antar individu melainkan melalui suatu “media” yang dimungkinkan oleh adanya gadget dan aplikasi tertentu. Bahasa yang digunakan melalui interaksi ini umumnya adalah bahasa tulisan meskipun dapat juga dilakukan dengan bahasa verbal. Dengan adanya media sosial yang bersifat online, memungkinkan terjadinya interaksi atau pergaulan tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Orang yang pintar dapat memanfaatkan media sosial ini untuk mempermudah hidupnya, memudahkan dia belajar, mencari kerja, mengirim tugas, mencari informasi, berbelanja dan lainnya. Media sosial menambahkan kamus baru dalam pembendaharaan kita yakni selain mengenal dunia nyata kita juga sekarang mengenal “dunia maya”. Dunia bebas tanpa batasan yang berisi orang-orang dari dunia nyata. Setiap orang bisa jadi apapun dan siapapun di dunia maya. Seseorang bisa menjadi sangat berbeda kehidupannya antara di dunia nyata dengan dunia maya, hal ini terlihat terutama dalam jejaring sosial.

Dampak dalam Pergaulan Sosial dan mentalitas masyarakat
Sebelum era teknologi informasi, media social adalah merupakan media yang hanya memungkinkan seseorang bertemu langsung dengan orang lain secara langsung yaitu melalui kumpulan orang-orang atau saling mengunjungi satu dengan lainnya. Namun saat ini dengan perkembangan Teknologi Informasi yang didukung oleh gadget, media sosial tidak lagi harus bertemu langsung satu dengan lainnya, demikian juga dengan pola komunikasinya tidak lagi harus merespon pada saat yang sama atau dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, melainkan dapat berupa “delay responds” seperti misalnya, jika seseorang menanyakan melalui suatu media sosial menggunakan gadget tentang kabar atau keberadaan orang lain pada pagi hari bisa saja dia akan memperoleh responnya saat sore atau malam hari. Hal ini disebabkan oleh gadget dari orang yang dihubungi belum dibuka atau dibaca.

Akibatnya adalah, dalam berkomunikasi atau berinteraksi menjadi sangat mungkin untuk dilakukan dengan merasa lebih “bebas” dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran seseorang sehingga cenderung dapat melewati batas-batas norma berkomunikasi yang ada pada komunikasi konvensional. Selain itu, dengan seringnya berkomunikasi atau berinteraksi melalui pola ini dapat membentuk “karakter baru” yang sebelumnya tidak pernah ada dan merupakan “nilai” yang tidak bisa diterima dalam pergaulan atau interaksi social yang konvensional.

Kondisi-kondisi seperti ini dapat mengakibatkan terjadinya perubahan mentalitas masyarakat pengguna media sosial yaitu perubahan yang mengganggap pertemuan langsung antar seseorang dengan seseorang lainnya bukan lagi merupakan hal yang penting sepanjang bila diperlukan informasi atau kabar dari orang tersebut kapan saja pasti masih bisa dihubungi melalui gadget.

Salah satu dampak negatif yang dapat dirasakan melalui pergaulan sosial media menggunakan gadget adalah begitu mudahnya seseorang untuk memberikan informasi yang tidak benar atau bohong bahkan cenderung merupakan fitnah baik untuk hal-hal yang bersifat “iseng” maupun untuk “kepentingan” tertentu. Istilah ini kita kenal dengan “hoax” yang pada era sebelumnya sangat jarang kita dengar namun saat ini hampir setiap hari kita dengar bahkan Pemerintah secara resmi telah membentuk bermacam-macam upaya untuk membendung penyebaran hoax di masyarakat.

Bagaimana Sikap kita?
Menolak perkembangan Teknologi Informasi dan gadget dalam pergaulan sosial adalah merupakan langkah mundur yang tidak mungkin dilakukan. Apa yang harus dipikirkan bersama adalah bagaimana dampak negatif yang ditimbulkan bisa terus dikurangi, sehingga kekuatiran yang muncul akan tergerusnya budaya bersosialisasi secara baik dan benar dapat diatasi.

Memang di setiap kisi-kisi kehidupan terdapat dua hal yang saling berseberangan. Ibarat dua sisi mata uang, akibat dari suatu perkembangan hidup dapat menyebabkan kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu dibutuhkan kecerdasan rohani – di samping kecerdasan intelektual – sehingga kemajuan yang dicapai oleh umat manusia melalui perkembangan teknologi informasi dan gadget dapat diselaraskan dan diarahkan kepada kepentingan bersama dan lebih diutamakan untuk hasil yang positip. Salah satu faktor terpenting adalah kita harus memiliki attitude yang benar. Attitude yang benar ini adalah berbicara mengenai sifat-sifat karakter seperti berkata benar dan jujur.

Secara rohani dan sebagai umat Kristiani, dalam bersosialisasi hendaknya kita selalu mengacu kepada kejujuran dan kebenaran terhadap apa saja yang akan kita sampaikan sebagaimana yang diajarkan melalui Amsal 25 ayat 18 : “Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam” dan Keluaran 20 ayat 16 ; “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”.

Secara Nalar kita hendaknya terlebih dahulu melakukan cek dan recek kepada sumber yang dapat dipercaya dan yang paling penting adalah menggunakan nalar secara baik dan benar untuk menilai dan menguji tentang kebenaran dan akurasi suatu informasi atau berita yang kita peroleh melalui media sosial sehingga terhindar dari penyebaran berita atau informasi yang tidak benar. Setidak-tidaknya tidak mengirimkan ulang (forward) atau membagikan suatu informasi atau berita yang kita tidak yakin akan kebenarannya serta tidak yakin bahwa manfaatnya dapat memberikan hal yang positip bagi penerimanya. Semoga!

Oleh: Pnt. Monang Siregar

Read More →
Exemple

“Banyak orang yang tak punya kehendak atau mematikan kehendak baiknya itu dengan kompromi-kompromi yang tentu dengan pembenaran-pembenaran biar eksistensinya merasa bernilai, stabil dan mapan!” – BRAS

Tak disangka-sangka, anak kecil yang menyelinap ke kapal yang akan membawanya ke Bandung itu, ternyata menjadi salah satu tokoh yang menegaskan Kristen kebangsaan. Tak tanggung-tanggung karya pelayanannya. Ia menjadi orang dekat Bung Karno, sampai diberi kepercayaan sebagai presiden sementara sampai 7 kali!

Anak kecil itu bernama besar Dr. J. Leimena. Ia menyelinap ke kapal karena ibunya melarang ia ikut pamannya yang pindah dari Ambon ke Cimahi. Ia tahu masa depannya ada di Pulau Jawa. Kesana kemari ia sekolah. Pada akhirnya memilih menempuh pendidikan di sekolah kedokteran, School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA) karena ia kesulitan mencari pekerjaan. Tetapi pilihan itu berhasil mengantarkannya mewartakan kasih Kristus bagi Indonesia!

“Om Jo” merupakan panggilan akrabnya. Tentu ia tahu betul pemaknaan panggilan hidup sebagai seorang Kristen. Dari transkrip tulisan Pdt. DR. Albertus Patty, beliau pernah menyimpulkan kalimat sederhana yang menampar sikap kekristenan kita selama ini, Aku Kristen sejati dan Indonesia sejati!” Bagi saya, Leimena itu pancasilais fanatik sekaligus pengikut radikal Yesus Kristus!

Yah, perkenankan saya secara “subjektif akurat” memberi penilaian (istilah candaan teman-teman saya di Steering Committee GKI Klasis Bandung). Kenyataannya, apa yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita (baca; deretan peristiwa intoleransi), ada andil kita juga didalamnya.

Ada tiga poin usulan saya yang perlu dievaluasi atas semua sikap kita tersulutnya prahara kesedihan serta kekecewaan mendalam golongan minoritas terhadap apa yang terjadi belakangan ini;

Pertama, Yesus itu bukan milik orang Kristen saja. Saya pun ikut bersalah dalam perihal sikap demikian. Dalam hati dan pikiran saya, kalau percaya Yesus; Dia hanya akan jadi milik saya sendiri, penolong hidup serta menjadi jaminan saya masuk sorga. Padahal, sorga itu “belum tentu ada” dan soal manusia masuk sorga/neraka itu hak prerogatif Allah.

Kejamnya pikiran yang kita simpan dan sering katakan, “Aku anak Tuhan!” Lalu yang lainnya anak setan? Kita sering lupa bahwa Yesus itu datang untuk dunia ini! Bukan hanya untuk Anda atau saya saja. Soal sorga, kenapa kita fokus pada yang “akan datang”, kita amnesia bahwa kita masih hidup. Mengapa kita tidak berusaha menciptakan sorga di dunia ini? Seperti yang, tanpa kita sadar, Leimena lakukan.

Kedua, bicara soal kasih seperti ikan segar begitu melakukannya kayak ikan busuk. Tidak apa-apa saya cerita soal keluarga. Anak dari adiknya ibu saya pernah tinggal di Jambi, di rumah kami. Awalnya, ibu saya mengatakan, “Bang, si Lastri tinggal di rumah kita sambil nanti disekolahkan,” kenyataannya, tak rabun mata saya melihat bagaimana perlakuan yang ia terima selanjutnya. Bersyukur peristiwa itu terjadi jauh sebelum tahun ini dan ibu saya sudah bertobat.

Sering saya melihat bagaimana kita, sebagai pengikut Kristus, waktu bicara kasih dan menerapkannya, jauh realitas dari bibir! Ah, jangan semuanyalah dikasih! Eh, kita berikan bertahap aja yah! Atau, kalau nanti disuapin malah manja lho! Itu menjadi pembenaran atas berbagai alasan kita yang ‘pelit’ menderapkan kasih secara total.

Sementara, dalam kejadian lain, beribu tahun yang lalu. Seorang Zakheus menjadi manusia terhormat begitu Yesus menghampirinya ke rumah, sementara begitu banyak orang yang mempergunjingkannya. Malahan Yesus menginap di rumahnya. Tak tanggung-tanggung Ia mempercontohkan kasih itu. Masih ingat cerita Yesus dan wanita Samaria lalu perumpamaan orang Samaria yang baik hati? Padahal Samaria dianggap rendahan oleh Israel masa itu.

Setelah lulus dari STOVIA, Dr. J. Leimena mendirikan sekaligus menjadi ketua Christelijke Studenten Vereeniging (CSV) di tahun ke-4 ia kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Ia juga menerima mandat sebagai ketua umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo).

Kepribadiannya yang sederhana dengan iman Kristen yang sejati, teguh, serta terbuka membuatnya bisa diterima oleh semua golongan. Sebagai pimpinan Parkindo, ia selalu mendapat tempat dalam berbagai kabinet karena pendiriannya untuk kepentingan negara di atas segala-galanya. Dr. Leimena juga berperan dalam pembentukan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI, dulu DGI).

Sejak awal, Leimena bisa saja menolaknya. Karena ia lahir dari keluarga guru, saat itu terhitung golongan menengah. Bisa saja ia memilih hidup dalam zona nyaman, kalau bahasa saya, “Ah, ngapain capek-capek ngurusin GMKI, Parkindo, apalagi PGI! Mending hidup berkecukupan dan urus diri sendiri.” Tapi ia tak mau panas-panas taik ayam, ia tahu panutannya, Yesus Kristus telah menerapkan kasih itu secara total-radikal! Ada apa dengan manusia-manusia seperti kita di era Milenial ini?

Ketiga, regenerasi intelektual muda Kristen itu omong kosong. Awal tahun lalu, salah satu NGO Kristen di bidang sosial-politik mengundang saya dan beberapa rekan untuk focus group discussion (FGD) mengenai program yang akan mereka jalankan. Dalam satu percakapan, saya begitu murka soal regenerasi intelektual muda Kristen. Dalam percakapan itu, kebetulan NGO ini memakai jasa salah satu konsultan.

Katanya, “Apa yang GKI nggak punya. Ada semua kok soal kepemudaan.” Mendengar itu, saya ingin sekali menggebrak meja, tapi saya tahu itu bukan tindakan terhomat, saya memukulnya keras melalui kata-kata, “Pak, kita nggak boleh main klaim gitu lho. Kalau GKI punya dan semua program kepemudaan sudah berjalan. Hasilnya mana? Ada pak? Apa iya kita baru nyadar nanti setelah tokoh-tokoh Kristen nasionalis dijemput Tuhan (sambil mengarahkan mata saya pada Pdt. DR. Albertus Patty)?”

Dalam suasana batin saya kala itu sama seperti hari ini, “Selama ini kita tidak ketinggalan pamer-pamer kasih Yesus sehingga kita lupa melakukannya serta gagap untuk melahirkan intelektual-intelektual muda yang berkesempatan, di masa depan, menjadi pemimpin-pemimpin daerah yang bisa berkontribusi lebih besar dan bernarasi cinta kasih Yesus Kristus bagi Indonesia tanpa pandang suku, agama, ras, dan golongan!”

Saya teringat sewaktu menonton film Tjut Njak Dhien, srikandi Aceh yang berjuang tanpa rasa takut, mempertahankan Tanah Rencong dari penjajahan Belanda itu. Dalam satu percakapan singkatnya dengan salah satu laskar Aceh, katanya, “Berterang teranglah dalam gelap. Bergelap gelaplah dalam terang.” Jangan biarkan negeri ini bau anyir. Kita semua saudara sebangsa berdiri di bawah tiang Merah Putih. Selamat merayakan Pancasila!

Oleh: Basar Daniel Jevri Tampubolon

Read More →

Upcoming Events

  1. PERSIDANGAN MAJELIS JEMAAT

    September 23 @ 12:00 pm - October 3 @ 3:00 pm
  2. PERSEKUTUAN DEWASA JUNIOR

    September 26 @ 7:00 pm - 10:00 pm
  3. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH 4

    October 6 @ 9:00 am - 12:00 pm
  4. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    October 30 @ 9:00 am - 12:00 pm
  5. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 3 @ 8:00 am - 11:00 am
  6. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 10 @ 9:00 am - 12:00 pm