MENELADANI PAHLAWAN IMAN

arsiv

Exemple

MENELADANI PAHLAWAN IMAN

Seandainya, ratusan ribu pemuda bangsa kita gagal membangkitkan jiwa kepahlawanan dalam diri mereka, kita pasti masih menjadi bangsa terjajah. Seandainya para pemuda itu hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, kita akan tetap menjadi bangsa yang diperbudak. Seandainya Soekarno, Hatta, dan para pahlawan bangsa lainnya tidak peduli terhadap nasib bangsa ini, kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup sebagai bangsa merdeka. Seandainya Suster Teresa, Nelson Mandela, Martin Luther King Jr, YB. Mangunwijaya atau Yesus hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, dunia kita akan semakin jauh dari kemanusiaannya, dari keadilan dan kedamaian.

Spiritualitas Pahlawan
Pertanyaan paling utama yang sering diajukan orang adalah nilai apa yang menggerakkan para pahlawan ini sehingga mereka bersedia berkorban dan berjuang mati-matian demi keselamatan sesama? Menurut saya paling sedikit ada dua nilai moral-spiritual yang menguasai sikap dan perilaku mereka.

Nilai yang pertama, adalah para pahlawan ini mampu melihat sesamanya, apa pun agama, etnik, gender dan status sosialnya, sebagai sesama, sebagai saudara, atau sebagai anak-anak Allah. Itulah sebabnya, mereka selalu tergerak untuk memperjuangkan martabat kemanusiaan sesamanya. Mereka adalah orang yang tidak melakukan pembedaan terhadap sesamanya. Sebaliknya, para pahlawan ini selalu menempatkan diri mereka pada siapa pun yang mengalami kesulitan dan kesusahan.

Ketika gempa dan tsunami menghantam Palu dan Donggala banyak orang yang menjadi korban. Demikian juga ketika pesawat Lion Air JT 610 terjatuh. Orang yang berjiwa pahlawan tidak diam berpangku tangan. Mereka bukanlah orang yang apatis. Mereka tergerak untuk membantu, karena bagi mereka masyarakat Palu dan Donggala adalah anak-anak Allah, demikian juga para penumpang pesawat Lion Air JT 610. Mereka yang berjiwa pahlawan mengajukan diri membantu, menolong sesama, bahkan berkorban jiwa seolah yang menderita itu adalah saudara mereka sendiri. Mereka mengajukan diri berangkat ke Palu dan Donggala untuk membantu dan melayani para korban yang menderita. Siap dengan bau ribuan mayat yang bergelimpangan dan penyakit yang akan menyerang. Terjun diganasnya gelombang dan dalamnya lautan. Mereka tidak perduli pada keselamatan diri. Meski tahu resiko dan bahaya yang dihadapi sangat besar, mereka tetap berangkat karena mereka adalah pembela kemanusiaan.

Nilai yang kedua, adalah para pahlawan tidak lagi berpikir dan bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri. Mereka juga tidak berjuang untuk memuaskan ego primordialisme demi kepentingan etnik, agama atau kelompoknya sendiri. Mereka bukan makhluk yang dikuasai nafsu meraih kekuasaan. Sebaliknya, merupakan orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka adalah pejuang kemanusiaan, yang hidup dan hatinya dikuasai dan dituntun oleh nilai-nilai cinta, keadilan dan kebenaran. Yang berupaya mempraktekkan cinta kasih, keadilan dan kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya, mereka berpikir dan bertindak untuk dan demi keselamatan semua. Sebagai pelayan kemanusiaan yang berani berkorban dan siap melayani siapa pun.

Para pahlawan adalah orang yang mampu mentransenden dirinya. Mampu merasakan sakitnya orang yang menderita dan mengalami ketidakadilan. Itulah sebabnya, mereka akan berjuang untuk membela siapa pun yang ditindas. Mereka adalah pahlawan iman, yang bekerja dan melayani dengan tulus berdasarkan imannya kepada Tuhan. Melakukan panggilan pelayanannya dalam kerja-kerja kemanusian.

Menjadi Pahlawan Masa Kini
Allah selalu mengirimkan ‘pahlawan’ pada setiap jaman. Pahlawan adalah mereka yang memiliki komitmen untuk berjuang menegakkan kemanusiaan, menjadi pembela bagi siapa pun. Pahlawan selalu berbagi hidup dengan sesama! Para pahlawan kemanusiaan sadar bahwa mereka hidup dalam dunia yang penuh persoalan dan tantangan. Mereka hidup dalam dunia ‘ Homo Homini Lupus ‘ , manusia menjadi serigala terhadap sesamanya.

Dunia tempat kita berada, adalah dunia dimana kenikmatan hidup bisa direguk, tetapi juga dunia dimana ketidakadilan, penindasan, dan diskriminasi dilakukan atas nama agama, etnik, status sosial, dan gender. Dunia tempat kita tinggal adalah dunia yang menawarkan banyak kesempatan, tetapi juga menjadi tempat dimana para koruptor menimba harta dan kuasa, sambil tertawa dan menari-nari di atas jerit dan tangisan korban yang tidak berdaya.

Tangisan dan jeritan para korban adalah tangisan dan jeritan Yesus. Mat. 25:31-46 berkata : “………..Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku…….”. Tangisan dan jeritan ini adalah ‘ the Call ‘ bagi siapa pun untuk menjadi pahlawan kemanusiaan. Kita diutus untuk menjadi pahlawan kemanusiaan yang membangun kehidupan bersama yang lebih ramah, manusiawi, berkeadilan dan penuh kedamaian.

 

Oleh : Ibu Sondang Patty

Read More →
Exemple

MASA DEPAN : IMAN DAN PENGHARAPAN

Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?” (Ayub 6:11)

Masa Depan yang Rahasia.
Berbicara tentang masa depan, kita berbicara tentang ketidak-pastian, gelap dan rahasia. Karena tidak pasti, gelap dan rahasia semakin banyak orang tertarik untuk mengetahuinya. Adalah bagian dari sifat manusia ketika diperhadapkan pada suatu rahasia, maka keinginan untuk mengetahuinya semakin besar. Semakin dirahasiakan, semakin ingin diketahui… Dari kecenderungan ini banyak orang mencoba mencari jawabannya, padahal setelah tahu pun tidak memberi rasa puas dan bahagia, bahkan orang cenderung mereka-reka agar rahasia itu berakhir seperti skenario berpikirnya. Banyak di antara kita ingin mengetahui apa yang terjadi di kehidupan kita di hari-hari selanjutnya. Kalau tahu kan lebih menyenangkan, jadi gak usah dag dig dug… kerennya bisa disiapkan antisipasinya kalau terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan.

Dalam mitologi Yunani dikisahkan Raja Troya memiliki seorang putri bernama Cassandra. Cassandra memiliki kekuatan untuk meramal masa depan, namun ia juga dikutuk sehingga tidak seorang pun mempercayai ramalannya. Cassandra meramalkan jatuhnya kerajaan Troya, kematian ayahnya, jam kematian dirinya dan nama pembunuhnya. Ketidakberdayaan menyaksikan kengerian masa depan menjadi sumber rasa sakit yang tidak ada habisnya, penderitaan, dan penyesalan atas pengetahuan yang hanya dimilikinya sendiri.

Banyak orang menginginkan dirinya seperti Cassandra, tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan, tepatnya orang hanya ingin tahu hal-hal yang menyenangkan dan yang menggembirakan dirinya saja. Saat mengetahui tentang hal-hal mengenai penderitaan, dukacita, kejatuhan, kapan ia akan mati atau menderita, orang justru memilih untuk tidak usah mengetahuinya.

Sebuah survey dilakukan oleh para peneliti di Berlin yang berbasis di Institut Max Planck untuk Pembangunan dan Universitas Granada. Mereka melakukan penelitian terhadap 2000 orang Jerman dan Spanyol. Para responden ditanya apakah mereka ingin tahu tentang hal-hal menyangkut kehidupan sehari-hari mereka. Dari penelitian itu, para peneliti menemukan sebagian besar orang tidak ingin menyadari peristiwa negatif yang akan datang di masa depan. Bahkan untuk sesuatu yang positif pun, responden lebih suka memilih tidak ingin tahu. Penulis Utama penelitian Gerd Gigerenzer mengatakan orang tidak ingin tahu masa depan mereka karena “untuk menghindari penderitaan, penyesalan, dan hilangnya kenikmatan sensasi ketegangan dari peristiwa menyenangkan yang bakal terjadi. (USA Today, 23/2/2017).

Iman dan Pengharapan
Iman yang menurut bahasa Yunani disebut Pisti, adalah rasa percaya kepada Allah. Iman sering dimaknai percaya (kata sifat) dan tidak jarang juga diartikan sebagai kepercayaan (kata benda). Menurut Rasul Paulus ”Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. (Ibrani 11:1). Jadi pengertian iman di dalam Kitab Ibrani 11 ini sesungguhnya sedang berbicara mengenai dasar dari kepercayaan umat Allah untuk menaruh pengharapan yang belum atau tidak kelihatan dan sekaligus menjadi bukti bahwa ada pengharapan dari sesuatu yang tidak dilihat yaitu pengharapan yang didasarkan atas kasih sejati dari Allah.

Harapan merupakan kombinasi dari hasrat akan sesuatu dan pengharapan untuk menerimanya. Pengharapan Kristen adalah pada saat Allah sudah berjanji bahwa sesuatu akan terjadi dan kita meletakkan kepercayaan kita di dalam janji tersebut. Pengharapan Kristen adalah sebuah kepercayaan bahwa sesuatu akan terjadi dengan pasti karena Tuhan sudah menjanjikannya dan hal itu pasti terjadi.

Pengharapan berasal dari iman kita kepada kesetiaan Allah. Dengan kata lain, kesetiaan Allah adalah dasar dari pengharapan kita, dan janji Allah yang didasarkan atas kesetiaan-Nya adalah jaminan bagi pengharapan kita. Maka setelah kita beriman, kita segera masuk pada tahap pengharapan. Dalam hidup beriman terkandung unsur-unsur yang membuat kita tetap dalam pengharapan kepada Allah.

Pertama, Penyerahan diri secara total merupakan cara hidup yang mempercayai sepenuhnya akan apa yang telah Allah rencanakan dan penuhi dalam kehidupan kita. Sebaliknya sikap keragu-raguan atau meragukan janji Allah merupakan sikap yang mengabaikan bahwa Allah adalah setia dengan janji-janjiNya.

Kedua, Ketaatan dan kesetiaan kepada Allah adalah sikap untuk selalu memegang kebenaran Allah dalam segala persoalan kehidupan, mendasarkan segala sesuatu pada kebenaran Allah. Beberapa hal yang bisa kita ambil dalam hubungannya dengan ketaatan dan kesetiaan kita, yaitu : taat dan melakukan perintah Allah dalam firman-Nya yang tertulis (Alkitab), membangun iman dan kerohanian kita di dalam Kristus sebagai sumber dan dasar yang teguh; Membangun iman dan kerohanian kita dapat ditumbuhkan dengan belajar Firman Allah melalui pemahaman Alkitab baik secara pribadi atau pun bersama-sama. Di GKI Maulana Yusuf ada kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab, saudara tinggal memilih dan mengambil bagian dalam PA-PA tersebut sehingga iman saudara bertumbuh dan berkembang bersama jemaat lainnya.

Ketiga, Iman disertai dengan perbuatan. Hidup beriman tidak sekedar bicara tentang percaya saja, tetapi dikaitkan dengan perbuatan. Hidup kekristenan adalah sebuah produksi kebaikan dan kebenaran, orang orang Kristen diminta mempraktekan apa yang telah Yesus perbuat dalam pelayanan saat ia berada di bumi. Mempraktekan beriman kepada Kristus dituntut sama dengan apa yang telah Kristus perbuat, kasih, kepedulian, murah hati, lemah lembut dan sebagainya menjadi tanda dalam setiap kehadiran-Nya. Akan menjadi ganjil jika para murid berbicara tentang iman dan percaya kepada Yesus namun hidupnya tidak menghasilkan buah-buah kehidupan yang dirasakan orang sekelilingnya. Tujuan buah-buah kehidupan merupakan tanda bahwa kerajaan Allah hadir di tengah kehidupan manusia.

BAGAIMANA MENYELARASKAN IMAN DAN PENGHARAPAN
Pengharapan adalah bagian penting dari iman. Iman dan pengharapan adalah kenyataan yang saling bersentuhan, pengharapan adalah iman tentang waktu yang akan datang. Jadi sebagian besar bagian dari iman adalah pengharapan.

Kisah seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Markus 5:25-29) mengisahkan kepada kita bagaimana keselarasan antara iman dan pengharapan terjadi. Perempuan yang mengalami pendarahan hampir 12 tahun ini mengimani bahwa kesembuhan akan menjadi miliknya asalkan ia mau datang bertemu dengan Yesus. Perjalanan yang dia tempuh bukan saja susah tetapi berat karena harus berjuang menghindari himpitan dan desakan orang yang berebut mendekat kepada Yesus. Ia memiliki pengharapan dalam imannya dan dalam imannya ia berpengharapan akan masa depannya bahwa saat bertemu Yesus ia akan menyampaikan keinginannya untuk disembuhkan dari penyakitnya. Dalam kesulitan bertemu dengan Yesus ia tetap memiliki iman untuk masa depannya, “asalkan ku jamah jubahnya, aku akan sembuh”. Respon dari keilahian Yesus adalah memenuhi harapan dan iman dari perempuan tersebut, dengan sadar Yesus merasakan ada kuasanya yang mengalir keluar menggenapi iman seseorang. Happy ending.. ya! masa depan perempuan itu telah kembali cerah. Bisa kita bayangkan betapa sukacitanya ia telah menjadi sembuh, sejatinya ia akan terus bercerita kepada orang orang yang berjumpa dengannya bahwa ia telah sembuh oleh orang yang bernama Yesus.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita ingin seperti Cassandra yang mengetahui tentang masa depan namun diliputi rasa takut? Atau kita percaya kepada Allah walaupun hidup di tengah ketidakpastian dan misteri namun tetap beriman dan berpengharapan kepada-Nya? Pengamsal menasihati kita, karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

 

Oleh : Pnt. Maruli D. M. Nababan

Read More →
Exemple

PEMUDA KRISTEN, PEMUDA INDONESIA

Tepat hari ini 90 tahun yang lalu, Kongres Pemuda Kedua yang berlangsung selama 2 hari ditutup di sebuah rumah pondokan di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Saat acara hendak ditutup, dibacakan hasil kongres. Salah satu hasilnya adalah Sumpah Pemuda yang hari ini kita peringati. Sebuah seruan untuk putra-putri Indonesia bahwa mereka bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa persatuan, yakni Indonesia. Menariknya, pada bagian pertama dan kedua, digunakan kata “satu” untuk “tanah air” dan “bangsa”, sementara pada bagian ketiga digunakan “menjunjung bahasa persatuan” alih-alih “berbahasa satu”. Pada kesempatan yang sama, lagu kebangsaan Indonesia Raya juga diperdengarkan dengan biola oleh W. R. Supratman, yang menggubah lagu tersebut saat berusia 21 tahun. Tidak bisa dipungkiri bahwa rumusan Sumpah Pemuda dengan semangat persatuan ini berperan penting dalam pergerakan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Proyeksi Badan Pusat Statistik tahun 2010 – 2035 menyatakan bahwa saat ini Indonesia memiliki bonus demografi, dimana penduduk dalam usia produktif (15-64 tahun) berjumlah 2 kali lipat dari usia non-produktif. Dilihat dari proporsinya, kelompok usia pemuda (16-30 tahun) berjumlah 25% dari total penduduk Indonesia. Proporsi yang tidak sedikit ini mengimplikasikan bahwa pemuda mempunyai andil yang sangat besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai pemuda Kristen, apa yang bisa dilakukan dalam kaitannya sebagai warga negara Indonesia? Ada 2 hal yang bisa diambil dari beberapa bagian Alkitab terkait kehidupan di dunia sebagai warga negara.

  1. Berdoa untuk para pemimpin di pemerintahan (Titus 3:1 dan 1 Petrus 2:13-14 )
    Pada beberapa bagian Alkitab ini, disebutkan ketaatan pada pemerintah dan kesiapan untuk “melakukan segala pekerjaan yang baik” sebagai cerminan perbuatan yang dihasilkan oleh iman. Pada jaman itu, banyak orang yang mengaku percaya namun berperilaku tidak semestinya, tidak taat, dan “tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik “ (Titus 1:16) .
  2. Mengusahakan kesejahteraan dan berdoa untuk tempat dimana kita berada (Yeremia 29:8)
    Ayat ini diambil dari bagian kitab Yeremia untuk orang Israel yang berada di pembuangan di Babel. Walaupun mereka tidak berada di negerinya sendiri, firman Tuhan memerintahkan mereka untuk tetap berkarya, ambil bagian dalam kesejahteraan negerinya, dan berdoa untuk kota tersebut. Kata bahasa Ibrani untuk “kesejahteraan” dalam bagian tersebut adalah “shalom” yang bukan hanya berarti kecukupan secara materi namun juga keadaan aman, selamat, dan tentram.

Sanggupkah pemuda untuk selalu berkarya mengusahakan kesejahteraan dan berkarya dimanapun mereka ditempatkan? Bait kedua dari lagu “Bangun Pemudi Pemuda” karya Alfred Simanjuntak mengatakannya dengan sangat indah: berusaha jujur, ikhlas, bekerja keras, berhati teguh dan lurus, pikiran tetap jernih, dan bertingkah laku halus. Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda!

 

Oleh : Sdri. Lydia Utami Setyorini

Read More →
Exemple

ORANG MISKIN AKAN SELALU ADA PADAMU

Latar belakang :

Masyarakat adalah kumpulan individu yang membentuk lingkungan sosial. Kita berada di tengah-tengah lingkungan sosial yang mempunyai reaksi timbal-balik yang saling mempengaruhi dan membutuhkan. Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, kondisi keluarga mempengaruhi kondisi masyarakat, demikian pula sebaliknya kondisi masyarakat mempengaruhi kondisi keluarga. Krisis Sosial, Ekonomi maupun Politik yang terjadi dalam masyarakat khususnya ekonomi sangat mempengaruhi aspek-aspek keluarga dan juga mempengaruhi setiap individu dalam keluarga itu. Sebagai keluarga Kristen kita juga terpanggil untuk memberikan pengaruh positif pada masyarakat di sekitar kita. Panggilan untuk menjadi berkat bagi masyarakat terwujud dalam bentuk kepedulian sosial untuk memperhatikan sesama.

Tuhan bersabda didalam Kejadian 12 : 2 , “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur dan engkau akan menjadi berkat“.

Fungsi Gereja :

  1. Fungsi Rohani : Melaksanakan, Mengisi, Mengatur Ibadah, Pujian dan Doa.
  2. Fungsi Kedalam : Persekutuan, Pendidikan, Pembinaan kepada anggota.
  3. Fungsi Keluar : Pemberitaan/Penyebaran ajaran Tuhan (Penginjilan), Diakonia (saling- membantu) dan juga Peneguran.

Kehidupan Manusia.

  • Hidup ini memerlukan aktivitas dan bagi manusia aktivitas itu merupakan/memerlukan tujuan yang baik agar hasilnya bermanfaat bagi orang lain.
  • Manusia tidak ingin gagal.

Banyak orang menjadi Miskin karena :

  • Malas bekerja
  • Tidak membiasakan diri untuk hidup hemat dan menabung
  • Gemar dengan aktifitas negative (berjudi, narkoba dan yang lain-lain).

Banyak orang menjadi pengangguran atau dipecat dari pekerjaan karena :

  • Kebodohan, kemalasan, ketidak jujuran dan kurangnya keterampilan teknis.
  • Ada lagi akibat polusi spiritual dengan keadaan disekitar kita yang dihuni oleh orang-orang dengan mental negatif, kerdil juga pesimis.

Serta brondongan propaganda seperti :

  • Anda tidak bisa maju lebih baik jangan coba-coba *
  • Anda dilahirkan untuk miskin, jangan melawan takdir *

Pengalaman hidup dan keyakinan pribadi mengajarkan bahwa :
Kepercayaan kepada Tuhan itu bukanlah alternative ataupun pertimbangan suka atau tidak suka, untung atau rugi, melainkan suatu Komitmen Total dengan kesadaran bahwa saya membutuhkan Tuhan.

Untuk bangkit, seseorang memang memerlukan pertolongan.
Dengan motivasi, seseorang yang sudah hampir mati saja bisa kembali merasakan hal yang sangat luar biasa. Sehingga kedepan bisa membuat kondisi kehidupan yang sebelumnya terpuruk menjadi jauh lebih baik, bahkan bukan hanya dari kondisi fisik saja, namun juga hati dan jiwa.

Teladan Habakuk yang mengatakan (Habakuk 3 ; 17-19) :
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan dan tidak ada lembu-sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak didalam Tuhan, beria-ria didalam Allah yang menyelamatkan aku.

Allah Tuhanku itu kekuatanku : Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, ia membiarkan aku berjejak dibukit-bukitku. Namun mengapa begitu banyak orang gagal, miskin, sakit, bodoh, menderita dan sebagainya. Mereka tidak tahu jalan keluarnya? atau untuk merubahnya… jalan/pedoman apa yang harus dilakukan untuk mencapai sukses dan bagaimana?

Sebuah Ungkapan mengatakan “No Pain No Gain“.
Dan untuk itu diperlukan penerapan fungsi Gereja yang mencakup :

  • Pelatihan (keterampilan teknis untuk bekerja).
  • Kwalitas pribadi yang percaya diri, penuh insiatif, pekerja keras.
  • Dukungan Penyemangatan seperti…Bimbingan, Material dan Modal.

“All things are possible to him that believeth“
(Tidak ada sesuatu yang mustahil, bagi orang yang percaya)
Untuk mengatasi/mengurangi angka kemiskinan disekitar kita, perlu beberapa usaha.

Usaha untuk berhasil diperlukan kebersamaan dengan : Tekad, Kemauan Keras dan Fokus. Mengentaskan kemiskinan adalah tugas kita bersama, bersatu dalam kepedulian…………

Mari dengan kepedulian, dengan kaya dalam berkarya kita lanjutkan, kita saling membutuhkan, kita semua sama-sama ditolong Tuhan.

 

Oleh : Bapak Robert P. Manik

Read More →
Exemple

BERIKANLAH KAMI MAKANAN KAMI YANG SECUKUPNYA

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dalam urutan “Doa Bapa Kami”, setelah berdoa bagi kemuliaan, kerajaan, dan kehendak Allah, kita juga berdoa bagi kebutuhan dan kenyamanan yang diperlukan dalam kehidupan sekarang ini, yang merupakan karunia Allah. Keperluan ini harus diminta dari-Nya. Apa yang harus kita minta dalam doa khususnya mengenai kebutuhan ini? Ton arton epiousion — Makanan untuk hari yang menjelang, untuk sepanjang sisa hidup kita. Makanan untuk masa mendatang, atau makanan untuk keberadaan dan penyambung hidup kita yang sesuai dengan keadaan kita di dunia (Amsal 30:8), makanan yang menjadi bagian kita dan keluarga kita, sesuai kedudukan dan lingkungan kita.

Di sini, setiap perkataan itu mengandung pelajaran yang disarikan sebagai berikut :

  1. Kita meminta makanan, dan hal ini mengajarkan kita dua hal, yaitu ketenangan dan kesederhanaan. Kita meminta makanan, bukan yang lezat-lezat atau berlimpah ruah, tetapi yang sehat, meskipun rasanya mungkin tidak enak.
  2. Kita meminta makanan kita, yang mengajarkan kita kejujuran dan kerajinan. Kita tidak meminta makanan yang menjadi hak orang lain, roti hasil tipuan (Ams. 20:17), ataupun makanan kemalasan (Ams. 31:27), melainkan makanan yang diperoleh dengan jujur.
  3. Kita meminta makanan secukupnya, yang mengajarkan kita untuk tidak merasa kuatir akan hari besok (Matius 6:34), tetapi senantiasa mengandalkan pemeliharaan ilahi, seperti mereka yang hidup dari sehari ke sehari.
  4. Kita memohon kepada Allah untuk memberikannya dan bukan menjual atau meminjamkannya kepada kita. Orang-orang yang paling hebat pun harus mengandalkan belas kasihan Allah untuk mendapatkan makanan secukupnya.
  5. Kita berdoa, “Berikanlah kepada kami, bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada orang lain, sama seperti aku.” Hal ini mengajar kita tentang kemurahan hati dan perhatian penuh belas kasihan bagi mereka yang miskin dan melarat. Hal ini juga mengisyaratkan agar kita berdoa bersama keluarga kita. Kita sekeluarga makan bersama, dan oleh karena itu juga perlu berdoa bersama.
  6. Kita berdoa agar Allah memberi kita pada hari ini, yang mengajar kita untuk memperbarui kerinduan jiwa kita pada Allah, sama seperti kebutuhan jasmani kita juga diperbarui. Begitu tiba hari yang baru, kita harus berdoa kepada Bapa sorgawi kita, dan berpikir bahwa melewati satu hari tanpa doa, sama saja dengan melewatinya tanpa makanan.

Dengan melihat pelajaran di atas, marilah kita berdoa dengan bersungguh-sungguh atas makanan yang kita makan dan cobalah Saudara renungkan makna hadirnya makanan di hadapan kita selama ini. Adakah rasa syukur yang terpancar dari hati sanubari kita?

Di bawah ini saya kutipkan salah satu tulisan Pdt. Andar Ismail dalam bukunya yang berjudul “Selamat Berteduh” pada Bab 10. Mari kita simak dan renungkan.

Bapa kami yang di sorga,
tiap hari kami berdoa:
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya.
Kami mengakui makanan sebagai berkat ilahi.
Demikian juga apa yang tersaji saat ini, nasi, sayur asem dan ikan asin.
Kami mensyukuri nasi ini serta kisah yang ada di baliknya.
Sekian bulan lalu pak tani membajak sawah, berhari-hari berlelah.
Lalu istrinya menanam benih padi, berbulan-bulan mengairi sawah.
Kemudian mereka menuai, lalu menumbuk ramai-ramai.
Mereka bekerja keras untuk menghasilkan beras
sehingga kini tersaji nasi di piring ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.

Kami mensyukuri sayur asem ini serta kisah yang ada di baliknya.
Sekian bulan lalu para petani mencangkul,
menggemburkan dan menyuburkan tanah,
menanam jagung, labu, tomat, kacang, belinjo, nangka,
tiap hari mereka menyiram, memelihara kebun,
cemas-cemas harap menunggu panen yang menghasilkan sayur-mayur ini
sehingga tersajilah sayur asem ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.

Kami mensyukuri ikan asin ini serta kisah yang ada di baliknya.
Bulan lalu seorang nelayan melaut,
sepanjang malam diterpa angin dingin,
di tengah ombak dan kegelapan malam, menjala ikan,
lalu kembali ke darat dengan selamat.
Anak dan istrinya membersihkan ikan itu,
menggarami dan menjemurnya,
sehingga kini tersaji ikan asin ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.

Bapa, Allah yang rahmani,
terima kasih untuk nasi yang pulen ini,
sayur asem yang sedap ini
dan ikan asin yang gurih ini.
Kiranya para nelayan dan petani serta anak dan istri
juga menerima rezeki seperti kami pada saat ini.

Bapa sorgawi,
berikanlah kami,
termasuk keluarga nelayan dan petani,
pada hari ini
makanan kami yang secukupnya.
Amin.

 

Oleh : Bapak Topson Siagian

Read More →
Exemple

“CLEAR FOR TAKE OFF”

28 September 2018, tepat di tengah kondisi gempa yang melanda kota Palu dan sekitarnya, sebuah pesawat penumpang yang hendak take off, tengah dipandu oleh seorang petugas ATC AirNav Indonesia Cabang Palu. Ia adalah Anthonius Agung.

Batik 6231 runway 33 clear for take off.” Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Agung, menurut saksi hidup, Capt. Richosseta Mafella. Seperti kita tahu dari informasi di berbagai media, Ia telah menyelamatkan 148 penumpang dan 7 kru pesawat. Keputusan yang diambil Agung untuk tetap tinggal di menara, sementara teman-temannya turun berhamburan keluar gedung, bukanlah keputusan yang terjadi sekonyong-konyong tanpa sebab. Tindakan heroik yang dilakukannya tak hanya menunjukkan siapa dirinya. Ada perjalanan panjang yang membentuk spiritualitasnya. Ada kekuatan dan keberanian yang dianugerahkan Tuhan pada dirinya, hingga kru dan penumpang pesawatnya selamat.

Sudjiwo Tedjo, mengatakan bahwa ia berhutang rasa pada Agung. Menurutnya, sumber moral yang sebenarnya itu adalah pada orang-gorang yang bukan menjadi penceramah. Ia juga mengungkapkan bahwa kini di realita kehidupan, banyak penceramah – dalam arti luas – yang membicarakan soal moral namun dalam kehidupannya belum tentu diterapkan. Budayawan sekaligus penulis ini pun mengingatkan agar Masyarakat jangan terlalu menyanjung penceramah. (Tribun Kaltim.Co)

Menarik apa yang diungkap Sudjiwo Tedjo, yang juga relevan dengan konteks Indonesia saat ini. Realitas yang kita lihat dan dengar di media, banyak bertebaran penceramah yang memprovokasi umat/publik demi kepentingan kelompoknya. Menjerumuskan umat seolah sedang menuju masa depan – bahkan dengan janji-janji sorga – tapi sesungguhnya hanya berputar-putar pada apa yang disebut sebagai romantisme. Seperti yang diungkap Amsal 14:12 : “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

Sebagai umat Kristen, kita juga harus peka dan waspada terhadap segala tipu daya yang disuguhkan dengan bungkus-bungkus yang membuat kita abai pada akal sehat kita. Begitu juga dengan bungkus agama. Kita bisa terjebak menjadikan agama sebagai ‘tuhan’. Kita harus senantiasa ‘terjaga’, seperti yang dikatakan Paulus dalam Efesus 5:15-17 “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”

Hari-hari ini memang jahat. Berita hoax dan tipu daya semakin masif dan tanpa malu-malu dibuat seolah hal itu adalah yang benar sedang terjadi. Bahkan dalam sebuah kondisi bencana seperti di Palu, ada saja manusia yang tega memanipulasi informasi untuk kepentingan kelompoknya. Beberapa negara hancur karena kebohongan (hoax) yang ditebarkan. Kita harus belajar agar tak menjadi bagian dari kehancuran itu.

Seperti Anthonius Agung, yang tetap bisa memperhatikan dengan seksama apa yang menjadi prioritas dan tanggungjawabnya di tengah situasi gempa yang akan memporak-porandakan kota Palu saat itu. Terlebih, kita bisa belajar dari Yesus Kristus, yang juga tetap fokus pada misi yang diemban-Nya dari Allah, misi penyelamatan umat manusia, termasuk kita di dalamnya.

Paulus dalam Roma 5:17-19 mengingatkan kita, “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Panduan Anthonius Agung dengan “clear for take off”-nya, tak hanya menyelamatkan pilot, kru dan penumpang pesawat itu saat ini, tapi juga ‘menyelamatkan’ keutuhan kehidupan keluarga mereka. Mereka bisa menjalani kehidupan ini. Yesus pun menyatakan “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan Ia mengucapkan kata terakhir: “sudah selesai” (Yohanes 19:30), ketika misi-Nya sudah digenapi.

Bersyukurlah kita yang telah dipandu oleh Sang Firman yang hidup, Yesus Kristus, dengan peringatan “clear for take off” dalam menjalani kehidupan ini. Dan kita pun mempunyai misi serupa, untuk membuat dunia lebih baik. Dunia yang dipulihkan oleh cinta kasih Allah. Dunia yang tak diisi dengan banyak ‘berita hoax’ melainkan dengan banyak ‘berita anugerah’ pengampunan dan pemulihan dari-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita dan Roh Kudus menolong kita menjadi berkat di tengah-tengah keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan dunia, bagi kemuliaan Allah.

Read More →
Exemple

DIA TELAN SALIB ITU BULAT-BULAT

Ciuman maut itu mungkin telah melumpuhkan semangat-Nya. Meski tahu kalau sedang dikhianati, tapi Ia tak mau ingkar janji seperti si pemberi ciuman itu. Singkat saja, salib yang sebenarnya bisa Dia hindari itu tak jadi membuatnya merana. Semua karena cinta atas ketaatan pada Bapa-Nya. Dia telan salib itu bulat-bulat!

Dalam lingkungan tentara, satu komando itu keharusan yang tidak boleh dilanggar. Kalau pimpinannya bilang A, anak buah atau yang berpangkat lebih rendah mesti melakukannya tanpa ada tanya atau bantahan. A dari atas A di bawah! Seperti itulah suasana malam Gerakan 30 September 1965 terjadi, dikira atas perintah Presiden Soekarno, 7 Pahlawan Revolusi itu ‘manut’ pada penjemputan paksa yang dilakukan oleh para Cakrabirawa (pasukan khusus pengawal presiden) kala itu.

Awalnya ‘ngaku’ akan dibawa menghadap ke istana, kenyataannya ke Lubang Buaya, disiksa, diolok-olok, ditembak lalu dimasukkan ke dalam sumur tua. Keesokan harinya ditemukan dan sudah diisukan negara dalam keadaan gawat darurat! Ada si pamanggus (si serakah) ingin berkuasa sedang beraksi!

40-an tahun setelahnya, kita melihat perspektif yang lebih jernih tentang siapa dalang dan pelaku aksi biadab itu! Yang mengakibatkan pembunuhan jutaan manusia Indonesia yang tidak berdosa dan tak tahu menahu soal Dewan Jenderal atau Dewan Revolusi yang waktu itu didengung-dengungkan akan melakukan kup pada Presiden Soekarno.

Di sudut lain, ada nuansa kental penggulingan Soekarno sebagai kepala negara sekaligus pertanda masuknya asing (red: USA) sebagai pengeruk sumber daya alam (SDA) kita lewat Freeport di Tanah Papua, serta model penjajahan baru berupa peminjaman utang, salah satunya pembuatan Satelit Palapa. Belum lagi soal infrastruktur lainnya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan sekaligus goncangan yang dialami keluarga besar 7 Pahlawan Revolusi itu, harus kehilangan sosok yang mereka banggakan dan sayangi dengan cara yang memilukan! Kabarnya, pada saat itu Kapten Czi. Pierre Tendean, ajudan Jenderal A.H. Nasution, akan melangsungkan pernikahan tetapi keburu diambil oleh para penghianat biadab yang juga memberondong Ade Irma Suryani hingga tewas.

Itulah konsekuensi yang mereka harus terima karena taat dan setia kepada negara dan Pancasila. Ketaatan itu ada konsekuensi logisnya. Hasilnya, sampai hari ini kita bisa hidup rukun dalam keberagaman dengan ribuan suku, budaya, etnik juga bahasa. Indah betul!

Bagi saya, ketujuh prajurit itu setia. Setia sampai akhir hidupnya pada janji prajurit. Karena tahu Presiden Soekarno yang meminta, sebagai panglima tertinggi, subuh sekalipun mereka berusaha memberikan yang terbaik, berganti baju seragam meski tak semua punya kesempatan, tapi mereka mencoba. Memberikan yang terbaik yang mereka bisa. Tak dinyana, kenyataan pahit harus mereka terima, diberondong laras panjang.

Ketaatan pada negara dan Pancasila, saya melihat itu dengan jelas dalam kehidupan 7 Pahlawan Revolusi itu. Sudah barang tentu jadi teladan yang langka bagi kita di zaman sekarang. Dimana semakin terang-terangannya oknum atau para pelacur ideologi itu hendak menggantikan Pancasila lewat upaya-upaya yang mengacaukan ekonomi, kestabilan keamanan dalam kehidupan sosial, aksi teroris yang tak peduli berapa banyak korban. Tujuan mereka, membuat kita takut ber-Pancasila!

Oh iya, saya mau cerita soal ketaatan kecil saya, pamer dikit nggak apa-apa yah, tentang pola makan dan jam tidur saya. Sebelumnya, saya orang yang serampangan soal gaya hidup. Apa saja yang ingin saya beli, saya makan, dinikmati lalu diabaikan resikonya. Tak ada aturan dalam keseharian saya. Hari ini bisa di Bandung, besok bisa di Balige atau di kota lain. Saya sulit diatur. Sampai pada ketika stroke itu datang, hidup saya mau tak mau harus berubah total. Kalau tidak mau sakit lagi.

Bayangkan, biasanya saya tidur diatas jam 12 malam. Sekarang sekitar pukul 22.00 sudah tidur, makan tidak terlambat, begitu juga dengan minum obat dan olahraga rutin setiap pagi selama 30 menit sampai 1 jam. Sudah setahun saya punya kebiasaan ini. Semuanya demi kehidupan serta kesehatan yang lebih baik, jadi saya harus taat pada kebiasaan baru itu. Konsekuensi logisnya yang saya terima, badan saya semakin fit, bisa berlari satu putaran di Sabuga tanpa berhenti. Ketaatan saya berbuah yang bermanfaat bagi saya.

Suatu pagi, saya membayangkan kisah nyata ketaatan Yesus pada rencana Bapa-Nya, mati di kayu salib! Harusnya naluri kemanusiaan Yesus bisa mengelak bahkan lari dari tugas yang diberikan-Nya itu. Tapi, salib itu akhirnya ditelan Yesus bulat-bulat! KetaatanNya menyebabkan konsekuensi ‘logis’, kita diselamatkan dari dosa!

Kembali soal Pancasila. Apa tugas kita sebagai penjaga Pancasila di zaman now? Membumikan Pancasila adalah tugas kita bersama di depan masa generasi milenial ini. Tak perlulah adik-adik kita itu mengikuti kakunya penataran Pancasila yang pernah kita alami semasa sekolah dulu. Dengan cara-cara zaman now supaya mereka tak mengira Pancasila itu produk usang. Salah satunya, bisa dengan mengajak mereka nonton film-film perjuangan di bioskop atau kongkow dan cerita serunya punya teman yang beda suku di coffee shop.

Ada teladan ketaatan serta kesetiaan yang bisa kita lihat dari pengorbanan Yesus di kayu salib itu, juga dengan kesetiaan para jenderal pahlawan revolusi itu pada Pancasila. Kita sama-sama tahu, tidak mudah untuk taat dan setia, sederhana saja; kita masih tidak konsisten setiap pagi mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang masih memberikan nafas kehidupan. Kita malas! Nah, kalau mengucap syukur saja kita kesulitan, apalagi kalau kita diminta untuk berkorban demi orang lain atau negara, kita akan bergumam: ih ogah amat yah!

”Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”         – Filipi 2:8

Read More →
Exemple

QUO VADIS GEREJA

Istilah Quo Vadis

Istilah “quo vadis” berkaitan dengan tradisi sejarah gereja. Konon ketika Roma dibakar oleh Kaisar Nero (Lucius Domitius Ahenobarbus), orang Kristen teraniaya. Aniaya yang dilakukan terhadap orang Kristen sangat kejam. Ia suka membuang orang Kristen ke kandang binatang buas, dan menjadikannya tontonan yang mengasyikkan.

Petrus berlari meninggalkan kota Roma untuk menyelamatkan diri, tetapi di jalan ia bertemu dengan Tuhan Yesus yang berjalan berlawanan arah dengannya. Ia bertanya, “Hendak ke mana Tuhan ?” Tuhan Yesus menjawab, bahwa Ia akan masuk ke kota Roma untuk mendampingi umat-Nya. Petrus merasa tertegur. Ia malu. Ia menyadari sikapnya yang pengecut, tidak bertanggung jawab dan mencari kenyamanan. Karena itu, ia kembali ke kota Roma. Menurut cerita dalam sejarah gereja, akhirnya ia mati disalib dengan kepala di bawah. Petrus sebelum mati berkata bahwa kalau Tuhannya mati dengan kepala di atas, ia tidak layak mati dengan kepala di atas. Karena itu, ia disalib dengan kepala di bawah.

 

Quo Vadis Gereja

Apa yang Anda bayangkan dengan gambar di atas? Ada perbedaan antara Petrus dan Yesus Kristus. Dengan pakaian yang mentereng dan mewah, Petrus berjalan melarikan diri dari Roma. Petrus hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Ia lupa pada panggilannya. Namun Yesus Kristus, dengan kondisi pakaian yang tidak lengkap dan cenderung compang camping, sambil memanggul salib Ia justru menuju ke arah Roma. Ia mencari mereka yang teraniaya, tersingkirkan, yang hak-hak hidupnya diambil oleh kekuasaan. Ia mencari mereka yang hidupnya dalam bahaya, hadir di tengah-tengah pergumulan umat. Itulah “jalan salib”.

Jadi, kata “quo vadis” tidak berarti asal berjalan, melainkan berjalan ke suatu arah, Jika kita “pergi” meninggalkan misi yang paling utama, maka sebetulnya kita telah melarikan diri dari tugas paling utama. Namun bila kepergian kita menuju arah misi Allah, maka seberat apapun perjalanan, kita harus hadapi. Itulah panggilan, menjalankaan misi Allah! Panggilan kita adalah berjalan ke arah kehendak Tuhan! Kemanakah Tuhan akan pergi, ke sanalah kita menuju, bukan ke arah yang berbeda!

“Quo vadis gereja? Kemanakah gereja akan berjalan?” Semestinya gereja berjalan menuju misi yang telah ditentukan Yesus Kristus sebagai Sang Kepala Gereja! Fungsi gereja adalah menjalankan misi-Nya! Dan kemana pun Yesus pergi, semestinya di situ juga gereja berada! “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku dan di mana Aku berada, di situ pelayan-Ku akan berada.” (Yohanes 12 : 26) Ketika Tuhan Yesus mengedepankan orang kecil dalam pelayanan-Nya, maka itulah yang harus dikerjakan gereja. Ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit, memperhatikan mereka yang tersisihkan, maka di situlah juga gereja berada. Ketika gereja meninggalkan kemapanan dan kenyamanan, maka di situlah semestinya gereja. Misi gereja tidak lain mengikuti Misi Yesus.

 

Lintas Generasi Beragam Aksi

Dalam kehidupan kita, gambar di atas masih relevan. Bukankah Petrus menggambarkan kehidupan kita? Kita seringkali terjebak di dalam kenyamanan dan kemapanan sehingga ketika kita harus menjalani “jalan Salib” kita berusaha lari menjauhinya. Akan tetapi, perjumpaan Petrus dengan Tuhan Yesus mengingatkan kita juga bahwa Tuhan Yesus selalu ingin kita tetap menjalani “Salib” itu. Kata “Quo Vadis” mengingatkan kita bahwa kita harus selalu bertanya apakah kita sudah searah dengan Tuhan kita dalam perjalanan hidup di dunia ini. Menjadi pengikut Tuhan, tidak selalu berarti mengerti semua kehendak Tuhan. Semakin lama mengikuti Tuhan, maka akan semakin tidak mengerti. Akan tetapi, bukankah dengan semakin tidak mengerti, kita harus semakin mendekat kepada-Nya? Kata “quo vadis” menolong kita untuk mengoreksi dan merefleksi diri, apakah arah hidup kita sebagai bagian dari gereja berjalan searah dengan kehendak-Nya? Jalan Salib tidak pernah menyenangkan. Tidak ada seorang pun yang berani menjalaninya tanpa anugerah Tuhan. Kita hanya bisa mengharapkan kekuatan dan anugerah-Nya agar jalan salib yang harus kita jalani tidak pernah kita ingkari.

Kita tidak pernah berhenti merasa bersyukur kepada Tuhan untuk 51 tahun perjalanan kehidupan GKI Maulana Yusuf. Karena sepanjang itu pula, Tuhan Yesus tidak pernah berhenti menyertai dan memberkati GKI-MY. Segala kekayaan talenta dan karunia telah Tuhan berikan kepada GKI-MY untuk berkiprah dalam pelayanan nyata di tengah-tengah dunia ini.

Film “Beauty and the Beast” sangat bagus bukan semata-mata karena akting para pemainnya, namun memiliki pesan moral yang mendalam. Kita tentu mengerti istilah “Don’t Look the Book Just From the Cover”. Sekalipun penampilan memang diperlukan, namun bukanlah yang terpenting. Gereja tidak boleh terjebak hanya memperlihatkan penampilan. Gereja harus memiliki “inner beauty”, sebab itulah yang terpenting dan utama menentukan kualitas diri kita. Nilai-nilai hidup datang dari dalam, sedangkan penampilan. Jangan indah di muka, tetapi buruk di dalam.

Gerak pelayanan gereja pun semestinya mencerminkan demikian. Gereja dihadirkan di tengah-tengah dunia untuk menjadi garam dan terang, yang memberi rasa dan menerangi. Hal itu hanya mungkin terjadi, bukan karena banyaknya jemaat, bukan karena indahnya gedung dengan segala fasilitas yang dimiliki, bukan karena segala aksi bisa dilakukan dan digelar. Gereja benar-benar menjadi garam dan terang ketika ia memberi rasa dan menerangi! Segala aksi akan benar-benar memberkati dan menjadi berkat, manakala Tuhan Yesus benar-benar menjadi fokusnya. Karena itu, yang dibutuhkan gereja adalah para pelayan yang rendah hati dan melayani dengan hati, bukan sekedar berpenampilan dan menunjukkan aksi.

SELAMAT MERAYAKAN HUT ke-51 GKI Maulana Yusuf Kepada seluruh anggota jemaat dan para simpatisan. Selamat melayani bagi kemuliaan Nama Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

KESEHATAN JASMANI DAN KEBUGARAN ROHANI

Pendahuluan

Baru saja berlalu gegap gempita kemeriahan Asian Games Ke-18, tanggal 18-08-18, adrenalin meningkat setiap menonton pertandingan, terutama saat pembukaan, ketika terjadi dua hal yang fantastis, yaitu koreografi tarian saman yang menggetarkan serta pak Jokowi ber-helm menaiki motor. Diakui oleh dunia internasional, Indonesia sangat berhasil menyelenggarakan perhelatan olahraga besar, diikuti perolehan medali emas yang jauh meliwati target.Tampak momen-momen olahraga ketika atlet berkerudung bahu membahu dengan atlet bersalib, semua identitas setara, saling berangkulan, saling tertawa dan saling mengalirkan air mata. Sungguh terharu melihat semangat inklusif kewargaan yang meleburkan perbedaan dalam harmoni persatuan.

Itulah kekuatan Olahraga ! The energy of Asia !

Setiap tanggal 9 September, diperingati sebagai Hari Olah Raga Nasional. Tanggal itu dipilih merujuk pada penyelenggaraan Pekan Olah Raga Nasional (PON) pertama, yaitu tanggal 9-12 September 1948, di Solo.

 

Kesehatan Jasmani

Bila ditanya pada setiap orang, apakah mau sehat?, pasti jawabannya ya. Tetapi bila disuruh berolahraga, sering orang malas atau beralasan sibuk. Padahal kesehatan tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan harus dilakukan sendiri. Kebanyakan orang, terutama masyarakat urban terlalu banyak duduk dan kurang gerak (sedential). Sebenarnya, Alkitab berisi firman Allah juga mengajarkan kepada kita tentang hidup sehat. Kesehatan yang sempurna hanya berasal dari Allah, seperti halnya iman. Setiap orang beriman yang diberi kesehatan oleh Tuhan, tidak boleh memegahkan diri, karena itu bukanlah hasil usaha kita. Akan tetapi bukan berarti dengan demikian orang Kristen tidak boleh berusaha, hanya berharap saja, serta meminta kesehatan jatuh dari langit, padahal ada tertulis, iman tanpa perbuatan adalah mati, sehingga kita memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjaga hidup kita agar tetap sehat. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa kita perlu memelihara tubuh kita dengan baik, dinyatakan dalam Efesus 5:29 : “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat“.

 

Kebugaran Rohani

Sejak awal manusia sudah didesain untuk melakukan “pekerjaan baik” yang sudah dipersiapkan jauh sebelumnya oleh Tuhan (Efesus 2:10). Ketika manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik tersebut, maka bukan saja tujuan Tuhan dapat tercapai, tetapi kondisi kesehatan rohani pun akan terbangun. Kebugaran rohani dicapai melalui proses kematangan dan diperlukan sikap yang proaktif untuk mencapainya seperti yang dikehendaki Tuhan. Latihan untuk meningkatkan kebugaran rohani adalah beribadah. Beribadah bukanlah melulu perihal pergi ke gereja, tetapi lebih kepada pengaplikasian firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya membaca firman Tuhan, merenungkan siang dan malam dan melakukannya secara nyata, menjadi berkat bagi sesama, menjadi sosok yang baik dalam keluarga, suami yang siaga, isteri yang cakap, anak-anak yang patuh, menjadi manusia yang hidupnya digerakkan oleh kasih. Untuk bisa sampai ke dalam bentuk hidup seperti ini tidak bisa secara instan melainkan memerlukan latihan. Rasul Paulus menyamakan ibadah dengan istilah “berlatih” dengan pemahaman bahwa pertumbuhan rohani tidak bisa dicapai dalam waktu “semalam”, namun harus melewati latihan demi latihan dengan motivasi yang benar hari lepas hari. Kebugaran Rohani atau spiritual fitness dimulai dari kesadaran, kesungguhan, bahkan kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, mendengar suara-Nya, berdiam di hadirat Nya, merasakan kasih-Nya, mengerti kebenaran firman Tuhan. Kebugaran rohani merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan, bahkan lebih penting dari kebugaran jasmani baik saat ini ketika masih di dunia maupun nanti setelah selesai dari masa kehidupan yang singkat ini. Jika orang mau meluangkan waktu untuk kesegaran jasmani yang membawa manfaat dalam masa hidup yang hanya sementara, mengapa banyak yang justru malas meluangkan waktu untuk kebugaran rohani yang sifatnya selamanya?

Mengejar kesehatan tubuh tidaklah salah, namun meremehkan pembangunan tubuh rohani bukanlah keputusan yang bijak. Banyak orang yang terlihat sehat secara jasmani, namun sayangnya tidak diikuti dengan sehat secara rohani, dan sebaliknya. Seperti dinyatakan dalam 1 Timotius 4:8, bahwa “latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”

Secara sederhana, untuk menciptakan suatu kehidupan yang “sempurna”, dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Hidup dalam keseimbangan
    Hidup manusia harus berada dalam keseimbangan antara kesehatan
    jasmani dan kebugaran rohani. Idealnya, kedua hal tersebut
    seharusnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan
    harus sama-sama diperhatikan dengan baik dan dijaga agar
    tetap seimbang.
  2. Hidup dalam pengendalian
    Setiap manusia memiliki keinginan, nafsu dan hasrat, yang selalu
    ingin dipenuhi. Tetapi bila keinginan tersebut dilakukan secara
    berlebihan dengan tanpa pengendalian, maka kehidupan seseorang akan
    menjadi tidak baik.
  3. Hidup dalam bersukacita dalam Tuhan
    Hati yang gembira adalah obat. Tips ini sudah terbukti sejak dahulu
    kala bahkan sampai saat sekarang ini pun, dokter, psikolog, terapis
    selalu menganjurkan pasiennya untuk bersukacita. Hal apakah membuat
    kita dapat bersukacita adalah dengan mengingat akan kebaikan,
    kesetiaan, perlindungan, pertolongan, berkat dari Tuhan. Sehingga
    ucapan syukur serta sukacita ilahi akan melingkupi diri kita.

Anda tentu mau untuk menjadi “manusia yang sempurna”, bukan? Dengan demikian, marilah kita bersama mencapai hidup dalam kondisi sehat jasmani dan bugar rohani. Suatu kondisi hidup yang dapat dicapai dengan upaya yang sungguh-sungguh, dimulai dari sekarang dan melalui suatu proses. Biarlah kondisi seperti ini dilakukan secara konstan dan kontinyu, sehingga kondisi ini akhirnya akan menjadi suatu kebutuhan dan bahkan menjadi jalan hidup kita.

Akhirnya, biarlah kita semua warga jemaat merawat, memelihara dan meningkatkan kesehatan jasmani dan kebugaran rohani sehingga mencapai level yang prima.

 

Oleh : Pnt. Johan. M. Nasution

Read More →
Exemple

IF GOD IS GOOD, WHY…?

“Jika Anak Manusia itu datang,
adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:8b)

Tahun 2004, Tsunami menghantam Aceh dan beberapa negara tetangga lainnya. Sebuah keluarga tengah menikmati liburan awal musim dingin di sebuah pesisir pantai Thailand. Maria, Henry dan tiga putranya. Pada 26 Desember, saat mereka tengah asyik bermain di kolam renang, tiba-tiba ombak besar bergulung menghantam segala sesuatu yang dilaluinya. Semua luluh lantak. Keluarga itu pun hanyut terpisah. Sang ibu berjibaku bersama anak sulungnya dalam arus air yang menyeret balik ke tengah laut. Sang ayah bersama dua orang anaknya yang lain entah dimana. Cuaca yang indah berubah drastis menjadi buruk. Suasana menjadi mengerikan. Kisah nyata ini diceritakan ulang dalam film “The Impossible” (2012). Penderitaan itu tiba-tiba menyergap tanpa tedeng aling-aling.

Tidak ada seorang pun yang mau menderita. Bahkan kita lebih tertarik pada kisah-kisah sukses ketimbang proses yang menjadikan lahirnya kesuksesan. Kita lebih ingin secara instan mencicipi manisnya hidup (better), ketimbang melalui proses pahitnya (bitter). Kita cenderung menghindarinya. Tak kita jumpai sebuah mata pelajaran atau bimbingan belajar tentang penderitaan. Tapi faktanya, penderitaan itu bisa datang kapan saja, bahkan saat kita yakin bahwa segala sesuatunya baik-baik saja. Ia datang seperti wabah, hama, penyakit, dan tamu tak diundang. Ia tak pandang bulu terhadap kaya atau miskin, pejabat atau jelata, tuan atau buruh, kulit berwarna atau kulit putih, di kota atau di desa. Kita semua punya potensi untuk mengalami penderitaan dengan beragam bentuk serta konteks. Alkitab mencatat beberapa kisah terkait penderitaan. Disana ada Abraham, Musa, Yusuf, Daud, Gideon, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daniel, Elia, Yeremia, Ayub, Hosea, bahkan Yesus serta Paulus. Lantas, untuk apa penderitaan itu ada? Mengapa Allah membiarkan penderitaan? Mengapa Allah seolah membisu? Mengapa orang baik justru mengalami tekanan dan diskriminasi? Itu pertanyaan-pertanyaan yang usianya setua catatan Alkitab dan sering terlontar dan kerap muncul hingga zaman milenial ini.

Menurut Benjamin Blech (2003), penderitaan, lebih dari semua hal lain, dapat membahayakan iman kita. Mungkin hal yang lebih menggangu bukanlah kepedihan itu sendiri melainkan penderitaan yang tampak tak jelas ujung pangkalnya. Blech juga menulis bahwa seseorang dapat menanggung hampir semua beban bila ia mengetahui bahwa hal itu adalah untuk suatu alasan. Dalam mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus ingat bahwa pikiran kita memang terbatas dalam menangkap kebenaran dalam lingkup yang tak terbatas. Kita tak hanya mengenal satu kemungkinan saja, bahkan kita harus menggunakan kemungkinan gabungan. Alkitab setidaknya mengandung beberapa hal yang bisa menjadikan kita paham untuk apa manusia mengalami penderitaan.

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN , dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Amsal 3:11-12). Saat Allah “mendisiplin” kita, dan kita tak menghargainya sama sekali, itu karena kita masih belum dewasa untuk melihat gambar yang utuh. Allah sangat mengasihi kita, itulah mengapa Ia mendisiplin kita.

Peristiwa orang Israel pasca kelepasan dari tanah Mesir, ketika menyeberangi Laut Teberau dan sampai pada mata air di Mara (= pahit). Mereka bersungut-sungut karena air yang pahit (Keluaran 15:23-26). Kenapa Allah tak memberi air yang baik? Apa yang diajarkan Allah pada mereka (dan kita)? Realitasnya, hanya karena kita seorang percaya bukanlah berarti kita takkan pernah mengalami kesulitan. Hanya karena mereka merupakan pewaris berkat-berkat supranatural, bukan berarti bahwa mulai saat itu kehidupan mereka akan selalu berakhir seperti dongeng anak-anak. Contoh konkret adalah ditemukannya vaksin (cacar) oleh Edward Jenner pada 1796. Jenner mengusulkan hal yang tak masuk akal, yaitu menyuntikkan sejumlah kecil biakan kuman cacar sapi kepada manusia yang sehat agar manusia kebal terhadap penyakit cacar. Kita diingatkan bahwa Allah menggunakan kepahitan itu sendiri untuk mengubah yang buruk menjadi baik.

John Audubon (ahli unggas), suatu saat mengamati seekor kupu-kupu yang indah sedang menggelepar dalam kesulitan. Ia tak mampu keluar dari kepompong yang mengurungnya. John tersentuh untuk membebaskan penderitaan mahluk itu. Ia menyobek kepompong tersebut. Kupu-kupu itu terbang beberapa kaki, kemudian jatuh dan mati. Alam bahkan mengajarkan kita bahwa pengalaman yang menyakitkan memperkuat kita untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dalam kehidupan. Saat kita berjuang untuk apa yang kita inginkan, kita menjadi lebih kuat dan lebih baik, tetapi bila hal-hal datang terlampau mudah, kita menjadi lemah dan sesuatu di dalam diri kita tampak mati.

Maria, Henry dan tiga putranya, yang selamat dalam peristiwa tsunami 2004, adalah saksi hidup bagaimana penderitaan itu membentuk dan mengajarkan pada mereka untuk tetap menjadi berkat, peduli pada orang-orang yang juga mengalami penderitaan. Dan sebagai Kristen, kita pun telah dimerdekakan oleh sebuah proses penderitaan Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus, mulai dari pergumulan di Taman Eden, pengadilan tak adil oleh para imam agama, penyiksaan oleh prajurit Romawi, perjalanan panjang mendaki ke Golgota, hingga mati di atas salib. Semoga kita dimampukan Allah melalui pertolongan Roh Kudus dalam menghadapi, melalui, serta memaknai segala bentuk penderitaan dalam kehidupan yang kita jalani. Tuhan memberkati.

Read More →