Bukan Damai Melainkan Pedang?

arsiv

Exemple

Bukan Damai Melainkan Pedang?

Pagi hari, 19 April 1995, di kota Oklahoma, AS, seorang veteran Perang Teluk memarkirkan sebuah truk Ryder berisi lima ton bahan peledak fertil ke sebuah Gedung Federal Alfred P. Murrah. Timothy J. McVeigh, pemuda berusia 33 tahun ini melakukan balas dendam atas peristiwa bentrokan Ruby Ridge dan Waco (David Koresh, pendiri sekte Kristen bernama Ranting Daud) yang terjadi 2 tahun sebelumnya. Secara pribadi, Mc Veigh dipengaruhi oleh berbagai literatur dan ide-ide yang disampaikan sayap kanan radikal. Konon, ia pun dimotivasi oleh pemahaman keliru terhadap Matius 10:34, “…Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Akibat dari ledakan hebat itu, 168 orang tewas dan 675 orang mengalami luka-luka. Sebuah aksi teroris terburuk dalam sejarah Amerika sebelum serangan 9/11 (11 September 2001). Kita bisa menyaksikan peristiwa ini nyata ini dari film dokumenter bertajuk “Oklahoma City” (2017).

Menurut penelusuran Mark Juergensmeyer  – seorang sosiolog dan penulis buku Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (2003) – bahwa McVeigh dipengaruhi oleh teologia yang dibawakan gerakan “Christian Identity” yang dipimpin oleh Pendeta Robert Millar. Tahun 1996, “Christian Identity” mengebom Olimpiade di Atlanta. Dan tahun 1999 menembaki sebuah tempat penitipan anak Yahudi. Sebelumnya, tahun 1994, Pendeta Paul Hill menembak mati Dokter John Britton di Florida.

Tuhan Yang Bengis?
Dari berbagai peristiwa di atas, kita bisa tahu bahwa seseorang bisa saja terinspirasi dan memakai ayat sebuah kitab suci (Firman Tuhan), bukan untuk mencintai melainkan untuk membunuh sesama manusia. Seseorang bisa mengklaim bahwa Tuhan ‘menitahkan’ sebuah tindakan pemurnian (purify) dalam wujud melenyapkan siapapun yang dianggap menghalangi upaya / perjuangan menegakkan hukum-hukum Tuhan atau upaya menghadirkan ‘surga’ di bumi. Sungguh berbahaya.

Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu akhirnya menjadi berwajah buruk, dingin dan penuh kekerasan, manakala orang-orang seperti McVeigh, Paul Hill dan Robert Milar menjadi model dan panutan dalam beragama. Benar bahwa dalam catatan sejarah, Kekristenan tak luput dari wajah kekerasan atas nama agama. Peristiwa Perang Salib yang berjilid-jilid, genosida terhadap kaum Yahudi yang dilakukan rezim Nazi pimpinan Adolf Hittler, konflik Protestan – Katolik di abad pertengahan dan berbagai peristiwa lainnya, adalah pelajaran berharga bagi kita tatkala agama dimanipulasi serta tergerus maknanya untuk tujuan-tujuan politik dan kekuasaan. Kekristenan dihadirkan dengan pedang dan peluru. Dan akhir-akhir ini pun kita lebih sering melihat Tuhan yang bengis dan membawa ‘pedang’ melalui sepak terjang ISIS dan kelompok-kelompok radikal berjubah agama.

Kasih: Ajaran Utama Yesus Kristus
Ada dua hal penting yang mesti kita pegang sebaai murid Yesus Kristus. Pertama, Yesus datang ke dunia ini tidak mengajarkan kekerasan. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia  bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh 3:17). Hal tersebut dibuktikan dengan tindakan-Nya dalam mengajar, bahkan Ia tak menghendaki saat Petrus menyabetkan pedangnya ke telinga seorang pasukan Romawi yang ingin menangkap-Nya di Taman Getsemani. Kedua, inti ajaran Yesus adalah Kasih (Agape). “Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia  seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:36-40).

Mahatma Gandhi (penganut Hindu) dan Martin Luther King Jr., telah membuktikan ajaran Yesus Kristus yang nirkekerasan itu justru telah membangun rasa malu dalam diri penindas dan menantang rasa superioritas palsunya. Mungkin saat ini, rasa superioritas terhadap pihak lain yang berbeda sedang marak. Entah terhadap suku, agama bahkan bangsa tertentu. Bangsa Eropa (Barat) yang muncul dengan 3G-nya (Gold, Glory and Gospel) di sekitar abad 15 Masehi, juga terjangkiti virus superioritas terhadap dunia Timur (bangsa jajahan). Dan kita bisa merasakan efeknya hingga kini di Indonesia.

Mari kita memuliakan Yesus Kristus dengan menebarkan kasih sayang, kedamaian dan nirkekerasan pada lingkungan kita dan dunia. Agara semua orang tahu bahwa kita muridNya. Seperti kata Yesus…”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9).

Oleh: Bapak Dommy Waas

Read More →
Exemple

Memahami Arti Saling Memaafkan

Hari ini, seluruh umat Muslim di Indonesia bahkan di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan, setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu. Yang khas dari perayaan Idul Fitri, selain ketupat, lontong sayur dan aneka kue kering adalah ucapan “Mohon maaf lahir dan batin”. Ya, hari raya Idul Fitri identik dengan tradisi saling memaafkan. Idul Fitri menjadi momentum bagi mereka untuk lahir baru, kembali kepada fitrahnya, dan diampuni segala kesalahannya oleh Allah. Bagi kita para pengikut Kristus apakah artinya saling memaafkan atau mengampuni? Bagi beberapa orang mengampuni adalah hal yang mudah dilakukan, tetapi tidak sedikit pula yang kesulitan melakukan hal tersebut.

Seorang ibu guru SD mengadakan “permainan”. Ibu Guru menyuruh anak-anak muridnya membawa kantong plastik transparan dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci. Sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa, tergantung jumlah orang yang dibenci. Pada hari yang disepakati, masing-masing murid membawa kentang dalam plastik. Ada yang berjumlah dua, tiga bahkan ada yang lima buah. Seperti perintah guru mereka, tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama yang mereka benci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang itu kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama satu minggu. Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa lima buah kentang, selain berat baunya pun tidak sedap. Setelah satu minggu murid-murid SD tersebut merasa lega karena penderitaan mereka segera berakhir.

Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak mampu mengampuni orang lain. Kita bagaikan membawa kentang yang lama-kelamaan akan membusuk. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk (kebencian) kemanapun kita pergi. Itu hanya satu minggu, bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup kita? Alangkah tidak nyamannya. Namun ironisnya banyak orang enggan melepaskan atau membuang “kentang busuknya”. Banyak orang merasa nyaman dan akhirnya terbiasa dengan keberadaan si kentang busuk itu.

Menyimpan kebencian bagaikan membiarkan benih kejahatan tumbuh dalam hati kita. Waspadalah dengan benih kebencian, karena itu akan bertumbuh menjadi dendam. Orang yang sudah terluka dan kecewa cenderung ingin membalas apa yang orang lain lakukan padanya. Kadangkala begitu hebatnya kita merasa disakiti, membuat kita ingin orang tersebut merasakan sakit dan kecewa seperti yang kita rasakan. Semakin dibiarkan benih kebencian akan semakin merusak, semakin sulit melepaskan kebencian maka akan semakin sulit juga kita merasakan damai sejahtera. Keinginan untuk membalas makin besar dan rasanya tidak puas jika membiarkan orang yang menyakiti kita bebas begitu saja.

Apa kata Tuhan Yesus tentang pengampunan? Petrus pernah bertanya pada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18:21-22). Angka tujuh adalah simbol umum untuk segala hubungan dengan Allah dan merupakan angka religius favorit di kalangan Yahudi, melambangkan perjanjian kekudusan dan pengudusan, angka sempurna. Keistimewaan angka tujuh inilah yang dipakai Yesus ketika Ia menjelaskan tentang pengampuan.

Mengampuni merupakan suatu perjuangan. Berjuang melawan gensi dan harga diri, berjuang melawan sakit hati dan amarah, berjuang melawan ego dan rasa ingin membalas. Awalnya mungkin sakit dan menderita, sulit dan berat. Tetapi jika kita tetap tekun dan mau untuk berusaha, maka usaha dan perjuangan kita tidaklah sia-sia. Sama seperti petani yang tekun dan terus berusaha maka suatu saat nanti kita pun akan menerima buahnya. Meskipun mengampuni membuat diri kita dipandang rendah oleh orang lain, membuat harga diri kita jatuh, namun ingatlah bahwa Allah sudah lebih dahulu mengampuni kita, maka kita pun harus melakukan hal yang sama.

Jika kita berlatih dan berusaha terus untuk mengampuni, maka lama kelamaan itu bukan lagi hal yang menyakitkan dan sulit. Mengampuni akan menjadi bagian dari diri kita. Itulah yang dimaksud Yesus dengan “bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Bukan masalah jumlahnya tetapi bagaimana usaha kita untuk mau mengampuni dan terus mengampuni sampai hal itu menjadi bagian dari diri kita. Bagi Yesus pengampunan berarti sikap sepenuh hati dan konstan. Yesus sedang menekankan bahwa pengampunan orang percaya bersifat tidak terbatas atau dengan kata lain hidup mengampuni adalah gaya hidup murid-murid Kristus. Kalau itu sudah menjadi bagian dari diri kita, kita akan menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang, tidak mudah tersinggung atau terpancing amarah.

Ketika kita disakiti, berusahalah untuk tidak dikuasai oleh amarah dan berusahalah juga untuk mematikan benih-benih kebencian, sehingga kita tidak jatuh ke jurang dendam kesumat yang akhirnya bukan saja merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru menimbulkan masalah baru. Dendam juga tidak pernah membuat hati kita damai sejahtera. Ketika kita tidak mau mengampuni, kita seperti memegang bola berduri, semakin kita tidak mau melepaskannya, maka kita sendiri yang akan merasakan sakitnya.

Mengampuni berarti melepaskan segala kepahitan, kekecewaan, kemarahan dan kebencian. Belajarlah untuk tidak menyimpan dendam, berdamailah dan ampunilah orang yang kita benci. Dengan demikian kita akan selalu menjadi pribadi yang baru, tidak perlu menunggu Idul Fitri untuk kembali kepada fitrahnya, cukup dengan mengampuni dan melepaskan kebencian, maka kita akan terbebas dari siksaan kebencian dan tidak perlu membawa “kentang busuk” kemana-mana.

Oleh: Pdt. Esther S. Hermanus

Read More →
Exemple

AYAH IBU PAHAMI DUNIA KAMI

“The first thing you have to do if you want to raise nice kids is you have to talk to them like they are people instead of talking to them like they are property”

Membahas mengenai anak dan dunianya selalu menyenangkan, sarat dengan hal-hal yang lucu, menggemaskan, terkadang melelahkan dan menjengkelkan, namun itu semua tak menyurutkan hasrat kita sebagai orang tua untuk mendidik dan membesarkan mereka menjadi seseorang yang berguna di masa depan bukan?

Sesuai dengan apa yang dikatakan Alkitab di Kejadian 1:28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkan itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Jelaslah bahwa Allah memberkati perkawinan sepasang manusia pertama di Taman Eden, dan kemudian memerintahkan mereka agar berkembang biak untuk memenuhi bumi.  Jadi, kita tahu bahwa anak adalah kasih karunia Allah dalam sebuah keluarga yang patut dihormati dan dikasihi sebagai pribadi bukan sekedar asset.  Sebagai orang tua kita menerima panggilan Allah bekerja sama untuk membentuk karakter dalam pribadi anak-anak kita. Sebuah kewajiban dan tanggung jawab yang mulia dan agung untuk merawat dan mendidik anak-anak kita yang adalah milik-Nya!

Dalam sebuah video berdurasi singkat yang pernah saya tonton, diperlihatkan beberapa ibu yang sedang berada dalam sesi wawancara untuk menceritakan perilaku anaknya masing masing, ada yang bercerita kekesalan pada anaknya karena sering ceroboh dan menghabiskan waktunya untuk bermain bersama teman-temannya, ada lagi ibu yang mengungkapkan kekesalan hatinya karena anaknya tak pernah mendapatkan nilai 100 di sekolahnya padahal ibu ini sudah menemani selama waktu belajar, dan ada pula ibu yang mendesah karena seharian tak cukup waktunya untuk membereskan rumah yang selalu berantakan karena aktifitas anaknya. Setelah para ibu ini menceritakan perilaku anak mereka, selanjutnya mereka diminta untuk memberikan nilai bagi anaknya.  Dan nilai yang diberikan untuk sang anak menurut para ibu dalam video ini beragam ada yang 70, 75, dan 60.  Hemm tidak ada nilai yang memuaskan bukan?  Sementara itu dalam side yang bersamaan, anak-anak dari para ibu ini  juga di wawancarai pendapat mereka tentang ibunya sekaligus diminta untuk memberikan nilai!  Dan yang luarbiasanya adalah hampir semua anak dengan wajah yang berseri-seri mengatakan bahwa ibu mereka adalah seseorang yang baik, pandai, tidak kenal lelah dan mereka semua memberikan nilai 100 untuk ibu!

Belajar dari kisah di atas, ternyata dunia anak sungguhlah berbeda dengan dunia kita orang dewasa bukan? Sesungguhnya memahami dunia anak-anak kita adalah satu hal terpenting yang harus dipelajari sebagai orang tua. Karena hal ini akan sangat membantu dalam dalam membimbing dan memelihara anak anak saat mereka tumbuh dan dewasa. Tanpa disadari seringkali kita lupa jika berhadapan dengan anak-anak dengan memperlakukannya layaknya orang dewasa. Kita lupa bahwa anak belum mempunyai kemampuan penalaran sebaik orang dewasa tentang apa yang pantas dan tidak.

BAGAIMANA CARA MEMAHAMI MEREKA?

Sebuah studi oleh Dr. Brenda Volling, direktur dan profesor riset, University of Michigan, mengungkapkan bahwa anak-anak secara langsung dipengaruhi oleh jumlah waktu yang diinvestasikan orang tua dalam perkembangan mereka. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mendidik diri mereka sendiri tentang berbagai aspek psikologi dan perkembangan anak sehingga mereka dapat berkontribusi secara berarti terhadap pertumbuhan emosional dan mental anak. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, mereka memandang dunia menurut kacamata mereka!  Memahami berarti memperhatikan dan memenuhi apa yang menjadi hak dan kebutuhan mereka.  Dan untuk itu kita di tuntut agar cerdas dan kreatif dalam mengenal anak kita lebih dekat lagi agar dengan demikian otomatis kita dapat memahami dan mengenal dunia mereka lebih jelas.

Berikut adalah hal-hal yang penting dalam rangka memahami anak dengan lebih baik :

  1. Melakukan Observasi dan Memberi waktu Yang Berkualitas

Tunjukkan minat pada apa yang anak-anak lakukan atau katakan. Amati tindakan, ungkapan, dan temperamen mereka saat mereka makan, tidur, dan bermain. Ingatlah bahwa anak  unik dan mungkin memiliki kepribadian yang menonjol, bahkan saat dia tumbuh. Jadi hindari membandingkan anak yang satu dengan anak lain, karena itu tidak hanya menambah tekanan pada pola asuh, tapi juga membuat anak merasa minder.

Pahami bahwa bermain bagi anak menjadi cara yang efektif untuk mengeksplorasi berbagai hal yang ada di sekitarnya. Melalui bermain kemampuan motorik dan penginderaan menjadi terasah, perhatikan betapa senangnya mereka menghabiskan waktu untuk bergerak, melihat, mendengar, menyentuh, merasa, mencium, mengayun badannya.  Dan dari sinilah pondasi awal dari pengetahuan, emosi, social, intelektual dan kreatifitas juga melatih fungsi mental, berpikir, mengingat dan imajinasi mereka dengan syarat mereka merasa nyaman, senang, gembira, bebas berekspresi, berimajinasi dan tidak terbebani target atau tugas yang harus dicapai dalam melakukan aktivitas tersebut.

Luangkan waktu yang berkualitas untuk berbicara dan bermain dengan mereka akan memberi tahu apa yang terjadi dalam kehidupan mereka di sekolah dan di rumah, musik favorit atau acara TV mereka, dan apa yang membuat mereka bersemangat dan apa yang tidak.

Waktu yang berkualitas tidak selalu berarti berbicara atau melakukan sesuatu bersama. Terkadang kita bisa duduk bersama dan diam-diam mengamati mereka untuk mengumpulkan wawasan tentang merekaAnak-anak pantas mendapatkan perhatian penuh dari kita. Sediakan waktu secara khusus untuk berbicara dengan anak bukan ketika sedang memasak, mengemudi atau melakukan hal lain, karena wawasan terpenting  tentang dirinya sendiri kemungkinan akan luput.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Apakah sebagai orang tua, kita sudah menunjukkan minat tentang apa yang mereka katakan dan lakukan? dan apakah kita sudah menyediakan waktu berkualitas untuk mengumpulkan wawasan tentang mereka?“

  1. Mengikuti kondisi perkembangan anak

Anak berkembang secara fisik, motorik, kognitif dan psikologi melalui tahapan-tahapan tertentu,dari anak-anak hingga dewasa. Otak dalam perkembangannya dibentuk oleh pengalaman yang dimiliki anak, dengan memahami bagaimana fungsi otak anak dapat membantu belajar tentang perilaku anak, kemampuan pengambilan keputusan, sosial, logis, dan kognitifnya.  Pengalaman yang salah dapat menyebabkan implikasi tanggapan negatif ke dalam pikiran anak, yang berdampak buruk pada keseluruhan perkembangannya. Mengetahui bagaimana otaknya bekerja akan membantu kita mengubah pengalaman negatif atau krisis menjadi pengalaman atau peluang positif. Penelitian telah membuktikan bahwa perilaku dan sikap anak dibentuk oleh lingkungan dimana ia dibesarkan, tergantung dari keragaman orang dan bagaimana anak anak berinteraksi dengan mereka. Untuk mengetahui anak lebih baik, kita harus memperhatikan lingkungan tempat tinggalnya. Penelitian juga membuktikan bahwa lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan otak anak, yang pada gilirannya mempengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan kognitifnya.

Dalam perkembangan berpikirnya, mereka berpikir secara global, tidak mendetail dan apa adanya, menggunakan semua indranya untuk menyerap fakta, sifat, fisik serta kerumitan dengan cara yang menyenangkan, gembira dan bebas stres. Mereka bereaksi dengan spontan tampa pertimbangan yang panjang, mereka juga berkarya dan berekpresi dengan bebas, berani dan bersegera dengan penuh  keyakinan. Hal itu jarang sekali di lakukan orang dewasa yang sudah dapat memilah, memilih dan penuh perhitungan. Anak-anak lebih berani dan bebas berekspresif dalam melakukan aktivitas mereka. Sehingga orang tua dituntut kreatif dalam berbagai situasi dan kondisi karena bagi mereka orang tua adalah referensi utama dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Pemahaman akan adanya tahapan ini membuat kita memberi perlakuan dan pola asuh yang di sesuaikan dengan kondisi perkembangan anak. Dan tugas kita sebagai orang tua adalah mengawasi dan membantu anak agar perkembangannya berjalan dengan baik.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Apakah kita menyediakan waktu untuk mempelajari pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak?atau apakah kita sudah menjadi orang tua yang berperan dalam hal mengembangkan pola berpikir anak?”

  1. Mengembangkan Cara Anak Berbicara dan Mengekspresikan Diri yang Efektif

Berbicara itu bagus, tapi mendengarkan itu penting saat  bercakap-cakap dengan anak. Memulai percakapan untuk membuat anak berbicara dan kemudian mendengarkan apa yang ingin mereka katakan dengan memperhatikan bagaimana nada bicara mereka, ekspresi mereka, dan bahasa tubuh seperti kontak mata, gerak tangan dan postur tubuh mereka. Anak-anak mungkin tidak dapat mengekspresikan diri dengan jelas, oleh karena itu kita harus memperhatikan kata-kata yang mereka gunakan dan isyarat non-verbal mereka juga.  Kita tidak hanya harus mendengarkan, tapi juga biarkan anak tahu bahwa mereka didengar dan dianggap serius. Akui apa yang mereka katakan dan tanggapi agar mereka tahu bahwa kita mengerti apa yang mereka katakan.  Jika tidak mengerti, ajukan pertanyaan untuk kejelasan. Tapi hati-hati jangan sampai terlalu banyak bicara atau ajukan terlalu banyak pertanyaan, karena itu bisa mematikan ide bicara anak.  Lakukan percakapan dengan mengajukan pertanyaan terbuka, yang akan mendorong anak untuk membagikan detail. Terkadang kita harus berpikir seperti anak kecil, dan bahkan bertindak seperti seseorang untuk menjangkau mereka. Empati adalah kualitas penting yang harus dikembangkan orang tua jika mereka ingin memahami anak mereka dengan lebih baik. Kita mungkin menyadari apa yang anak-anak alami saat mereka menceritakannya kepada kita. Tapi kita mungkin bahkan tidak mendekati pemahaman apa yang mereka alami jika kita tidak dapat berempati.

Anak-anak  bisa mengekspresikan diri mereka di lebih dari satu cara. Selain berbicara, anak-anak mengekspresikan perasaan mereka melalui aktivitas menggambar, menulis, atau bertindak, dorong mereka untuk melakukannya lebih sering. Mintalah mereka untuk menghadiri kelas seni atau lukisan dan membantu mereka mengekspresikan diri mereka lebih baik, bisa juga memberi mereka tema yang berbeda untuk menggambar, tanpa membatasi imajinasi mereka.  Biarkan mereka menjelaskan apa yang mereka tulis atau gambar dan bagaimana perasaan mereka tentang hal itu.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Sudahkah kita mengembangkan cara berbicara yang penuh empati dan mendorong kemampuan anak dalam mengekspresikan dirinya?”

  1. Kenali Lingkungan Sosial dan Emosi Anak

Mengamati anak-anak lain yang seumuran dengan anak-anak kita dapat membantu untuk memahami anak dengan lebih baik, mengerti bagaimana anak berperilaku dalam lingkungan sosial dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang menentukan kepribadiannya. Namun hal ini tidak berarti kita sedang membandingkan anak kita dengan setiap anak seusianya dan memberikan penilaian siapa yang lebih baik. Namun bersikaplah bijaksana sebab hal ini bisa jadi berbahaya dalam jangka panjang bila kita berlebihan dalam hal ini.

Hal lain selanjutnya yang perlu kita pahami sebagai orang tua adalah sebaiknya jangan pernah meremehkan kemampuan anak-anak untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengendalikan emosi mereka.  Anak-anak terlahir dengan temperamen yang unik, beberapa mungkin terang-terangan dan proaktif sementara yang lain mungkin pemalu atau lambat-untuk-pemanasan.  Kita bertanggung jawab untuk memahami EQ (Emotional Quotion) anak-anak dan melakukan apa yang diperlukan untuk membantu mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat dan emosional.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Apakah kita sudah memahami lingkungan dimana anak kita tumbuh dan berkembang dan bagaimana mereka mengekspresikan emosi mereka?”

  1. Mendoakan Anak-Anak Kita

Pemahaman bahwa anak adalah kasih karunia dan milik Tuhan, mebuat kita memutuskan bahwa sudah sepatutnya kita selalu membawa segala sesuatu yang berhubungan dengan anak anak kepada Tuhan. Dan bahwa kesadaran kita tentang rumitnya menjadi orang tua yang mampu memahami kondisi anak tidaklah sesederhana yang kita bayangkan seharusnya membuat kita tidak segan untuk berlutut, dan membawa nama anak-anak kita dihadapan Tuhan setiap harinya berharap hikmat dan kemampuan untuk membimbing mereka melewati lorong-lorong waktu menuju masa depan.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Sudahkah kita mendoakan anak-anak kita dengan sungguh-sungguh setiap harinya kepada Tuhan? Dan memohon hikmat kiranya diberi kemampuan untuk memahami anak anak kita?

Pada akhirnya saya ingin katakan bagi kita, para orang tua jadilah proaktif dalam memahami berbagai tahap perkembangan anak  dengan meluangkan waktu untuk membaca buku, jurnal online, dan mungkin juga berbicara dengan seorang spesialis yang dapat memberi informasi kepada kita mengenai dunia anak-anak dan pengetahuan perkembangan mereka. Jangan pernah coba-coba membuat tebakan liar, dengan prasangka bahwa anak kita sepertinya baik-baik saja dan atau sebaliknya tanpa memastikannya bersama ahlinya!

Kiranya kasih karunia demi kasih karunia menyertai kita para orang tua dan anak-anak yang dikasihi-Nya. AMIN.

Oleh: Ibu Anik D. Hiremawati

Read More →
Exemple

GADGET DAN PERGAULAN SOSIAL

Perkembangan penggunaan gadget akhir-akhir ini dapat dikatakan sangat pesat yang terlihat dari hampir semua generasi, mulai dari anak usia balita sampai dengan orang tua sudah tidak asing lagi untuk menggunakan gadget. Apabila kita mengamati lingkungan kita, terutama di kota-kota besar akan dengan mudah terlihat bagaimana asiknya pengguna gadget sedang berinteraksi dengan gadget-nya, mulai dari memainkan game, berkomunikasi melalui aplikasi tertentu maupun sekedar menonton media visual seperti TV, Youtube dan lainnya.

Gadget, yang dalam bahasa Indonesia disebut acang, adalah sebuah inovasi dari teknologi terbaru dengan kemampuan yang lebih baik dan fitur terbaru yang memiliki tujuan maupun fungsi lebih praktis dan juga lebih berguna. Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Contoh-contoh dari gadget di antaranya adalah telepon pintar (smartphone), serta netbook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet).

Perkembangan teknologi gadget tidak terlepas dari perkembangan teknologi Informasi yang telah mendorong dan mengubah gaya hidup masyarakat kearah gaya hidup digital. Gaya hidup digital (digital lifestyle) adalah istilah yang seringkali digunakan untuk menggambarkan gaya hidup modern yang sarat dengan teknologi informasi. Teknologi informasi di sini berperan mengefisienkan segala sesuatu yang kita lakukan dengan satu tujuan: mencapai produktivitas maksimum. Tentu tidak dapat dibantah lagi bahwa teknologi informasi memang berperan besar dalam meningkatkan efisiensi termasuk berkomunikasi dan juga dalam memperoleh hiburan.

Peran Gadget Terhadap Perkembangan Pergaulan Sosial
Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon-politicon), yang artinya manusia tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain. Kebersamaan ini akan dibangun melalui interaksi atau pergaulan. Pergaulan seseorang akan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadiannya.

Pada saat ini, melalui beberapa aplikasi yang tersedia, informasi dan komunikasi baik antar individu dengan individu, antar individu dengan kelompok maupun antar kelompok dengan kelompok menjadi sangat mudah untuk dilakukan dengan menggunakan gadget yang paling sederhana sekalipun. Beberapa aplikasi berupa media social yang popular kita kenal antara lain Facebook, Twitter, Youtube, WhatsApp, Line dan sebagainya. Dalam pengertian ini, interaksi social sudah terjadi (saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi, antar hubungan), meskipun masih merupakan interaksi yang bersifat tidak langsung melainkan melalui suatu media berupa gadget dengan aplikasi tertentu.

Pola komunikasi atau interaksi melalui media social ini dikenal juga dengan istilah “dunia maya” atau semu, yang disebabkan oleh interaksi yang terjadi merupakan interaksi yang tidak langsung antar individu melainkan melalui suatu “media” yang dimungkinkan oleh adanya gadget dan aplikasi tertentu. Bahasa yang digunakan melalui interaksi ini umumnya adalah bahasa tulisan meskipun dapat juga dilakukan dengan bahasa verbal. Dengan adanya media sosial yang bersifat online, memungkinkan terjadinya interaksi atau pergaulan tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Orang yang pintar dapat memanfaatkan media sosial ini untuk mempermudah hidupnya, memudahkan dia belajar, mencari kerja, mengirim tugas, mencari informasi, berbelanja dan lainnya. Media sosial menambahkan kamus baru dalam pembendaharaan kita yakni selain mengenal dunia nyata kita juga sekarang mengenal “dunia maya”. Dunia bebas tanpa batasan yang berisi orang-orang dari dunia nyata. Setiap orang bisa jadi apapun dan siapapun di dunia maya. Seseorang bisa menjadi sangat berbeda kehidupannya antara di dunia nyata dengan dunia maya, hal ini terlihat terutama dalam jejaring sosial.

Dampak dalam Pergaulan Sosial dan mentalitas masyarakat
Sebelum era teknologi informasi, media social adalah merupakan media yang hanya memungkinkan seseorang bertemu langsung dengan orang lain secara langsung yaitu melalui kumpulan orang-orang atau saling mengunjungi satu dengan lainnya. Namun saat ini dengan perkembangan Teknologi Informasi yang didukung oleh gadget, media sosial tidak lagi harus bertemu langsung satu dengan lainnya, demikian juga dengan pola komunikasinya tidak lagi harus merespon pada saat yang sama atau dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, melainkan dapat berupa “delay responds” seperti misalnya, jika seseorang menanyakan melalui suatu media sosial menggunakan gadget tentang kabar atau keberadaan orang lain pada pagi hari bisa saja dia akan memperoleh responnya saat sore atau malam hari. Hal ini disebabkan oleh gadget dari orang yang dihubungi belum dibuka atau dibaca.

Akibatnya adalah, dalam berkomunikasi atau berinteraksi menjadi sangat mungkin untuk dilakukan dengan merasa lebih “bebas” dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran seseorang sehingga cenderung dapat melewati batas-batas norma berkomunikasi yang ada pada komunikasi konvensional. Selain itu, dengan seringnya berkomunikasi atau berinteraksi melalui pola ini dapat membentuk “karakter baru” yang sebelumnya tidak pernah ada dan merupakan “nilai” yang tidak bisa diterima dalam pergaulan atau interaksi social yang konvensional.

Kondisi-kondisi seperti ini dapat mengakibatkan terjadinya perubahan mentalitas masyarakat pengguna media sosial yaitu perubahan yang mengganggap pertemuan langsung antar seseorang dengan seseorang lainnya bukan lagi merupakan hal yang penting sepanjang bila diperlukan informasi atau kabar dari orang tersebut kapan saja pasti masih bisa dihubungi melalui gadget.

Salah satu dampak negatif yang dapat dirasakan melalui pergaulan sosial media menggunakan gadget adalah begitu mudahnya seseorang untuk memberikan informasi yang tidak benar atau bohong bahkan cenderung merupakan fitnah baik untuk hal-hal yang bersifat “iseng” maupun untuk “kepentingan” tertentu. Istilah ini kita kenal dengan “hoax” yang pada era sebelumnya sangat jarang kita dengar namun saat ini hampir setiap hari kita dengar bahkan Pemerintah secara resmi telah membentuk bermacam-macam upaya untuk membendung penyebaran hoax di masyarakat.

Bagaimana Sikap kita?
Menolak perkembangan Teknologi Informasi dan gadget dalam pergaulan sosial adalah merupakan langkah mundur yang tidak mungkin dilakukan. Apa yang harus dipikirkan bersama adalah bagaimana dampak negatif yang ditimbulkan bisa terus dikurangi, sehingga kekuatiran yang muncul akan tergerusnya budaya bersosialisasi secara baik dan benar dapat diatasi.

Memang di setiap kisi-kisi kehidupan terdapat dua hal yang saling berseberangan. Ibarat dua sisi mata uang, akibat dari suatu perkembangan hidup dapat menyebabkan kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu dibutuhkan kecerdasan rohani – di samping kecerdasan intelektual – sehingga kemajuan yang dicapai oleh umat manusia melalui perkembangan teknologi informasi dan gadget dapat diselaraskan dan diarahkan kepada kepentingan bersama dan lebih diutamakan untuk hasil yang positip. Salah satu faktor terpenting adalah kita harus memiliki attitude yang benar. Attitude yang benar ini adalah berbicara mengenai sifat-sifat karakter seperti berkata benar dan jujur.

Secara rohani dan sebagai umat Kristiani, dalam bersosialisasi hendaknya kita selalu mengacu kepada kejujuran dan kebenaran terhadap apa saja yang akan kita sampaikan sebagaimana yang diajarkan melalui Amsal 25 ayat 18 : “Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam” dan Keluaran 20 ayat 16 ; “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”.

Secara Nalar kita hendaknya terlebih dahulu melakukan cek dan recek kepada sumber yang dapat dipercaya dan yang paling penting adalah menggunakan nalar secara baik dan benar untuk menilai dan menguji tentang kebenaran dan akurasi suatu informasi atau berita yang kita peroleh melalui media sosial sehingga terhindar dari penyebaran berita atau informasi yang tidak benar. Setidak-tidaknya tidak mengirimkan ulang (forward) atau membagikan suatu informasi atau berita yang kita tidak yakin akan kebenarannya serta tidak yakin bahwa manfaatnya dapat memberikan hal yang positip bagi penerimanya. Semoga!

Oleh: Pnt. Monang Siregar

Read More →
Exemple

“Banyak orang yang tak punya kehendak atau mematikan kehendak baiknya itu dengan kompromi-kompromi yang tentu dengan pembenaran-pembenaran biar eksistensinya merasa bernilai, stabil dan mapan!” – BRAS

Tak disangka-sangka, anak kecil yang menyelinap ke kapal yang akan membawanya ke Bandung itu, ternyata menjadi salah satu tokoh yang menegaskan Kristen kebangsaan. Tak tanggung-tanggung karya pelayanannya. Ia menjadi orang dekat Bung Karno, sampai diberi kepercayaan sebagai presiden sementara sampai 7 kali!

Anak kecil itu bernama besar Dr. J. Leimena. Ia menyelinap ke kapal karena ibunya melarang ia ikut pamannya yang pindah dari Ambon ke Cimahi. Ia tahu masa depannya ada di Pulau Jawa. Kesana kemari ia sekolah. Pada akhirnya memilih menempuh pendidikan di sekolah kedokteran, School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA) karena ia kesulitan mencari pekerjaan. Tetapi pilihan itu berhasil mengantarkannya mewartakan kasih Kristus bagi Indonesia!

“Om Jo” merupakan panggilan akrabnya. Tentu ia tahu betul pemaknaan panggilan hidup sebagai seorang Kristen. Dari transkrip tulisan Pdt. DR. Albertus Patty, beliau pernah menyimpulkan kalimat sederhana yang menampar sikap kekristenan kita selama ini, Aku Kristen sejati dan Indonesia sejati!” Bagi saya, Leimena itu pancasilais fanatik sekaligus pengikut radikal Yesus Kristus!

Yah, perkenankan saya secara “subjektif akurat” memberi penilaian (istilah candaan teman-teman saya di Steering Committee GKI Klasis Bandung). Kenyataannya, apa yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita (baca; deretan peristiwa intoleransi), ada andil kita juga didalamnya.

Ada tiga poin usulan saya yang perlu dievaluasi atas semua sikap kita tersulutnya prahara kesedihan serta kekecewaan mendalam golongan minoritas terhadap apa yang terjadi belakangan ini;

Pertama, Yesus itu bukan milik orang Kristen saja. Saya pun ikut bersalah dalam perihal sikap demikian. Dalam hati dan pikiran saya, kalau percaya Yesus; Dia hanya akan jadi milik saya sendiri, penolong hidup serta menjadi jaminan saya masuk sorga. Padahal, sorga itu “belum tentu ada” dan soal manusia masuk sorga/neraka itu hak prerogatif Allah.

Kejamnya pikiran yang kita simpan dan sering katakan, “Aku anak Tuhan!” Lalu yang lainnya anak setan? Kita sering lupa bahwa Yesus itu datang untuk dunia ini! Bukan hanya untuk Anda atau saya saja. Soal sorga, kenapa kita fokus pada yang “akan datang”, kita amnesia bahwa kita masih hidup. Mengapa kita tidak berusaha menciptakan sorga di dunia ini? Seperti yang, tanpa kita sadar, Leimena lakukan.

Kedua, bicara soal kasih seperti ikan segar begitu melakukannya kayak ikan busuk. Tidak apa-apa saya cerita soal keluarga. Anak dari adiknya ibu saya pernah tinggal di Jambi, di rumah kami. Awalnya, ibu saya mengatakan, “Bang, si Lastri tinggal di rumah kita sambil nanti disekolahkan,” kenyataannya, tak rabun mata saya melihat bagaimana perlakuan yang ia terima selanjutnya. Bersyukur peristiwa itu terjadi jauh sebelum tahun ini dan ibu saya sudah bertobat.

Sering saya melihat bagaimana kita, sebagai pengikut Kristus, waktu bicara kasih dan menerapkannya, jauh realitas dari bibir! Ah, jangan semuanyalah dikasih! Eh, kita berikan bertahap aja yah! Atau, kalau nanti disuapin malah manja lho! Itu menjadi pembenaran atas berbagai alasan kita yang ‘pelit’ menderapkan kasih secara total.

Sementara, dalam kejadian lain, beribu tahun yang lalu. Seorang Zakheus menjadi manusia terhormat begitu Yesus menghampirinya ke rumah, sementara begitu banyak orang yang mempergunjingkannya. Malahan Yesus menginap di rumahnya. Tak tanggung-tanggung Ia mempercontohkan kasih itu. Masih ingat cerita Yesus dan wanita Samaria lalu perumpamaan orang Samaria yang baik hati? Padahal Samaria dianggap rendahan oleh Israel masa itu.

Setelah lulus dari STOVIA, Dr. J. Leimena mendirikan sekaligus menjadi ketua Christelijke Studenten Vereeniging (CSV) di tahun ke-4 ia kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Ia juga menerima mandat sebagai ketua umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo).

Kepribadiannya yang sederhana dengan iman Kristen yang sejati, teguh, serta terbuka membuatnya bisa diterima oleh semua golongan. Sebagai pimpinan Parkindo, ia selalu mendapat tempat dalam berbagai kabinet karena pendiriannya untuk kepentingan negara di atas segala-galanya. Dr. Leimena juga berperan dalam pembentukan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI, dulu DGI).

Sejak awal, Leimena bisa saja menolaknya. Karena ia lahir dari keluarga guru, saat itu terhitung golongan menengah. Bisa saja ia memilih hidup dalam zona nyaman, kalau bahasa saya, “Ah, ngapain capek-capek ngurusin GMKI, Parkindo, apalagi PGI! Mending hidup berkecukupan dan urus diri sendiri.” Tapi ia tak mau panas-panas taik ayam, ia tahu panutannya, Yesus Kristus telah menerapkan kasih itu secara total-radikal! Ada apa dengan manusia-manusia seperti kita di era Milenial ini?

Ketiga, regenerasi intelektual muda Kristen itu omong kosong. Awal tahun lalu, salah satu NGO Kristen di bidang sosial-politik mengundang saya dan beberapa rekan untuk focus group discussion (FGD) mengenai program yang akan mereka jalankan. Dalam satu percakapan, saya begitu murka soal regenerasi intelektual muda Kristen. Dalam percakapan itu, kebetulan NGO ini memakai jasa salah satu konsultan.

Katanya, “Apa yang GKI nggak punya. Ada semua kok soal kepemudaan.” Mendengar itu, saya ingin sekali menggebrak meja, tapi saya tahu itu bukan tindakan terhomat, saya memukulnya keras melalui kata-kata, “Pak, kita nggak boleh main klaim gitu lho. Kalau GKI punya dan semua program kepemudaan sudah berjalan. Hasilnya mana? Ada pak? Apa iya kita baru nyadar nanti setelah tokoh-tokoh Kristen nasionalis dijemput Tuhan (sambil mengarahkan mata saya pada Pdt. DR. Albertus Patty)?”

Dalam suasana batin saya kala itu sama seperti hari ini, “Selama ini kita tidak ketinggalan pamer-pamer kasih Yesus sehingga kita lupa melakukannya serta gagap untuk melahirkan intelektual-intelektual muda yang berkesempatan, di masa depan, menjadi pemimpin-pemimpin daerah yang bisa berkontribusi lebih besar dan bernarasi cinta kasih Yesus Kristus bagi Indonesia tanpa pandang suku, agama, ras, dan golongan!”

Saya teringat sewaktu menonton film Tjut Njak Dhien, srikandi Aceh yang berjuang tanpa rasa takut, mempertahankan Tanah Rencong dari penjajahan Belanda itu. Dalam satu percakapan singkatnya dengan salah satu laskar Aceh, katanya, “Berterang teranglah dalam gelap. Bergelap gelaplah dalam terang.” Jangan biarkan negeri ini bau anyir. Kita semua saudara sebangsa berdiri di bawah tiang Merah Putih. Selamat merayakan Pancasila!

Oleh: Basar Daniel Jevri Tampubolon

Read More →
Exemple

MENJADI SAKSI KRISTUS

“Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ : “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel ?” Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” – Kisah Rasul 1 : 6 – 8

Jemaat kekasih Tuhan,…
Pernahkah kita lihat striker yang tertempel di mobil atau motor, dengan tulisan “Follow me, I have Jesus”. Striker itu seakan-akan ingin mengatakan agar setiap orang yang membacanya untuk mengikutinya. Seperti halnya mereka memiliki Yesus, maka begitu juga halnya setiap orang yang membacanya. Coba bayangkan kalau mobil atau motor itu ugal-ugalan, kira-kira pesan apa yang ingin disampaikannya? Apakah nama Yesus semakin dipermuliakan atau malah menjadi buruk?

Suatu hari ada seorang pemuda yang memberikan kesaksian begini dalam sebuah persekutuan: “Teman-teman, saya sangat bersyukur karena Tuhan Yesus menolongku ketika aku kehilangan cara untuk menghindar dari cegatan polisi. Waktu itu ada razia polisi; setiap kendaraan di stop untuk diperiksa surat-suratnya. Saya tidak bisa menghindar dari razia itu, padahal saya tidak punya SIM. Saya berdoa agar Tuhan menutup mata para polisi, dan doaku terjawab. Polisi itu seakan-akan tidak melihatku, karena mereka tidak menyetop mobil yang kukendarai saat itu. Puji Tuhan…..” Apakah ini sebuah kesaksian yang baik? Apakah Tuhan Yesus benar-benar dimuliakan?

Memang kemuliaan nama Yesus tidak terkait dengan kehidupan para pengikut-Nya. Kemuliaan Tuhan hanya ada pada diri Tuhan sendiri, dan kemuliaan-Nya tidak mungkin diragukan. Namun bukankah kita juga dipanggil untuk menjadi saksi-Nya sehingga nama Tuhan Yesus semakin dimuliakan ?

Orang sering berpikir, bahwa kesaksian itu mengabarkan Injil secara verbal. Atau, seseorang yang pergi ke sebuah tempat (biasanya jauh dan masih tradisional) dan memperkenalkan Yesus di sana. Kesaksian seperti itu boleh-boleh saja. Tapi ingat, hal itu bukanlah sesuatu yang terpenting. Sebab Alkitab punya pengertian tersendiri tentang arti kesaksian, yakni “marturia”. Kara inilah yang mendasari orang-orang yang berani mempersaksikan hidupnya untuk mempertahankan imannya sampai ia sendiri mati martir. Mereka berani mati demi pemberitaan Injil.

Contohnya: Stefanus yang mati dirajam batu karena berani mempertahankan imannya ketika ia diadili karena dianggap sebagai pengikut ajaran sesat; para murid yang berani mempertahankan imannya sampai mereka mati dengan cara yang menyedihkan; rasul Paulus, yang harus menderita karena dikejar-kejar dan di penjara oleh orang-orang Yahudi dan Romawi. Bersaksi bukan sekedar berkata-kata, tetapi kualitas hidup kristiani yang lebih utama. Kesaksian itu ada dalam hidup yang kita jalani dan bukan sekedar kita mengucapkan kata-kata tentang Tuhan Yesus.

Kita tahu bersama, bahwa Injil (kabar sukacita) itu tersebar ke seluruh penjuru dunia. Waktu itu yang dimaksud penjuru dunia adalah Roma, dan Injil sudah tersebar ke sana. Apakah dengan demikian Injil tidak perlu disebarkan? Perlu dan harus terus dilakukan. Dan kita tahu, kini Injil sudah benar-benar tersebar ke seluruh dunia dan konon 2/3 dari penduduk dunia adalah orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Yang perlu kita pahami sekarang ini adalah bahwa penjuru dunia itu adalah lingkungan di mana kita berada dan tinggal (keluarga, sekolah, teman-teman sepergaulan dsb).

Bagaimana kita mengabarkan Injil (bersaksi)? Apakah cukup, misalnya, menggunakan kalung salib tetapi tidak mampu menahan diri untuk berbuat yang tidak baik? Apakah cukup mencantumkan stiker “I Love Jesus” di kendaraan kita, namun berkendara dengan cara ugal-ugalan? Di sinilah kita bisa memahami, bahwa mengabarkan Injil atau bersaksi berarti menampakkan kualitas hidup kristiani kita. Bersaksi adalah tindakan yang utuh, baik melalui perilaku kita dan segala sesuatu yang tercermin dalam hidup kita.

Peristiwa itu terjadi di desa Kerala, India. Sekelompok muslim dan Hindu membakar habis sebuah rumah doa dan menyerang 3 anggota gereja itu. Beberapa hari kemudian, ketika pendetanya yang bernama Paul Ciniraj Mohammed berbicara kepada orang desa tentang penyerangan itu, ia dan asistennya dianiaya. Saat asistennya sedang dipukuli, pendeta Paul berlutut dan berdoa, memohon agar Tuhan menyelamatkan mereka dan juga mengampuni para penyerang itu.

Ketika peristiwa itu terjadi, seorang wanita desa menyaksikan bagaimana pendeta Paul berdoa dan tersentuh oleh kerendah-hatiannya. Segeralah ia meminta kepada para penyerang untuk berhenti. Bukan saja berhenti, tetapi juga meminta maaf kepada pendeta itu! Paul Ciniraj Mohammed tidak mengadukan penyerangan ini kepada polisi karena mereka telah meminta maaf. Rumah Doa itu sendiri habis oleh api, tidak terselamatkan, tetapi orang-orang Kristen di desa itu tetap bertekad untuk bersekutu dalam doa dan pemahaman Alkitab di rumah-rumah mereka. ** Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

Rasa kebangsaan masyarakat Indonesia hari ini kian diuji. Seiring dengan proses pilkada Jakarta “rasa pilpres” yang berlangsung, isu-isu mengenai SARA semakin mengemuka. Berita-berita di media sosial menyangkut pembelaan dan tuduhan dari berbagai kelompok kian berseliweran. Tanpa kedewasaan untuk mencerna informasi serta tanpa rasa kebangsaan yang melekat di hati, kita sebagai masyarakat akan sangat mudah terpecah-belah. Pandangan bahwa yang berbeda adalah lawan, harus diakui makin mewarnai nuansa berpikir banyak orang di Indonesia akhir-akhir ini.

Dalam situasi demikian, semangat nasionalisme perlu untuk semakin kita hayati. Secara khusus, setiap tahunnya, bangsa kita selalu memperingati tanggal 20 Mei sebagai hari Kebangkitan Nasional. Hari Kebangkitan Nasional dimaknai sebagai bentuk kesadaran dan perjuangan para putra bangsa melawan berbagai bentuk penindasan dan penjajahan.

Ketika itu, seorang lulusan Sekolah Dokter Jawa bernama, dr. Wahidin Soedirohoesodo tergugah untuk ikut berjuang melawan penderitaan dan pembodohan yang dilakukan oleh para penjajah. Dari hasil diskusi dan pertemuan bersama dengan dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA lainnya seperti Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji, tercetuslah organisasi “Boedi Oetomo” (Budi Utomo) pada tanggal 20 Mei 1908. Budi berarti “perangai atau tabiat”, Utomo berarti “baik atau luhur.”

Melalui pendekatan kultural dan pendidikan yang dilakukannya, Budi Utomo menjadi momentum kesadaran kaum muda bangsa untuk berjuang bagi kepentingan bersama sebagai rakyat Indonesia. Tidak dapat dipungkiri,  pendidikan menjadi kunci utama tercetusnya gerakan ini.

Mengacu kepada gagasan dari Ernest Renan bahwa dasar kebangsaan adalah “hasrat untuk bersama” dan juga gagasan dari Otto Bauer bahwa “bangsa adalah komunitas bercita-cita yang tumbuh dari komunitas senasib”, maka presiden pertama kita Soekarno pernah menegaskan bahwa kesatuan bangsa Indonesia tidak bersifat alami, melainkan historis.

Yang mempersatukan masyarakat di bumi Indonesia adalah sejarah yang dialami bersama, sebuah sejarah penderitaan, penindasan, perjuangan kemerdekaan dan tekad pembangunan kehidupan bersama.

Di tahun 2017 ini, ratusan tahun setelah gerakan Kebangkitan Nasional dimulai, apakah kita masih memiliki semangat kebangsaan untuk berjuang bagi kebaikan bangsa? Apakah pendidikan-pendidikan kita saat ini, termasuk pendidikan di sekolah-sekolah Kristen telah mengantar anak-anak kita untuk tidak hanya mengejar pencapaian pribadi, tetapi juga mengasah keprihatinan mereka terhadap nasib sesamanya?

Setiap persoalan menawarkan kepada kita dua hal: pilihan untuk menyerah atau pilihan untuk bangkit. Kalau para pemuda bangsa kala itu memilih untuk menyerah, maka kemerdekaan serta kemajuan Indonesia tidak akan pernah kita rasakan seperti saat ini. Berbagai persoalan bangsa ini, membuat kita harus bangkit dan berjuang dalam potensi kita masing-masing.

Kita harus bangkit melawan intoleransi, bangkit melawan korupsi, bangkit melawan ketimpangan sosial, dan yang paling penting, bangkit melawan ketidakpedulian! Selamat menghayati kembali Kebangkitan Nasional. Selamat menghayati kembali semangat kebangsaan di tengah berbagai tantangan bangsa. **Pnt. Bernadeth Florenza da Lopez

Read More →