DI RUMAH SAJA: BELAJAR DARI “LIFE OF PI”

Di antara kita mungkin pernah membaca sebuah novel berjudul “Life Of Pi” (Yann Martel, 2001), atau menonton versi movie dengan judul sama, atau melakukan keduanya? Ada yang masih ingat kisahnya? Saya kasih klunya: paman Mamaji, seekor harimau Bengali bernama Richard Parker (keren ya namanya), seekor orang utan bernama Orange Juice, pulau karnivora, ubur-ubur dan plankton yang berpendar di malam hari seperti lampu, ratusan ikan terbang, seekor paus yang dengan seenaknya berakrobat, Pi kecil yang ingin mengasihi Tuhan dengan menjadi penganut Hindu, Kristen dan Muslim sekaligus, atau Pi dewasa yang menggetok kepala seekor ikan besar dengan kapaknya saat terapung-apung di tengah laut? Seminggu yang lalu saya nonton film ini lagi. Lagi? Ya, kali ini nobar dengan keluarga, di rumah saja, karena kondisi pandemi Covid-19. Film ini memang bukan kategori ‘film rohani’ atau ‘film Kristen’. Bagi saya, film ini mengisahkan pencarian sekaligus pergumulan spiritual seorang anak manusia.

Pi bersama kedua orangtua dan kakaknya, Ravi, harus hijrah dari Madras menggunakan kapal barang Jepang, menuju Kanada, bersama puluhan hewan – ayahnya seorang pemilik kebun binatang – karena kondisi di India tak lagi kondusif. Di tengah perjalanan, kapal barang itu diterjang badai dahsyat sehingga Pi kehilangan seluruh keluarganya. Kapal yang ditumpanginya tenggelam. Pi selamat bersama beberapa ekor hewan yang ada di sekoci. Ia dan harimau Bengali (hewan lain akhirnya mati) terapung-apung selama tujuh bulan di Samudra Pasifik.

Dalam kondisi yang mustahil itu, Pi justru mengalami beragam hal yang membuatnya ‘takjub’. Membuatnya punya semangat untuk bertahan hidup dalam pengharapan. Spiritualitasnya pun dibentuk sedemikian rupa oleh keadaan yang ia hadapi. Termasuk menghadapi si Richard Parker yang sama-sama ingin mempertahankan hidup. Yang menarik, akhirnya mereka ‘berdamai’ dan Pi justu mengasihi si harimau dengan memberinya makan di tengah-tengah kelaparannya. Tekadnya untuk mengasihi Tuhan, diuji dengan mengasihi apa yang terpampang dihadapannya, bahwa si harimau yang ganas itu saat itu tengah kelaparan dan butuh pertolongannya. Dan saat sebuah badai kembali datang menjungkirbalikan sekoci yang ditumpangi Pi dan Richard Parker, dalam momentum itulah Pi – dalam ketakjubannya – mengakui dengan tegas keberadaan adanya kuasa yang lebih besar, yang disebut Tuhan. Pi menyadari bahwa dirinya bisa bertahan hidup, adalah juga berkat pemeliharaan Tuhan, bukan karena kuat-gagahnya semata.

Kalau kita lihat kondisi saat ini, kita seperti tokoh Pi yang terapung-apung dengan sekocinya. Kita disuguhi oleh sesuatu yang memunculkan pertanyaan: Sampai kapan kondisi ini kita jalani? Kapan situasi ini berakhir? Dan beragam pertanyaan lain yang menguntit dalam benak kita. Tidak bisa kita sangkal, sebagai manusia, kita pun dihantui oleh kecemasan, ketakutan serta bisa juga rasa putus asa, menghadapi buramnya situasi saat ini.

1 April 2020 pagi, saya mendengarkan – dan lambat laun ikut menyanyikan – sebuah lagu karya Ira Forest Stanphil, 1950 (I Know Who Hold Tommorow) yang lirik versi Indonesia-nya (NKB 49 / PKJ 241) akrab di telinga kita.

Tak ku tahu kan hari esok, namun langkahku tegap
Bukan surya ku harapkan, karena surya ‘kan lenyap
Oh tiada ku gelisah, akan masa menjelang
Ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang

Makin t’ranglah perjalanan, makin tinggi aku naik
Dan bebanku makin ringan, makin nampaklah yang baik
Di sanalah t’rang abadi, tiada tangis dan keluh
Meski susah perjalanan, G’lombang dunia menderu

Tak ku tahu kan hari esok, mungkin langit kan gelap
Tapi Dia yang berkasihan, Melindungiku tetap
Di neg’ri seb’rang pelangi, kita k’lak kan bertemu
Dipimpin-Nya ku bertahan, sampai akhir langkahku

Refrain :      Banyak hal tak ku pahami, dalam masa menjelang
Tapi t’rang bagiku ini, tangan Tuhan yang pegang.

Seperti Pi, seperti kita yang saat ini mungkin juga sedang terombang-ambing oleh ‘gelombang dunia menderu’ karena kita tidak tahu kapan kondisi pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Lirik lagu di atas menyiratkan bahwa dalam ketidakpahaman kita terhadap sebuah kondisi yang suram, buram bahkan gelap pekat sekalipun, kita harus senantiasa mempercayakan langkah dan hidup kita dalam terang kasih Tuhan, dalam genggaman tangan Tuhan.

          Social/physical distancing, memang membuat kita harus berjarak satu dengan lainnya secara fisik, namun ego transendental kita memungkinkan kita melampaui apa yang dunia berikan. Kita tak harus menjadi pasif, melainkan ikut serta bertanggungjawab terhadap apa yang disingkapkan dunia kepada kita. Kita tetap bisa melakukan hal-hal bermanfaat bagi diri kita juga bagi sesama manusia lainnya, yang terkena dampak pandemi Covid-19 saat ini, meski kita berada ‘di rumah saja’.

Dan kita mengambil momentum ini, sebagai gereja (individu dan institusi), mengejawantahkan kesalehan sosial seperti yang diungkapkan Yesus dalam Matius 25: 35-36: “Sebab ketika aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Tuhan senantiasa memberikan hikmat, kekuatan, kesehatan bagi kita semua dalam limpahan kasih karunia-Nya.

Daftar Pustaka:
Alkitab” (terjemahan Bahasa Indonesia), LAI, 2012.
Life of Pi”, Yann Martel, Gramedia Pustaka Utama, 2013.
Life of Pi” (original DVD), Ang Lee, USA, 2012.
Enigma Wajah Orang Lain: Menggali Pemikiran Emmanuel Levinas”, Thomas Hidya Tjaya, KPG, 2012.
Nyanyikanlah Kidung Baru”, BPMS GKI, 1991
Pelengkap Kidung Jemaat”, Yayasan Musik Gereja (Yamuger), 2007.

 

oleh : Pnt. Dommynggus Waas