DUTA DAMAI SEJAHTERA

Memasuki minggu kedua Paskah dan minggu kelima beribadah minggu di rumah, apa yang Saudara rasakan? Khawatir, gelisah dan takut? Aneh dan janggal? Mulai terbiasa dan lebih santai? Atau merasa biasa-biasa saja? Seorang anggota jemaat bercerita bahwa situasi yang terjadi sekarang ini, secara khusus ketika harus beribadah di rumah saja, membuatnya merasa haus dan kering akan perjumpaan-perjumpaan yang selama ini terjadi. Kebutuhan spiritual dan rohaninya seakan kurang terpuaskan jika hanya melakukan ibadah di rumah saja melalui media streaming atau daring. Dengan bercanda, dia mengatakan bahwa dia takut lupa caranya dan rasanya beribadah di gereja lagi.

Apakah para murid Yesus merasakan hal yang sama? Setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, Sang Guru tidak lagi bersama mereka. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hati dan pikiran para murid. Bimbang dan bingung karena hilang arah dan pegangan, takut dan khawatir karena bisa saja hal serupa (penangkapan dan kematian) dialami mereka dan berbagai perasaan lain. Itulah sebabnya mereka memilih mencari aman, mereka berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci. Apakah mereka mendengar berita tentang kebangkitan Yesus? Iya, Petrus dan Maria yang melihat sendiri kebangkitan Yesus, pasti menceritakan hal tersebut. TETAPI, sangking takutnya mereka, kabar kebangkitan Yesus itu dianggap sebagai kabar bohong belaka. Rasa takut begitu menguasai hati dan pikiran para murid, sehingga mereka tidak percaya bahkan lupa perkataan Yesus tentang kebangkitan-Nya. Dalam keadaan takut dan tidak percaya, Yesus menampakkan diri di hadapan para murid. Ia menyapa dengan hangat dan lembut, : “Damai sejahtera bagi kamu!” dan dua kali Yesus mengucapkan sapaan tersebut, yaitu: “Damai sejahtera bagi kamu”. Yesus ingin meyakinkan para murid untuk jangan takut, melainkan merasakan kedamaian yang Yesus bawa melalui kebangkitan-Nya. Sebab orang yang dikuasai rasa takut sebenarnya ia menderita, karena tidak damai sejahtera dan tidak merasa aman dengan apapun yang dilakukan.

Bagaimana dengan Saudara? Apakah berita sukacita tentang kebangkitan Yesus Kristus mendatangkan damai sejahtera? Selama kita hanya memfokuskan hati dan perasaan kita pada ketakutan, maka kita tidak akan bisa melihat dan merasakan damai sejahtera dan kebahagiaan yang Tuhan berikan. Rasa takut memang manusiawi, tetapi jika tidak dikelola atau dikendalikan, maka akan mengganggu manusia itu sendiri. Rasa takut dapat dikelola dengan keyakinan teguh bahwa ada Tuhan Yesus Kristus yang hidup dan bangkit, yang akan menyertai kita. Jika kebangkitan Yesus Kristus membawa sukacita dan damai sejahtera, maka sudah waktunya bagi kita untuk bangkit juga dan meneruskan damai sejahtera itu pada sebanyak mungkin orang. Jadilah duta damai sejahtera, bagikan damai sejahtera itu kepada orang banyak agar sukacita dan damai sejahtera dari Kristus Yesus dirasakan juga oleh mereka.

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus