Pentakosta dan Persembahan Syukur Tahunan

Hari Raya Pentakosta yang perhitungannya 50 hari setelah Paska dikenal sebagai Hari Raya Tujuh Minggu dalam tradisi Perjanjian Lama (Keluaran 34:22 dan Ulangan 16:10). Tahun ini Hari Raya Pentakosta jatuh pada tanggal 31 Mei 2020. Dalam perayaan Pentakosta ini, umat merayakannya dengan membawa persembahan syukur tahunan. Mengapa?

Kata “pentakosta” berasal dari kata Yunani “pentekostes” (yang bersangkutan dengan kata Sansekarta: panca). Kata Yunani itu berarti “yang kelimapuluh”, yakni hari yang kelimapuluh. Pentakosta adalah suatu perayaan dari agama Yahudi dahulu (dan sekarang) yang diambil alih (dengan dirubah maknanya) oleh agama Kristen. Umat Kristen baru pada pertengahan atau akhir 2 Masehi mulai merayakan Pentakosta sebagai perayaan Kristen. Pesta itu menjadi perayaan peringatan akan turunnya Roh Kudus atas jemaat Kristen di Yerusalem, sebagaimana yang diceritakan Kisah Para Rasul 2, pada hari kelimapuluh sesudah Yesus (pada hari Paska) bangkit dari alam maut. Dalam Perjanjian Lama perayaan Pentakosta disebut “hari raya panen” (Kel 23:16). Kemudian dinamakan “pesta/perayaan pekan-pekan (Kel. 34:22; Im 23:15-17; Ul 16:10; 2Taw 8:13).

Hari Raya Pentakosta juga berkaitan dengan musim panen, maka perayaan ini juga dikenal dengan sebutan Hari Raya Menuai (Keluaran 23:16). Dalam prakteknya, semua hasil terbaik – entah hasil panen atau ternak – dipersembahkan kepada Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas bumi yang diberkati bagi kelangsungan hidup manusia. Di Palestina hari raya menuai atau panen berlangsung selama tujuh minggu dan merupakan musim sukacita bagi seluruh masyarakat. Musim ini diawali dengan panen jelai selama Paska dan berakhir dengan panen gandum pada hari Pentakosta. Gandum menjadi tuaian terakhir yang dipanen selama musim menuai. Oleh karena itu Pentakosta menjadi festival penutup dari hari raya panen (gandum) sama seperti hari kedelapan perayaan Pondok Daun yang menjadi penutup festival panen buah. Sementara itu di dalam Perjanjian Baru, Pentakosta yang menandai lahirnya Gereja adalah saat di mana Roh Kudus berkarya dengan begitu nyata dalam diri pengikut Kristus. Karena Pentakosta adalah pesta syukur wajib, maka Alkitab mencatat ada banyak orang Yahudi dari banyak tempat yang jauh (diaspora) datang dan berkumpul di Yerusalem. Inilah waktu yang tepat bagi karya pembaruan Allah.

Secara umum di Indonesia sudah sejak lama perayaan Pentakosta dihayati dan dirayakan juga sebagai pesta panen (sama seperti umat Israel dalam tradisi PL), selain memperingati turunnya Roh Kudus dan lahirnya gereja. Sedangkan secara khusus di GKI, peristiwa Pentakosta dirayakan dengan pemberian “Persembahan Syukur Tahunan”. Dikatakan demikian karena persembahan yang diberikan biasanya merupakan persembahan yang sudah disiapkan secara khusus bagi Tuhan dengan hati yang bersyukur dan penuh sukacita. Seperti umat Tuhan di Perjanjian Lama yang bersyukur atas berkat Tuhan berupa pemeliharaan dan berkat hasil panen (yang masih dilakukan di daerah-daerah bagian Timur atau di beberapa desa Pulau Jawa), kita menjiwai rasa syukur itu dengan mempersembahkan uang hasil kerja yang diberkati Tuhan sepanjang tahun ini.

Dengan dijiwai oleh cara hidup Jemaat yang pertama, maka pada hari Raya Pentakosta ini kita menyatakan rasa syukur kita atas segala berkat yang telah Tuhan berikan sepanjang tahun melalui persembahan syukur tahunan yang telah dipersiapkan sebelumnya dan dimasukkan ke dalam Dompet Persembahan Syukur Tahunan. Marilah kita mempersiapkan ungkapan syukur kita atas hasil kerja yang diberkati Tuhan sepanjang tahun ini dengan membawa persembahan syukur tahunan pada tanggal 31 Mei 2020 yang akan datang.