Persembahan Umat: Cinta dan Tanggungjawab!

oleh: Pdt. Albertus Patty

Mother Teresa pernah berkata: “Jangan merasa bangga sudah memberikan uang pada orang miskin. Mereka lebih membutuhkan cintamu, bukan uangmu, maka bagikanlah hartamu yg paling berharga yaitu cinta bagi siapa saja.” Nah, kita pun bisa katakan hal yang sama: “Jangan bangga sudah memberikan persembahan kepada Tuhan karena Tuhan lebih membutuhkan cintamu daripada uangmu. Jadi, berikanlah kepada Tuhan hartamu yang paling berharga yaitu cinta.”

Persembahan sebesar apa pun bila dilakukan tanpa cinta tak ada gunanya. Persembahan seperti itu bisa lahir dari keterpaksaan atau bisa juga dari nafsu untuk pamer kebaikan dan pamer kekayaan. Persembahan dengan motif seperti ini menjadi pencitraan. Ini sia-sia!

Ketika seorang kaya memberikan persembahan besar, Yesus diam saja. Tidak ada komentar! Tidak positif, tidak negatip! Ketika janda miskin mempersembahkan dua peser uang, Yesus memujinya setinggi langit. Mengapa? Karena meski sedikit, janda miskin itu memberikan seluruh nafkahnya. Si janda memprioritaskan Tuhan daripada diri sendiri. Yang ia berikan bukan sekedar uang, tetapi cinta. Baginya, Tuhan lebih penting daripada egonya. Ini spiritualitas! Memang, spiritualitas adalah kemampuan seseorang memerhatikan yang lain lebih daripada diri sendiri. Orang yang mampu bertindak ‘beyond’ ego! Orang-orang seperti ini menghayati hidupnya dengan penuh makna!

Uang yang anda persembahkan kepada Tuhan melalui gereja bukanlah iuran gereja. Juga bukan bayaran terhadap apa pun! Persembahan adalah ekspresi cinta kita kepada Tuhan. Tuhan adalah prioritas! Oleh karena itu, ia diberikan dalam kerelaan. Dan kegembiraan! Bukan dalam keterpaksaan atau dengan sungut-sungut. Persembahan dalam keterpaksaan tidak akan menjadi berkat bagi anda dan bagi siapa pun

Ada yang bertanya: kok di tengah situasi krisis ini, gereja masih minta persembahan? Ini pertanyaan bagus yang harus dijelaskan! Gereja bukan pengemis. Jadi gereja tidak meminta persembahan! Gereja juga tidak minta bayaran karena gereja tidak dikelola untuk cari untung. Persembahan juga bukan agar gereja dan para pendetanya kaya raya. Tetapi Gereja mengingatkan tentang perlunya memberi persembahan sebagai ekspresi cinta kepada Tuhan. Tetapi, persembahan uang itu hanya salah satu cara mengekspresikan cinta anda kepada Tuhan. Nah, tugas gereja mengingatkan anda tentang itu! Kisah si janda miskin adalah contoh yang bagus. Ia memprioritaskan Tuhan. Cintanya nyata!

Sebenarnya pertanyaan yang jauh lebih penting yang menyangkut persembahan adalah ini. Apa yang gereja lakukan dengan persembahan umat itu? Jadi penekanannya pada pengelolaan dan peruntukannya. Ini pertanyaan cerdas. Gunanya paling sedikit ada dua. Pertama, agar dana publik dalam bentuk persembahan itu dikelola pimpinan gereja dengan kebijakan keuangan yang transparan dan accountable. Kedua, agar persembahan itu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan masyarakat, terutama bagi mereka yang miskin.

Teologi Kristen selalu mengingatkan agar kita bersikap realistis terhadap manusia. Kita semua punya potensi berbuat baik dan juga berbuat jahat, termasuk dalam soal keuangan. Itulah sebabnya perlu kesadaran umat dalam memperhatikan cara pimpinan gereja mengelola dan menggunakan dana persembahan umat sebagai ungkapan syukur dan cinta mereka kepada Tuhan.

Pada satu sisi, banyak pimpinan gereja yang memanfaatkan dana persembahan umat secara bertanggungjawab. Mereka memanfaatkan dana persembahan itu untuk meningkatkan, secara kuantitas dan kualitas, pelayanan gereja kepada umat dan kepada masyarakat, terutama yang miskin. Gereja pun menjadi saluran berkat Tuhan. Persembahan digunakan secara bertanggungjawab untuk membagi cinta dan pengharapan bagi siapa pun.

Pada sisi lain, sebagai makhluk berdosa pimpinan gereja pun berpotensi menyalahgunakan dana persembahan itu. Mereka memanfaatkannya untuk memperkaya diri dan keluarganya. Keuangan Gereja dikelola dengan manajemen tertutup, tanpa transparansi, tanpa accountability dan tanpa audit dari lembaga yang kredibel. Gereja pun dikelola seperti perusahan dengan tujuan mencari untung. Para pendetanya memiliki dana triliunan, punya rumah dan villa dimana-mana, mobil yang mewah atau bahkan seperti selebriti dan pengusaha kakap punya pesawat pribadi. Berbagai kasus mis-manajemen keuangan gereja yang terjadi di Amerika Serikat, Malaysia, Korea Selatan dan Singapore menunjukkan gereja seperti ini memang ada. Di Indonesia belum ada kasus seperti ini, tetapi ini bukan kerena orang kita hebat dan jujur tetapi karena belum ada undang-undang yang mengaturnya. Gereja seperti ini mungkin terlihat kaya dan hebat, tetapi tak menjadi berkat karena ia tak perduli meski umat dan masyarakat sekarat.

Kini saatnya kita memperbarui tekad dan cinta kita kepada Tuhan. Dan ini berarti bukan saja umat didorong komitmennya dalam memberi persembahan, tetapi, yang terutama, para pimpinan gereja harus memiliki komitmen etis dan bertanggungjawab dalam mengelola dana persembahan jemaat. Salah satu aspek penting untuk yang penerapan yang terakhir ini adalah dengan menerapkan semacam peraturan atau perundang-undangan yang mengatur tata cara pengelolaan dan pemanfaatan dana gereja.

Saya yakin bila kedua hal ini bisa berjalan umat dan masyarakat akan merasakan manfaat kehadiran gereja. Dan, Tuhan pun tersenyum.