YERUSALEM, OH YERUSALEM

Injil Lukas 13: 22 menginformasikan kepada kita, bahwa Yesus sedang berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Memang demikian tugas Yesus di dunia ini, yakni mengabarkan Injil ke mana pun Ia berjalan dan berada, agar sebanyak mungkin orang mengalami damai sejahtera dan hidup dalam keselamatan.

Namun, belum juga tiba di Yerusalem, beberapa orang Farisi mendatangi-Nya dan berkata, “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” (Lukas 13: 31). Tentu saja berita ini menyedihkan-Nya. Mengapa?

Sederhana, Yerusalem adalah kota yang sangat dikasihi-Nya. Yerusalem bukan sekadar ibukota Israel, tetapi kiblat rohani seluruh umat Israel. Ia sedih terhadap Yerusalem, sebab menurut-Nya penduduk Yerusalem belum mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera mereka. Itu berkaitan dengan arti Yerusalem, yakni city of peace, kota Shalem (Shalom), kota damai. Sebagai sebuah kota, Yerusalem memang tidak memancarkan damai, malah senantiasa rusuh.

Tak mudah mencari damai di kota itu. Herodes Agung, yang pernah bertahta di sana, memerintahkan pemunuhan anak-anak di bawah usia dua tahun di Betlehem dan sekitarnya. Banyak ibu meratap di Rama, karena raja takut kehilangan singgasana. Peristiwa itu menyebabkan Maria, Yusuf, dan Yesus saat kanak-kanak mengungsi ke Mesir.

Bagaimana bisa dikatakan damai, jika orang dapat dibunuh kapan saja dengan atau tanpa suatu alasan? Yohanes Pembaptis mati bukan karena kotbahnya, bukan pula akibat tindakan makar, namun hanya karena raja malu menarik titahnya. Dan masa lalu Yerusalem pun begitu kelam, di mana banyak nabi dibunuh hanya karena menyuarakan suara kenabian. Bahkan suatu saat kelak, di Yerusalemlah orang-orang meneriakkan “Salibkan Dia, salibkan Dia” kepada Yesus.

Yerusalem sama sekali tidak mencerminkan citra sorgawi. Tidak ada damai di sana. Itulah alasan Yesus merasa sedih terhadap kota itu. Namun, Ia juga harus tetap tegar untuk kembali ke Yerusalem demi menuntaskan kehendak Sang Allah Bapa. Ia harus menderita, mati dan bangkit di Yerusalem dalam ketaatan dan kesetiaan yang sempurna.