WASPADA DAN BERTAHAN

Pernahkah Saudara merasa begitu pesimis terhadap kehidupan ini? Apakah tantangan dan persoalan yang ada pernah membuat Saudara ingin menyerah dan berhenti berusaha? Di tengah berbagai situasi sulit, tidak jarang kita merasa lemah. Pertahanan diri kita seakan-akan runtuh dan kita pun kehilangan pengharapan.

Sebagai bangsa, Israsel pun pernah mengalami masa-masa di mana kehidupan mereka terasa runtuh! Peristiwa itu terjadi ketika pada tahun 70 M, pemerintah Romawi menumpas habis pemberontakan orang-orang Yahudi di Yerusalem. Peristiwa inilah yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 21:5-6. Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi keindahannya, Tuhan Yesus justru berkata, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.” Menurut catatan sejarah, orang yang tewas pada penundukan Roma atas Yerusalem kala itu berjumlah 1.100.000 orang, sedang yang menjadi tawanan berjumlah 97.000 orang. Saat itu, tembok-tembok kota dan bangunan Bait Allah yang begitu berharga bagi orang Yahudi pun, dihancurkan. Israel pada waktu itu tidak hanya kehilangan sanak saudara dan kehidupan mereka. Mereka juga seakan-akan “ditinggalkan” oleh Allah yang selama ini mereka yakini ada bersama-sama dengan mereka.

Runtuhnya Bait Allah dan Yerusalem menjadi tanda bahwa ternyata tidak ada kemegahan dan kejayaan yang abadi. Bahkan sesungguhnya, selama dunia ini masih berputar, penderitaan akan terus terjadi silih berganti: bencana alam, perang, sakit penyakit, penindasan, akan terus melanda kehidupan manusia. Dunia ini tidak akan lepas dari aneka kesulitan dan tragedi. Ada banyak orang berusaha menghubung-hubungkan aneka penderitaan itu dengan akhir zaman. Namun, Tuhan Yesus justru meminta para murid untuk waspada terhadap berbagai kesesatan dan berkata, “sebab semuanya itu harus terjadi dahulu tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Jikalau penderitaan dalam berbagai bentuknya akan selalu datang silih berganti, apa respons yang Tuhan harapkan ada pada kita? Ayat 13 mengungkapkan “hal itu, justru akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.” Sejak dahulu hingga sekarang, Tuhan ingin kita menjadi saksi-Nya. Kesaksian tersebut ternyata perlu kita wujudkan tidak hanya saat kehidupan ini terasa menyenangkan, gembira dan berlimpah berkat! Kesaksian tersebut bahkan harus diwujudkan saat hidup kita berada pada titik-titik penderitaan dan persoalan. Tuhan Yesus berkata, “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Di tengah berbagai penderitaan yang datang dan pergi, marilah kita terus memelihara iman kita! Waspadalah terhadap berbagai kesesatan, dan bertahanlah menyatakan kesaksian! Percayalah bahwa kasih-Nya tidak akan pernah berhenti menopang kehidupan kita. Pada akhirnya, saat kita tetap setia dalam segala perkara, kita akan menerima kehidupan abadi bersama Allah. Di dalam Kristus, pengharapan kita tidak akan sia-sia.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez