DIA ALLAH YANG HIDUP

Yesus beragumentasi untuk kesekian kalinya. Kali ini dengan orang-orang Saduki. Pada hari itu, mereka datang dengan satu pertanyaan kepada Yesus untuk menunjukkan bahwa tidak ada kebangkitan. Hal yang diajukan kepada-Nya adalah mengenai hukum levirat (Ulangan 25:5-10). Tujuan dari hukum perkawinan levirat itu sendiri adalah untuk mempertahankan nama almarhum melalui keturunan, sehingga anak sulung yang dilahirkan dari perkawinan ipar harus dianggap sebagai anak saudara yang sudah meninggal itu.

Yesus menghindari jebakan dari orang-orang Saduki ini melalui dua hal. Pertama, dengan menunjukkan kesalahan persepsi orang Saduki mengenai kebangkitan. Orang Saduki melihat kebangkitan yang tidak mereka percayai itu dalam kacamata bahwa semuanya akan tetap sama. Penulis Lukas menunjukkan bahwa bagi Yesus, keadaan manusia pada saat kebangkitan akan jauh berbeda dengan kehidupan yang sekarang (ayat 36). Kedua, Yesus menunjukkan kesalahan orang-orang Saduki dalam memahami kitab suci, dengan mengangkat kembali kisah kehadiran Tuhan melalui semak duri dalam Keluaran. Di sana, Allah memproklamirkan diri-Nya kepada Musa dengan mengatakan: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.” Rumusan Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub menggunakan bentuk kata present tense, bukan past tense. Meski Abraham, Ishak, dan Yakub sudah mati, tetapi hubungan mereka dengan Allah tidak putus karena kematian. Nama mereka tetap disebut, yang menandakan bahwa bagi Allah mereka tidak mati, tetapi hidup.

Kehidupan dalam kacamata Kekristenan tidak pernah berhenti pada kematian. Dari pengakuan iman itu, ada dua hal yang harus kita pegang: pertama, keyakinan yang kuat bahwa masa depan berada di tangan Allah, termasuk di dalamnya realita pasca-kematian. Kehidupan setelah kematian memang merupakan misteri. Namun, misteri itu kita masuki bersama dengan Allah yang Hidup yang kita percaya akan tetap mengasihi kita. Hal kedua yang harus kita pegang yaitu: komitmen yang kuat untuk memaknai hidup masa kini berdasarkan keyakinan akan masa depan. Persekutuan abadi dengan Allah tidak hanya dimaknai pada kehidupan mendatang, tetapi juga in this wordly existence, dalam kehidupan kini dan di sini. Abraham, Ishak, dan Yakub adalah orang-orang yang semasa hidupnya mengalami persekutuan dengan Allah. Hidup tokoh-tokoh penting Israel tersebut bukanlah hidup yang sempurna. Namun, melalui serentetan pengalaman, mereka telah mengalami sekaligus meyakini kehadiran serta kuasa Allah. Demikianlah persekutuan dengan Allah itu tidak akan hilang, meski kematian telah mereka jumpai.

Semoga keyakinan kita akan Allah yang Hidup menolong kita untuk dapat menjalani kehidupan kita hari ini dengan sebaik mungkin dalam pengharapan akan hari esok. Saat dunia dihantui oleh bayang-bayang kematian: penderitaan, kekerasan, ketidakadilan, ketidakpedulian; semoga keyakinan kita akan Allah yang Hidup juga mendorong kita untuk dapat membagikan kehidupan dan pengharapan kepada siapapun yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez