SELF IMAGE AND SELF ESTEEM

Sama seperti tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama, TUHAN memanggil orang-orang sederhana dan dalam pekerjaan mereka. Musa dipanggil TUHAN ketika menggembalakan kambing domba sang mertua, Yitro. Daud dipanggil untuk diurapi menjadi raja ketika ia sedang menggembalakan domba. Amos dipanggil untuk menyatakan kebenaran ketika ia sedang bekerja sebagai petani di Tekoa. Kini, Yesus memanggil para murid ketika mereka sedang menjala ikan. Tidak peduli siapa dan apa yang sedang kita kerjakan, jika pemanggilan itu terjadi, maka kita patut meresponnya. Markus mencatat to the point, tanpa basa-basi, Yesus memanggil mereka, kata-Nya, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”(Markus 1:17)

Pemanggilan yang Allah lakukan tentu berdampak besar dalam hidup mereka yang dipanggil-Nya itu. Bukan hanya perubahan status tetapi juga perubahan cara pandang mereka terhadap diri dan dunia. Allah memanggil mereka untuk masuk dalam karya penyelamatan dunia. Tentu, bagi para murid ajakan Yesus menjadi sebuah ajakan yang harus direspon. Dengan sangat cepat, Injil Markus menyajikan jawabannya, “Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia”. Sebuah pilihan yang diambil dalam waktu singkat, namun sekaligus menuntut ketaatan yang berlangsung seumur hidup. Mereka mengikut Yesus dan meninggalkan pekerjaan, maupun orangtua. Pengalaman perjumpaan yang tak terucapkan dengan kata-kata manusia telah memampukan mereka untuk melepaskan sumber penghasilan, keluar dari zona nyaman dan meninggalkan rumah mereka. Kerelaan melepaskan apa yang dimiliki para murid, membawa mereka pada status dan identitas baru. Yesus memberikan kepada mereka sebuah “nilai baru” yang lebih bermakna dari sekedar pemenuhan kebutuhan hidup sesehari dan rasa aman di tengah “keluarga kecil”. Nilai baru itu adalah menjadi penjala manusia. Sejak saat itulah nilai diri mereka diubah dan menjadi selaras dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus.

Sudah berapa lama Saudara menjadi pengikut Kristus? Adakah keberanian untuk meninggalkan kenyamanan, kemapanan dan keamanan diri pribadi untuk kemudian menjadi murid-Nya bahkan menjadi penjala manusia? Sama seperti para murid, ketika kita berkeputusan untuk menjadi pengikut-Nya, maka nilai dan identitas baru akan diperoleh. Namun, perubahan itu harus dibarengi dengan pembaharuan hidup dan diri setiap saat.

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus