MINGGU PALMARUM DAN MINGGU SENGSARA

Hari minggu ini dirayakan sebagai Minggu Palmarum, yang ditandai melalui peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem sambil dielu-elukan. Disaat yang sama, Yesus sebenarnya siap masuk dalam kesengsaraan menuju penderitaan dan kematian-Nya. Sebuah paradoks, sorak-sorai sukacita penanda awal rangkaian penderitaan dan kebencian. Yang awalnya diterima dengan kegembiraan, akan berubah menjadi penolakan penuh kebencian. Yesus masuk Yerusalem dengan menunggang keledai betina. Sebuah “peragaan” yang kuat dan sarat akan makna. Dengan menunggang keledai, bukan kuda, Yesus sedang membangun persepsi tentang diriNya sebagai Mesias, Raja Penyelamat. Mesias ini bukan orang yang datang dengan kekerasan, kekuasaan dan kekuatan untuk berperang, merampas dan menghancurkan, melainkan Raja Damai yang lemah lembut, rendah hati dan menghadirkan kehidupan. Yesus mengerti dan sadar betul akan apa yang harus dijalani-Nya: menunaikan tugas Sang Bapa. Yesus menjalani lakon seorang Mesias: hamba yang menderita.

Tidak mudah membangun pesepsi atau paling tidak menyamakan persepsi, karena tiap orang memiliki kepentingan dan pemahamannya masing-masing. Demikian dengan orang-orang yang menyambut Yesus saat Ia masuk Yerusalem. Penduduk Yerusalem yang tidak bisa melawan pemerintahan Romawi menginginkan Yesus untuk maju sebagai pahlawan dan menjadi Mesias mereka. Ada keinginan besar untuk memakai Yesus sebagai alat membalas. Tetapi nyatanya yang terjadi Yesus tidaklah demikian. Yesus tidak silau dengan sanjungan dan tak gentar dengan cacian, hujatan dan aniaya. Ia terus berjalan menelusuri lorong Yerusalem sampai vonis dan penghakiman berhadapan dengan maut itu tiba. Inilah yang membuat mereka pada akhirnya berbalik meyerukan kebencian karena kecewa dengan apa yang Yesus lakukan. Persepi mereka dan persepsi Yesus berbeda dan mereka tidak dapat menerima Yesus.

Palmarum dan kesengsaraan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa persepsi kita terhadap sesuatau atau seseorang menentukan tindakan kita. Di tengah pandemi Covid-19 ini, gereja ditantang untuk menampilkan diri dengan persepsi Yesus. Gereja harus hadir untuk menolong dan berperan aktif bagi bangsa ini dengan lemah lembut, dan rendah hati, seperti Yesus. Sudah saatnya kita sebagai gereja meninggalkan keangkuhan dan kebanggaan diri untuk mulai keluar dari zona nyaman. Berkarya nyata, berperan aktif dan ikut serta dalam menolong banyak orang di tengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini. Mari bergerak dan hadirkan wajah dan karya Kristus di tengah-tengah dunia ini.

oleh : Pdt. Esther S. Hermanus