Manunggaling Kawulo Gusti!

Tahukah anda filsafat Jawa dari tradisi Kejawen yang disebut Manunggaling Kawulo Gusti? Manunggaling kawulo Gusti artinya bersatunya aku (kawulo) dan Tuhan. Dalam persatuan itu, aku lenyap dalam Tuhan dan Tuhan pun lenyap dalam aku. Aku dan Tuhan bersatu padu. Totally blended! Kekristenan pun memiliki tradisi yang mirip dengan itu. Kita dipersatukan di dalam Allah, tetapi persatuan itu tidak ‘totally blended.’ Aku tetap aku, Tuhan tetap Tuhan. Mengapa begitu? Karena Tuhan dan aku tetap berada dalam keunikannya masing-masing. Jadi, meski seseorang katakan “aku ada di dalam Tuhan” tetapi dia tidak bisa mengklaim diri sebagai Tuhan karena dia dengan Tuhan adalah pribadi yang terpisah. Kalau begitu, apa yang menunjukkan bahwa seseorang itu ‘bersatu’ dengan Tuhan? Jawabnya simple: Kasih! Ya, kasih terhadap sesama dan dunia.

Kekristenan diidentifikasikan dengan kasih. Ada ribuan kata ‘kasih’ dalam Alkitab. Yesus sendiri bilang “Bapa mengasihi-Ku. Aku mengasihimu. Kamu tinggal dalam kasih-Ku, dan kamu harus saling mengasihi”. Allah mengasihi manusia dan dunia ini. Tetapi, Yesus juga menggarisbawahi agar kita yang sudah dikasihi Allah, harus saling mengasihi. Kasih kepada Allah dan kepada sesama adalah satu kesatuan. Mengasihi Allah berarti juga sanggup mengasihi sesama! Bila kita mengasihi Allah tetapi ‘emoh’ mengasihi sesama maka kualitas kasih kita itu rendah. Itu kualitas ‘kawe,’ bukan ‘ori.’

Kasih adalah identitas pengikut Kristus. Kasih harus menjadi way of life gereja. Kasih adalah life style kita semua. Artinya di mana pun kita berada dan dalam situasi apa pun kasih akan terus mengalir deras seperti air terjun Niagara. Tanpa kasih, gereja bagaikan tubuh tanpa nyawa. Hanya torso! Dan kasih itu nampak dalam action, dalam tindakan nyata. Kasih dialami setiap orang yang berjumpa dengan kita. Kasih membuat orang merasakan kehangatan, penerimaan, cinta dan keadilan!

Ada satu aspek penting yang Yesus ingin katakan. Apa? Kasih hanya bisa kita lakukan bila kita ‘abide in Him,’ tinggal di dalam Dia. “Bersatu padu!” Bersatu dengan-Nya membuat kasih itu bekerja di dalam kita dan melalui kita. Bersatu dengan Yesus membuat kita memiliki kerendahan hati sehingga mampu menerima dan melayani siapa pun. Bersatu dengan Yesus membuat kita mampu menyapa dan bergaul dengan pemungut cukai yang dibenci sesama, dengan orang yang ‘dikafirkan’ seperti orang Samaria atau umat lain. Bersatu dengan Kristus memampukan kita menolong dan memanusiakan yang sakit seperti orang kusta dan orang buta yang dilabel sebagai manusia yang dikutuk Allah. Di dalam Yesus, semua batas imajiner yang memisah-misahkan manusia akan kita langgar. Kita menjadi pelintas batas! Dalam kasih, Yesus mengangkat manusia, siapa pun dia, pada kemanusiaannya. Semua merasa dihargai, dihormati dan dicintai.

Realistis saja, kualitas iman kita diukur bukan dari banyaknya kita ke gereja. Bukan juga dari aktifnya kita di persekutuan, atau dari kemampuan mengafal ayat-ayat suci atau rajin berdoa. Bahkan kualitas iman kita tidak juga diukur dari seberapa banyak kita menyebut nama Yesus dalam hidup kita. Bukan itu! Karena kalau hanya itu, kita bagaikan kuburan yang bagus di atas, tetapi hanya tulang belulang di bawah sana. Lalu apa dong ukuran kualitas iman kita? Ukuran utama kualitas iman kita adalah kasih yang nyata dalam kata-kata dan perbuatan. Kasih Yesus itu hanya bisa bekerja bila kita abide in Him, tinggal di dalam Dia. Kita menyatu, manunggaling kawulo Gusti, tetapi bukti kemanunggalan itu nyata dalam cinta kasih bagi sesama dan dunia. Mari jadikan kasih sebagai life style! Hanya dengan itu, orang melihat bahwa Yesus hidup di dalam kita dan kita di dalam Yesus!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty