KRISTUS YANG MELAMPAUI SEKAT!

Setiap tahun dalam Kebaktian-Kebaktian Minggu Paskah menjelang Pentakosta, GKI Maulana Yusuf memiliki tradisi untuk merayakannya dengan kebaktian bernuansa daerah. Mulai dari nuansa daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa-Bali, Sunda, Sulawesi, dan yang terakhir nuansa daerah Indonesia Timur. Pada kebaktian-kebaktian tersebut, lagu-lagu serta musik pengiring diusahakan agar dapat semaksimal mungkin menghadirkan nuansa daerah pada minggu itu. Begitu pula dengan pakaian atau atribut-atribut kedaerahan, diupayakan untuk dipakai oleh para pelayan kebaktian supaya suasana semakin semarak.

Kebaktian nuansa daerah menjadi hal yang tampaknya selalu dirindukan oleh banyak anggota jemaat dan simpatisan GKI Maulana Yusuf. Bukan hanya karena kita dapat mengikuti kebaktian dalam suasana yang berbeda, tetapi juga karena GKI Maulana Yusuf sendiri memang merupakan tempat berkumpulnya banyak orang dari berbagai latar belakang suku dan daerah di Indonesia. Apalagi kalau kita berbicara tentang situasi sebelum pandemi, di GKI Maulana Yusuf banyak sekali mahasiswa-mahasiswa yang merupakan para perantau dari berbagai pulau dan provinsi di Indonesia. Hadirnya kebaktian nuansa daerah sedikit banyak dapat mengobati rasa kangen akan kampung halaman. Itu pula yang mungkin dirasakan oleh anggota jemaat atau simpatisan lainnya.

Adanya kebaktian nuansa daerah sesungguhnya memiliki makna teologis yang penting. Merayakan kebhinekaan dalam ibadah, merupakan wujud keyakinan kita, bahwa Allah memang berkarya melampaui sekat-sekat yang ada. Sekat-sekat kesukuan, sekat-sekat kedaerahan, serta berbagai perbedaan latar belakang lain, bukanlah halangan bagi kita untuk bersama-sama bersekutu dan memuliakan Allah. Yesus yang bangkit adalah Ia yang hadir menembus sekat-sekat dan tembok-tembok pemisah! Kuasa-Nya bekerja melampaui sikap-sikap eksklusif yang merusak. Kristus yang bangkit adalah Ia yang mempersatukan kita semua dalam nama-Nya!

Mari mewujudkan spirit kebangkitan Kritus dalam hidup kita sehari-hari dan di tengah-tengah masyarakat kita yang sangat beragam. Biarlah kehadiran kita menjadi tanda hadirnya damai sejahtera dari Allah bagi kehidupan di bumi Indonesia yang kita cintai ini. Tuhan memberkati.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez