SEBUAH PESAN PASKAH

Banyak orang Kristen Indonesia yang hidup dengan minority complex. Minority complex adalah suatu kecenderungan untuk merasa bahwa dirinya atau kaumnya adalah golongan atau kelompok yang kecil, lemah, tidak berdaya, dan oleh karenanya tidak mungkin menghasilkan dampak. Orang-orang dengan minority complex selalu takut untuk mengadakan perubahan. Belum apa-apa sudah dihantui banyak keresahan: Bagaimana kalau kita dimusuhi? Bagaimana kalau kita ditindas oleh mereka yang jumlahnya lebih besar dan berkuasa?

Para perempuan pada zaman Yesus, sudah biasa dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Mereka selalu dipandang lebih rendah daripada laki-laki. Saat ibadah di Bait Allah, tempat para perempuan adalah di belakang, setelah para laki-laki yang ada di depan. Di pengadilan, para perempuan sering kurang dihargai sebagai saksi. Kegiatan-kegiatan keagamaan kala itu pun, tidak selalu menyertakan para perempuan.

Meskipun para perempuan menjadi kaum yang kurang dianggap, peristiwa kebangkitan justru berbicara lantang melalui para perempuan. Pagi-pagi benar, pada hari minggu pertama minggu itu, beberapa orang perempuan sudah berjalan menuju tempat di mana jenazah Yesus dibaringkan. Mereka datang membawa rempah-rempah. Para perempuan itu adalah Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Selain nama-nama itu, ada juga perempuan-perempuan lain yang ikut serta dengan mereka. Barangkali, harapan mereka tidaklah muluk-muluk. Mereka hanya ingin memperlakukan jenazah Yesus dengan layak; mengingat kemarin, jenazah Yesus dimakamkan dengan terburu-buru karena datangnya Sabat.

Siapa sangka, pagi itu para perempuan ini justru menemukan fakta yang mencengangkan! Pertama, batu yang menutupi makam sudah terguling. Kedua, ketika mereka memasuki makam Yesus, mereka tidak menemukan jenazah-Nya. Mereka sangat kebingungan! Alkitab berkata, ‚ÄúSementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Para perempuan ini begitu ketakutan, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.” (Lukas 24:5)

Setelah perkataan itu, teringatlah para perempuan ini akan perkataan Yesus. Mereka percaya bahwa kebangkitan sungguh telah benar-benar terjadi! Tidak menunggu lama, mereka pun pergi, dan menceritakan apa yang mereka alami kepada sebelas murid dan kepada saudara-saudara yang lain.

Betapa setia dan beraninya para perempuan ini. Mereka yang dianggap lemah, telah melihat kehidupan di tempat kematian. Mereka yang sering direndahkan, ternyata menjadi alat di tangan-Nya untuk menghadirkan kehidupan. Para perempuan, kaum nomor dua dalam strata patriakal kala itu, telah menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan Yesus.

Apakah kita sering berlindung di balik minority complex kita? Di hari Paskah ini, kita diingatkan bahwa Tuhan dapat memakai kita seperti para perempuan yang menjadi saksi pertama dan utama dalam peristiwa kebangkitan Yesus. Kita semua, baik laki-laki maupun perempuan, dalam segala keberadaan diri kita, kelebihan dan kelemahan kita, adalah alat-Nya untuk menghadirkan kehidupan, menghadirkan pengharapan, menghadirkan cinta Allah di tengah-tengah dunia ini. Selamat Paskah!

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez