Ketabahan Dalam Berharap

Ketabahan atau ketekunan adalah sebuah sikap luhur. Alkitab memakai kata hupomene sebanyak 31 kali untuk ketabahan, yang diartikan bukan sekadar bertahan tetapi bertahan untuk bertahan (to keep on keeping on). Ketabahan adalah sebuah sikap aktif yang bersedia berjalan maju dan memperjuangkan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Hupomone atau ketabahan berarti keputusan untuk berjalan di dalam dan melawan badai. Sedangkan kata pengharapan dalam Bahasa Yunani dipakai kata elpis yang artinya menantikan sesuatu. Sedangkan di dalam Bahasa Ibrani, dipakai kata miqves yang berarti sangat menantikan dan mengumpulkan. Orang yang tabah dalam pengharapan berarti dia sedang dalam perjuangan untuk kebenaran dan menantikan yang baik, sekalipun sedang berada dalam kondisi yang sulit atau berada dalam badai.

Yesus pergi ke daerah Tirus setelah terjadi perdebatan sengit dengan sekelompok orang Farisi tentang adat istiadat Yahudi. Di daerah yang notabene daerah non-Yahudi, Yesus bertemu dengan seorang perempuan dengan keteguhan iman yang luar biasa. Perempuan ini seorang Yunani, berkebangsaan Siro-Fenisia artinya dia bukan dari keturunan orang Yahudi. Perempuan ini berjuang agar Yesus dapat menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan. Begitu mendengar kedatangan Yesus, perempuan ini bergegas menemui-Nya. Ia datang dengan penuh pengharapan bahwa Yesus akan memulihkan anaknya dan mengusir roh jahat itu. Keteguhan dan ketabahan perempuan ini untuk berjumpa dengan Yesus berbuahkan hasil yaitu ia mendapati anaknya berbaring di tempat tidur dan tidak ada lagi setan yang merasukinya.

Dialog antara Yesus dan perempuan menunjukkan bahwa siapa saja berhak menerima belas kasih dan berkat Allah. Bagi perempuan itu, ia pun berhak menerima belas kasih Allah, walaupun hanya remah-remah di bawah meja. Tidak ada seorang pun yang terlalu najis untuk menerima kasih Allah, tidak ada seorang pun yang tidak layak merasakan belas kasih Allah. Perempuan Siro-Fenisia meyakini hal ini, ia tidak putus asa dan memiliki keyakinan kuat pada Yesus. Yesus melihat hal ini, karenanya Ia berkata “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu”. Belajar dari cerita ini, kita diajak untuk tidak putus pengharapan di tengah-tengah kemelut kehidupan. Tetaplah memiliki ketabahan dalam berharap.

 

Oleh : Pdt. Esther Setianingrum