Apa Katamu Tentang Aku?

Ada banyak alasan atau motivasi seseorang dalam mengikut Yesus. Motivasi ini sangat dipengaruhi oleh sudut pandang orang tersebut terhadap Yesus. Pada zaman Yesus berkarya di dunia, begitu banyak orang berbondong-bondong mengikuti-Nya. Kemanapun Yesus pergi, di situ terjadi kerumunan. Orang-orang menantikan karya-Nya yang ajaib, mereka menantikan mujizat-Nya. Tidak mengherankan, melihat pengajaran-Nya yang penuh kuasa disertai dengan tanda dan mujizat-mujizat itu kemudian orang menaruh pengharapan yang besar. Inilah Mesias yang dinanti-nantikan itu! Jika Yesus mampu menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan banyak perbuatan besar lainnya, maka sangat mudah bagi Yesus untuk melawan dan mengalahkan kekuasaan yang sedang menekan umat Allah itu. Mesias politis inilah yang diharapkan dari Yesus.

Murid-murid Yesus pun tidak luput dari pola pikir yang demikian. Saat Yesus bertanya: “Tetapi, apa katamu, siapakah Aku ini?”. Petrus dengan yakin menjawab “Mesias”. Jawaban Petrus ini sarat dengan kepentingan untuk menjadikan Yesus sebagai Mesias versinya. Ia berpikir, adalah hal yang mustahil kalau Mesias itu harus menderita dan mati dengan sadis. Yesus menerima pernyataan dari Petrus bahwa Ia adalah Mesias, tetapi kemudian Ia mengajarkan bahwa apa yang seharusnya mereka pahami tentang diri dan kemesiasan-Nya itu. Yesus menjelaskan bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Sayangnya apa yang dijelaskan Yesus ini sama sekali tidak masuk akal bagi para murid dan mereka tidak dapat menerima. Petrus mewakili pemahaman para murid yang lain, menolak, menyanggah, dan menarik serta menegor Yesus. Petrus membantah pernyataan Yesus.

Hardikan keras yang dilontarkan Yesus itu mengungkapkan sikap-Nya terhadap godaan yang dapat menggagalkan rencana penyelamatan Allah yang sedang dikerjakan-Nya. Kalau saja Yesus menuruti apa yang disarankan Petrus, Ia gagal melakukan kehendak Bapa untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Jika pertanyaan Yesus disampaikan kepada kita di masa kini, “Tetapi, apa katamu, siapakah Aku ini?” Apa jawab kita?

 

Oleh : Pdt. Esther Setianingrum