KASIH YANG MEMBERI DIRI

“Lihatlah Dia! Liatlah Dia bukan semata-mata pada Keilahian-Nya, tetapi lihatlah pada kebebasan-Nya. Lihatlah bukan pada kisah-kisah yang dibesar-besarkan tentang kuasa-Nya, tetapi lihatlah pada kemampuan-Nya yang tidak terbatas untuk memberi diri-Nya sendiri. Lihatlah bukan pada mitologi abad pertama yang menyelimuti diri-Nya, tetapi lihatlah pada keberanian-Nya untuk menjadi diri-Nya sendiri, pada kemampuan-Nya untuk hidup, dan pada kualitas kasih-Nya yang menyebar.” -John Shelby Spong

Hari ini dalam kalender gerejawi, kita merayakan Minggu Transfigurasi. Di atas gunung yang tinggi, Yesus berubah rupa di depan mata Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Dengan pakaian putih yang berkilat-kilat, kemuliaan Ilahi makin terpancar dalam diri Sang Guru.

Belum selesai kemuliaan itu memukau para murid, tiba-tiba nampaklah dua tokoh penting dalam sejarah bangsa Israel, Musa dan Elia. Keduanya digambarkan berbincang dengan Yesus. Melihat hal itu, para murid makin terpukau, tetapi sekaligus ketakutan. Mereka tidak sedang bermimpi. Ketiganya adalah saksi dari segala yang terjadi.

Ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes punya cerita yang bisa jadi sangat penting untuk dikabarkan kepada yang lain, Yesus sendiri justru berpesan, agar mereka jangan menceritakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat. Jangan, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.

Bagi Yesus, kemuliaan dalam diri-Nya tidak pernah dapat terpisah dari jalan penderitaan yang harus Ia tempuh. Cinta yang Ia miliki bagi dunia, membuatnya rela merengkuh dan mengalami luka. Keberanian-Nya untuk memberi diri, adalah bukti nyata dari kualitas kasih yang sempurna. Ia tidak ingin orang mengagumi kemuliaan-Nya, tetapi menutup diri dari pilihan-Nya akan via dolorosa.

Minggu Transfigurasi tanggal 14 Februari 2021 ini bertepatan dengan hari yang biasa dirayakan sebagai Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day). Bukan hanya hadiah, coklat, bunga, atau foto romantis di media sosial, kasih sayang sejatinya diwujudkan dalam pemberian diri. Bukan hanya berupa kesenangan, tetapi juga komitmen untuk berkurban dalam kedewasaan. Bukan hanya menuntut untuk dimengerti, tetapi juga kerelaan untuk mau mengerti dan memahami.

Kristus adalah Sang Kasih, yang menjadi dasar dan teladan bagi kita untuk bisa mengasihi orang lain. Selamat Minggu Transfigurasi dan juga Selamat Hari Kasih Sayang bagi kita semua!

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza