IBADAH INTERGENERASI

Kebaktian hari ini kita bersama-sama mengikuti kebaktian intergenerasi. Seperti kita ketahui bersama, bukan untuk yang pertama GKI Maulana Yusuf menyelenggarakan kebaktian intergenerasi seperti ini. Namun, tetap saja kebingungan, pertanyaan dan ketidakmengertian dari anggota jemaat muncul manakala kebaktian seperti ini diselenggarakan. Misalnya “Istilah apa lagi ini? Justru semakin tidak mengerti maksud ibadah. Apakah ibadah ngga makin ribet? Apakah justru malah makin ribut atau berisik, sehingga ibadah tidak lagi khusuk? Biasakah ibadah umum melibatkan anak-anak sebagai pelayan?” dan sebagainya. Hal ini diungkapkan karena kita selaku jemaat belum memahami betul apa yang dimaksudkan dengan kebaktian atau ibadah intergenerasional. Atau jika tidak, mungkin kita sudah merasa nyaman dengan ibadah yang berlangsung selama ini, yang terbagi dan terkotak-kotak dengan ibadah kategorial. Alasanpun bermacam-macam dan sepertinya sangat masuk diakal dan dapat diterima. Dengan dilangsungkannya ibadah kategorial, maka firman yang disampaikan tepat dapat diterima oleh jemaat yang dilayani. Belum lagi para pelayan yang terlibat dalam ibadah tersebut, tidak asing buat kalangan mereka. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan kebaktian intergenerasi?

Pandemic ini mau tidak mau mengharuskan jemaat untuk beribadah dari rumah dan bersama seluruh anggota keluarga yang ada di rumah tersebut. Itu artinya, setiap orang dari generasi manapun bersama-sama mengikuti kebaktian tersebut. Dalam penyelenggaraan kebaktian tersebut, fokus perhatian selalu diarahkan pada bagaimana memenuhi kebutuhan spiritual jemaat dewasa. Sehingga abai dan lalai terhadap kebutuhan generasi yang lainnya. Liturgi yang cenderung kaku, pemilihan lagu yang tidak familiar, aransemen music yang kurang menarik, sampai pada pemberitaan firman yang tidak bisa menyentuh generasi tertentu membuat kebaktian-kebaktian menjadi kurang dihayati dengan baik oleh generasi tertentu.

Kebaktian intergenerasional pada intinya memberi kesempatan pada generasi-generasi yang selama ini tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, untuk terlibat bersama. Kita harus menyadari bahwa ada multi generasi di gereja dan karenanya perlu memberi tempat untuk relasi antar generasi tersebut. Pelayanan ini tidak sekedar kebaktian gabungan antar generasi atau meniadakan segregasi pelayanan berdasarkan usia. Pelayanan intergenerasi melampaui hal itu dan bisa jadi bukan keduanya. Ini sebuah kepercayaan sekaligus pelayanan dan semoga kita sebagai orang tua atau orang dewasa dapat mendukung dan mempercayakan gernerasi-generasi muda ini untuk bisa melayani dalam ibadah sejak dari kanak-kanak. Tidak merasa terganggu dengan suara dan celoteh mereka yang mungkin kita dengar saat ibadah berlangsung. Toh kita pun pernah mengalami seperti mereka menjadi anak-anak. Selamat beribadah bersama seluruh anggota keluarga!!

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus