HOW TO LIVE IN VULNERABILITY

Manusia itu rentan, rapuh dan lemah. Kerentanan, kerapuhan dan kelamahan manusia adalah hal yang harus diakui. Setiap orang harus berani mengakui bahwa dirinya tidak sempurna, tidak sekuat yang dipikirkan dan tidak setangguh yang dibayangkan. Ada sisi lain dalam dirinya yang membuat manusia harus menyadari batasan-batasan yang ada.

Menyadari keterbatasan dan kerentanan diri sendiri mengingatkan penulis pada apa yang tertulis di Gua Delphi Yunani, Gnothi Seauton yang kira-kira artinya “Kenalilah dirimu”. Dengan terlebih dahulu mengenal kerentanan diri, maka arti dari solidaritas Allah menjadi mudah untuk dipahami. Perspektif inilah yang menjelaskan sekaligus menjadi alasan lahirnya tanggung jawab sosial terhadap mereka yang menderita juga. Panggilan untuk terlibat secara aktif merupakan respon lanjutan dari seruan profetik Yesus dan juga Gereja untuk memerhatikan orang- orang yang rentan dan rapuh oleh karena perkembangan dunia memasukkan mereka dalam kategori ‘orang yang tidak dibutuhkan’.

Mengutip Susan George dalam The Lugand Report, Kieser menulis: “Di zaman ini, kita dipaksa belajar untuk mampu menghadapi suatu dunia yang tidak lagi monolit, hierarkis, dan birokratis, tetapi suatu dunia yang perkembangannya bergerak dengan cepat, yang transparan, dan yang fleksibel. Dunia telah memasuki fase baru: tatanan baru di mana masing-masing orang harus memikul tanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Ia harus menaklukkan dan menguasai tubuhnya sendiri supaya dapat bertahan dan berhasil dalam dunia yang berkompetisi. Sementara itu, banyak orang yang secara fisik, biologis, dan intelektual tidak mampu, dan secara rohani tidak sanggup menyesuaikan diri, akan segera mendapati bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak dibutuhkan” (Giddens, 2005, p. 165; Kieser, 2004, p. 40).

Berhadapan dengan kondisi seperti ini, menghidupkan kembali makna kasih sebagai bentuk berbagi kerentanan adalah sebuah panggilan yang harus dijalankan. Tokoh utama yang menjadi contoh nyata berbagi kerentanan adalah Yesus Kristus. Bahkan sejak lahir dalam suasana masyarakat Yahudi yang sedang dijajah, Yesus sudah diancam oleh kejahatan dan kekerasan dalam diri Herodes (Matius 2:16). Dia harus mengungsi ke Mesir bersama Maria dan Yusuf. Dalam masa penampilannya di muka publik, dia mengalami banyak pertarungan dengan kaum Saduki, Farisi, imam-imam kepala, bahkan rakyatnya sendiri (Lukas 4:22.24). Yesus dikorbankan oleh muridnya sendiri, Yudas Iskariot, dengan ciumannya (Matius 26:48-49; Markus 14:44-45). Yesus menguraikan visi masyarakat yang baru dengan meninggalkan kekerasan (Matius 5:39-42), tidak balas dendam bahkan mengasihi musuh (Matius 5:43-48). Kerentanan Yesus ini berupaya ia teruskan kepada para murid-Nya ketika Ia mengutus mereka dengan amanat terperinci untuk tidak membawa bekal apa-apa dalam perjalanan, “Jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju” (Lukas 9:3; Matius 10:10 yang menambahkan “kasut). Kita tahu bahwa dalam konteks Palestina zaman itu, tongkat bukan hanya berarti penyangga badan tetapi juga alat bela diri terhadap musuh dan binatang buas. Berjalan tanpa kasut memustahilkan orang menghindari bahaya secara cepat. Karena itu tanpa tongkat dan kasut, seseorang tidak akan dapat membela diri serentak berada dalam kondisi penuh risiko.

Placter mengutip Johanes Calvin, mengatakan bahwa dalam ketaatan yang dijalankan dalam kebebasan, Yesus menjadi semakin diidentifikasi sebagai Allah yang memiliki kebebasan dan dalam kebebasan-Nya mengambil risiko untuk menjadi ringkih (Placher, 1994, p. 15). Tindakan memilih menjadi ‘menderita’, ‘miskin’, dan ‘terbatas’ dalam suasana kebebasan hendaknya menjadi panggilan bagi pengikutNya karena,

The God who loves in freedom is not afraid and therefore can risk vulnerability, absorbs the horror of another’s pain without fear; human beings now as in the time of Jesus tend to think of power as refusal to risk compassion. But god’s power looks not like imperious Caesar but like Jesus on the cross (Placher, 1994, p. 18).

Dengan kata lain, ketika Yesus mati (dalam bahasanya Jüren Moltman) terjadi kematian di dalam Allah; dan oleh karena itu, Allah belajar menjadi manusia. Di situ, terjadi pembalikan total dari konsep Allah yang berkuasa dan bertindak sebagai hakim dalam Perjanjian Lama kepada Allah yang menderita, berbelas kasihan, dan pengasih dalam diri Yesus (Perjanjian Baru). Bertitik tolak dari dimensi kekurangan, keterbatasan, dan kerentanan itulah, teologi kasih menemukan relevansinya, sebab tidak ada pengakuan tanpa adanya pengalaman mengenai keterbatasan dan kegagalan sebagai subjek yang senantiasa split, decentred, dan unfixed.

Peristiwa Triduum yang akan dihayati, mulai dari Kamis Putih sampai Minggu Paskah adalah sebuah gambaran bagaimana Yesus menghidupi kerapuhan. Jika Allah dalam diri Yesus Kristus menghidupi kerapuhan itu, maka sebagai manusia biasa (yang memang rapuh) semestinya mampu untuk jujur pada diri sendiri dan mengakui kerapuhan itu. Di saat yang sama, kasih Allah yang besar akan memampukan kita memahami kerapuhan orang lain, berempati dengan mereka dan berjalan bersama. Selamat mempersiapkan diri!!

 

Oleh : Pdt. Esther Setianingrum