ELIE WIESEL DALAM NIGHT

“Life can only be understood backwards, but itu must be lived forwards” (Soren Kierkegaards)

Dalam buku berjudul Night, Elie Wiesel menceritakan pengalaman mengerikan yang dialaminya di Auschwitz, kamp konsentrasi penyiksaan Nazi. Wiesel menceritakan pergumulan eksistensial dan spiritualnya di tengah penderitaannya dan juga penderitaan jutaan orang Yahudi. Wiesel bertanya: dimanakah Allah sekarang?

“Para tentara Nazi menggantung tiga orang Yahudi, dua orang pria dewasa dan seorang pemuda di depan seluruh tawanan dalam kamp. Kedua pria tersebut mati dengan cepat, namun pemuda tersebut bergumul dengan kematian selama setengah jam. “Di manakah Allah? Di manakah Ia?” Seseorang di belakang saya bertanya. Ketika pemuda tersebut masih tergantung dan tersiksa dijerat tali untuk waktu yang lama, saya mendengar seseorang yang lain berteriak, “Di manakah Allah sekarang?” Dan saya mendengar suara di dalam batinku menjawab, “Ia ada di sini. Ia sedang tergantung di tiang gantungan itu.”

Ada dua pendapat yang bertolak belakang terhadap tulisan Wiesel di atas. Sebagian orang memahaminya sebagai deklarasi dan bahkan kesaksian iman tentang adanya kehadiran Allah di tengah penderitaan manusia. Allah hadir dan turut menderita bersama yang menderita. Allah merasakan penderitaan yang dialami manusia, terutama orang-orang Yahudi yang mengalami penindasan itu.

Sebagian mengkritisi pandangan di atas dan membangun pendapat yang berbeda. Bagi mereka, mengatakan bahwa Wiesel sedang mendeklarasikan kehadiran Allah yang turut menderita adalah kesimpulan yang sangat spekulatif dan kurang memiliki daya moral dan etis. Tidak ada gunanya berempati kalau tidak ada aksi untuk membebaskan mereka yang tertindas. Bagi sebagian orang ini, melalui cerita bahwa Allah turut menderita bersama yang menderita sesungguhnya merupakan sindiran Wiesel terhadap Allah. Seharusnya kehadiran Allah bukan sebatas berempati. Wiesel tidak butuh Allah yang ikut menderita. Sebaliknya, Wiesel membutuhkan Allah yang melakukan protes keras dan aksi nyata terhadap para penindas dan memihak yang ditindas. Wiesel mengharapkan Allah yang bekerja dengan kekuasaan-Nya untuk membebaskan siapa pun yang sedang terbenam dalam kesulitan dan penderitaan.

Oleh karena itu, menurut pendapat yang kedua, pesan moral-etis yang hendak disampaikan Wiesel adalah: jangan cuma ikut menderita bersama yang menderita. Itu tidak cukup! Orang yang menderita tetap menderita. Hal utama yang harus dilakukan adalah bergeraklah untuk memerotes penindasan dan praktek dehumanisasi itu. Lakukanlah sesuatu untuk menghentikan praktek dominasi dan kekejian yang menyebabkan penderitaan sesama. Implikasi etisnya, Wiesel mendorong kita melakukan aksi protes atau aksi pembebasan demi membela siapa pun yang mengalami ketidakadilan dan penderitaan.

Buku Night karya Elie Wiesel ini juga mengungkapkan sisi lain dari kemanusiaan kita. Di tengah pergumulan dan penderitaan, manusia selalu mengajukan pertanyaan eksistensial: dimanakah Allah? Dan, anda tahu, kehadiran Allah di tengah persoalan dan penderitaan manusia selalu dialami secara unik. Setiap orang punya pengalaman spiritualnya sendiri dengan Allah.

Pemazmur yang di tengah persoalan yang dia gambarkan sebagai ‘lembah kekelaman’ mengalami ketakutan dan kepanikan. Tetapi, pada saat-saat kritis yang menggoncangkannya, ia merasakan pengalaman spiritual dengan Allah, Sang Gembala yang menjaga dan membimbingnya. Para murid yang sedang mengalami ketakutan dan bahkan keputusasaan akibat kematian Yesus memiliki pengalaman spiritual dengan Tuhan yang bangkit. Saat mereka berada dalam rumah yang tertutup rapat, Tuhan hadir di tengah mereka. Kehadiran Tuhan memberikan kelegaan, pengharapan dan kekuatan iman. Dalam ketakutan kita pun, Tuhan pasti hadir. Tuhan sudah bangkit. Tuhan juga tidak tidur kok! Tuhan hadir di tengah anda semua!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty