DITARIK OLEH ANUGERAH-NYA

Adalah sebuah keindahan luar biasa dalam hidup, ketika di tengah berbagai kelemahan, kita dipandang sebagai sosok yang tetap berharga. Adalah sebuah kesempatan yang amat patut disyukuri, ketika ada pribadi yang bersedia untuk tidak menyerah dalam mengarahkan dan membimbing kita. Itulah yang menjadi esensi dari sebuah anugerah. Kita menerima sesuatu bukan karena kita layak untuk mendapatkannya. Anugerah berarti kita menerima sesuatu semata-mata karena pilihan dan keputusan sang pemberi, bagaimana pun keadaan kita.

Sepanjang sejarah, Allah senantiasa menyatakan diri-Nya sebagai Sang Pemberi Anugerah. Dalam banyak kesempatan dan cara, Allah memilih untuk tetap menyatakan kasih-Nya pada manusia yang seringkali memberontak dan melenceng dari panggilan-Nya. Manusia seringkali memilih jalannya sendiri dan melupakan kebaikan-kebaikan Tuhan yang selama ini diterimanya. Meskipun demikian, Allah tidak berhenti bergerak untuk menarik manusia ke dalam anugerah dan kuasa-Nya.

Dalam Injil Yohanes hari ini (Yoh. 12:20-33), Tuhan Yesus berkata, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku. Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.” Di tengah popularitas yang sebetulnya ada dalam genggaman-Nya, Yesus justru memilih berbicara tentang salib, suatu jalan yang amat sempit dan sulit untuk dilalui. Jalan yang Ia pilih karena Ia melihat masa depan manusia dan ciptaan sebagai suatu hal yang begitu berharga untuk diselamatkan. Jalan yang sebetulnya juga membuat-Nya sebagai Pribadi merasa gentar, sebab memilih jalan itu berarti penderitaan nyata di hadapan-Nya! Yesus bisa saja memilih untuk menolak segala sesuatu yang akan Ia alami dan pergi menempuh jalan hidup yang lain. Namun, seperti yang diungkapkan dalam kitab Ibrani 5, “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat.”

Kita senantiasa ditarik oleh anugerah Allah untuk beranjak dari maut menuju kehidupan. Dari keegoisan menuju belas kasih. Dari kebencian menuju cinta. Mari syukuri cinta kasih Allah itu dengan menjalani hidup yang sungguh-sungguh berpusat pada-Nya, Sang Pemberi Anugerah!