BUKAN PARADISE, TETAPI PARADOKS!

Saat dalam perjalanan ke Jakarta, saya merasa lapar. Saya mampir di salah satu rest area. Saya pilih restaurant yang kelihatannya bagus penataannya dan bersih. Di daftar menu, ditampilkan foto-foto makanan yang sangat menarik. Saya pilih salah satu menu dan memesannya. Perlu waktu cukup lama sebelum makanan yang dipesan datang. Hati keburu mangkel. Makanan yang tersaji pun tidak sebagus fotonya. Semua serba minim. Nasinya sedikit. Ayam gorengnya kecil. Sayurannya minim. Bila mau sambel harus bayar. Sendok dan garpu tidak tersedia di meja. Tissue habis. Ringkasnya, servicenya buruk! Makin mangkel. Dalam hati saya berkata “amit-amit saya ke sini lagi. Inilah kunjungan yang pertama dan yang terakhir di restaurant itu. Titik!”

Gereja yang gagal memberikan service yang baik bagi umat manusia dan dunia adalah seperti restaurant dengan service buruk tadi. Gereja dengan service atau pelayanan yang buruk ibarat pohon yang gagal berbuah lebat. Orang tidak akan meliriknya. Emoh menghampirinya. Meski gereja ada tetapi tidak relevan kehadirannya. Bila lenyap pun tidak ada yang menangisinya.

Untuk menjadi Kristen yang baik, orang butuh pertobatan yaitu perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru. Pertobatan atau metanoia itu perubahan hati alias spiritual conversion, pertobatan spiritual. Orang yang bertobat adalah orang yang mengalami perubahan pikiran: dari berpusat pada diri sendiri menjadi berpusat pada Allah. Hasil pertobatan bukan terutama ditandai dengan kerinduan untuk memuji dan memuja-Nya dengan kata-kata manis. Allah tidak butuh rayuan kosong. Allah tidak doyan pujian dengan kata-kata gombal. Pertobatan juga tidak berarti mengafal ayat-ayat suci atau memegang keras dogma atau doktrin tertentu. Meski itu penting, tetapi bukan yang terpenting. Lalu mana yang terpenting?

Pertobatan adalah keputusan to follow Him, mengikuti Dia dan melakukan apa yang dilakukan-Nya di tengah berbagai persoalan umat manusia di dunia. Keputusan mengikuti-Nya dan melakukan kehendak-Nya membutuhkan kerelaan untuk menyangkal diri. Setiap kali kita melakukan kehendak-Nya kita harus menyangkal diri. Dan ini adalah penderitaan. Ya, penderitaan karena kita melawan kehendak diri sendiri. Itulah sebabnya Rabbi Soloveitchik mengatakan orang beriman jangan mencari paradise, karena sesungguhnya kita akan selalu berjumpa dengan paradoks, melakukan sesuatu untuk kemuliaan Tuhan dengan melawan ego kita sendiri. Kita melayani sesama yang membutuhkan. Merangkul mereka yang berbeda. Membebaskan yang tertindas adalah pekerjaan berat yang ‘merusak’ kenyamanan kita. Ini paradoks!

Saat Eropa dibanjiri jutaan pengungsi dari negara-negara Timur Tengah. Orang Eropa berada dalam persimpangan. Mereka harus putuskan: menerima pengungsi itu atau memulangkannya? Tetapi, memulangkan para pengungsi itu bisa berakibat fatal. Kemungkinan mereka di hukum mati. Di anggap tidak setia dengan rejim yang berkuasa. Ini dilema! Bila ditanya secara jujur, masyarakat Eropa pasti enggan menerima para pengungsi itu. Mereka adalah beban ekonomi. Meski demikian, mereka putuskan untuk menerimanya. Mengapa? Karena panggilan kemanusiaan! Mereka bahkan memberikan pelayanan yang baik bagi para pengungsi. Dari mana nilai kemanusiaan itu muncul? Bisa dari mana saja. Salah satunya berasal dari nilai-nilai Kristen yang diucapkan melalui mulut Angela Merkel, Perdana Menteri Jerman yang kemarin mengundurkan diri. Merkel berkata, “Kalau kita tidak sudi menerima para pengungsi yang sedang susah, lebih baik tak perlu menyebut diri kita Kristen.” Ucapan Merkel adalah hantaman terhadap egoisme dan selfishness kita semua.

Memang, iman harus di pertanggungjawabkan bukan dengan menciptakan kebencian dan konflik antar umat beragama. Iman juga tidak didemonstrasikan dengan mencari dominasi dan hegemoni sosial-politik. Sebaliknya, iman dinyatakan dan diwujudkan melalui kerja-kerja cinta, kemanusiaan dan keadilan. Mulailah lalukan pelayanan yang baik, bahkan yang the best. Tebarkan pelayanan berdasarkan cinta dan keadilan di tengah keluarga kita masing-masing, di gereja, dan jangan lupa tebarkan juga cinta dan solidaritas bagi seluruh umat manusia dan dunia. Ingat, kebaikan dan kebahagiaan umat manusia dan dunia adalah juga kebaikan dan kebahagiaan kita sendiri.

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty