BERGEREJA DALAM KASIH DAN RELASI

Sudah dua bulan, pandemi Covid-19 membuat banyak gereja-gereja dengan terpaksa dan berat hati harus memindahkan ibadah di rumah-rumah. Hal ini bertujuan agar penyebaran virus Covid-19 tidak semakin meluas. Ibadah-ibadah minggu dan kegiatan lainnya pun sekarang dilakukan melalui media online atau daring. Kita mengenal konsep bahwa gereja bukanlah gedungnya, gereja bukan semata-mata bangunan fisik dan gereja adalah orangnya. Maka ketika tidak ada aktivitas di gedung gereja, bukan berarti gereja menjadi sebuah gedung atau ruangan yang kosong. Di masa seperti sekarang ini gereja justru menjadi gedung atau ruangan yang penuh. Ya, penuh dengan orang-orang yang beribadah dengan cara yang berbeda. Jika biasanya mereka beribadah di ruang kebaktian, sekarang mereka sedang beribadah di luar gedung atau ruangan. Mereka sedang menjalankan tugas dan panggilan sebagai gereja, yaitu bersaksi tentang kuasa Allah, melayani dengan sukacita dan menjalin persekutuan yang dilandasi kasih Allah.

Yesus mengajarkan konsep kasih dan relasi yang berbeda dengan apa yang dunia kerjakan. Jika dunia menawarkan konsep transaksional dalam relasinya, tidak demikian dengan Yesus. Relasi yang Yesus tawarkan adalah relasi yang transformatif, yang mengubahkan. Sehingga ketika seseorang menuruti perintah-Nya, ia melakukan hal itu atas dasar kasih dan sebuah ungkapan syukur, bukan karena paksaan atau ada impalan. Tentu tidak mudah bagi pengikut-Nya untuk melakukan sebuah transformasi. Yesus menyadari betul bahwa melakukan transformasi dibutuhkan upaya dan usaha. Karenanya Yesus mengirimkan penolong, yaitu Roh Kebenaran yang akan menyertai pengikut-Nya. Hidup pengikut Yesus yang mengalami transformasi salah satunya akan mewujud dalam bentuk ibadah.

Beribadah tidak selalu harus di gedung gereja atau di ruang kebaktian, karena ibadah yang sejati adalah ketika kita memberi perhatian dan peduli dengan keadaan di sekitar kita. Dalam situasi seperti sekarang ini, ibadah yang sesungguhnya adalah ketika kita memperhatikan mereka yang mengalami kesulitan ekonomi karena kacaunya usaha yang dijalani, berhentinya pekerjaan harian yang selama ini menjadi penyokong hidup keluarga atau terhambatnya karya karena ketiadaan bahan baku atau pesanan. Kondisi saat ini memang tidak mudah, justru dalam situasi seperti ini setiap pengikut Yesus dan gereja-Nya harusnya mampu untuk menghasilkan transformasi hidup. Mari terus menjalin relasi atas dasar kasih yang mengubahkan agar hidup yang Tuhan percayakan menjadi ibadah yang sejati dan persembahan yang hidup di hadapan-Nya.