YESUS, RAJA YANG SEJATI

“Andai ku jadi radja, mau apa tinggal minta
Tunjuk sini tunjuk sana dengan sedikit kata
Andai ku jadi radja, punya uang, punya harta
Dan yang pasti aku juga akan punya kuasa
Andai aku jadi radja, ku diangkat dielukan
Dikelilingi bawahan dan orang-orang suruhan
Nikmatnya jadi radja, dengan menjentikkan jari
Dan lambaian tangan maka terpuaskan nafsuku”

Lirik di atas merupakan penggalan dari lagu berjudul “Radja” yang dipopulerkan oleh Band/rif. Dalam lagu tersebut, seorang raja digambarkan memiliki kehidupan yang berlimpah kekuasaan dan kemewahan. Itulah sebabnya, banyak orang bermimpi menjadi seorang raja. Kehidupan yang serba mudah, siapa yang tidak mau?

Meskipun gambaran populer tentang seorang raja adalah seperti yang digambarkan dalam lirik lagu di atas, Kristus menghadirkan diri-Nya sebagai Raja yang sungguh-sungguh berbeda. Sejak lahir, Ia tidak dikelilingi oleh kemewahan dan kekuasaan. Sebaliknya, Ia lahir dalam situasi yang amat penuh dengan kesederhanaan. Pun ketika Kristus menjalani karya-Nya di tengah-tengah dunia, Ia hadir sebagai seseorang dari kalangan biasa. Ia tidak dikelilingi para pengawal, melainkan para murid. Ia tidak berada di istana nan megah, tetapi berjalan berkeliling di antara orang-orang yang sakit dan membutuhkan pertolongan. Kristus bukanlah Raja yang menuntut untuk dilayani. Sebaliknya, dalam seluruh keberadaan diri-Nya, Ia hadir untuk melayani, bahkan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Adakah ke-Raja-an Kristus itu sungguh kita hayati? Ataukah selama ini, ke-Raja-an Kristus masih kita pahami secara sempit? Dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah diri kita sendirilah yang sebenarnya sedang menjadi “raja-raja kecil”; kita marah ketika keinginan kita tidak terkabul, kita ingin orang lain selalu menuruti apa yang kita inginkan, kita mengambil pilihan-pilihan kita sendiri tanpa terbuka pada tuntunan Tuhan? Seseorang bisa saja mengakui Kristus sebagai Raja. Namun, tanpa kesediaan untuk sungguh-sungguh belajar menundukkan diri pada kehendak-Nya, kita sebenarnya belum benar-benar mengakui Dia sebagai Raja, Sang Penguasa kehidupan kita. Mari kita memeriksa diri kita dan menyerahkan hidup kita pada tuntunan Yesus, Raja kita yang sejati.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez