Pilihan: Tegar Atau Goyah?

Belakangan ini krisis makin sering menghantam kita. Bahkan, krisis meluas ke seluruh dunia. Sifatnya pun multi dimensional. Ada krisis gara-gara pandemi Covid-19. Kini, krisisnya makin ruwet gara-gara perang Rusia-Ukraina. Ada krisis parah dalam bidang ekonomi. Puluhan negara terancam bangkrut. Negara super power seperti Amerika Serikat dan Inggris pun kepayahan. Muncul juga krisis energi. Harga minyak bumi menjulang tinggi. Harga pangan meroket. Rakyat jelata makin tercekik. Dan, jangan lupa, masih ada satu krisis lain yang mengerikan yaitu krisis ekologi. Bila krisis-krisis ini tidak ditangani dengan serius, umat manusia sedang menciptakan kiamat bagi dirinya sendiri.

Secara sosial, setiap krisis berpotensi menciptakan kerusuhan dan konflik. Maklum, setiap orang punya kecenderungan mengamankan diri dan kelompoknya. Secara personal, krisis-krisis ini menggoyahkan rasa percaya diri. Muncul frustrasi dan keputusasaan dimana-mana. Iman pun ikut-ikutan krisis. Terjadilah apa yang oleh Thomas Merton disebut: kelumpuhan spiritualitas.

Sesungguhnya, sejak lahir manusia sudah intim dengan krisis. Bukankah saat lahir, sang bayi selalu menangis dan berteriak. Seolah Sang bayi memprotes karena kenyamanannya di perut sang bunda harus ditinggalkannya. Saat bertumbuh dewasa, manusia disadarkan bahwa hidupnya di dunia ini hanya sesaat dana terbatas. Manusia hanya tamu. Ada saatnya dia mati. Meninggalkan dunia ini. Kematian itu tak terelakkan. Kesadaran pada kematian ini menimbulkan krisis. Dari semua makhluk hidup, hanya manusia yang memiliki kesadaran pada kematiannya.

Pilihan Merespons
Kita berada dalam krisis yang mungkin paling hebat dan paling ‘complicated’ di dalam sejarah umat manusia. Konon, krisis ekonomi dunia sekarang ini melampaui krisis serupa yang pernah terjadi di tahun 1930-an. Di tengah krisis besar yang menggoyahkan umat manusia dan bangsa kita muncul pertanyaan penting. Pertanyaannya adalah ini: bagaimana kita merespons krisis-krisis tersebut? Sikap apa yang seharusnya kita miliki?

Orang bisa merespons krisis dengan ketakutan. Di hadapan multi dimensi krisis seperti ini ada kecenderungan orang merasa tidak berdaya. Merasa kecil. Frustrasi dan putus asa. Mereka seperti petinju yang tumpuan kakinya mulai goyah. Dia tidak percaya lagi dengan kemampuan dirinya. Dan, lebih celaka lagi, dia tidak lagi percaya pada kuasa dan penyertaan Tuhan.

Ada respons sebaliknya. Di saat krisis ada yang memilih untuk merespons dengan tegar. Mereka bagaikan batu karang yang teguh! Mereka menghadapi krisis dengan tiga langkah penting. Langkah pertama, memahami. Mereka berupaya mengkaji dan memahami setiap event yang terjadi. Mereka tidak emosional, tetapi selalu berpikir cerdas. Bagi mereka, krisis apa pun tidak selalu kesialan. Ketentraman tidak selalu juga menjadi berkat. Jadi, pahami dengan baik setiap event dan berupayalah mencari makna dan karya Tuhan dari peristiwa apa pun.

Langkah kedua, harapan. Orang bisa mengalami krisis dengan menyalakan api harapannya. Orang seperti ini sadar bahwa di tengah krisis selalu ada opportunity alias kesempatan. Selalu ada celah-celah peluang. Itulah sebabnya dalam setiap krisis selalu ada yang ‘buntung’, tetapi selalu ada yang ‘untung’. Yang terakhir ini adalah orang yang mampu melihat peluang di tengah krisis.

Langkah ketiga, tindakan. Orang merespons krisis bukan dalam kebingungan. Hanya diam terpaku. Krisis itu seperti seseorang yang berada di dalam rumah yang terbakar. Dia tidak boleh diam. Di tidak boleh bertindak lambat dan buang-buang waktu. Sebaliknya, orang itu harus segera bertindak. Melakukan segala hal dengan efektif dan efisien demi menyelamatkan rumah atau penghuni rumah itu.

Konon, tahun 2023 adalah tahun penuh krisis yang sifatnya global dan multi dimensional. Dalam situasi krisis ini, pilihan hanya dua. Kita merespon dalam ketakutan dan kegoyahan. Sikap ini menjadikan kita seorang ‘looser’ yang justru memperberat beban sesama di saat krisis. Kita punya pilihan lain. Kita meresponsnya secara positif dan tegar karena kita tahu Tuhan bersama kita. Pilihan ini memampukan kita memberi kontribusi bagi masa depan dan peradaban manusia.

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty


No Replies to "Pilihan: Tegar Atau Goyah?"


    Got something to say?

    Some html is OK