“UPAH” DI DALAM TUHAN

Sebelum memutuskan untuk masuk sekolah teologi, saya dulu sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan remaja di gereja. Gereja pada waktu itu bahkan bisa disebut sebagai rumah kedua bagi saya. Bersama dengan teman-teman yang lain, kami melayani di berbagai kesempatan ibadah, acara-acara gereja, maupun kepengurusan remaja.

Meskipun ada banyak kesenangan yang saya temukan, melayani di usia remaja pada waktu itu juga tidak lepas dari aneka tantangan. Terkadang saya merasa teman-teman sulit diajak bekerja sama dan kurang serius dalam melayani. Di lain waktu, saya sendirilah yang kadangkala tergoda oleh rasa malas untuk mengerjakan yang terbaik. Singkat cerita, ada begitu banyak suka dan duka yang kami alami bersama dalam kehidupan pelayanan.

Ketika masa-masa itu telah berlalu, saya menyadari betapa pengalaman-pengalaman tersebut telah membentuk saya sampai saat ini. Melalui pengalaman pelayanan kala itu, saya tidak hanya mendapat bekal terkait dinamika bergereja, tetapi juga bekal untuk menjalani kehidupan. Banyak orang mengatakan, “Kalau kita melayani, upahnya besar di sorga!” Sebelum berbicara tentang sorga, saya sudah meyakini bahwa pelayanan yang kita jalani akan selalu menghasilkan “upah” bagi kehidupan kita di dunia ini, saat ini. Apakah bentuk “upah” tersebut? Bagi saya, upah pelayanan itu adalah pembentukan diri, karakter, serta spiritualitas. Aneka kesulitan serta tantangan yang dihadapi, membuat kepribadian saya pun turut diasah. Bagaimana mengatur waktu, bagaimana mengatasi perbedaan di antara rekan, bagaimana belajar berharap di tengah keputusasaan, semua menjadi “upah” yang saya terima dari kehidupan pelayanan yang dijalani.

Dalam pola pikir untung rugi, kita seringkali menghindar dari hal-hal sulit yang kita rasa tidak memberikan keuntungan, terutama keuntungan materi. Namun, dalam banyak kesempatan, lewat hal-hal sulit yang tampak tidak menguntungkan itulah kita dibentuk dan ditumbuhkan menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak hanya dalam kehidupan bergereja, “upah” tersebut juga dapat kita peroleh melalui kesediaan melayani anggota keluarga dengan tulus, melayani tetangga yang kesulitan tanpa pamrih, dan lain sebagainya. Percayalah, bahwa setiap kebaikan yang sedang kita upayakan, akan memperoleh hasilnya, entah bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Sebagaimana sebuah ungkapan mengatakan “no act of kindness no matter how small, is ever wasted.”☺

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza