TRANSFIGURASI YESUS

Peristiwanya terjadi di sebuah gunung, ketika Yesus sedang berdoa, Ia mengalami perubahan rupa. Wajah dan jubah-Nya menjadi putih dan berkilau-kilauan. Tampak Musa dan Elia sedang berbincang-bincang dengan Yesus tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Lalu terdengarlah suara, “Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”

Peristiwa perubahan Rupa Yesus dikenal sebagai Transfigurasi Yesus, yakni pemuliaan Yesus sebagai Anak yang dipilih Allah, sekaligus peneguhan bahwa Mesias memang harus ke Yerusalem untuk mati di sana bagi keselamatan.

Petrus ingin mengabadikan peristiwa itu dengan mendirikan kemah, mungkin untuk menjadi sebuah peringatan agar bisa diingat orang banyak kala ingin memuliakan-Nya. Namun permintaan Petrus tidak dijawab oleh Yesus. Mengapa?

Orang sering membangun sebuah tempat atau monumen untuk simbol pengingat, sekaligus digunakan sebagai tempat ritual untuk memuliakan Allah. Namun lambat laun, orang lebih terpaku pada tempat, dan bukan makna ibadah yang hakiki.

Yohanes 4: 24, “Allah itu roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Kita diuji untuk menghidupi kebenaran ini. Kita diuji untuk menjumpai Tuhan, memuliakan-Nya, bukan hanya di suatu tempat atau ruangan yang terbatas.

Allah itu Roh. Ia bisa menjumpai kita di ruang-ruang yang tak terbatas. Bahkan Ia tidak membutuhkan ruang atau tempat atau kemah yang terbatas. Seluruh dunia ini adalah kemah Allah di mana Ia aktif hadir dan bekerja sampai saat ini.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto