Tetap Teguh di Tengah Hidup yang Runtuh

Pernahkah Saudara merasakan dunia Saudara seakan-akan “runtuh”? Ya, ada banyak orang mengalaminya dalam berbagai bentuk. Keruntuhan hidup tersebut mungkin dirasakan dalam situasi: kehilangan orang yang dikasihi, kehilangan pekerjaan, dikhianati oleh orang terkasih, mengalami sakit penyakit yang sulit disembuhkan, dan berbagai bentuk peristiwa hidup lainnya.

Dalam situasi-situasi tersebut, berbagai gejolak perasaan menyeruak. Ada kesedihan, kekecewaan, kemarahan, kekuatiran yang bercampur aduk menjadi satu. Tidak jarang, dalam berbagai peristiwa yang menyakitkan tersebut, seseorang kehilangan pengharapannya. Hidup seakan-akan kehilangan arti dan tidak lagi ada gunanya.

Sebagai sebuah bangsa, orang-orang Yahudi pun pernah mengalami keruntuhan hidup yang luar biasa. Peristiwa itu terjadi ketika pada tahun 70 M, pemerintah Romawi menumpas habis pemberontakan orang-orang Yahudi di Yerusalem.

Peristiwa inilah yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 21:5-6. Menurut catatan sejarah, orang yang tewas pada penundukan Roma itu berjumlah 1.100.000 orang, sedang yang menjadi tawanan berjumlah 97.000 orang. Saat itu, tembok-tembok kota dan bangunan Bait Allah yang sangat berharga pun, dihancurkan.

Orang-orang Yahudi pada waktu itu tidak hanya kehilangan sanak saudara dan kehidupan mereka. Mereka juga seakan-akan “ditinggalkan” oleh Allah yang selama ini mereka yakini ada bersama-sama dengan mereka.

Runtuhnya Bait Allah dan Yerusalem menjadi tanda bahwa tidak ada kemegahan dan kejayaan yang abadi. Bahkan sesungguhnya, selama dunia ini masih berputar, penderitaan akan terus terjadi silih berganti: bencana alam, perang, sakit penyakit, dan lain sebagainya.

Dunia ini tidak mungkin lepas dari aneka kesulitan dan tragedi. Meskipun demikian, para pengikut Kristus dari dahulu hingga sekarang, senantiasa dipanggil untuk menjalani hidup dalam iman dan keteguhan hati. Tuhan Yesus meyakinkan para pengikut-Nya, bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu, bahkan atas setiap helai rambut di kepala kita.

Di tengah berbagai penderitaan dan pergumulan, para pengikut Kristus justru diminta untuk tetap menyatakan kesaksian iman. “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu”, demikian kata Tuhan Yesus.

Kala hidup kita terasa runtuh, marilah kita datang kepada Tuhan dan mengalami penyertaan-Nya. Penyertaan Tuhan itu tidak selalu berwujud jalan keluar yang instant. Penyertaan Tuhan itu dapat berupa kekuatan untuk tetap menjalani hari demi hari dalam pengharapan dan rasa syukur, sekalipun di tengah kesulitan.

Mari jadikan pergumulan kita suatu kesempatan untuk berproses menjadi lebih kuat, lebih baik, dan lebih setia dalam menyatakan kesaksian iman kita. Tuhan memberkati.

Salam,
Pdt. Bernadeth Florenza