TERUS MENERUS DIBARUI

Hari ini selain kita merayakan Perjamuan Kudus, dalam kalender gerejawi, diperingati sebagai hari Yesus Kristus dibaptis. Oleh karena itu sekalipun tema kebaktian kita tidak bicara tentang baptisan, bacaan kita berisi tentang baptisan. Apa yang menarik dari peristiwa pembaptisan Yesus? Belajar dari kisah pembaptisan Yesus, kita melihat bahwa perendahan diri dan kemauan untuk dipimpin oleh Roh Kudus sangat kuat. Yesus yang adalah Anak Allah, bersedia dan mau dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Serta bersedia pula untuk dipimpin oleh Roh Kudus.

Demikian pula dengan peristiwa di Efesus. Ketika Rasul Paulus bertanya (“sudahkah kamu menerima Roh Kudus? Kisah Para Rasul 19 : 2a), beberapa murid itu menjawab (belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus ayat 2b). Percakapan lebih lanjut antara mereka berujung kepada keputusan dari para murid untuk dibaptis dalam nama Yesus. Dalam Baptisan, orang percaya memiliki dua dimensi dalam kehidupannya, yaitu : kehidupan pribadi bersama atau perjumpaan dengan Kristus (pengalaman personal diselamatkan dan menerima kasih Allah secara cuma-cuma atau Sola Gratia, bukan karena jasa dan kehebatannya maka dikasihi), dan kehidupan pribadi bersama dengan sesama sebagai persekutuan jemaat (bagaimana ia melakukan kehendak Allah dan berupaya untuk berkenan di hadapan-Nya).

Setelah mereka dibaptis, (ayat 5-6) ada perubahan yang terjadi, yaitu mereka bisa berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. Artinya, ketika kita memutuskan untuk MENGAKU bahwa kita percaya pada Tuhan Yesus Kristus, memberi diri dibaptis, dan ikut dalam perjanjian dengan Allah, maka kita harus bisa menghasilkan sesuatu sebagai tanda dari keputusan kita. Secara sederhana, ketika kita di baptis atau mengaku iman percaya kita, maka sebetulnya saat itu kita berkomitmen untuk hidup sebagai manusia baru. Dengan tulus dan segenap hati, kita bertekad tetap memegang pengakuan kita itu dan akan senantiasa mengikut Yesus Kristus sebagai Juruselamat dengan setia, baik di waktu suka maupun duka, baik dalam hidup maupun dalam mati. Sudah siapkah dengan konsekuensi dan resiko ketika mengambil keputusan untuk mengikut Tuhan? Karena –kita mengalami- mengikut dan percaya pada Tuhan bukan sesuatu yang enak dan menyenangkan. Ada banyak rintangan dan tantangan yang akan dan harus kita hadapi. Ada banyak hal yang Tuhan tuntut dari kita. Sudah siapkah kita?

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus