TENTANG CUITAN FERDINAND HUTAHAEAN!

Cuitan Ferdinand Hutahaean menghebohkan dunia maya. Isinya:”Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya. Dialah pembelaku selalu dan Allahku tidak perlu dibela.”. Sesungguhnya ucapan seperti ini tidak perlu dipersoalkan karena tidak jelas kepada siapa tulisan itu ditujukan. Jangan cepat ‘baper’ dengan yang berbau agama, meski juga tidak perlu kekanak-kanakan membandingkan apa yang kita yakini dengan keyakinan orang lain. Sebenarnya, dunia teologi sarat dengan wacana seperti cuitan Ferdinand itu. Apakah Allah itu lemah alias kurang kuasa atau Allah itu maha kuasa? Pergumulan ini diangkat oleh Rabbi Harold Kushner dalam bukunya “When Bad Things Happen to Good People.”

Saat anak laki-lakinya menderita sakit parah dan belum ada obat untuk menyembuhkannya, Kushner bergumul keras. Sebagai seorang rohaniawan, Kushner bertanya: bila Allah maha kuasa mengapa anaknya mengalami kondisi yang buruk? Mengapa Allah tidak gunakan kemahakuasaan-Nya untuk mengintervensi ribuan peritiwa buruk yang menyebabkan berbagai kemalangan di bumi? Di mana Allah? Apakah Allah lemah dan kurang kuasa sehingga tidak dapat mencegah munculnya tragedi?

Dalam bukunya Kushner mengungkapkan sesuatu yang menarik. Konsepsi bahwa Allah itu maha kuasa memiliki kelemahan. Dalam konsepsi ini dipercaya bahwa Allah mengontrol dan mengatur segala sesuatu di dunia ini. Segala kebaikan dan kemalangan sudah diatur. Deterministik! Efeknya? Pertama, manusia tidak perlu berupaya karena ‘takdirnya’ sudah ditentukan. Seorang akan berhasil atau gagal sudah ada takdirnya. Kedua, konsepsi bahwa Allah maha kuasa menegaskan bahwa peristiwa yang baik dan yang memilukan, misalnya gunung meletus, banjir bandang, dan bahkan pemboman teroris pun diatur oleh Allah. Akibatnya, meski Allah maha kuasa, tetapi Allah kurang kasih. Konsepsi Allah maha kuasa menjebak orang pada anggapan Allah itu kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Menurut Kushner, segala kemalangan yang manusia alami menyulitkannya mempertahankan konsepsi Allah maha kuasa. Memang, ada yang mempertahankan konsepsi ‘Allah maha kuasa’, tetapi dengan catatan. Meski maha kuasa, Allah pasif dan apatis. Allah biarkan dunia berjalan sesukanya. Tanpa kontrol. Konsepsi Allah pasif punya kelemahan. Tidak ada gunanya beriman kepada Allah. Mau berdoa ribuan atau jutaan kali pun Allah akan pasif dan apatis. Tidak berperasaan! Kesimpulan bahwa Allah apatis dan pasif cukup ‘soft’ dibandingkan dengan kesimpulan Nietsche: Allah itu mati!

Kushner tiba pada kesimpulan bahwa sesungguhnya yang harus kita pegang bukan lagi konsepsi Allah maha kuasa, tetapi Allah maha kasih. Tentu saja konsepsi ini bukan tanpa kelemahan. Allah maha kuasa menjadi kurang kasih, tetapi Allah maha kasih menjadi kurang kuasa. Allah maha kasih artinya Allah tidak mengintervensi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Hal ini bukan berarti Allah itu pasif dan apatis. Mengatakan Allah itu kasih berarti percaya bahwa Allah bekerja dengan cara-Nya untuk mendatangkan kebaikan bagi siapa pun. Allah menghadirkan kebaikan bagi korban tragedi bencana alam maupun bencana karena ulah manusia. Meski Allah tidak mengintevensi segala hal, tetapi tidak dalam semua hal Allah diam!

Ada pergumulan teologis serupa yang diungkapkan oleh Elie Wiesel dalam buku “Night.” Dalam bukunya, Wiesel menceritakan pengalamannya di Auschwitz, kamp konsentrasi penyiksaan Nazi: “Para tentara Nazi menggantung tiga orang Yahudi, dua orang pria dewasa dan seorang pemuda di depan seluruh tawanan dalam kamp. Kedua pria tersebut mati dengan cepat, namun pemuda tersebut bergumul dengan kematian selama setengah jam. “Di manakah Allah? Di manakah Ia?” Seseorang di belakang saya bertanya. Ketika pemuda tersebut masih tergantung dan tersiksa dijerat tali untuk waktu yang lama, saya mendengar seseorang yang lain berteriak, “Di manakah Allah sekarang?” Dan saya mendengar suara di dalam batinku menjawab, “Ia ada di sini. Ia sedang tergantung di tiang gantungan itu.”

Wiesel tiba pada kesimpulan yang paradoks. Ia tidak lagi berharap pada Allah yang maha kuasa, tetapi Wiesel juga tidak ingin kehilangan imannya pada Allah. Ia berupaya memahami cara Allah bekerja di tengah tragedi. Jawaban batinnya adalah Allah hadir di tengah penderitaan manusia, dan Allah bahkan turut menderita. Salah satu penafsiran tulisan Wiesel mengatakan begini. Bagi Wiesel, Allah mengungkapkan diri sebagai Allah yang lemah. Bukan Allah yang maha kuasa. Memang, Allah tidak mengintervensi tragedi, tetapi Allah pun tidak berdiam diri. Allah hadir dan menderita bersama dengan orang Yahudi atau siapa pun yang menderita. Penderitaan sesama adalah juga penderitaan Allah.

Penafsir lain dari tulisan Wiesel menambahkan pesan moral etis. Kehadiran Allah yang turut menderita bersama yang menderita sesungguhnya merupakan sindiran terhadap umat beragama. Empati dan partisipasi Allah dalam penderitaan para korban seharusnya menjadi inspirasi dan dorongan moral-etis bagi umat beragama manapun. Seharusnya umat beragama turut aktif memerotes dan membela siapa pun yang menderita karena penderitaan sesama adalah juga penderitaan Allah.

Pergumulan teologis tentang apakah Allah maha kuasa atau Allah maha kasih akan terus terjadi di selama umat manusia ada. Dan pergumulan seperti itu selalu berada dalam konteks pergumulan eksistensial yang dihadapi manusia. Aspek ini yang membuat agama memiliki daya pikat sekaligus menimbulkan ketegangan. Ngeri-ngeri sedap! Butuh kerendahan hati dan keterbukaan untuk membiarkan proses pergulatan itu terjadi secara rasional, dinamis dan kreatif.

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty