SIAPAKAH YANG DISEBUT MURID?

Bagaimana belajar untuk ikhlas? Sekalipun banyak tips, saran, nasihat dan berbagai cara yang kita pelajari, tetapi untuk ikhlas dalam arti berani melepaskan sesuatu yang membuat kita merasa nyaman dan tentram, itu bukan perkara mudah.

Sebagai contoh, istri Lot menjadi contoh orang yang gagal melakukannya. Ia menjadi tiang garam, karena berat hati dengan semua yang pernah diperjuangkan dan diraihnya, sehingga ia menoleh ke belakang.

Mungkin Abraham dapat menjadi contoh yang baik. Ia “tulus” meninggalkan kemapanan dan hidup tentram bersama keluarga besarnya untuk pergi ke tempat yang sama sekali tidak ia ketahui.

Yesus berkata, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Ia mengaitkan antara tindakan melepaskan dengan menjadi murid-Nya. Orang harus memilih mana yang lebih prioritas: segala milik yang membuatnya merasa nyaman atau menjadi murid-Nya.

Tentang berani melepaskan, kita teringat dengan perkataan Tuhan, “… lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Matius 19:24) Lobang jarum yang dimaksud adalah pintu kecil yang terdapat di pintu gerbang, yang bisa orang melewatinya bila ia mau membungkuk. Dan seekor unta bisa melewatinya ketika segala bawaan yang ada di punggungnya harus diturunkan terlebih dahulu.

Segala milik itu bisa membelenggu, mengacaukan pikiran, bahkan sangat mungkin mengalihkan fokus orang dari hal yang paling utama, sehingga menggagalkan orang menjadi murid-Nya. Sebab yang dituntut untuk menjadi murid, bukan hanya yang mau diajar dan belajar, tetapi terutama yang mau menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus ke mana pun Ia pergi dan melakukan apa yang ia mau!

Berani melepaskan adalah harga yang harus kita bayar agar kita benar-benar bisa setia dan taat untuk menjadi murid-Nya.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto