Siap Untuk Ditolak

Yesus datang ke tempat Ia dibesarkan, yaitu Nazareth. Ke mana pun Ia pergi, para murid-Nya selalu ada bersama-Nya, mengikuti-Nya. Yang menarik adalah setiap datang di suatu tempat, Yesus berbicara kepada banyak orang. Tetapi beda halnya dengan daerah Nazareth. Di sini, Yesus tidak mengajar di depan umum, melainkan hanya mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat.

Ketika Yesus berbicara, sebagian besar yang hadir di tempat ibadah merasa takjub mendengar ajaran-Nya. Mereka merasa heran karena Yesus tidak berpendidikan formal, lagi pula hanya seorang tukang kayu biasa. Lalu mereka berkata, “Bagaimana Ia dapat berbicara dengan penuh hikmat dan melakukan mujizat?” Setelah orang-orang tahu siapa Dia, mereka kecewa dan menolak-Nya. Di sini terlihat bagaimana penilaian masyarakat Nazareth terhadap Yesus.

Tidak hanya kecewa, mereka juga merendahkan martabat Yesus dan keluarga-Nya dengan cara yang sinis, “Kami tahu keluarganya seperti apa”. Lalu Yesus menegaskan, bahwa sulit rasanya seorang nabi yang benar diterima di tempat asalnya, bahkan dalam keluarganya sendiri. Sekalipun demikian, Yesus masih menunjukkan kasih-Nya dengan menyembuhkan beberapa orang sakit di sana. Ia juga mengingatkan kepada para murid-Nya, “Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” (Markus 6:11)

Setiap orang percaya mendapat panggilan yang sama, yakni mempersaksikan Kristus melalui hidupnya. Namun kita juga diingatkan, bahwa siapapun Anda, haruslah siap untuk ditolak, mungkin oleh orang-orang terdekat. Tidak perlu merasa kecewa, sebab tugas panggilan dari Tuhan itu tetap, tidak pernah berubah. Maka lakukan tugas panggilan itu dengan baik, dengan tetap menjaga kehidupan Anda dengan baik. Berita keselamatan harus terus disebar kapan pun dan di mana pun Anda berada.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto