SEPERTI AKU TELAH MENGASIHI KAMU

Menghayati “kasih” tidak akan pernah ada habisnya. Hampir setiap saat, kita selalu diingatkan untuk mewujudkan kasih dalam kehidupan kita sehari-hari. Di saat yang sama, mengasihi tidaklah selalu mudah. Ada berbagai situasi yang acapkali membuat tindakan kasih menjadi begitu menantang. Apalagi jika kita merasa tindakan kasih yang kita lakukan tidak direspons dengan baik oleh orang lain. Rasa-rasanya kasih menjadi hal yang terlampau ideal untuk dilakukan.

Dalam peristiwa perjamuan malam sebelum Ia menderita salib (atau yang dalam Bahasa Yohanes disebut “dimuliakan”), Tuhan Yesus menetapkan sebuah dasar bagi kehidupan komunitas para murid. Yohanes 13 : 34 menuliskan,”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Benarkah perintah untuk mengasihi adalah sebuah perintah yang baru bagi para murid? Tampaknya tidak. Misalnya, dalam kitab Imamat 19 : 18 telah disebutkan, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.” Ajakan untuk mengasihi bukanlah hal yang baru bagi para murid, termasuk bagi orang-orang Yahudi lainnya.

Lantas, apa yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai perintah baru? Barunya perintah kasih ini tampaknya ada pada bagian belakang kalimat yang Ia ucapkan: sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Sekarang para murid punya dasar yang baru untuk mengasihi, yaitu Kristus. Kristus telah menunjukkan kepada mereka tentang kasih lewat hidup-Nya sendiri, lewat totalitas-Nya mengampuni dan mendamaikan, lewat kehadiran-Nya yang menyapa, meneguhkan, dan menopang. Tuhan Yesus tidak hanya mengajarkan kasih, Ia sendiri melakoninya. Dalam hidup-Nya, Ia mengalami begitu banyak penolakan, pengkhianatan, juga penderitaan. Namun dalam semuanya itu, Kristus tidak pernah berhenti mengasihi. Bahkan dalam Injil Yohanes, saat Ia tahu Yudas akan menjualnya, Tuhan tetap membasuh kaki murid-Nya itu dan memberikannya roti perjamuan.

Lewat pengalaman-pengalaman bersama Kristus, para murid telah mengalami secara otentik kasih Allah yang tidak terbatas. Kasih itu bukan lagi sekadar teori, tetapi telah menjadi rahmat yang benar-benar hadir dan menyapa mereka di tengah berbagai keterbatasan. Maka untuk selanjutnya, para murid pun diajak untuk terus meresapi kasih Ilahi itu serta mengalirkannya dalam hidup sesama.

Hanya orang yang menyadari bahwa dirinya dikasihi, yang dapat membagi kasih itu kepada orang lain. Demikianlah Allah di dalam Kristus, telah menyatakan betapa kita semua telah Ia kasihi dengan begitu total. Maka, biarlah kasih Kristus yang senantiasa mengalir kepada kita, memampukan kita juga untuk dapat terus mengasihi sesama, bahkan di tengah situasi sulit sekalipun. Tuhan memberkati.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez