SAKRAMEN BAPTISAN ANAK

Dalam Ibadah Minggu, 10 April 2022, di GKI Maulana Yusuf, dilaksanakan sakramen baptis anak. Sebagaimana perintah Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20a, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”; baptisan anak menjadi tanda dan materai dari perjanjian Allah dan umat-Nya yang melingkupi juga anak-anak. Anak-anak memang belum memiliki pengetahuan iman layaknya seorang dewasa, tetapi keberadaan mereka merupakan bagian yang utuh dan tidak terpisahkan dari persekutuan Tubuh Kristus. Di dalam persekutuan tersebut, anak-anak diharapkan dapat bertumbuh dan berkembang dalam pengenalan mereka akan Allah Trinitas, sehingga suatu saat mereka sendiri dapat mengakui iman percayanya di hadapan Tuhan dan jemaat.

Bagi para orang tua, mengantar anak-anak mereka untuk menerima Sakramen Baptis Anak merupakan hal yang sangat penting. Namun, momen tersebut bukanlah akhir dari peran para orang tua. Sebaliknya, setelah para orang tua mengantar anak-anak mereka menerima Sakramen Baptisan, para orang tua tetaplah bertanggungjawab untuk membimbing dan menjadi teladan iman bagi anak-anak mereka. Bersama dengan gereja, para orang tua perlu untuk terus memperkenalkan Kristus dalam kehidupan anak-anak; bukan hanya melalui cerita-cerita Alkitab, renungan, tetapi juga lewat situasi hidup sehari-hari yang dapat dirasakan langsung oleh anak-anak. Lewat bagaimana kita berusaha memahami mereka, mendengarkan perasaan mereka, menegur sekaligus mengampuni kenakalan-kenakalan mereka; lewat relasi sehari-hari itulah, kita sebetulnya juga tengah memperkenalkan Kristus kepada anak-anak kita. Dunia seringkali menjadi tempat yang penuh dengan penghakiman dan kebencian; maka lewat kita, anak-anak perlu mengalami cinta kasih dan penerimaan. Saat mereka sungguh-sungguh mengalami cinta dan penerimaan, saat itu pulalah anak-anak kita bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kuat dalam menghadapi dunia di sekitar mereka, bahkan mampu menjadi saluran berkat bagi sesamanya.

Membimbing anak-anak memang bukanlah peran yang mudah. Para orang tua, termasuk gereja, sesungguhnya bergantung penuh pada bimbingan, hikmat, serta kasih Tuhan sendiri. Untuk itu, menjadi orang tua dan gereja yang mau untuk terus belajar, membuka diri pada situasi zaman, adalah juga kunci bagi pendampingan yang sehat untuk anak-anak kita. Perintah Kristus bukan hanya untuk membaptis, tetapi juga untuk menjadikan setiap orang murid Kristus yang mau melakukan ajaran-Nya di tengah-tengah dunia. Mari kita menjalani peran kita, dalam keberserahan pada Allah, sang Empunya kehidupan.

Anakmu bukanlah milikmu.
Mereka adalah putra putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau.
Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu.
Sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya.
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasa-Nya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantap.

(terjemahan bebas dari puisi Kahlil Gibran)

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez