Retreat, Reflect, React

Memasuki bulan kedua masa karantina, banyak orang mulai dilanda kebosanan luar biasa. Segala sesuatu sudah dilakukan dan dikerjakan. Tidak ada lagi kesibukan seperti sebelumnya. Pandemi Covid-19 benar-benar mengubah banyak hal, tidak terkecuali kebiasaan dan rutinitas manusia. Mereka yang terbiasa sibuk, tergesa-gesa dan dikejar
waktu kini tidak lagi merasakan hal itu karena semua bisa dikerjakan dari rumah. Mereka yang terbiasa menghabiskan waktu di jalan, kini tidak perlu lagi berdesakan dan berlomba dengan kemacetan dan hiruk pikuk kendaraan. Kesibukan, baik yang menghasilkan uang atau untuk mengubah dunia atau hanya untuk sekedar melakukan apa yang juga dilakukan orang lain, telah menjadi sebuah obsesi. Kita merasa wajib bekerja keras, kita ingin supaya orang lain tahu bahwa kita sibuk dan jika nyatanya kita tidak bekerja keras dan sibuk, ada semacam perasaan bersalah dan tidak berguna.

Selama Yesus berkarya di dunia, Ia adalah orang yang sangat sibuk. Begitu banyak orang mengukuti-Nya, saling berdesakan, dan mendekati-Nya berharap Yesus melakukan sesuatu bagi mereka. Yesus dan para murid bahkan tidak punya waktu untuk istirahat, makan atau menghindar dari orang banyak itu. Mereka berusaha pergi ke tempat sunyi atau menyeberang danau, tetapi tetap saja orang banyak selalu mendahului mereka. Dan Yesus, karena tergerak oleh belas kasihan, melayani dan meladeni orang banyak itu. Namun, dalam beberapa bagian cerita pelayanan-Nya, Yesus selalu menyempatkan diri untuk pergi berdoa. Salah satu tempat yang disebutkan dalam Injil adalah “padang gurun”. Dalam bahasa Yunani, kata heremon dipakai untuk menjelaskan arti padang gurun, yaitu
tempat sunyi atau sepi, sebuah tempat tenang. Di sanalah Yesus berada dan berdoa. Yesus melakukan retreat, menarik diri dari kesibukan untuk menyatu dengan Allah, melihat apa yang telah dikerjakan dan menyiapkan diri untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Yesus berefleksi, mencari kehendak Bapa dan berkomunikasi dengan-Nya. Sehingga Yesus siap melanjutkan karya-Nya.

Salah satu doa yang Yesus panjatkan adalah doa untuk murid-murid-Nya seperti yang tertulis dalam Yohanes 17. Yesus tahu bahwa waktunya sudah tiba untuk Dia dimuliakan dengan jalan salib. Yesus tahu jalan salib adalah jalan penderitaan tetapi sekaligus jalan mulia. Kesatuan-Nya dengan Bapa-Nya menjadi kunci bagi Yesus untuk menang atas jalan penderitaan dan dimuliakan melalui jalan penderitaan itu. Dalam kebisingan di dunia sekarang ini, kita membutuhkan keheningan. Keheningan yang menghentikan arus pikiran, bayangan dan perasaan-perasaa untuk berefleksi, mengenali diri sendiri dan mencari Allah, menyatu dengan Allah. Latihlah diri untuk rutin melakukan retreat, reflact dan react agar karya Allah mampu dinyatakan melalui hidup kita.

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus