REFLEKSI HUT GKI MY: JANGAN MAU JADI KATAK BODOH!

Masukkan seekor katak dalam panci yang sudah terisi air dingin. Katak akan diam di situ menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Letakkan panci itu di atas kompor yang menyala. Suhu air dalam panci itu akan menjadi hangat. Perhatikan, katak akan tetap di situ. Ia menyesuaikan dirinya dengan temperatur yang menghangat. Herannya, ketika air itu memanas dan bahkan mendidih, katak tetap diam. Dia tidak mengambil tindakan apa pun
sampai dia mati dalam kesia-siaan.

Kisah tentang katak bodoh ini sering digunakan untuk menggambarkan adanya perubahan dalam kehidupan di tengah bangsa dan dunia ini. Ya, dunia terus-menerus berubah. Perubahan itu bisa menyenangkan, bisa juga membahayakan keselamatan kita. Sering perubahan datang secara mendadak. Ada momen keterkejutan dengan berbagai konsekwensi yang ditimbulkannya. Pandemi Covid-19 adalah contohnya. Tidak seorang pun yang menduga pandemi ini akan menyerang umat manusia dan memberikan krisis global yang dahsyat. Oleh karena itu, ilusi menganggap dunia ini statis. Berhentilah mengaanggap dunia tidak mengalami perubahan apa pun.

Nah, perubahan terus-menerus yang terjadi di tengah dunia ini menuntut respons yang tepat, baik dan benar. Untuk itu, kita harus memiliki paling sedikit empat aspek. Pertama, kecerdasan dalam merespons perubahan. Kita tidak bisa lagi disiapkan hanya untuk ‘menyesuaikan’ diri dengan situasi yang sudah ada. Seolah tidak ada perubahan apa pun. Tanggungjawab kita adalah mempersiapkan setiap orang untuk menghadapi momen-momen kejutan. Kedua, perlunya kemampuan bersikap kreatif dan transformatif. Tidak cukup mempersiapkan diri untuk mampu beradaptasi dengan perubahan. Kita harus mempersiapkan diri untuk ikut mengarahkan perubahan yang ada. ketiga, butuh kemampuan untuk tetap kokoh dan kuat dalam segala situasi. Harus menjadi manusia yang ‘bandel’ yang tetap kokoh meski diterjang badai. Keempat, kita harus mampu bersinergi dengan siapa pun. Perubahan sering menciptakan persoalan dan tantangan yang baru dan berat. Kita tidak akan dapat menyelesaikan tantangan itu dengan kemampuan kita sendiri. Kita butuh bersinergi demi kebaikan bersama.

Di tengah berbagai perubahan drastis, terutama oleh dampak pandemi Covid-19, kita bisa tergoda untuk bersikap diam. Cuek bebek! Kita bisa berpura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kita pun bisa merespons dengan segera melompat ke luar menyelamatkan diri kita sendiri. Respons lain, kita berpikir dan bertindak kreatif untuk memengaruhi perubahan agar menghasilkan sesuatu yang positif bagi kebaikan semua.

Kesalahan terbesar banyak orang adalah mengambil sikap seperti katak. Hanya diam! Tidak bertindak apa pun, lalu mati sia-sia dalam kebodohannya. Gereja pun bisa seperti itu. Efeknya? Meski gereja ada, tetapi kehadirannya tidak lagi relevan bagi umat dan bagi masyarakat. Lalu mati suri!

Kita tidak ingin jemaat GKI Maulana Yusuf mati suri. Menjadi irrelevant! Kita harus menjadi jemaat yang merespons segala sesuatu dengan kreatif dan transformatif. Kita sendiri harus berani membuka diri untuk berubah. Berani berinovasi! Ini satu-satunya jalan agar kehadiran dan pelayanan kita menjadi lebih baik, lebih relevant, dan lebih menjadi berkat siapa pun, demi kemuliaan-Nya!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty