PLURALISME SEBAGAI RESPONS TERHADAP PLURALITAS BANGSA

Bangsa kita adalah bangsa yang plural baik dari segi agama, etnik dan budaya. Pluralitas ini harus direspons dengan kritis tetapi positif. Salah satu respons terhadap pluralitas bangsa adalah pluralisme. Persoalannya, sering orang memiliki prasangka yang salah terhadap pluralisme. Sebagian beranggapan pluralisme itu menyamakan agama. Anggapan ini salah besar karena kecenderungan menyamakan agama itu disebut relativisme. Ada juga yang menganggap pluralisme itu mencampur-baurkan agama. Ini pun salah karena kecenderungan menyampur-baurkan agama itu disebut sinkretisme. Lalu apa makna pluralisme dan apa bedanya dengan pluralitas? Tulisan ini akan menelisik soal pluralisme dan pluralitas. Tujuannya agar kita memiliki pandangan yang lebih “obyektif’ tentang pluralisme sebagai respons positif yang dibutuhkan bangsa majemuk ini. Tanpa respons yang tepat dan positif terhadap realitas kemajemukan, bangsa ini akan hancur lebur oleh permusuhan dan kebencian yang mengakibatkan konflik, persekusi dan saling membunuh di antara kita sendiri.

Pluralitas & Pluralisme
Ada beda antara pluralitas dan pluralisme. Pluralitas menunjuk pada realitas kemajemukan. Ada pluralitas dalam masyarakat artinya ada keanekaragaman ideologi politik, budaya, etnik dan terutama agama. Ada enam agama yang ’diakui’ di Indonesia. Meskipun demikian ada ratusan agama lokal di Indonesia. Semuanya hidup dan berinteraksi dalam wadah yang bernama Indonesia. Di dalam kekristenan sendiri ada pluralitas internal. Ada banyak organisasi gereja, teologi, budaya, dan sebagainya. Lalu apa makna pluralisme? Pluralisme adalah respons positif terhadap pluralitas dan kepelbagaian yang ada. Adakah respons negatif terhadap pluralitas? Ada! Kita tahu bahwa sikap fundamentalisme, eksklusifisme, dan radikalisme agama adalah respons negatif terhadap pluralitas. Sikap negatif ini yang menciptakan konflik dan peperangan antar umat beragama.

Pluralisme menunjuk pada pentingnya inisiatif positif dan konstruktif dalam membangun relasi dengan mereka yang berbeda. Caranya melalui dialog yang setara dan saling menghormati perbedaan dan keunikan. Kaum pluralis pun berinisiatif mengadakan dialog. Memang, dialog itu penting agar kita saling memahami kesamaan dan perbedaan, serta untuk membangun solidaritas. Jadi tujuan dialog itu untuk menjalin komunikasi yang positif dan konstruktif dengan siapa pun berbeda etnik, gereja atau bahkan agama. Dialog dilakukan dalam spirit persaudaraan, kerendahan hati, kesediaan saling mendengar dan saling belajar. Dialog itu sendiri bukan tujuan, tetapi sarana untuk mencapai tujuan yaitu terciptanya perdamaian, keadilan dan kebaikan bagi semua. Itulah sebabnya, pluralisme mendorong umat dan masyarakat untuk belajar saling mendengar dengan positif dan bahkan saling bekerja sama demi terciptanya kebaikan bersama.

Visi kaum pluralisme adalah tercapainya kebaikan bersama dimana setiap orang dan setiap kelompok bisa saling menghargai keunikan masing-masing. Kita memang berbeda, tetapi berbeda tidak berarti harus saling menghujat dan menjelek-jelekan. Perbedaan tidak harus direspons dengan saling mendiskriminasi dan saling mengkafir-kafirkan. Berbeda bisa direspons dengan saling menghargai perbedaan itu. Perbedaan adalah suatu keniscayaan. Tidak ada satu pun yang sama. Anak kembar pun berbeda. Kita memang berbeda dan kita harus bisa hidup berdampingan dalam relasi dan kerjasama yang didasarkan pada semangat kesetaraan, kebebasan dan perdamaian.

Dasar Teologis
Paling sedikit ada dua hal yang menjadi dasar teologis terhadap pluralisme. Pertama, sikap Yesus yang menghormati dan mengasihi semua orang, termasuk terhadap mereka yang berbeda denganNya. Saat orang Yahudi membenci dan merendahkan orang Samaria karena perbedaan etnik dan agama, Yesus justru menghormati orang Samaria. Yesus mengajarkan kita untuk melihat mereka yang berbeda dalam semangat kesetaraan dan cinta kasih. Simak kisah di Alkitab, Yesus menolong siapa pun tanpa memandang suku atau agamanya. Yesus menyembuhkan hamba dari perwira Kapernaum (Matius 8:5-13) dan perempuan ’asing’ dari Siro-Fenisia (Markus 7:24-30). Ketika orang cenderung membangun tembok-tembok berdasarkan perbedaan agama, suku bangsa dan status sosial, Yesus justru menaruh rasa hormat dan melayani siapa pun. Yesus tahu bahwa manusia memang berbeda, tetapi semua manusia adalah anak-anak Allah yang dikasihi-Nya. Semua manusia adalah sasaran cinta-Nya. Jadi, berhentilah membenci sesama hanya karena mereka berbeda. Berhenti juga menjelek-jelekkan apa yang diyakini sesama karena keyakinan adalah hak azasi yang harus dihormati oleh kita semua.

Kedua, pengalaman Petrus. Tadinya Petrus berpandangan sempit dan cenderung eksklusif. Ia suka mendiskriminasi orang yang berbeda agama dan etnik dengannya. Bahkan, seperti kaum radikalis dan ekstremis agama lainnya, Petrus memandang Kornelius dalam dikotomi ’kami’ versus ’mereka.’ Kornelius bukan bagian dari ’kami’ tetapi bagian dari ’mereka.’ Relasinya antagonis penuh kebencian dan mudah disulut konflik. Sikap seperti Petrus ini yang berpotensi menjadi teroris. Nah, Lukas menuturkan bahwa Petrus mengalami suatu penglihatan yang mengubah total hidup dan pandangannya. Petrus disodori makanan. Tuhan menyuruhnya untuk memakannya. Petrus menolak karena menganggap makanan itu haram. Tuhan pun merepons. Responsnya kira-kira begini:” apa yang tidak Aku haramkan, jangan engkau haramkan.” Saat itu juga Petrus menghubungkan kata-kata Yesus itu dengan penolakannya untuk menjumpai Kornelius yang dianggapnya kafir alias ‘haram.’ Petrus pun tiba pada satu kesimpulan penting yang menunjukkan pertobatan sikapnya. Petrus berkata ”sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang” (Kis. 10:34). Dikotomi ’kami’ versus ’mereka’ berganti menjadi ‘kita’ karena Allah cinta semua. Petrus dibebaskan dari kebencian dan rasa permusuhan terhadap mereka yang berbeda. Petrus pun menjumpai Kornelius. Bukan lagi dalam kebencian, tetapi dalam cinta dan persaudaraan.

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty