PENTAKOSTA

Kata Pentakosta berarti yang ke-lima puluh (dari kata penta). Dalam Perjanjian Lama, Pentakosta merupakan
perayaan umat Yahudi atas hasil panen, yang dirayakan lima puluh hari setelah permulaan panen, dihitung dari
permulaan Paskah. Oleh sebab itu, Hari Raya Pentakosta bagi umat Yahudi sama halnya dengan Hari Raya Menuai
atau Hari Raya Tujuh Minggu. Hari Raya Pentakosta juga merupakan hari bersukaria di mana umat memberikan
persembahan sukarela dari hasil tuaian untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Besarnya sesuai dengan berkat yang telah Tuhan berikan menurut penghayatan iman mereka. Memberikan persembahan merupakan perintah Tuhan sendiri. (Imamat 23:15,16; Ulangan 16:10). Tuhan memerintahkan mereka (keluarga, semua hamba, bahkan orang asing yang ada di tengah-tengah mereka) untuk bersukaria. Semua orang haruslah bersukaria bersama dan mengingat bahwa Tuhan tidak hanya memberikan tuaian, tetapi juga memelihara umat-Nya dengan penuh kasih dan melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir (Ulangan 16:12).

Bagi umat Kristen, Pentakosta merupakan hari raya gerejawi yang diperingati dan dirayakan lima puluh hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Ada dua hal penting yang terjadi pada hari Pentakosta menurut versi Perjanjian Baru, yaitu : peristiwa turunnya Roh Kudus, sebagaimana yang Tuhan Yesus janjikan dan peristiwa berdirinya Gereja yang mula-mula. Bagi Gereja saat ini, Pentakosta merupakan salah satu hari raya gerejawi, yang memiliki arti dari semua unsur tersebut di atas, yaitu: Pentakosta memperingati peristiwa turunnya Roh Kudus sekali untuk selamanya. Pentakosta memperingati terbentuknya gereja mula-mula. Bagi kita di Indonesia, Pentakosta juga diperingati sebagai hari Oikumene Indonesia, yang ditandai dengan berdirinya Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia pada tahun 1950. Pentakosta juga merupakan perayaan penuh sukacita, sehingga setiap anggota jemaat diberi kesempatan untuk menyatakan rasa syukurnya dengan memberikan persembahan tahunan.

Tahun ini gereja-gereja merayakan Pentakosta dalam situasi dan kondisi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 memaksa gereja untuk menghayati makna Pentakosta dengan kacamata yang baru, yaitu bahwa Allah melalui Roh Kudus yang dicurahkan hadir memenuhi rumah-rumah orang percaya. Jika dahulu (dan biasanya) orang percaya berkumpul di satu tempat untuk menerima curahan Roh Kudus, kini tidak lagi seperti
itu. Kehadiran Roh Kudus tidak akan terbatasi dan tidak bisa dibatasi oleh apapun juga. Karenanya terimalah curahan Roh Kudus tersebut sebab dengan-Nya kita akan dimampukan untuk bersaksi dan mengucap syukur senantiasa.