PENGARUH RELIGIOSITAS PADA MORALITAS?

Belum lama ini Pew Research Center merilis penelitiannya yang dilakukan di 34 negara di dunia. Hasilnya 62% penduduk dunia menyatakan bahwa Tuhan, agama dan ibadah berperan penting dalam hidup mereka. Artinya tingkat religiositas penduduk dunia masih cukup tinggi. Tingkat religiositas diukur dari aktifitasnya mengunjungi rumah ibadah, mengikuti aktifitas keagamaan, berdoa, dan sebagainya. Menariknya, Indonesia berada pada peringkat teratas dalam tingkat religiositas. Semua negara Timur Tengah di bawah Indonesia, kecuali Mesir! Indonesia bahkan masih di atas negara Arab Saudi. Tingkat religiositas di Indonesia bisa kita rasakan karena hampir seluruh aspek hidup di Indonesia mau dihubungkan dengan agama. Mulai dari bahasa, budaya, busana, makanan, ekonomi dan politik. Setiap hari, kita bisa menerima banyak renungan dan khotbah yang di forward melalui berbagai media sosial.

Pertanyaan paling penting di sini adalah apakah tingginya tingkat religiositas di Indonesia memberi pengaruh signifikan pada tingginya moralitas bangsa? Jawabnya, seharusnya demikian! Tetapi kenyataannya belum seperti itu. Kita tahu bahwa meski tingkat religiositas bangsa kita sangat tinggi, tetapi tingkat korupsi dan manipulasi pun sangat tinggi. Artinya, tingkat religiositas atau aktifitas seseorang dalam dunia keagamaan kurang memberi pengaruh dalam soal korupsi. Penemuan di atas sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gouda dan Park bahwa tingginya tingkat religiositas belum tentu memberi pengaruh signifikan pada moralitas seseorang.

Realitas kesenjangan antara religiositas dan moralitas mengakibatkan tingginya tingkat religiositas seseorang belum tentu menjadikannya lebih toleran dan lebih manusiawi terhadap sesamanya. Inilah penyebab mengapa bisa muncul undang-undang, peraturan dan kebijakan politik yang justru mendiskriminasi kelompok agama tertentu. Ini juga yang menjadi penyebab mengapa anarkisme dan persekusi kelompok yang satu terhadap kelompok agama lainnya masih terjadi. Artinya, orang yang tingkat religiusnya tinggi belum tentu moralitas dan wawasan kemanusiaannya OK.

Kesimpulannya apa? Begini! Krisis akibat efek pandemi ini tidak membuat orang meninggalkan agama. Sebaliknya, di tengah krisis orang justru semakin mencari agama. Agama masih memainkan peranan penting! Tetapi jangan membuat kita bergembira. Mengapa? Karena tingginya tingkat religiositas belum tentu diikuti dengan tingginya
tingkat moralitas. Padahal yang kita butuh adalah keduanya sama-sama tinggi, baik tingkat religiusitas maupun tingkat moralitas! Oleh karena itu, fokus pemerintah, terutama kementerian agama dan kementerian pendidikan, bukan saja pada menaikkan tingkat religiositas bangsa, tetapi terutama pada mempertinggi tingkat moralitas bangsa kita. Bukan hanya pada ritual, tetapi terutama akhlaknya!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty