PENGAMPUNAN YANG MEMULIHKAN

Dimana iblis bersembunyi? Jawabnya ini! “Iblis selalu bersembunyi dalam kebencian dan dendam pada bilik hati kita. Dari tempat itu, iblis bertumbuh semakin membesar. Dan pada saat yang tepat, iblis akan menghancurkan diri kita sendiri,” demikian kata Paus Francis dalam khotbah di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Francis menambahkan, biasanya dendam dan kemarahan muncul dari persoalan yang sangat sepele. Bahkan kadang muncul dari miskomunikasi. Dari sesuatu yang tidak disengaja! Yang remeh-temeh! Tetapi kemudian dendam itu bagaikan sel kanker yang merambat kemana-mana di dalam tubuh kita. Dan mulai mendominasi nurani dan akal sehat kita.

Lebih parah lagi, bila kita menjadi budak iblis yang dengan sengaja ‘mentransfer’ dendam dan kebencian kepada sesama. Lalu, iblis pun menebar berbagai kebohongan, ujaran kebencian, dan hasutan. Persekutuan atau komunitas entah itu keluarga, gereja, atau bangsa pun mulai saling curiga, mengalami keretakan, lalu hancur baur berantakan. Ironisnya, orang saling dendam dan saling benci oleh alasan yang mereka sendiri tidak pahami. Hanya ikut-ikutan! Konflik di Ambon meledak dahsyat hanya karena satu SMS berisi kebohongan. Budaya Pela-Gandong yang merekatkan langsung mati suri. Orang terdorong oleh emosi daripada akal sehat dan nurani. Saling mencelakakan tanpa alasan!

Korban pertama dendam kesumat dan kebencian, bukan orang yang kepadanya kita menaruh rasa dendam. Sama sekali bukan! Korban pertama dendam dan kebencian itu justru diri kita sendiri. Kita hidup dalam spiritualitas yang membusuk. Tetapi, dendam itu juga menggerogoti mentalitas dan tubuh kita sendiri. Efek dendam menciptakan menciptakan stress berlebihan dan gangguan emosi. Pada saat seperti ini, konon, produksi hormon kortisol yang berlebihan akan berpengaruh kepada tubuh. Hormon kortisol yang berlebihan akan menekan hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan kesehatan seseorang terganggu. Beberapa penyakit lain akibat dipendamnya dendam dan kemarahan adalah terpicunya penuaan dini, terganggungnya sistem kekebalan tubuh yang berakibat orang itu rentan terhadap segala penyakit, dan memunculkan penyakit tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, ketika Yesus meminta kita untuk mengampuni sesama adalah karena ia ingin menyelamatkan kita dari belenggu dendam dan kebencian yang akan menghancurkan diri kita sendiri.

Memang, dendam dan kebencian menghancurkan diri kita sendiri. Lebih dari itu, dendam dan kebencian meremukkan persekutuan atau komunitas. Sebelum dendam menghancurkan kita, sebaiknya kita belajar melepaskan total dendam dan kebencian. Persoalan harus diselesaikan secepatnya selagi masih kecil. Kita harus belajar dua aspek penting. Pertama, kita harus belajar mengampuni. Iman dan spiritualitas yang kuat di dalam Tuhan Yesus Kristus, yang lebih dulu mengampuni kita, memampukan kita memberi pengampunan bagi siapa pun. Dalam proses pengampunan kedua pihak sama-sama mengalami pembebasan!

Aspek kedua, iman dan spiritualitas yang kokoh membuat kita bersifat ‘legowo.’ Mampu bersikap rendah hati untuk meminta maaf kepada siapa pun yang kita kecewakan. Meminta maaf di sini bukan tanda kekerdilan jiwa. Bukan karena mental penakut! Sebaliknya, sikap ini adalah tanda kebesaran jiwa. Orang yang berjiwa besar tetap mampu meminta maaf meskipun mungkin dia berada pada posisi yang benar. Banyak orang yang bersedia meminta maaf untuk tuduhan yang mereka tidak lakukan karena mereka ingin menjaga persahabatan dan demi utuhnya persekutuan.

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty