PENCOBAAN HIDUP

Saudaraku yang dikasihi Tuhan, …

Ketika Adam dan Hawa dicobai, mereka berada dalam kelimpahan dan kenyamanan hidup. Semua yang mereka butuhkan tersedia. Bahkan Allah senantiasa hadir menyertai mereka. Tetapi dalam keadaan yang segalanya tersedia itu, mereka tidak mampu melawan pencobaan. Akhirnya mereka jatuh ke dalam dosa. Penyesalan tidak ada gunanya, semuanya telah terjadi!

Bandingkan keadaan tersebut dengan Yesus ketika Ia dicobai. Empat puluh hari lamanya Yesus berada di padang gurun yang gersang, dalam keadaan lapar, haus dan lelah. Dalam keadaan yang demikian datanglah pencobaan kepada-Nya.

Pencobaan pertama berkenaan dengan kuasa. Iblis menantang Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Iblis tahu apa yang saat itu dibutuhkan Yesus. Dan sebetulnya, sangat mudah bagi Yesus untuk melakukannya. Tetapi Ia lebih memilih untuk tetap taat kepada Bapa. Itulah panggilan-Nya hadir ke dunia ini.

Pencobaan kedua tentang materi. Iblis menawarkan suatu keadaan yang serba berkecukupan kepada Yesus asalkan Yesus mau menyembahnya. Yesus menolak kerajaan dunia yang berlimpah harta kemewahan dan kekuasaan, karena dunia ini milik Allah, bukan milik iblis. Lagipula Yesus tahu, bahwa bahwa jalan Allah adalah melalui ketaatan kepada kehendak Allah.

Pencobaan terakhir yang diberikan iblis kepada Yesus adalah pencobaan paling bahaya, yang telah menjatuhkan Adam dan Hawa. Inilah pencobaan yang dinamakan “keangkuhan hidup”. Keangkuhan dan kesombongan adalah ibu dari segala dosa. Untuk menangkalnya, Yesus menjawab, “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Jadi, kita tidak perlu menuntut bukti dari Tuhan untuk dapat percaya. Itu sama saja dengan tidak mempercayai-Nya.

Setiap saat kita pasti akan dihadapkan pada berbagai pencobaan hidup. Untuk menang terhadapnya kita harus memahami rencana Tuhan atas hidup kita, dan memiliki kemantapan akan panggilan hidup kita di hadapan Tuhan.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto