PENANTIAN

Masa penantian adalah masa yang paling berat. Begitu beratnya, masa penantian ini sering kali mendatangkan kejenuhan dan keputusasaan. Jenuh karena yang dinanti tidak kunjung datang dan putus asa ketika semangat untuk menanti berubah menjadi kekesalan dan amarah. Itulah sebabnya tidak sedikit orang menjadi tidak sabar ketika menantikan sesuatu. Menanti atau menunggu menjadi sesuatu yang menjemukan, menjengkelkan dan membosankan ketika tidak dibarengi dengan aktivitas lain atau tidak melakukan sesuatu (pasif). Tapi lain halnya jika dalam masa menunggu dan menanti, diisi dengan melakukan sesuatu. Tidak ada perasaan bosan, jenuh apalagi kesal, perhatian akan terfokus pada kegiatan itu dan kemudian tanpa disadari waktu pun berlalu dengan cepatnya.

Sebuah penantian juga tidak akan sia-sia ketika tahu siapa atau apa yang dinantikan. Ibu yang sedang mengandung sang buah hati akan dengan sukacita menunggu selama sembilan bulan kehadiran anak tersebut. Kekasih yang menjalani hubungan jarak jauh akan dengan antusias menanti saat pertemuan itu tiba. Seorang pelajar yang telah menyelesaikan pendidikan akan dengan sabar menanti hasil ujian dan belajarnya, serta masih banyak contoh-contoh lainnya. Lalu dalam relasi bersama Allah, bagaimana penantian itu dimaknai?

Memasuki bulan Desember, banyak orang mulai menyiapkan diri untuk peristiwa Natal. Peristiwa hadirnya Tuhan Allah di masa lalu ke dunia ini sebagai manusia dalam diri Yesus Kristus. Di saat yang bersamaan, penantian yang dilakukan sesungguhnya mengandung pengharapan akan kedatangan Kristus kembali. Kapankah waktunya tiba? Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan Anak pun tidak. Dalam masa penantian ini marilah kita belajar dari sikap hidup Yohanes Pembaptis saat mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus kala itu. Yohanes Pembaptis tidak pasif, ia begitu antusias dalam pemberitaan tentang kedatangan Sang Anak Manusia itu. Ia menyerukan agar setiap orang bertobat dan memberi diri dibaptis. Bagaimana dengan Anda? Sikap seperti apa yang Anda tunjukkan dalam masa penantian itu?

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus