Pandai Mendengar Dan Berkata-Kata Yang Benar

Dalam sebuah permainan, 10 orang diminta untuk berdiri secara berbaris, lalu seseorang membisikkan sebuah narasi kepada orang pertama, agar narasi itu dilanjutkan kepada orang berikutnya, sampai kepada orang yang ke sepuluh. Dan apa yang terjadi? Seringkali narasi dari orang pertama akan berbeda ketika orang ke sepuluh menyebutkannya lagi. Apa yang terjadi?

Seringkali kita mendengar tetapi tidak menyimak dengan baik. Kita seringkali mengganti narasi dengan narasi baru, yang secara pasti maknanya akan berubah.

Herodes mengetahui tentang siapa Yesus dari banyak orang. Narasi mereka berbeda-beda tentang Yesus: Ada yang menyebut-Nya Elia; ada juga yang menyebut-Nya seorang nabi, dst. Namun Herodes punya pendapat sendiri. “Dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.” (Markus 6 : 16)

Betapa seringnya orang mendengar narasi yang tidak baik, lalu diteruskan kepada banyak orang. Ada yang mendengar suatu narasi, tetapi tidak menyimak dengan baik. Maka terjadi keresahan ketika narasi yang tidak benar itu diperdengarkan kepada banyak orang. Bila narasi kurang baik yang diperdengarkan itu mengenai seseorang, maka nama baik orang itu direndahkan. Bila diperdengarkan suatu berita yang salah dan banyak orang menerima berita tidak benar itu, maka terjadilah hoaks yang meresahkan.

Ada yang mengatakan, “manusia memiliki dua telinga dan satu mulut, maka perbanyaklah mendengar daripada berbicara.” Bisa jadi itu sebuah nasihat yang perlu kita perhatikan dengan baik. Kita harus lebih mendengarkan daripada berkata-kata. Ketika mendengar, simaklah dengan baik. Dan bila kita sungguh-sungguh memahami narasi yang kita dengar, maka sampaikanlah narasi itu secara benar. Tidak perlu bermain narasi apalagi memutarbalikkan fakta! Narasi kita akan memakan korban!

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto