PAGI YANG BARU

perasaan Saudara ketika bangun di pagi hari? Damai? Bersemangat? Atau justru cemas, kuatir, dan takut? Setiap kita mungkin pernah mengalami berbagai perasaan tersebut. Ada kalanya kita bangun dengan hati yang penuh ketenangan. Sebaliknya, mungkin ada waktu di mana kita memulai hari justru dengan perasaan kuatir atau bahkan sedih. Berbagai perasaan tersebut menunjukkan bahwa kita adalah manusia-manusia yang begitu rapuh dan rentan. Kebahagiaan yang kita rasakan acapkali “diinterupsi” oleh berbagai hal yang kita anggap sebagai masalah. Suka dan duka kehidupan menjadi dinamika yang tidak pernah berhenti hadir dalam keseharian kita sebagai manusia.

Sekalipun berbagai perasaan tersebut merupakan tanda kemanusiaan kita yang terbatas, keterbatasan kita itu senantiasa hendak direngkuh oleh kasih Allah yang tidak terbatas. Dalam Mazmur 16: 7-9, Pemazmur berkata, “Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram.” Di dalam pasang surut kehidupannya, Pemazmur mengarahkan hatinya kepada Tuhan. Setiap malam, ia melatih kepekaan batinnya. Peristiwa-peristiwa kehidupan yang ia jumpai adalah sarana baginya untuk bergumul memahami kehendak Allah. Sekalipun tidak mudah, kesediaannya untuk menjadi hening dan mendengarkan Allah, menyadarkan Pemazmur bahwa Allah selalu berada dekat dengannya. Atau, dengan kata lain, Allah selalu “mendekatinya”. Kehadiran Allah itu sanggup untuk memperbarui batinnya setiap hari dan menawarkan sukacita serta ketentraman yang sejati.

Seorang bernama Dag Hjalmar Agne Carl Hammarskjold dalam tulisannya pernah berkata, “Demikianlah dunia diciptakan setiap pagi secara baru, diampuni – di dalam Dikau, oleh Dikau.” Setiap pagi yang baru, adalah tanda kasih serta pengampunan Allah atas semesta. Saat kita benar-benar mengalami kasih serta pengampunan itu, kita dikuatkan untuk melangkah menjalani hari kita. Sesungguhnya, kita tidak pernah sendiri! Allah hadir dalam semesta, dalam kicauan burung, dalam rintik hujan, dalam sinar mentari, dalam saudara-saudara yang kita jumpai setiap hari. Maka, di tengah segala kerumitan dan kebisingan hidup, izinkanlah diri kita untuk masuk dan mengalami ketenangan di dalam Allah, bersama Allah. Biarlah kuasa-Nya menopang diri kita yang lesu dan berbeban berat. Sadarilah, bahwa Ia mendekat pada kita, hendak menawarkan ketentraman yang penuh melalui kasih-Nya.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez