Menundukkan Diri Pada Kedaulatan Allah

Markus 4:26–34 memaparkan dua perumpamaan Yesus yang menggambarkan tentang Kerajaan Allah! Pertama, Kerajaan Allah seumpama orang yang menaburkan benih di tanah! Ketika benih itu sudah ditabur, sekalipun kita tidak memperhatikannya (tidur), tetapi kekuatan pertumbuhan adalah hal yang pasti. Mungkin pertumbuhan dirasa begitu lambat, namun tidak dapat ditahan sehingga siap memanen ketika musim menuai tiba.

Kedua, biji sesawi meski kecil, bahkan terkecil di antara segala benih yang ada, namun ketika sudah ditaburkan, maka ia akan tumbuh menjadi tanaman yang besar, sehingga bisa menjadi tempat bagi burung untuk bersarang dan bernaung.

Kedua perumpamaan itu berbicara tentang kekuatan pekerjaan Allah, yang tidak bergantung pada usaha manusia! Kebenaran bahwa Allah memang berdaulat harus menjadi penghiburan bagi kita yang hidup dalam situasi serba tak pasti dan volatilitas (ketikakstabilan). Kedaulatan Allah itu secara pasti bekerja dalam ruang dan waktu. Ia adalah Allah yang tak henti-hentinya berkarya untuk melakukan kebaikan bagi kita, jika tiba masanya, Allah mengizinkan kita untuk menuai apa yang telah Ia kerjakan bagi kita. Karena itu, bagian kita hanyalah bersabar dalam waktu Tuhan! Jika belum waktunya untuk menuai, maka kita tidak bisa memaksanakan waktu itu.

Bersabar pada proses adalah kunci, karena Allah tidak pernah mau menjadikan kita manusia karbitan! Ia mau memroses kita sesuai kehendak dan rancangan-Nya! Sisi lain, kita harus mencermati kita ada pada masa apa, baru bertumbuh atau siap menuai. Jika baru bertumbuh, belajarlah untuk bertumbuh, bersabarlah karena pada masa itu, bisa jadi kita akan menghadapi berbagai angin dan badai. Jika masa siap untuk dituai, milikilah kerendahan hati untuk mempersembahkan diri bagi kemuliaan Tuhan, dan siap untuk untuk menjadi benih yang kembali harus terbenam dan bertumbuh.

Apapun masanya, semuanya berada dalam kedaulatan Allah, dan kita harus mengakui dan memberi ruang bagi Allah untuk berdaulat atas hidup kita.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto