Menjadi Manusia Rohani

Suatu saat saya mengendarai mobil melintasi daerah banjir di Jakarta. Meski banjir cukup parah, mobil saya berhasil melewatinya. Puji Tuhan! Saat di jalan yang kering, saya tingkatkan kecepatannya. Tidak jauh dari situ ada traffic light yang menunjukkan lampu merah. Saya harus berhenti. Saya pun menginjak rem untuk mengurangi kecepatan. Ternyata rem mobil saya blong, efek dari banjir. Mobil saya tetap berjalan kencang. Tidak dapat saya kontrol. Saya panik tetapi saya berupaya tenang. Di depan saya ada mobil Baby Benz terbaru dan Truk militer Tronton besar. Di antara kedua mobil itu ada ruang sempit yang saya yakin mobil saya tidak bisa melewatinya. Kalau pun bisa melewatinya, kemungkinan mobil saya akan menabrak penyeberang jalan. Saya mulai ketakutan. Dalam hati saya berteriak kepada Tuhan mohon pertolongan-Nya. Dan, pertolongan Tuhan terjadi. Mobil saya bisa melewati celah sempit tadi dan syukur saat itu tidak ada penyeberang jalan. Mujizat! Akhirnya mobil bisa berhenti di tempat aman. Semua selamat. “Terima kasih Tuhan,” teriak saya dalam hati.

Manusia yang hidup dalam ‘kedagingan’ adalah seperti mobil yang remnya blong. Kita berjalan tanpa kontrol. Kita dikuasai nafsu dan emosi. Tidak ada kecerdasan intelektual. Minus kecerdasan spiritual. Ini membahayakan diri sendiri dan membinasakan sesama. Sebaliknya, manusia rohani adalah manusia yang hidupnya dalam kontrol Tuhan. Bukan dalam pengertian dia bagai robot yang tak punya kehendak, lalu dikendalikan sesuka hati. Bukan! Ia punya kehendak. Tetapi ia mengutamakan kehendak-Nya. Manusia rohani juga bukan berarti memiliki karunia roh seperti bahasa roh atau karunia kesembuhan. Bisa saja ia tidak punya karunia roh, tetapi ia memiliki buah roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, dan sebagainya. Apa pun yang dikatakan dan dilakukan menjadi berkat bagi semua!

Seorang pemuda pernah ditanya oleh sekelompok aktivis gereja,” kami dengar Anda sudah bertobat dan hidup dalam Roh. Bila benar begitu, bisakah Anda berdoa Bapa Kami atau mengingat Pengakuan Iman Rasuli dan ayat-ayat Kitab Suci? Apakah Anda juga memakai kalung salib?” Pemuda itu menggeleng. Saya tidak hafal doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli dan tidak hafal ayat-ayat Alkitab. Saya juga tidak memakai kalung salib, tetapi saya mau katakan ini. Dulu saya pemabok, suka cari keributan. Mulut saya sering mencaci maki dan saya sering tidak jujur. Kini saya tidak begitu lagi. Dulu saya seorang penakut yang tidak percaya diri. Saya mudah putus asa untuk persoalan yang sangat kecil. Sekarang setelah mengenal Yesus, saya tidak lagi seperti itu. Dulu saya pongah, sombong dan merendahkan orang lain. Setelah kenal Yesus saya tidak lagi seperti itu. Dulu saya egois, hanya mementingkan diri sendiri. Maunya dipuji dan dipuja. Tetapi setelah mengenal Yesus saya tidak seperti itu lagi. Kini saya lebih suka mengasihi dan melayani sesama.

Menjadi manusia rohani itu bukan sekedar perubahan packaging, hanya kulit luar. Hanya bungkusnya saja. Tetapi perubahan dari dalam: dari ego-sentrik menjadi Kristo-sentrik, dari selfishness menjadi demi Tuhan dan sesama. Bukan lagi aku, kata Paulus, tetapi Kristus. Hidup saya yang tadinya rapuh karena berada dalam kuasa kedagingan yang destruktif itu sudah berubah. Sekarang, Yesus Kristus telah memerdekakan saya, dan memerdekakan Anda.

Menjadi manusia rohani bukan berarti hidup kita pasti perfect, sempurna. Sebaliknya, manusia rohani selalu sadar pada ketidaksempurnaannya. Manusia rohani selalu bersikap rendah hati, bersedia membuka diri untuk dikoreksi dan dibarui oleh Tuhan dan sesama. Manusia rohani selalu sadar bahwa ia tidak sempurna. Oleh karena itu ia tidak akan mampu memberikan the best kepada Tuhan, tetapi ia selalu berupaya memberikan the better one. Berupaya lebih baik setiap hari. Manusia rohani selalu sadar pada kerapuhannya. Oleh karena itu kemana pun melangkah, ia selalu mengandalkan Tuhan.

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty