MENGHIDUPI KASIH ALLAH DALAM KESEHARIAN KITA

Saudara-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus, …

Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang dikisahkan, bahwa si bungsu, setelah berfoya-foya dan menghabiskan semua harta warisannya, setelah merasakan segala kesusahan dan terhina, kembali ke rumah bapaknya. Ia baru menyadari, bahwa rumah bapaknya adalah surga, segalanya. Sang bapak menyambutnya dengan penuh sukacita. Ia meminta para hambanya untuk memberinya jubah yang terbaik, cincin, sepatu dan menyembelih anak lembu tambun yang terbaik. Sambutan sang bapak tidak saja memulihkan kehormatannya, juga merangkul kembali anaknya yang terhilang.

Dan si sulung yang merasa iri hati, sebab merasa bapaknya tidak berlaku adil, karena memperlakukan adiknya secara istimewa, sekalipun telah berlaku durhaka. Namun, bapaknya datang kepadanya dan menjelaskan bahwa ia tidak pernah menutup mata terhadap hal-hal yang anak sulungnya pernah lakukan untuk dirinya. Selain itu, bapaknya juga ingin menyadarkan bahwa sudah sepatutnya sang anak sulung ini bergembira, karena yang pulang ini adalah adiknya sendiri.

Melalui kisah itu, kita dapat menangkap satu pelajaran berharga dan sangat bermakna, yaitu tentang kasih seorang bapak yang tak terhingga (unconditional love), baik kepada si bungsu yang telah menyalahgunakan kemurahan hati ayahnya, maupun si sulung yang terus mencari kasih bapaknya.

Perumpamaan itu ingin menggambarkan kasih Sang Bapa yang tidak tergantung pada tingkah laku kita; dosa-dosa kita tidak mengurangi kasih Allah. Sekalipun begitu, jangan kita memanfaatkan kasih Allah itu dengan hidup dalam dosa.

Begitu juga, perbuatan baik kita (good works) tidak membuat kasih Allah bertambah untuk kita. Jadi, tetaplah berbuat baik, bukan untuk mendapatkan perhatian dari Tuhan. Perbuatan baik kita adalah tanda syukur kita atas kasih Allah yang tak terhingga.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto